
Saat Al sudah berada di dekat anak yang ia maksud tadi, tangannya terulur untuk membantu anak tersebut berdiri dari jatuhnya.
Sedangkan anak tersebut yang melihat tangan Al terulur tepat di depan wajahnya, ia menengadahkan kepalanya agar bisa melihat wajah dari pemilik tangan tersebut. Dan saat dirinya bisa melihat wajah Al yang justru tengah menatap ke arah lain, membuat anak itu terheran-heran tapi tetap ia menerima uluran tangan Al tadi.
Dan saat anak itu sudah kembali berdiri, ia semakin menajamkan penglihatannya. Hingga setelah ia melihat secara jelas wajah Al, ia membelalakkan matanya.
"Kamu yang waktu itu nolongin aku kan?" tanya anak tersebut yang tak lain adalah Yura.
Al yang mendapat pertanyaan dari Yura pun tak menjawab pertanyaan tersebut dan kini ia malah melenggang pergi begitu saja tapi baru beberapa langkah, ia kembali mundur hingga sampai disamping Yura. Dan matanya kini menatap penampilan Yura yang sudah mulai berantakan itu dari atas sampai bawah.
"Ganti seragam kamu itu kalau kamu tidak mau sakit," ujar Al lalu setelahnya ia kembali melangkahkan kakinya menuju antrian paling belakang.
Sedangkan Yura hanya bisa melongo dengan perlakuan Al tadi yang membuatnya bingung sendiri. Tapi beberapa saat setelahnya ia menundukkan kepalanya untuk menatap tampilannya sendiri yang membuat dirinya menghela nafas panjang. Lalu setelahnya ia memunguti alat makannya yang masih berserakan di atas lantai.
Setelah semuanya ia pungut, ia menatap beberapa anak laki-laki yang sudah mendorong dirinya juga teman-temannya sampai jatuh tadi. Tapi sayangnya ia tak bisa membalas perlakuan anak-anak nakal itu, jika ia membalas pasti dia juga yang nanti akan kalah. Dan lebih baik dia pergi saja dari tempat tersebut menuju ruang ganti yang ada disekolah tersebut. Tapi sebelumnya ia sudah menaruh alat makan tadi di deretan alat makan kotor dan barulah dia pergi dengan beberapa temannya yang juga kebetulan seragam mereka basah.
Al yang melihat kepergian dari Yura tadi, ia sempat melirik sekilas tanpa ingin berurusan lebih dalam lagi dengan anak perempuan mana pun yang membuat dirinya kesusahan sendiri nantinya, kecuali Kiya tentunya. Karena Kiya satu-satunya anak perempuan favoritnya.
Berbicara tentang Kiya, anak itu kini masih saja menunggu kedatangan Rafa tepat didepan pintu utama.
"Ck, Uncle Rap mana sih? lama banget!" gerutu Kiya sembari menyenderkan tubuhnya di ambang pintu utama rumah tersebut yang sudah terbuka lebar.
"Sabar kali Kiya. Uncle pasti juga masih sibuk sama kerjaannya," timpal Ciara yang kebetulan tengah duduk santai di ruang tamu sembari mengawasi Kiya, takut-takut anaknya itu malah kabur dari rumah tersebut.
Kiya dengan kerucutan di bibirnya menatap sang Mama.
"Dari tadi sibuk mulu. Emang pekerjaan Uncel Rap lebih penting gitu dari Kiya?" celetuk Kiya.
"Ya jelas lebih penting pekerjaan lah. Perkejaan Uncle Rap bisa menghasilkan uang, lah Kiya bisa menghasilkan apa buat Uncle Rap. Gak menghasilkan apapun tuh?" timpal Devano.
"Kiya juga bisa menghasilkan uang buat Uncle Rap," balas Kiya sembari melangkahkan kakinya menuju ke kedua orangtuanya.
"Oh ya? Kiya mau dapat uang darimana? Dan gimana caranya coba?" tanya Devano.
"Papa mau tau cara Kiya menghasilkan uang?" Devano dengan ragu menganggukkan kepalanya.
Kiya kini duduk di samping Devano lalu setelahnya ia mengulurkan tangannya kearah Devano.
Devano yang tak tau apa yang dimaksud Kiya pun alisnya kini terangkat satu.
"Ck, dompet Papa sini," ujar Kiya sembari menggerakkan jari-jarinya.
"Buat apaan?" tanya Devano yang perasaannya sudah mulai tak tenang.
"Kiya pinjam bentar. Buruan siniin. Punya Mama juga sini." Devano dan Ciara kini saling pandang.
"Dompet Mama sama Papa dikamar," ucap Ciara yang membuat Kiya dengan cepat turun dari sofa yang ia duduki tadi lalu ia berlari menuju lantai dua di rumah tersebut, meninggalkan kedua orangtuanya yang menatap curiga kepada dirinya.
"Gak tau. Kita lihat aja deh. Pikiran anak itu gak bisa di tebak soalnya," jawab Ciara sembari matanya terus fokus kearah Kiya yang masih menaiki anak tangga.
Dan setelah memastikan Kiya aman sampai lantai dua, Ciara baru mengalihkan pandangannya kearah Devano yang sepertinya tengah berpikir keras dengan aksi Kiya kali ini. Sekaligus ia juga akan lebih waspada lagi, agar tubuhnya tak kena imbas dari aksi Kiya kali ini.
"Udah, jangan di pikirankan lagi. Yang harus kita pikirkan itu langkah apa yang harus kita ambil untuk membasmi para hantu-hantu di rumah ini," ujar Ciara yang membuat Devano kini kembali tersadar dan fokus ke tema pembahasan kali ini.
Tapi saat Devano ingin memberikan usulan akan ucapan Ciara tadi, suara Kiya tiba-tiba terdengar nyaring hingga membuat Devano ataupun Ciara bahkan beberapa art yang berada di rumah tersebut berlari sekencang-kencangnya menuju lantai dua.
Dan saat mereka semua sudah berada di lantai dua lebih tepatnya di kamar utama, mereka semua di buat melongo saat melihat Kiya baik-baik saja bahkan anak itu sekarang tengah berpose di depan cermin rias Ciara.
"Oh astaga," gumam Devano sembari memijit pelipisnya.
Sedangkan Ciara kini mulai mendekati sang anak dengan langkah sepelan mungkin. Takut-takut jika ia gegabah Kiya nanti akan menyerangnya, siapa tau kan Kiya tengah kesurupan saat ini?
"Kiya," panggil Ciara dengan pelan. Tapi sayangnya panggilannya itu tak didengarkan oleh Kiya dan anak itu masih saja berpose seperti tadi dengan sesekali tersenyum didepan cermin tadi.
Ciara kini menggigit ujung kukunya, takut jika apa yang ada di pikirannya saat ini memang tengah dialami oleh sang anak.
Devano yang juga penasaran kenapa Kiya tak menyadari keberadaan juga kedatangan orang-orang tadi dan tak mendengar panggilan Ciara, ia kini mulai mendekati kedua perempuan kesayangannya itu. Dan saat dirinya sudah berada di samping Ciara, ia menatap wajah sang istri yang sudah pucat dengan keringat dingin di dahinya.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Devano.
Ciara kini menolehkan kepalanya dan setelahnya ia memeluk lengan Devano dengan erat.
"Kiya kayaknya lagi kesurupan," jawab Ciara dengan suara bergetar.
"Hah? kesurupan? Jangan ngada-ngada kamu, sayang. Mana ada orang kesurupan di siang-siang bolong begini dan hantu juga pasti milih-milih kali kalau mau masuk ke tubuh orang. Ya kali masuk ke tubuh Kiya yang masih kecil gini, yang ada mereka kesempitan," ujar Devano.
"Ck, hantu mana tuh yang mau masuk ke tubuh orang harus pilih-pilih dulu. Gak sekalian aja pakai permisi gitu. Kamu mah ngaco ih, hantu itu mau masuk ke tubuh orang ya tinggal masuk aja gak peduli itu anak kecil atau orang yang udah tua sekalipun. Dan mau pagi, siang, malam, mereka juga gak peduli yang penting bisa nempatin raga orang aja udah cukup buat mereka," ujar Ciara.
"Iya kah? kalau begitu apa yang kamu ucapkan tadi mungkin ada benarnya juga," tutur Devano.
"Lha mangkanya itu. Kita harus bagaimana ini? Kalau Kiya kerasukan beneran gimana?" tanya Ciara dengan khawatir.
"Kamu tenang dulu. Kita coba panggil Kiya sekali lagi," ujar Devano yang diangguki oleh Ciara.
"Coba kamu yang panggil dia sekarang." Devano menganggukkan kepalanya dan sebelum ia bersuara, ia berdehem sesaat untuk menghilangkan ketakutannya.
"Kiya," panggil Devano yang tak mendapat respon apapun oleh Kiya. Bahkan Kiya sekarang justru tengah bernyanyi tak jelas dengan tubuh yang berjoget-joget.
"Astaga-astaga. Kita keluar dulu dari sini sayang," ucap Ciara sembari menarik-narik lengan Devano. Devano yang juga sudah mulai merinding disko pun langsung menuruti apa yang di ucapkan oleh sang istri. Dan dengan langkah lebar mereka berdua keluar dari kamar tersebut bersama dengan para art yang tengah penasaran dengan apa yang tengah terjadi saat ini.
Dan setelah mereka semua sudah berada di luar kamar bahkan pintu kamar itu sudah kembali tertutup, Devano dan Ciara langsung bisa menghembuskan nafas lega. Tapi beberapa saat setelahnya Devano kembali membuka suara.
"Salah satu atau beberapa orang panggil ustadz kesini, cepat!" perintah Devano yang membuat artnya saling pandang satu sama lain tapi setelahnya mereka langsung berpencar untuk mencarikan apa yang di perintahkan sang majikan.