Young Mother

Young Mother
Gugup


"Ringan tangan banget sih kamu," gerutu Devano sembari menjauhkan wajahnya dari samping kepala Ciara.


"Makanya kalau ngomong jangan aneh-aneh. Kamu cukup diam aja!" perintah Ciara setelah itu ia segera menyelesaikan untuk mengobati luka Devano.


Sedangkan Al yang sedari tadi berada di sofa tepat di depan mereka hanya memandang keduanya dengan tatapan polosnya. Sesekali ia juga mengikuti ekspresi mereka mulai dari meringis seakan juga ikut merasakan perih sama seperti yang dirasakan Devano, kadang juga serius kala melihat Ciara mengobati Devano dan kadang dia juga ikut tertawa melihat pertengkaran dari Mama dan Papanya.


Kini Ciara telah selesai mengobati semua luka Devano dan ia juga segera membereskan kekacauan di meja dan kursi ruang tamu tersebut. Diliriknya jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Ia membelalakkan matanya saat melihat jarum jam itu sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi yang artinya ia hampir lupa dengan janjinya kepada kedua orangtuanya karena tadi sangat serius mengobati luka Devano hingga lupa segalanya.


"Pulanglah, kamu butuh istirahat total hari ini!" perintah Ciara.


"Jangan membantah kalau kamu masih mau ketemu sama Al," tutur Ciara saat Devano ingin melayangkan protes kepadanya.


Devano tampak menghela nafas berat. Sebenarnya ia masih ingin menghabiskan waktu dengan Al, tapi mungkin untuk saat ini ia memang harus istirahat lebih banyak lagi agar tubuhnya kembali segar dan bugar..


Dengan terpaksa ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Al.


"Papa pulang dulu ya sayang. Besok Papa kesini lagi," ucap Devano sembari mengacak rambut Al.


Al menengadahkan kepalanya, menatap wajah Devano yang tengah tersenyum kepadanya. Dan karena gemas melihat respon Al, Devano langsung membawa tubuh Al kedalam gendongannya.


"Papa mau pulang?" tanya Al memastikan.


Devano mengangguk.


"Papa janji besok kesini lagi," tutur Devano.


Al pun mengangguk, lalu ia mencium pipi Devano.


"Al akan antar Papa sampai depan," ucap Al berlagak seperti orang dewasa.


"Baiklah boy," timpal Devano dan ia berjalan menuju pintu utama rumah tersebut tanpa menurunkan tubuh Al dari gendongannya.


"Papa stop!" ucap Al tiba-tiba.


"Ada apa sayang?" tanya Devano heran.


"Mama gak ikut Al buat anterin Papa," jawab Al.


"Mama!" teriak Al.


Ciara yang yang masih di ruang tamu pun memutar tubuhnya menghadap kearah Al dan Devano berada.


"Kenapa?"


"Mama ikut Al antar Papa sampai pintu depan," tutur Al.


Devano yang melihat Ciara tak ada ketertarikan untuk mengantarnya pun menghela nafas.


"Al, Mama lagi sibuk. Papa juga gak papa kok gak diantar Mama sampai depan yang penting kan ada Al yang mau anterin Papa. Itu lebih dari cukup, nak," ucap Devano. Ia tak ingin gara-gara keinginan Al tadi Ciara menjadi lebih segan lagi kepadanya.


Tapi tak disangka perlahan Ciara menghampiri mereka dan lebih dulu melangkah sampai di pintu utama.


"Mama gak sibuk tuh Pa, nyatanya Mama udah sampai duluan," tutur Al dengan kekehan kecil.


"Mama tuh sebenarnya sayang sama Papa tapi Mama berlagak cuek kayak gitu," bisik Al.


Devano tersenyum mendengar bisikan dari Al tadi.


"Kamu ini masih kecil udah tau begituan," ucap Devano sembari mencium gemas pipi Al.


Kemudian Devano melanjutkan langkahnya hingga sekarang sampai di luar rumah tersebut.


"Papa istirahat yang banyak ya biar sakitnya cepat hilang dan Papa gak boleh makan buaya lagi."


Devano terkekeh.


"Baiklah boy," jawabnya sembari menurunkan tubuh Al.


"Ci, aku pulang dulu dan makasih kamu udah obatin lukaku tadi," ucap Devano dan hanya di jawab deheman saja oleh sang empu.


Al mengangguk dan setelah itu ia mengambil tangan Devano untuk ia cium.


"Hati-hati Papa," ucap Al.


Devano tersenyum untuk menjawab ucapan dari Al tadi.


"Assalamualaikum," salamnya.


"Waalaikumsalam," jawab Al dan juga Ciara dengan kompak.


Setelah mendengar jawaban dari salamnya tadi, Devano kemudian bergegas untuk menjauh dari pintu tersebut menuju mobilnya.


"Bye bye Papa," teriak Al saat Devano sudah berada di dalam mobil. Devano yang mendengar teriakkan dari Al pun melambaikan tangannya dan dengan perlahan ia menjalankan mobil tersebut meninggalkan area rumah itu.


Ciara kini mengalihkan pandangannya ke Al saat sang anak masih saja melambaikan tangannya kearah mobil Devano dengan senyum bahagia di bibirnya.


Al sangat menyayangi Devano terlihat dari tatapan matanya yang tulus ketika berada di dekat Devano. Ia bahkan sempat berpikir dan merasa bodoh saat dirinya waktu itu berniat ingin menjauhkan anaknya dengan Devano, ayah kandungnya sendiri. Cukup jahat jika di pikir-pikir lagi. Walaupun Al belum tau jika memang Devano lah ayah kandungnya, tapi memang darah lebih kental dari air, tak bisa di pungkiri dan tak bisa di elakkan lagi jika ikatan batin mereka begitu kuat. Tapi dia juga takut jika Al suatu saat nanti tau kebenarannya bahwa sang Papa tak sebaik yang ia pikirkan.


"Ma," panggil Al membuat Ciara tersadar dari pikirannya.


"Eh ah iya sayang, ada apa?" tanya Ciara.


"Mama jadi kan ngajak Al kerumah Opa dan Oma?" Ciara tersenyum.


"Jadi dong. Tapi Mama harus masuk lagi kerumah buat ambil tas Mama yang ketinggalan di ruang makan. Al mau ikut Mama masuk atau tunggu disini?"


"Al nunggu Mama disini aja," jawab Al.


"Baiklah boy. Mama cuma sebentar kok. Jangan kemana-mana oke," ucap Ciara.


"Oke Mama," jawab Al.


Ciara tersenyum dan secepat mungkin ia kembali masuk kedalam rumah itu lagi. Dan tak berselang lama ia sudah menghampiri Al yang dengan sabar menunggunya di depan pintu rumah tersebut.


"Let's go boy. Kita berangkat sekarang," tutur Ciara.


"Let's go Mama," teriak Al penuh semangat sembari menggandeng tangan Ciara menuju mobil Olive yang akan ia pakai nanti.


Butuh waktu 1 jam lebih akhirnya mereka sampai di rumah orangtua Ciara.


"Ma," panggil Al saat mobil tadi sudah terparkir di lingkungan rumah tersebut.


"Iya sayang."


"Apa Opa sama Oma galak?" tanya Al yang tampak gugup untuk bertemu dengan orangtua Ciara pertama kalinya.


Ciara terkekeh.


"Tenanglah sayang. Opa dan Oma sangat baik," jawab Ciara menenangkan Al.


"Benarkah?" Ciara mengangguk, lalu ia keluar dari mobil tadi dan segera menuju pintu mobil disamping Al untuk membantu anaknya keluar.


"Al siap?" tanya Ciara sembari menggandeng tangan Al.


Dengan ragu Al mengangguk, kemudian mereka berjalan menghampiri pintu rumah tersebut.


Tok tok tok


"Assalamualaikum," ucap Ciara sedikit berteriak.


Tak berselang lama terdengar derap langkah kaki menghampiri pintu tersebut dan beberapa saat kemudian pintu di depannya terbuka dan mendapati Kiara di balik pintu tersebut.


"Waalaikumsalam. Kak Cia, aku kira gak jadi datang," tutur Kiara sembari memeluk tubuh Ciara.


"Jadi dong kan aku masih kangen sama kamu, Mama sama Papa," tutur Ciara sembari melonggarkan pelukannya.


Setelah pelukan keduanya terlepas, kini mata Kiara bisa melihat ada tubuh mungil yang sedari tadi menatap keakraban mereka berdua.