
Adegan romantis anak dan ayah itu pun harus usai saat ibu-ibu rempong datang dengan Kiya, yang mana anak perempuan itu dengan santainya berjalan di belakang Ciara dengan membawa satu kresek makanan ringan ditambah tas sekolahnya yang masih ia kenakan.
"Al!" teriak Ciara heboh dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Entah wanita itu sejak kapan menangis yang jelas dan sudah bisa Devano tebak bahwa tangis Ciara pecah saat dirinya menelepon tadi.
"Haish Mama mulai lebay," cibir Kiya sembari berjalan menuju sofa yang di sana sudah ada dua bodyguard Al dan Yura yang terus menundukkan kepalanya.
Kiya yang bergabung dengan tiga orang tadi kini matanya menatap kearah Yura dan sesaat setelah pandangannya itu beralih kearah Doni dan Toni.
"Om, ini siapa?" tanya Kiya sembari menunjuk Yura.
"Temannya Abang Al," jawab Doni yang diangguki oleh Kiya.
"Ternyata Abang juga punya teman perempuan," gumam Kiya sembari menaruh tas sekolahnya dan kresek tadi.
"Kiya udah pulang sekolah?" tanya Toni penasaran.
"Bukan, Kiya hari ini bolos sekolah lagi. Lagian ini masih jam setengah 9 Om. Mana ada sekolah jam segini udah pulang," ujar Kiya.
"Ya iya juga sih. Om kan cuma basa-basi aja sama Kiya," tutur Toni.
"Basa-basi buat apa? Jangan bilang Om mau minta makanan Kiya." Toni kini menggaruk tengkuknya dengan cengiran di bibirnya.
"Gini ya Kiya. Sebenarnya Om tuh gak mau minta makanan Kiya, tapi berhubung Om tadi pagi gak sarapan dan dompet Om ilang. Boleh kali Kiya bagi makanan Kiya buat Om. Dikit aja," ujar Toni sembari menggerakkan jari tangannya sebagai simbol kata sedikit yang ia ucapkan tadi.
Kiya tampak berdecak hingga akhirnya ia membuka kresek tadi lalu mengambil dua roti dan setalahnya ia mendekati Doni dan Toni.
"Berhubung Kiya lagi baik hati dan sebagian hadiah untuk Om karena udah jagain Abang Al. Kiya bagi dua roti itu untuk kalian. Tapi sebelum makan cuci tangan dulu sana. Tangan sama wajah Om banyak pewarna merah tuh," ujar Kiya.
"Udah besar masih aja main pewarna, mana sampai kena baju lagi. Kalau sampai Mama Om marah karena noda di bajunya gak bisa hilang, bilang sama Kiya ya," sambung Kiya sembari bergerak menuju tempatnya semula.
"Emang Kiya mau apa kalau sampai tau Om dimarahi Mama Om? Mau belain gitu?" tanya Doni.
"Bukan. Kiya tidak ada niatan buat belain Om, tapi Kiya mau ejek Om," jawab Kiya dengan santainya yang membuat Doni dan Toni dengan serempak berdecak kesal. Dan hal itu membuat Kiya kini terkekeh kecil melihat reaksi dari dua bodyguard itu yang menurutnya lucu. Tapi setelahnya, kekehannya itu kini berhenti saat matanya beralih menatap kearah Yura.
"Kakak kenapa nunduk terus? Kakak tidak mau kenalan sama Kiya kah?" tanya Kiya sembari mendudukkan tubuhnya disamping Yura.
Semua pertanyaan dari Kiya tadi sama sekali tak mendapat jawaban sedikitpun dari Yura. Hingga membuat Kiya bingung sendiri.
"Om, kenapa Kakak ini nunduk terus? Apa lehernya tidak sakit?" tanya Kiya yang dijawab gedikkan dari dua laki-laki itu.
"Kita juga gak tau Kiya. Mungkin anaknya malu sama Kiya. Coba deh Kiya sogok sama makanan Kiya. Pasti Kakaknya mau negakin kepalanya dan jawab pertanyaan dari Kiya tadi," usul Toni yang langsung dilakukan oleh Kiya.
"Nih coklat sama es krim buat Kakak." Kiya menyerahkan coklat dan eskrim tadi tepat dihadapan Yura.
Tapi niat baiknya itu langsung ditolak oleh Yura dengan gelengan kepalanya.
"Kakak tidak mau coklat sama eskrim ini? Padahal ini enak lho. Kakak rasain dikit dulu pasti nanti ketagihan," ujar Kiya yang masih berusaha membuat Yura mau menerima pemberiannya itu atau setidaknya anak perempuan itu menatap kearah dirinya.
Tapi tetap saja Yura menggelengkan kepalanya guna untuk menolak pemberian dari Kiya tadi.
"Ayolah Kak. Kiya ikhlas lho ngasihnya," tutur Kiya yang lagi-lagi membuat Yura menggelengkan kepalanya. Hingga akhirnya Kiya kini menyerah untuk merayu anak perempuan tersebut. Bahkan saking sebalnya karena usahanya tak berhasil, ia dengan cepat membuka eskrim tersebut dan memakannya dengan rakus. Ia tak peduli jika eskrim itu nantinya akan membuat mukanya cemong yang terpenting sekarang adalah melupakan rasa sebalnya itu.
Semua yang di lakukan oleh Kiya tadi tak luput dari pantauan kedua bodyguard Al yang kini tengah terkekeh geli melihat wajah Kiya.
Saat empat orang itu tengah heboh di sofa, berbeda dengan Devano dan Ciara yang kini tengah menemani Al. Bahkan Ciara tak berniat beranjak sedikitpun dari anak laki-lakinya itu hingga tangan Al terus ia genggam sangat erat.
"Ma, Al gak akan kemana-mana. Jadi Mama tidak perlu megangin Al seperti ini," ujar Al yang lama-kelamaan tangannya itu terasa kram karena ulah Ciara.
"Apa yang dikatakan Al tadi memang benar sayang. Dia gak akan kemana-mana. Dan apa yang kamu lakukan saat ini malah akan membuat tangannya tambah sakit," tutur Devano yang langsung membuat Ciara melepaskan genggamannya itu.
"Sakit ya sayang. Maaf ya nak, Mama terlalu parno dan gak mau jauh dari kamu. Mama takut saat Mama gak bisa genggam tangan kamu dan kamu jauh dari pantauan Mama, kamu akan terluka seperti ini lagi," ucap Ciara.
Al menggelengkan kepalanya dengan tangan yang kini menggenggam lembut tangan Ciara.
"Al tidak akan luka lagi Mama. Percaya lah," tutur Al sembari tersenyum.
"Kamu harus janji sama Mama. Hari ini adalah hari dimana kamu terakhir kali mendapat luka. Untuk hari-hari berikutnya kamu tidak boleh terluka lagi. Mau itu luka kecil ataupun besar pokoknya tidak boleh, oke," ucap Ciara yang diangguki oleh Al.
Devano yang melihat interaksi antara anak dan istrinya itu pun tersenyum hangat lalu setelahnya ia mengalihkan pandangannya kearah empat orang tadi. Devano yang baru menyadari jika diruangan tersebut bukan hanya ada orang-orang yang ia kenali saja, kini ia mengernyitkan keningnya dan setalahnya ia bergerak mendekati keempat orang tadi. Dan saat dirinya sudah berada di depan mereka, Devano mulai angkat suara.
"Kenapa anak ini juga ada disini?" tanya Devano kepada kedua bodyguard tersebut dengan suara lirihnya, takut-takut Yura akan mendengar ucapannya itu dan berujung akan takut kepadanya.
Doni dan Toni yang tengah menikmati roti pemberian dari Kiya tadi, mereka kini menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Devano yang kini tengah memincingkan kedua alisnya.
"Hmmm nanti saya akan ceritakan kenapa anak ini bisa ikut kesini dengan kita. Tapi izinkan saya habisin dulu roti ini ya tuan. Takut maag saya kambuh nanti soalnya dari tadi saya belum sarapan apapun," ujar Doni yang diangguki setuju oleh Toni.
Devano yang sudah tak heran dengan tingkah laku kedua bodyguard itu pun hanya bisa menghela nafas panjang.
"Terserah kalian," ucapnya dan setelahnya ia beranjak menuju sofa yang masih kosong disana untuk menundukkan tubuhnya sembari menunggu kedua bodyguard tadi selesai dengan aktivitasnya itu.