Young Mother

Young Mother
18+


Paginya Devano lebih dulu bangun dari tidurnya setelah semalaman lembur bercocok tanam dengan Ciara.


Bukannya langsung bangun dan membersihkan dirinya, Devano malah memiringkan tubuhnya menghadap kearah Ciara yang masih tertidur dengan lelap, padahal sekarang sudah pukul setengah 10 pagi.


Devano perlahan menyingkirkan rambut Ciara yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya itu. Kemudian ia menatap lembut wajah Ciara dengan detail dan perlahan matanya tak sengaja menatap ke leher Ciara yang penuh dengan tanda cintanya tadi malam. Ia perlahan menyentuh setiap tanda kemerahan itu sembari tersenyum.


Sedangkan Ciara yang tidurnya merasa terganggu pun kini mengerjabkan matanya dan saat matanya itu terbuka lebar, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Devano yang tersenyum manis kepadanya.


"Selamat pagi sayang," ucap Devano sembari mengecup pipi Ciara.


"Selamat pagi. Kamu bangunnya udah lama?" Tanya Ciara dengan suara khas bangun tidur.


"Baru aja kok. Gimana masih sakit? tapi ini kan bukan pertama kalinya kamu berhubungan?" tanya Devano penasaran.


"Masih lah. Apalagi badan aku, kayak tulangnya pada hancur semua. Kan aku 5 tahun lebih gak berhubungan, ya wajar lah kalau sakit lagi. Tapi masih sakit waktu pertama kali dulu. Mana dulu mainnya kasar banget, paksaan pula. Huh menyebalkan," tutur Ciara diakhiri dengan pukulan di dada bidang Devano.


"Maaf sayang. Dulu aku benar-benar bodoh hanya nurutin apa yang aku mau aja tanpa mikirin kamu. Maaf ya sayang," ucap Devano sembari memeluk erat tubuh Ciara hingga membuat tubuhnya juga tubuh Ciara yang sama-sama tak memakai sehelai benang kembali saling beradu.


"Iya, udah aku maafin." Devano mencium beberapa kali puncak kepala Ciara.


"Terimakasih istriku." Ciara mengangguk kemudian membalas pelukan Devano.


Mereka masih saja saling berpelukan satu sama lain hingga Devano membisikan sesuatu kepada Ciara.


"Ronde kedua yuk," bisik Devano. Ciara membelalakkan matanya kemudian ia langsung mencubit pinggang Devano.


"Aws sakit sayang," gerutu Devano.


"Makanya jangan aneh-aneh. Tadi malam aja udah banyak babak. Sekarang kok mau lagi, bisa hancur tubuhku nanti," ucap Ciara.


"Tadi malam cuma 5 babak kok. Itu dikit sayang buat buka puasa selama 5 tahun lebih tuh gak seberapa. Ayolah, mau ya please," pinta Devano.


"Ya ampun Dev, 5 babak kamu bilang sedikit. Dah lah main aja sendiri sama gulung itu. Aku mau mandi," ucap Ciara sembari melepaskan pelukannya dan ketika ia ingin beranjak dari duduknya, lengan kekar Devano berhasil menahannya.


"Sayang ayo lah. Aku lihat kamu gak pakai baju gini keinginanku bertambah. Ingat sayang keinginan suami gak boleh di tolak istri, dosa," ucap Devano sembari menekankan suaranya diakhir kalimat.


Ciara kini menghela nafas, susah dan harus punya kesabaran juga kekuatan tubuh yang luar biasa tahan banting jika memiliki suami yang punya keinginan untuk berhubungan yang cukup tinggi seperti Devano ini contohnya. Dia tak akan pernah puas hanya bermain satu kali saja, harus diulang-ulang hingga beberapa kali sebelum dirinya muntah dan bilang stop kayaknya.


"Satu babak aja deh," rayu Devano tanpa habisnya.


"Tapi janji cuma satu kali habis itu udah." Devano kini mendudukkan tubuhnya di samping Ciara kemudian ia mengangguk dengan mantap.


"Jadi mau kan?" tanya Devano sembari menaik-turunkan alisnya. Ciara hanya bisa pasrah sekarang dan menganggukkan kepalanya untuk memberi jawaban ke Devano.


Devano kini meluncurkan aksinya dengan merebahkan kembali tubuh Ciara dan tubuhnya mengunci pergerakan Ciara dari atas. Perlahan ia mendekati wajah Ciara dan menyatukan bibirnya juga bibir Ciara yang tampaknya sudah sedikit menebal karena ulahnya tadi malam. Tapi hal itu tidak membuat Devano menghentikan aksinya, ia malah justru menikmati bibir tersebut yang masih sangat manis walaupun sudah beberapa kali ia cium.


Pemanasan terus mereka lakukan, hingga keduanya sudah tak tahan lagi untuk tak langsung memulai bercocok tanam yang kesekian kalinya. Dan pada saat Devano ingin memasukan pusakanya kedalam goa, gedoran pintu menghentikan aksinya yang sedikit lagi sudah membobol goa tersebut.


"Abaikan," ucap Devano kepada Ciara yang menatapnya seolah-olah istrinya itu bertanya kepadanya. Ciara menganggukkan kepalanya, menuruti ucapan Devano tadi.


Dan kini saat pusaka tersebut baru masuk sedikit, suara gedoran pintu kembali terdengar. Tapi tak dihiraukan oleh Devano yang pelahan kembali memasukkan pusakanya hingga masuk sempurna.


Baru saja ia ingin memulai, lagi-lagi suara gedoran yang lebih nyaring berbunyi.


"Mending buka dulu Dev. Siapa tau penting," ucap Ciara yang sama terganggunya dengan Devano.


"Haish ini udah masuk lho sayang. Masak dicabut lagi sih. Nanggung banget," tutur Devano.


"Nanti di lanjut lagi ya. Setelah kamu bukain pintu itu dari pada pintunya jebol terus kamu ganti rugi nanti. Dan jika kita nerusin tanpa menghiraukan gedoran itu, takutnya suara kita kedengarannya sampai luar nanti." Devano berpikir sejenak, iya juga sih kalau orang yang berada dibalik pintu itu sampai mendengarkan suara dirinya juga Ciara tengah merasakan kenikmatan dunia bisa beda urusannya.


Devano menghela nafas berat kemudian dengan terpaksa ia mencabut pusakanya kembali dan langsung beranjak untuk memakai celananya tadi malam.


"Kita lanjut nanti," ucap Devano yang diangguki oleh Ciara.


Devano kini mendekati pintu tersebut dan membukanya. Saat pintu itu terbuka sedikit, ia bisa melihat Mommy Nina, Mama Mila dengan Al disana.


"Ada apa?" tanya Devano dengan ekspresi wajah datar dan masam.


"Gak. Udah cepetan ngomong mau apa Mom kesini?" tanya Devano yang sudah tak tahan menahan pusakanya yang masih bangun.


"Ish galak banget. Gak sopan tau Dev, disini juga ada mertua kamu lho," tegur Mommy Nina.


"Huh, oke-oke baiklah. Mom, Ma sama Al kesini ada perlu apa?" tanya Devano dengan lembut.


"Nah gitu dong kan enak dengarnya. Nih kita bawain kalian baju ganti." Mommy Nina menyerahkan dua paper bag kearah Devano yang langsung di terima oleh sang empu.


"Terimakasih kasih Mom, Ma. Kirain kalian gak ingat masalah ini dan biarin kira nanti pulang masih pakai pakaian pengantin," ucap Devano sedikit menyindir.


"Kita mah selalu ingat tau Dev. Kemarin tuh hanya sengaja aja. Btw udah buat cucu kedua kan?" tanya Mama Mila dengan senyum menggoda Devano.


"Ya ampun. Mama sama Mom tak perlu tau lah hal yang cukup rahasia seperti itu. Tunggu aja nanti beritanya saat Ciara hamil lagi," tutur Devano.


"Yah, padahal kita mau dengar cerita belah duren kalian," ucap Mommy Nina dan Mama Mila serempak yang membuat Devano memutar bola matanya malas.


"Papa, Al mau masuk," ucap Al tiba-tiba sembari berusaha menerobos celah di depannya yang hanya terhalang Devano.


Devano membelalakkan matanya, bisa berabe nanti kalau Al masuk kedalam disaat Ciara tak memakai apapun. Bisa-bisa anaknya itu menjadi dewasa sebelum waktunya.


Devano kini memegang tubuh Al supaya anak itu tak lagi berusaha untuk masuk kedalam.


"Sayang, Mama masih tidur. Kasihan kan kalau Mama nanti terganggu tidurnya sama Al," ucap Devano berbohong.


"Al janji gak akan ganggu tidur Mama. Al mau masuk Papa," ucap Al.


"Eh jangan sayang. Papa gak mau lihat Mama keganggu tidurnya. Gini saja, Al sama Oma dan Mai dulu, nanti kalau Mama sudah bangun Papa kesana bawa Mama untuk Al oke."


"Gak mau, Al mau lihat Mama sekarang, Papa."


"Gini deh, kalau Al nurut sama Papa. Papa janji bakal nurutin semua yang Al mau. Al mau beli es krim satu truk Papa akan belikan untuk Al, atau Al mau mainan apapun Papa juga akan belikan. Asal Al sama Oma dan Mai dulu ya," rayu Devano.


Al terdiam sejenak, beberapa saat kemudian ia mengangguk.


"Oke, tapi Papa harus janji ya." Al mengacungkan jari kelingkingnya dan langsung disambut oleh Devano.


"Janji sayang."


"Mom, Ma. Dev mohon ajak Al menjauh dulu ya dari kamar ini," ucap Devano yang malah membuat kedua wanita didepannya saling pandang dan tersenyum. Sepertinya ia tau apa yang akan Devano lakukan nanti.


"Baiklah. Ayo Al ikut Mai dulu kita jalan-jalan dan beli es krim," ajak Mommy Nina sembari menggandeng tangan Al dan pergi dari hadapan Devano.


"Mainnya yang lembut Dev. Jangan kasar-kasar kasihan Cia nanti. Semangat buat cucu baru," ucap Mama Mila kemudian ia menyusul Al juga Mommy Nina yang lebih dulu pergi.


Devano hanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian ia menutup kembali pintu tersebut.


"Lho Ciara kemana?" gumam Devano saat tak melihat Ciara di kasur kamar tersebut.


Dan dengan samar ia mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi yang membuat Devano serasa ingin menangis saja. Ia kemudian mendekati kamar mandi tersebut dan mengetuknya.


"Katanya mau nerusin kelau mereka udah pergi. Kenapa malah udah mandi dulu sih," ucap Devano dengan bibir yang sudah maju beberapa senti kedepan dan menempelkan tubuhnya di pintu tersebut. Dan tiba-tiba saja pintu kamar mandi tersebut kini terbuka dan membuat tubuh Devano terhuyung kedepan, untung saja ia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya jika tidak dia sudah jatuh mencium lantai.


"Eh maaf aku gak tau kalau kamu senderan di pintu," ucap Ciara.


"Nih baju buat kamu. Mandi sana. Aku tunggu diluar dan nerusin main sama guling," tutur Devano.


Ciara kini tersenyum, ternyata melihat wajah Devano yang tengah merajuk membuat dirinya gemas sendiri.


Dan saat Devano sudah mulai melangkahkan kakinya untuk keluar, Ciara dengan cepat menghadang Devano sembari menutup pintu kamar mandi tersebut tak lupa untuk menguncinya juga. Setelah itu ia perlahan mendekati Devano dengan muka datarnya yang membuat sang suami takut dengan ekspresi wajah Ciara dan membuat ia memundurkan tubuhnya hingga tubuh Devano kini terjelungup masuk kedalam bathtub yang untungnya belum terisi air sama sekali. Belum sempat Devano berdiri, Ciara sudah berada di atas tubuhnya.


"Aku yang akan mulai duluan. Dan hari ini aku yang akan di atas," bisik Ciara tepat di telinga Devano.


Kemudian tak lama setelah itu terjadi bercocok tanam untuk babak yang kesekian.