
Al mencebikkan bibirnya saat melihat kedua orangtuanya yang sedari tadi ia tunggu baru saja turun kebawah, menghampirinya.
Saat kedua orangtuanya itu sampai di depannya, ia memutar bola matanya malas.
"Lama sekali," tutur Al.
"Maaf boy, tadi ada sedikit kendala," jawab Devano sembari mengelus rambut Al yang terlihat rapi itu.
"Ck, kebiasaan," geram Al. Anak satu ini memang sangat tak suka kalau harus menunggu lama jadi sudah tak heran kalau sekarang dirinya memanyunkan bibirnya hingga beberapa senti kedepan.
Devano yang gemas dengan bibir Al pun dengan reflek tangannya ia arahkan untuk mencubit pelan bibir tersebut.
"Papa ih." Al memukul tangan Devano agar sang empu menyingkirkan tangan itu dari bibir mungilnya.
"Mangkanya jangan manyun terus. Kalau manyun kan jadi jelek," ledek Devano yang membuat Al langsung menatap sang Papa dengan tatapan tak terima karena ejekannya tadi.
"Sudah-sudah. Kita berangkat sekarang. 30 menit lagi acara dimulai," pisah Ciara sebelum anaknya itu nanti merengek dan berakhir dua laki-laki tampan berbeda usia itu bertengkar layaknya Tom and Jerry.
Devano terkekeh gemas saat melihat wajah Al yang tampak tertekuk dikarenakan dirinya belum membalas ucapan sang Papa tadi.
"Jangan ngambek boy. Maafin Papa oke." Al masih terdiam tak ingin menimpali ucapan Devano. Tapi setelahnya, ia menjulurkan kedua tangannya untuk mengkode Devano agar menggendong dirinya. Devano yang paham akan kode dari anaknya pun segera meraih tubuh Al kedalam gendongannya dengan senyum yang masih terpancar jelas di wajahnya. Sedangkan Ciara yang melihat hal tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu ia lebih dulu beranjak untuk keluar rumah dan menuju mobil Devano yang sudah siap, disusul oleh Devano dan Al di belakangnya.
Saat semuanya sudah masuk kedalam mobil dan sudah di pastikan aman semua, Devano perlahan mulai menjalankan mobilnya menuju tempat diadakannya ijab qobul Rahel dan Zidan.
Didalam perjalanan hanya ada celotehan Al yang selalu saja bercerita panjang lebar yang membuat kedua orangtuanya tertawa ketika cerita Al, mereka rasa lucu dan menanggapi cerita tersebut saat Al tengah bertanya kepada mereka. Dan tak terasa akhirnya mobil yang mereka tumpangi kini telah berhenti di sebuah hotel ternama yang dijadikan tempat ijab qobul sekaligus sebagai resepsi pasangan kekasih yang sebentar lagi menjadi pasangan suami istri itu.
Mereka bertiga kini turun dari mobil tersebut dan mulai melangkahkan kaki mereka masuk kedalam hotel tersebut dengan menggandeng tangan Al yang sekarang berada di tengah mereka.
Saat mereka memasuki hotel tersebut, banyak pasang mata yang menatap kearah keluarga kecil yang tampak harmonis dan serasi itu. Bahkan banyak bisik-bisik manja yang dengan terang-terangan mereka tujukan ke pasangan tersebut, entah itu perkataan yang berupa pujian, kekaguman dan hal-hal baik lainnya atau ada juga segelintir orang yang masih saja nyinyir sana sini, menghujat terang-terangan Ciara. Tapi itu semua tak membuat Ciara goyah, ia sudah kebal dengan perkataan tak sedap itu untuk dirinya. Ia akan terus bodoamat, cuek bebek, dan menulikan telinganya dengan hujatan yang mengarah kedirinya. Tapi jangan harap jika satu orangpun yang mengganggu anaknya, maka sisi singa betinanya akan keluar.
Sedangkan Devano yang turut mendengar cibiran itu melirik sekilas kearah sang istri sebelum tatapannya beralih ke orang yang membicarakan Ciara tadi dengan tatapan yang sangat tajam seakan-akan memberikan kode kepada mereka bahwa mereka tak akan tenang menjalani hidup di dunia ini. Orang-orang yang tadi masih gencar membicarakan Ciara dengan perkataan negatif, kini di buat kicep dengan tatapan Devano tadi dan tak berani buka suara ataupun menatap ke keluarga kecil tersebut.
"Kamu gak papa?" tanya Devano kepada Ciara. Bahkan dirinya sekarang sudah berpindah tempat, berdiri di samping sang istri sembari memeluk posesif pinggang Ciara. Ciara mengerutkan keningnya kearah Devano.
"Emangnya aku kenapa?" Devano berdecak.
"Kamu gak dengar perkataan orang kurang kerjaan itu?" tanya Devano sembari menunjuk gerombolan orang dengan dagunya. Ciara mengikuti arah pandang Devano dan saat matanya bertatapan dengan mata salah satu orang tadi, Ciara merubah tatapan dengan tatapan mengerikan yang jarang sekali ia perlihatkan ditambah dengan senyum miringnya yang membuat orang tersebut membeku di tempat.
Devano yang turut mendengar ucapan Ciara itu pun kini tersenyum bangga karena wanitanya itu ternyata tak selemah apa yang di kira. Tak tau saja Devano, saat Ciara waktu hamil Al. Berbagai hujatan yang ia terima, sakit memang tapi dia memilih untuk tetap kuat dan mengabaikan hujatan itu. Dan mungkin karena itu, Ciara bisa sekebal saat ini.
"Auhhhhh aku bangga punya istri kayak kamu sayang. Uhhhh jadi tambah cinta kan aku jadinya," ucap Devano dengan mencium pipi Ciara berulang kali. Hal itu mampu membuat seluruh pengunjung memekik iri dengan keromantisan mereka berdua.
"Harus lah. Ya kali punya istri secantik aku gini kamu gak bangga. Ya udah ya aku tinggal dulu," ucap Ciara.
"Mau kemana?"
"Mau nyamperin Rahel, dia dari tadi udah teror aku buat nemenin dia," jawab Ciara.
"Mau aku antar?" Ciara tampak terdiam sesaat sebelum dirinya mengangguk. Devano tersenyum kemudian mereka segera beranjak dari tempat utama dilaksanakan upacara pernikahan itu ke suatu ruangan yang tak jauh dari sana dengan tangan Devano yang masih setia melingkar di pinggang Ciara. Mengumbar keromantisannya dengan sang istri. Sedangkan tangan Ciara menggandeng tangan Al.
Kini ketiganya sudah sampai di depan ruangan tersebut yang mereka yakini adalah sebuah kamar yang nantinya akan dijadikan pasangan pengantin muda itu melakukan unboxing.
"Al mau ikut Mama atau Papa?" tanya Ciara sebelum dirinya mengetuk pintu tersebut.
"Emang Mama mau kemana?"
"Mama mau nemenin aunty Rahel," jawab Ciara.
"Kalau Papa?"
"Papa mau godain uncle Zidan," ucap Devano.
Al tampak menggangguk sesaat sebelum memberikan jawabannya.
"Kalau gitu Al mau sama Mama aja lah. Kalau sama Papa pasti nanti gak seru. Sekalian nanti kalau ada celah, Al mau bawa Aunty cantik kabur biar gak jadi nikah sama Uncle Zi. Dan berakhir aunty cantik nanti nikahnya sama Al," ujar Al yang membuat Devano dan Ciara saling pandang dan sesaat kemudian langsung menggelengkan kepalanya.
"Ada-ada aja kamu, Al. Ya udah Papa tinggal dulu. Al benaran gak mau sama Papa?" tanya Devano memastikan.
"No Papa." Devano menganggukkan kepalanya setelah itu ia mencium kepala Ciara dan Al secara bergantian.
"Aku tinggal dulu. Kalau ada apa-apa telepon," ucap Devano seakan-akan dia ingin pergi jauh dari sang istri. Ciara menanggapi ucapan tadi dengan anggukan. Setelah itu Devano kini benar-benar beranjak dari depan mereka menuju ke tempat dimana Zidan berada, melancarkan aksinya untuk menggoda sang sahabat. Kapan lagi kan menggoda calon pengantin itu habis-habisan.