Young Mother

Young Mother
Kekhawatiran itu Kembali


Kini jam menunjukkan pukul 6 sore saat Devano terbangun dari tidurnya. Ia mengerjabkan matanya dan melihat ke sekeliling yang terasa asing baginya dan kini matanya menatap kesamping dimana tempat Al masih tertidur sangat lelap. Ia baru ingat sekarang, ternyata dirinya tadi ketiduran di kamar Ciara tapi dimana wanita itu sekarang?


Perlahan Devano turun dari ranjang kamar tersebut dan sebelum keluar dari kamar, Devano membenarkan selimut Al dan mencium pipi anaknya itu kemudian ia baru berjalan keluar dan langsung menuju lantai satu.


Saat dirinya sudah berada dilantai satu, Devano menatap keseluruhan ruangan rumah tersebut tapi masih saja tak ada Ciara disana. Kemudian ia memutuskan untuk mencari wanitanya ke arah dapur yang hasilnya masih nihil, tak ada tanda-tanda Ciara di situ.


"Ciara kemana sih?" gumam Devano pada dirinya sendiri. Kakinya kini ia langkahkan kembali untuk mencari keberadaan Ciara dan saat dirinya berada di ruang keluarga, keningnya berkerut saat mengetahui Ciara tengah tertidur di atas sofa ruangan tersebut.


Devano perlahan menghampiri Ciara. Setelah sampai dihadapan wanita tersebut, Devano langsung menjongkokan tubuhnya dan menatap lekat wajah tenang Ciara.


"Sayang," panggil Devano sembari mengelus pipi Ciara.


Ciara menggerakkan badannya sedikit tapi tidak untuk membuka matanya.


"Sayang, bangun, pindah tempat dulu ke kamar baru lanjutin tidurnya," ucap Devano namun sayang usahanya tak membuahkan hasil.


Ia pun menghela nafas dan dengan inisiatifnya, Devano membopong tubuh Ciara dan memindahkannya ke kamar yang di tempati Al tadi. Ia kasihan jika Ciara terus tertidur di sofa yang ruang geraknya sempit.


Saat sudah sampai di kamar tadi, Devano dengan hati-hati meletakkan tubuh Ciara disamping tubuh Al, lalu ia juga menyelimuti tubuh Ciara sama seperti Al tadi.


"Sayang, aku pulang dulu. Maaf untuk semuanya dan aku janji akan terus berusaha buat menebus kesalahan yang pernah aku buat ke kalian berdua dan aku juga janji akan selalu bahagiain kalian semampuku. Terimakasih untuk hari ini semoga hari ini menjadi awal kebersamaan kita. I love you, really really love you," tutur Devano lirih. Setelah itu ia mencium kening Ciara dan pipi Al. Kemudian ia bergegas untuk keluar dari rumah tersebut dan menuju ke rumahnya sendiri.


...*****...


Pagi-pagi sekali Devano telah sampai di rumah Ciara, karena sesuai dengan janjinya kemarin bahwa dirinya akan mengantar Al ke sekolah.


Setelah sampai di depan pintu utama, tangan Devano bergerak untuk mengetuk pintu tersebut.


Tok tok tok


Tak ada sahutan dari sang empu rumah tersebut.


Tok tok tok


Untuk ketukan yang kedua terdengar suara langkah kaki yang mendekati pintu utama.


Ceklek!!


Pintu tersebut akhirnya terbuka.


"Siapa sih? berisik banget pagi-pagi ganggu orang tidur aja," omel wanita cantik yang tadi membukakan Devano pintu.


"Lah? Lo ngapain kerumah orang pagi-pagi buta kayak gini? mana berisik banget pula," sambungnya dengan suara ketus.


Devano yang kena omelan di pagi hari pun hanya menatap wanita tersebut yang tak lain adalah Olive dengan datar dan ia juga tak berniat untuk menimpali setiap ucapan wanita di depannya itu. Saat dirinya sudah muak dengan ucapan Olive tadi, Devano langsung nyelonong masuk kedalam rumah tersebut tanpa persetujuan dari Olive sang pemilik rumah terlebih dahulu.


"Woyyy!" teriak Olive sembari berlari mengejar Devano yang semakin melangkahkan kakinya masuk lebih dalam lagi di rumah tersebut.


Saat sudah berada diruang tamu, Devano mendudukkan tubuhnya disalah satu sofa disana.


"Woy, lo ngapain duduk disitu. Gue belum izinin lo ya. Sopan dikit lah kalau di rumah orang lain tuh." Lagi-lagi omelan olive masuk ke telinganya.


Devano masih terdiam dan menatap Olive dengan datar.


"Dan itu mata ngapain lihatin gue kayak gitu? mau gue colok hah!" ucap Olive sinis.


"Papaaaa!" teriak Al dari arah tangga.


Hal itu seketika membuat Devano dan juga Olive menolehkan kepala mereka ke sumber suara.


"Jangan lari-lari boy," perintah Devano. Namun ucapan dari Devano tersebut dihiraukan Al, ia masih saja berlari hingga sampai di pelukan Devano yang tadi sudah menjongkokan tubuhnya untuk menangkap tubuh Al.


"Papa," panggil Al dalam pelukan Devano.


"Kenapa sayang heum?" tanya Devano sembari menciumi wajah Al. Hanya semalam saja ia tak bertemu dengan anaknya itu sudah mampu membuat dirinya rindu berat. Ia benar-benar tak sanggup jika harus berpisah lagi dengan anak laki-lakinya yang paling tampan itu.


"Al kira papa gak jadi datang," jawab Al sembari menatap lekat mata teduh milik Devano.


Devano tersenyum dan tangannya kini ia gunakan untuk mengacak rambut Al. Karena gemasnya semakin bertambah, Devano mencubit hidung Al dengan pelan.


"Papa kan udah janji sama Al kemarin, buat antar Al kesekolah dan jika seseorang sudah berjanji maka harus ditepati. Atau jangan-jangan Al gak suka lagi kalau papa datang menemui Al?" tanya Devano dengan ekspresi wajah yang sengaja ia buat sesedih mungkin.


Al yang mendengar penuturan dari Devano tadi dan melihat Papanya itu tengah bersedih, ia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"No Papa. Al sangat suka sekali kalau Papa menemui Al," ucap Al yang kembali memeluk tubuh Devano dengan senyum lebarnya.


Sedangkan di ujung tangga, Ciara sedari tadi memperhatikan interaksi antara ayah dan anak itu. Ia tersenyum miris kala melihat putra semata wayangnya bahagia bersama Devano. Bagaimana jika Al tau bahwa Devano memang Papa kandungnya? Apakah Al akan memilih untuk bersama dengan Devano dan meninggalkan dirinya sendirian? Arkh kekhawatiran itu masih saja menghantui Ciara. Ia kemudian menggelengkan kepalanya untuk menangkis pikiran negatifnya walaupun itu sulit untuk ia hilangkan.


"Ma!" panggil Al namun tak mendapatkan respon dari Ciara.


"Mama!" panggilan itu kini berubah menjadi teriakan yang cukup keras yang membuat ciara terperanjat kaget dan menatap kearah Al.


"Hah?" tanyanya bingung. Kemudian kakinya ia langkahkan menghampiri Al yang masih berdiri bersebelahan dengan Devano.


"Al bersiapnya sama Papa aja ya, boleh kan?" ucap Al meminta izin kepada Ciara.


Ciara kini menatap wajah Devano untuk sesaat setelah itu matanya ia alihkan kembali ke anaknya.


"Ya udah tapi janji jangan main air. Kasihan baju Papa nanti kalau basah," ucap Ciara.


"Siap Mama," tuturnya dengan memberi hormat kepada Ciara. Ciara pun tersenyum gemas ke Al.


"Ayo Pa kita bersiap," ucap Al dengan penuh antusias.


"Let's go boy," tutur Devano.


Kini sepasang anak dan ayah telah pergi dari hadapan mereka dan menuju ke kamar Ciara.


"Ci," panggil Olive yang membuat Ciara mengalihkan pandangannya.


"Kamu udah kasih tau Al yang sebenarnya?" tanya Olive penasaran.


Ciara pun menggelengkan kepalanya.


"Aku belum kasih tau yang sebenarnya ke Al tapi Al kemarin berinisiatif untuk panggil Devano dengan sebutan itu," jawab Ciara.


"Udah lah jangan dibahas lagi. Aku mau masak buat sarapan nih, kamu buruan siap-siap gih sana," sambung Ciara. Setelah itu ia pergi menuju dapur dan meninggalkan Olive sendirian di sana.


"Ck, elah malah di tinggalin," gerutu Olive sebal padahal ia ingin sekali tau lebih lanjut tentang perkembangan dari masalah Ciara dan Devano itu yang kini melibatkan keponakan tampannya itu.


...*****...


Yuk 500 like semangat 💪 Oh iya kalau dalam penulisan dan yang lainnya ada kesalahan tolong beritahu author ya biar author langsung perbaiki🤗


Dan terimakasih kalian masih setia dengan cerita ini 🤗 maaf kalau masih banyak kekurangannya 🤗 See you next eps bye 👋