Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 67


Franda kini sudah berada di depan ruangan orang yang ia cari. Ia berdehem sesaat dan melihat penampilannya, sebelum akhirnya ia mengetuk pintu ruangan tersebut.


Tok tok tok!!!


Tak berselang lama setelah ketukan itu, ada seseorang yang membukakan pintu untuk dirinya.


Orang yang ternyata pria yang sama sekali tak di kenal oleh Franda pun menatap dirinya dari atas sampai bawah sebelum akhirnya pintu itu terbuka lebar.


"Masuk," ucap pria tadi yang diangguki oleh Franda.


Dan saat dirinya sudah berada di dalam ruangan tersebut, ia melihat situasi didalam yang ternyata tebakannya tadi memang benar jika di dalam ruangan tersebut ada orang yang ia cari.


"Silahkan dinikmati tuan," ucap Franda dengan suara yang ia rubah setelah ia menaruh pesanan orang-orang di ruangan tersebut yang ia dapatkan dari salah satu karyawan yang tadinya ingin mengantarkan makanan itu sebelum dirinya menawarkan diri untuk menggantikan aktivitas karyawan tadi.


Dan saat Franda ingin berbalik arah, suara target mengintruksi dirinya.


"Tunggu sebentar," tutur Rizal sembari mendekati Franda.


Franda yang didekati pun mulai was-was. Takut jika penyamarannya itu dengan cepat bisa Rizal ketahui.


"Antarkan bir kesini," ucap Rizal sembari memberikan beberapa uang tip untuknya.


"Baik tuan," ujar Franda dan setelahnya ia mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruang tersebut dengan helaan nafas lega. Dan sepertinya penyamarannya itu sama sekali tak diketahui atau membuat Rizal curiga kepadanya.


Franda kini bergerak untuk mengambilkan pesanan dari Rizal tadi.


"Ambilkan satu botol bir. Di ruang VIP ada yang pesan," ucap Franda kepada salah satu karyawan yang bekerja untuk menyiapkan pesanan para pelanggan.


"Bir yang apa?" tanya karyawan tadi.


Franda tampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Aku juga tidak tau. Yang pesan tuh tuan Rizal di ruang VIP 3," ujar Franda.


"Oh tuan Rizal. Sebentar biar aku ambilkan dulu," ucap karyawan tadi yang diangguki oleh Franda.


Dan tak berselang lama, karyawan itu sudah kembali dengan membawakan pesanan dari Rizal tadi.


"Ini," tutur karyawan itu.


"Terimakasih," ujar Franda lalu setelahnya ia kini kembali naik ke lantai atas.


Saat dirinya sudah berada di depan pintu VIP itu, ia lagi-lagi mengetuk pintu tersebut dan orang yang membukakan pintu kali ini adalah Rizalnya sendiri.


"Terimakasih," ucap Rizal dan setelahnya ia langsung menutup pintu itu kembali. Dan hal itu membuat Franda mencebikkan bibirnya.


Namun sesaat setelahnya, Franda bergegas menuju ruangan VIP tepat di sebelah ruangan yang dipakai oleh Rizal tadi.


"Masuk ke ruang VIP 2. Aku tunggu di sana," ucap Franda yang ia tunjukkan untuk kedua laki-laki yang terus menunggu instruksi dari Franda.


Sementara ia menunggu kedua laki-laki tadi sampai di ruangan yang ia sebutkan tadi, Franda kini membuka masker dan topinya saat dirinya sudah berada di dalam ruangan yang ia maksud tadi. Dan dengan cepat ia mengambil ponselnya lalu membuka sebuah aplikasi yang telah ia koneksikan ke alat penyadap suara yang sudah ia pasangan di bawah meja di ruangan tadi secara diam-diam.


Dan baru saja ia fokus ke rekaman suara itu, pintu ruangan yang tengah ia tempati terbuka dan menampilkan Devano dan Bian di balik pintu tersebut.


"Bagiamana?" tanya Bian saat dia sudah duduk di samping sang istri.


"Masih belum ada tanda-tanda. Tapi aku yakin hari ini juga kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan selama ini," ujar Franda.


"Selain penyadap suara yang aku pasang, aku juga sudah memasang CCTV di salah satu gelas minuman disana," ucap Franda sembari menunjukkan rekaman CCTV yang terlihat di layar laptop Bian tadi.


"Dev, pinjam tap kamu bentar," ujar Franda.


Dan tanpa basa-basi, Devano langsung menyerahkan tap-nya kepada Franda.


Bian yang penasaran untuk apa tap itu pun kini ia kembali bertanya.


"Kamu pasang apa lagi di ruangan itu?" tanya Bian kepo.


"Aku cuma pasang dua alat itu aja," jawab Franda tanpa melepaskan tatapannya dari layar tap di genggamannya itu.


"Lha terus tap itu untuk apa?" tanya Bian lagi.


"Buat hapus rekaman CCTV di restoran ini," ujar Franda.


"Emangnya bisa? Bukannya tap Devano gak terhubung dengan CCTV di restoran ini?" Franda yang benar-benar terganggu atas ocehan dari suaminya itupun kini ia mengalihkan pandangannya kearah Bian yang tengah menaikan kedua alisnya.


"Ya bisa lah kalau aku udah berhasil hack CCTV disini. Gimana sih kamu tuh sayang? Gitu aja gak tau. Udahlah mending kalian berdua fokus sama urusan di ruang sebelah. Biar urusan CCTV ini aku aja yang nangani," ucap Franda yang diangguki setuju oleh kedua laki-laki tersebut.


Dan kini di ruangan tersebut tampak sunyi karena ketiga orang didalamnya tengah fokus dengan aktivitasnya masing-masing. Hingga keheningan itu pecah saat rekaman CCTV dan penyadap suara tersebut mulai menampilkan tanda-tanda mencurigakan.


"Astaga, dia pakai narkoba kah?" tanya Devano tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop Bian.


"Kita juga baru tau hari ini kalau ternyata Om Rizal pakai barang begituan," timpal Franda.


"Wah gak bisa di biarkan ini. Kalau orang-orang terus menggunakan obat-obatan terlarang, mau jadi apa negara ini. Ck Ck Ck ketelaluan," ucap Bian dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sudahlah kita tidak usah ngurusin dia mau pakai barang begituan atau tidak. Kita akan fokus ke permasalahan kita saja," tutur Franda.


Dan sesaat setelah Franda berbicara, mereka kembali fokus ke tujuan mereka saat ini. Hingga indra pendengaran mereka mulai menangkap obrolan dari dua orang yang berada di ruangan tersebut.


"Bagaimana? Apakah sudah kamu lakukan apa yang aku suruh waktu itu?" tanya Rizal.


"Maaf sebelumnya tuan. Kita sudah melakukan apa yang tuan rencanakan disaat itu juga tapi kita gagal karena anak itu terus di kawal oleh dua bodyguard yang sangat licik dan pintar dalam bertarung," jawab orang tadi.


"Ck, kamu ini hanya disuruh membawa anak sekecil dia ke hadapanku saja tidak becus. Bukankah kamu punya anak buah banyak? Kenapa tidak kamu kerahkan semua untuk melawan bodyguard itu? Percuma saja saya bayar kamu mahal-mahal kalau ujungnya tidak menguntungkan bagi saya," tutur Rizal.


"Saya benar-benar minta maaf tuan dan ini juga kesalahan saya karena pada saat itu hanya membawa sedikit anak buah untuk membantu saya menyelesaikan apa yang tuan perintahkan. Tapi untuk selanjutnya saya akan semaksimal mungkin untuk melakukan apa yang tuan perintahkan," ucap orang tadi.


"Tidak perlu! Saya sudah tidak butuh bantuan kamu dan anak buahmu yang lemah itu. Sudah berkali-kali saya merencanakan semuanya dengan meminta bantuan kalian tapi sama sekali tidak ada kemajuan. Hanya kata gagal, gagal dan gagal yang selalu saya dapatkan. Pergi kamu sekarang dari sini. Saya sudah mendapatkan pengganti yang jauh profesional dari kamu," tutur Rizal.


"Tapi tuan---"


"Pergi!" perintah Rizal tanpa mau mendengar bantahan dari orang tersebut.


Dan dengan terpaksa akhirnya orang itu kini mulai beranjak dari tempatnya tadi menuju ke arah pintu keluar. Dan saat dia terus berjalan, Rizal mengkode anak buahnya untuk melancarkan aksinya itu.


Anak buah Rizal yang paham akan kode itu pun kini tangannya bergerak untuk mengambil pistol di balik jaketnya dan...


Dorrr!!!


Suara tembakan itu nyaring terdengar dari penyadap suara tadi dan peluru dari pistol yang di bawa oleh anak buah Rizal, berhasil menembus dada sebelah kiri orang tadi yang membuat orang itu dengan seketika meninggal di tempat.