Young Mother

Young Mother
Melumpuhkan Lawan


Dorrr!!


Jantung Al berpacu dengan cepat ketika ia mendengar kembali suara tembakan tadi. Ia pikir tembakan itu tertuju ke tubuhnya tapi jika benar, kenapa dirinya sekarang tak merasakan rasa sakit sedikitpun? hingga dirinya tersadar saat ada sebuah badan yang ambruk tepat di depannya bahkan badan itu sempat mengenai tubuh mungil Al.


Al kini memberanikan diri untuk membuka matanya dan saat mata itu terbuka lebar, nafasnya seakan naik turun tak beraturan saat melihat tubuh dua orang yang ingin menyiksanya tadi sudah terkapar tak bernyawa di bawah kakinya ditambah dengan adanya darah segar yang keluar dari kepala mereka berdua.


"Al tenang sayang, Papa ada disini!" teriak Devano menggema di dalam ruangan itu, Al pun yang tadinya sudah ketakutan dengan wajah yang pucat pasi ditambah keringat dingin yang bercucuran kini seakan-akan tubuhnya lebih tenang dari sebelumnya berkat suara tadi. Kini Al dengan cepat menoleh kearah sumber suara dimana disana sudah ada Deavano, kedua kakeknya serta beberapa orang dengan tubuh kekar berpakaian serba hitam yang sekarang sudah menguasai ruangan tersebut dengan todongan pistol yang mengarah ke Tiara serta anak buahnya. Bahkan di lihat-lihat anak buah Tiara sudah bertekuk lutut di bawah tekanan anak buah Devano.


Tapi Tiara tetaplah Tiara, walaupun anak buahnya sudah di lemahkan oleh anak buah Devano serta nyawanya sudah terancam, ia tak akan ada rasa takut sedikitpun. Dan justru sekarang dirinya dengan cepat mengambil pistol dari saku anak buahnya yang sudah terkapar tak bernyawa itu dan kini pistol tersebut ia arahkan ke Al.


"Jangan ada yang mendekat! Jika sampai salah satu dari kalian mendekat, saya gak akan segan-segan buat nembak anak haram ini!" teriakan lantang dari Tiara mampu membuat Devano dan kedua laki-laki paruh baya yang selalu disisi Devano pun langsung menatap tajam kearah Tiara dan aura mencekam yang langsung menguasai ruangan tersebut.


"Aduh sih cabe. Bisa-bisanya ngomong kayak gitu. Gobloknya sampai next level kayaknya. Kalau kayak gini kan sama aja dia nyerahin nyawa dengan cuma-cuma. Gak tau aja dia kalau lagi bangunin singa yang lagi tidur pas dalam keadaan lapar. Sudah bisa dibayangkan, kalau tuh cabe pasti langsung di happp lalu di tangkap habis itu di makan dan dihancurkan," batin Nando yang diam-diam merayap mendekati Al.


Devano sudah geram akan pancingan Tiara tadi, ia langsung bergerak maju satu langkah ke depan tapi sayang lengannya langsung di cekal oleh Daddy Tian.


"Jangan gegabah Dev. Kamu tau bukan kalau Tiara itu orangnya selalu nekat. Jadi kalau kamu masih berniat buat maju dan nyerang dia, nyawa Al jadi taruhannya," ucap Daddy Tian memperingati dengan ekor matanya melirik kearah Nando yang masih berusaha untuk mendekat tanpa ketahuan oleh Tiara.


Sedangkan Tiara yang mendengar ucapan dari Daddy Tian tadi menyeringai.


"Wahhh calon mertua pengertian sekali ya. Tau gimana aku yang sebenarnya. Salut deh buat calon mertua kalau gini kan jadi gak sabar buat nikah sama Devano dan mengesahkan calon mertua menjadi Daddy kedua bagi Tiara. Pastinya Devano juga gak sabar dong ya mau nikahin aku. Iya gak sayang?" tanya Tiara dengan tersenyum manis kearah Devano tapi sayangnya senyuman itu jika dipandang oleh mata Devano akan berubah menjadi senyum menjijikkan.


"Gila! sampai kapan pun aku gak akan pernah nikahin kamu karena aku udah punya pasangan hidup bahkan sampai aku mati pun, Ciara akan tetap jadi pasanganku!" tolak Devano dengan geram.


Wajah Tiara yang awalnya tersenyum kini berubah menjadi masam.


"Gak akan pernah aku izinin kamu buat nyentuh istriku, seujung rambut pun gak akan pernah aku biarkan itu terjadi!" tutur Devano dengan menekankan kata istri, berharap Tiara segar sadar akan tindakannya saat ini.


"Dan istri yang kamu maksud itu adalah aku. Iya kan Dev?" Astaga bisa-bisa Tiara masih sangat percaya diri seperti ini.


"Ciara. Istri aku Ciara Devania Eveline. Bukan kamu atau yang lain," geram Devano.


"Gak! aku gak akan biarin wanita murahan itu terus berstatus sebagai istri kamu. Karena yang hanya pantas menjadi istri kamu itu cuma aku bukan yang lainnya termasuk wanita murahan itu. Aku akan bunuh semua orang yang berada didekatmu, yang mencoba merebut kamu dari aku termasuk anak haram ini!" Mata Tiara kini beralih kearah Al yang tengah menatapnya dengan tajam.


"Bersiaplah kamu akan segera mati di tangan aunty. Say goodbye to Papa, Al," ucap Tiara yang semakin mengikis jarak antara dirinya dan juga Al.


"Buat apa Al harus say goodbye ke Papa? harusnya anda yang harus say goodbye ke seluruh dunia. Karena nyawa anda yang sekarang sedang terancam tercabut," tutur Al.


"Cih, memang siapa yang berani bunuh Aunty? Papa Al saja tidak berani tuh karena Papa Al sayang sama aunty jadi gak akan pernah tega nyakitin aunty dan nyatanya Papa Al biarin aunty buat bunuh Al. Jadi bersiaplah." Tangan Tiara kini perlahan menekan pelatuk pistol tersebut dan....


Dorrr!!


Suara tembakan lagi-lagi terdengar tapi bukan Al yang merasakan sakit akibat peluru itu, melainkan Tiara lah yang sekarang tengah meringis kesakitan saat lengan tangannya tertembak oleh bidikan Devano bahkan pistol yang ia gunakan untuk menyandera Al pun terjatuh dan langsung di tendang menjauh oleh Al walaupun ia sempat kesusahan tadi karena kakinya masih saling menyatu satu sama lain.


"Sudah aku peringatkan. Jangan pernah menyentuh orang yang aku sayang. Jika sampai itu terjadi maka aku gak akan segan-segan buat bunuh kamu," tutur Devano sembari mendekat kearah Tiara saat sudah melihat Nando berada di belakang Al. Semua tindakannya tadi adalah sebuah alibi agar Tiara hanya terfokus dengannya sehingga ia tak menyadari pergerakan dari Nando yang berusaha mendekati Al.


Tak lupa ia terus menodongkan pistol tadi kearah Tiara yang terus meringis bahkan air matanya sudah menetes karena tak sanggup menahan sakit di lengan tangannya. Tapi sayangnya Devano tak akan pernah peduli akan rintihan atau apapun yang menyangkut orang-orang yang sudah mengusik ketenangan keluarganya.


Sedangkan Al kini dirinya telah dibantu oleh Nando untuk melepaskan tali yang melingkar di tangan dan kakinya. Dan setelah semuanya terlepas, ia langsung di gendong Nando yang akan membawa Al keluar dari ruangan tersebut, lebih tepatnya Nando tak ingin Al melihat kekejaman dari Devano diikuti oleh Daddy Tian dan juga Papa Julian. Dua laki-laki paruh baya itu akan membiarkan Devano meluapkan emosinya kepada Tiara, mereka juga tak peduli jika wanita yang sudah menculik cucu kesayangan mereka itu akan kehilangan nyawa di tangan Devano langsung. Bahkan mereka berdua sangat mendukung Devano untuk langsung melenyapkan Tiara. Maaf-maaf nih ya mereka berdua juga termasuk dalam golongan orang-orang yang keji dan tak memiliki rasa kasihan kepada musuh mereka. Bahkan kekejaman keduanya bisa dilihat saat mereka sedang menghakimi Devano dulu. Begitu juga dengan Devano yang tak akan pernah melepaskan musuhnya begitu saja atau menyerahkan mereka kepada polisi yang jika disuap dengan uang maka dengan mudahnya pelaku akan di bebaskan atau hanya terkena hukuman yang jauh lebih ringan daripada pelaku tindakan mencuri ayam tetangga. Miris memang tapi itulah kenyataannya. Maka dari itu Devano akan turun langsung untuk menghukum musuhnya tanpa perantara pihak berwajib.