Young Mother

Young Mother
Penjelasan Trauma Al


Setalah 2 jam Kellen menangani Al, akhirnya ia selesai juga menjalankan tugasnya. Dan dengan senyum lebar ia mengelus kepala Al membuat anak itu itu yang awalnya tertidur kini mengerjabkan matanya.


Al menguap dan menatap kearah sekitarnya.


"Al ketiduran ya aunty?" tanya Al dengan polosnya sembari menegakkan tubuhnya kembali.


"Iya. Al tadi tidur," jawab Kellen.


"Maap ya aunty. Al tadi ngantuk banget. Dan maaf Al tadi membuang waktu aunty. Pasti aunty nungguin Al ya, kan aunty tadi mau bertanya ke Al tapi malah Al tinggal tidur. Maaf," ujar Al dengan bibir yang mengerucut.


Kellen yang gemas dengan Al pun tangannya kini menangkup kedua pipi Al.


"Tidak apa-apa, boy. Lain kali aunty akan bertanya ke Al. Karena kalau sekarang tidak ada waktu lagi, aunty harus menangani pasien aunty yang lainnya," ujar Kellen.


Al menatap lekat kearah mata Kellen dengan tatapan sendu.


"Yah, berarti aunty tidak jadi mengajarkan Al buat menyembuhkan orang sakit dong." Kellen menggaruk tengkuknya.


"Maaf boy. Lain kali deh aunty ajarin Al buat sembuhin orang sakit." Al menambah kerucutan di bibirnya.


"Aunty janji kok." Kellen kini menyodorkan jari kelingkingnya kehadapan Al.


"Benarkah? aunty gak akan bohong kan?" Kellen menganggukkan kepalanya. Dan dengan segera Al melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Kellen tadi.


"Aunty janji," ucap Kellen yang langsung mendapat pelukan dari Al.


"Terimakasih aunty. Al akan menunggu waktu itu tiba." Kellen tersenyum dari balik tubuh Al dan tangannya pun bergerak mengelus punggung anak laki-laki itu.


"Siap bos. Aunty juga punya sesuatu buat Al." Al melepaskan pelukannya dan menatap Kellen dengan tatapan berbinar.


"Ayo ikut aunty." Al mengangguk kemudian turun dari kursi yang ia tempati tadi lalu mengikuti Kellen yang berjalan kearah kursi kerjanya yang didepannya terdapat orangtua Al disana.


"Mama sama Papa dari tadi disini?" tanya Al.


"Iya sayang." Al menganggukkan kepalanya setelah itu ia lebih fokus kearah Kellen yang masih saja mencari sesuatu yang akan ia berikan ke Al.


Dan saat ia menemukannya, Kellen kembali tersenyum kemudian menyerahkan sebuah paper bag kearah Al. Dengan antusias Al langsung membuka paper bag tadi dan melihat isinya.


"Ini apa aunty?" tanya Al sembari mengangkat satu barang dari dalam paper bag tadi.


"Itu namanya lampu tidur. Saat Al tidur, Al pakai lampu itu ya dan lampu utama kamar Al harus dimatikan. Dan benda itu bisa terus berganti warna lho sesuai yang Al mau," ujar Kellen. Al mengangguk kemudian ia meletakkan benda tadi diatas meja sebelum dirinya kembali mengambil benda lainnya disana.


"Kalau ini?"


"Itu namanya aroma terapi. Nanti kalau kamar Al pakai aroma terapi ini. Kamar Al akan wangi. Coba aja Al cium baunya." Al menuruti apa yang diucapkan oleh Kellen tadi.


"Iya aunty. Al suka," ujar Al kegirangan. Lalu ia kembali meletakkan benda tadi dan kembali meraih benda terakhir yang ada didalam paper bag itu.


"Nah kalau ini namanya kotak musik. Biar aunty contohkan cara menghidupkan musiknya." Kellen meraih benda tadi dari tangan Al dan mulai menyalakan kotak musik tadi. Al tersenyum saat mendengar alunan musik dari benda itu.


"Wahhh bagus sekali," ucap Al.


"Al suka?" tanya Ciara sembari mengelus kepala anaknya. Al menganggukkan kepalanya kemudian ia meraih kotak musik itu dari tangan Kellen lalu ia bergerak menuju kearah Devano. Dan dengan sigap Devano membawa tubuh Al kedalam pangkuannya.


Saat Al tengah serius memperhatikan benda dihadapannya, saat itu pula Kellen mulai menjelaskan masalah yang sedang Al hadapi.


"Sesuai dari pengamatan aku tadi, trauma yang diterima Al tidak terlalu parah. Hanya saja dia sedikit takut akan gelap dan suara yang terdengar nyaring ditelinganya. Karena sesuai yang Al katakan tadi jika sebelumnya ia mendengar sebuah suara pistol. Jadi aku harap sesekali kalian ajak Al kearea tembak. Karena dengan itu perlahan trauma Al akan suara tembakan dan suara nyaring akan hilang jika kita biasakan dia untuk mendengar suara-suara itu tapi perlahan saja jangan memaksakan dia. Karena perlu kalian tau, cara menyembuhkan sebuah trauma itu sebenarnya dengan kita melawan trauma itu sendiri. Walaupun sangat menakutkan untuk kita tapi jika kita bisa melawannya yakinlah ketakutan dalam pikiran kita itu akan menghilang seiringnya waktu karena kita sudah terbiasa akan hal itu. Dan satu lagi, berikan Al buku diary dan alat gambar supaya Al bisa mengalihkan traumanya itu. Ajarkan dia untuk menulis setiap kejadian yang dia alami didalam buku diary. Karena aku tau Al merupakan anak yang sangat sulit untuk menceritakan suatu kejadian ke orang lain walaupun itu orangtuanya sendiri. Al tipe anak yang selalu memendam apa yang dia alami. Jadi untuk melupakannya, Al harus menulis semuanya lewat buku diary. Bukan cuma perempuan saja yang diperbolehkan memiliki buku itu, laki-laki juga perlu buat dirinya sendiri. Karena manusia sekarang seram-seram bestie, kita curhat kesatu orang, eh besoknya cerita kita udah sampai ke telinga orang lain dengan ditambahi bumbu-bumbu yang berbeda dari cerita asli," jelas Kellen diakhiri dengan curhat colongan.


Devano dan Ciara memutar bola matanya malas tapi apa yang dikatakan Kellen diakhiri ucapannya tadi memang benar, bahkan sedang dialami orang-orang diluar sana. Jadi kita semua juga harus serba hati-hati untuk melindungi privasi kita sendiri.


"Oh ya. Dan semua benda yang aku kasih ini sebisa mungkin setiap hari harus stay di kamar yang Al tiduri. Matikan lampu utama dikamar dia dan ganti dengan lampu ini dan nyalakan kotak musik itu. Jangan lupa aroma terapi ini harus selalu di kamar Al. Jika sudah habis kalian harus beli sendiri jangan minta ke aku," tutur Kellen. Ia sudah tau persis apa yang ada di pikiran Devano maupun Ciara, walaupun sultan tapi masalah gratisan tetap nomor one.


"Iya-iya. Kamu tenang aja kita gak akan minta ke kamu," ujar Ciara.


"Baguslah kalau gitu," ucap Kellen dengan cengiran di bibirnya.


"Hmmmm. Ini udah selesai kan?" tanya Devano. Kellen menganggukkan kepalanya.


"Kita lihat perkembangan Al selama satu bulan. Jika dalam waktu itu trauma Al semakin parah atau tidak menunjukkan kemajuan, kita cari cara lain untuk metode penyembuhannya," ucap Kellen yang diangguki kedua orang tua itu.


"Al kasih salam dulu sama aunty sebelum kita pulang," ucap Ciara dengan lembut yang membuat Al mengalihkan pandangannya dari kotak musik tadi kearah Kellen. Kemudian ia turun dari pangkuan Devano lalu menghampiri Kellen.


"Al pulang dulu aunty. Terimakasih sudah kasih Al hadiah. Al sangat suka sekali," tutur Al sembari bersalaman dengan Kellen. Kellen tersenyum kemudian mengacak rambut Al.


"Terimakasih juga karena Al sudah mau berkunjung di tempat kerja aunty. Sampai ketemu lain waktu. Kalau tidak kapan-kapan aunty datang kerumah deh, mau lihat baby Kiya juga. Boleh kan aunty main kerumah Al?"


"Boleh dong aunty. Al sekarang pulang dulu ya kasihan baby Kiya pasti sudah lama nunggu kita di rumah. Bye aunty Kel." Al melambaikan tangannya kearah Kellen sembari berjalan keluar, mendahului kedua orangtuanya.


"Susul anak kamu. Biar aku masukkan barang-barang ini dulu," perintah Ciara yang langsung dilakukan oleh Devano.


"Sepertinya Al sangat suka kotak musik itu," tutur Kellen sembari membantu Ciara untuk memasukkan kedua barang yang ditinggalkan begitu saja oleh Al.


"Sepertinya sih begitu. Terimakasih untuk hadiahnya juga penanganannya tadi." Kellen tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Aku hanya berusaha untuk membantu keponakanku sendiri melewati trauma ini," ucap Kellen.


"Sekali lagi terimakasih. Aku pulang dulu. Semangat kerjanya. Aku tunggu kedatanganmu dirumah. Jangan lupa bawa makanan yang banyak kalau kerumah," tutur Ciara sembari berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Ini nih yang buat aku malas kerumah kalian. Ngerampok tamu itu gak baik tau!" teriak Kellen karena Ciara sudah keluar dari ruangan tersebut tapi suara tadi masih bisa didengar Ciara yang membuat sang empu terkekeh kecil tanpa menghentikan langkahnya.