Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 64


Kiya saat ini masih dalam mode cemberut walaupun sudah tak menangis histeris seperti sebelumnya karena Devano saat itu juga sudah memancing Kiya agar diam dan sedikit mengurangi dramanya, ia langsung mengajak Kiya untuk membeli kura-kura yang sama persis seperti milik Al dan Yura. Alhasil setelah kura-kura itu terbeli, jurus Devano itu berhasil menenangkan Kiya tapi tidak dengan kerucutan di bibir anaknya itu yang masih saja maju beberapa senti kedepan.


"Hey kura-kura, hanya kamu satu-satunya kelurga Kiya saat ini. Karena Kiya tidak mau lagi punya keluarga jahat seperti Mama, Papa sama Abang. Mereka tidak sayang sama Kiya selama ini. Jadi mulai hari ini kamu harus selalu sayang sama Kiya, tidak ada alasan sama sekali buat kamu untuk jahatin Kiya. Karena kalau kamu sampai berani jahatin Kiya, Kiya akan sate daging kamu itu," ucap Kiya diakhiri ia mengancam kura-kura tersebut.


Devano dan Ciara yang sedari tadi berada di samping anak perempuannya itu kini mereka hanya memutar bola matanya malas.


"Kecil-kecil tapi udah gila," gumam Devano sembari mengalihkan pandangannya ke laptop didepannya itu yang tengah memperlihatkan CCTV di rumah Om Franda.


"Gila-gila begitu juga anak kamu. Dan biasanya anak tuh nurun dari orangtuanya. Nah katanya anak perempuan itu lebih ke mirip bapaknya, berarti kalau Kiya gila kamu lebih gila dari dia," timpal Ciara.


"Tuh teori darimana coba? Gak ya, gak ada. Aku masih waras, soalnya aku gak pernah ngomong sama hewan sama kayak yang di lakukan oleh Kiya sekarang ini," ujar Devano.


"Benar sih gak ngomong sama hewan tapi ngomongnya sama benda mati." Bukan, bukan Ciara yang angkat suara melainkan Toni yang menimpali ucapan dari Devano tersebut. Dan entah sejak kapan laki-laki itu berdiri di belakang mereka berdua, karena Devano maupun Ciara tak menyadari keberadaannya.


"Oh ya? Benda mati apa yang diajak bicara sama dia?" tanya Ciara penasaran sekaligus bisa buat bahan ledekan nanti jika mereka berdua tengah bercanda gurau.


"Nyonya mau tau?" tanya Toni sembari beranjak dari tempat duduknya tadi dan berpindah tempat menjadi duduk di sofa tepat di samping Ciara.


Ciara dengan antusias ia menganggukkan kepalanya. Dan hal itu membuat Toni langsung menengadahkan telapak tangannya.


Ciara yang melihat tangan Toni pun ia kini mengerutkan keningnya.


"Apa?" tanya Ciara.


"Uang buat buka mulut. Karena tuan sebelumnya sudah kasih uang tutup mulut. Jadi kalau nyonya mau tau rahasia tuan, nyonya bisa mendapatkan rahasia itu dengan cara memberikan uang buka mulut," ujar Toni yang membuat Devano langsung memelototkan matanya.


"Heh sejak kapan kita berdua main rahasia-rahasiaan?" timpal Devano.


"Hmmmm sepertinya sejak nyonya belum menjadi istri tuan," ujar Toni yang kini membuat Devano mengerjabkan matanya berkali-kali. Jika sebelum dirinya bertemu Ciara, sudah di pastikan berarti rahasia yang di ketahui oleh Toni itu adalah rahasia tentang kejelekannya di masa lalu.


Ciara yang penasaran apa saja rahasia yang di tutup rapat oleh Toni pun kini posisi duduknya berganti menjadi menghadap kearah sang suami.


"Dompet kamu mana?" ujar Ciara sembari menggerakkan jari-jari tangannya, kode agar Devano menyerahkan dompetnya kepada Ciara.


"Buat apa? Aku gak punya rahasia apa-apa sama dia," tutur Devano.


"Ck, mau punya rahasia sekebun kek mau gak punya sama sekali kek, gak peduli. Yang penting dompet kamu siniin dulu," ujar Ciara.


"Memangnya dompet kamu kemana?" ucap Devano.


"Dompet aku di atas. Udah lah siniin, perhitungan banget sama istri. Gak aku kasih jatah malam, baru tau rasa kamu," ancam Ciara yang langsung membuat Devano bergerak untuk mengambil dompet miliknya. Dan dengan cepat ia menyerahkan dompet tadi di tangan Ciara.


Dan kini tangan Ciara bergerak untuk mengambil sesuatu dari dalam dompet tersebut.


"Nih ATM, gunakan saja sepuas kamu. Mau kamu buat shopping atau berbagai macam terserah," ujar Ciara sembari menaruh sebuah ATM milik Devano di tangan Toni tadi.


Tapi saat ATM itu berada di genggaman bodyguard tersebut, Toni justru menaruh ATM tadi di atas meja didepannya.


"Tidak, saya tidak mau ATM nyonya, tapi saya maunya yang berupa uang," tutur Toni.


"Tapi kan ATM di dalam juga ada uangnya. Kamu tinggal gesek aja tuh kartu. Bahkan kamu bisa menentukan sendiri nominal yang kamu mau," ucap Ciara.


"Saya tidak mau nyonya. Kalau saya di kasih ATM itu akan ribet karena harus tau pin ATM ini dari tuan. Dan saya yakin mau saya meminta pin itu sampai mulut saya berbusa atau sampai saya nangis darah sekalian, tuan tidak akan pernah memberitahukan nomor pin itu ke saya. Jadi untuk kebaikan bersama lebih baik nyonya memberikan saya uang saja. Biar gak ribet gitu lho," ujar Toni diakhiri dengan ia memperlihatkan deretan giginya. Dan hal itu membuat Ciara menghela nafas, sedangkan Devano, laki-laki itu kini justru tersenyum senang karena ATM-nya tak jadi di ambil oleh Toni.


"Ternyata tuh bodyguard sialan bisa sadar diri juga. Kalau dia tadi sampai menerima ATM itu, awas saja aku bakal kasih perhitungan sama dia, biar sekali-kali kapok," batin Devano yang merasa gemas sendiri dengan tingkah bodyguard Al tersebut, ingin sekali ia menonjok rahang Toni saat ini juga.


Tangan Ciara kini bergerak untuk menggeledah uang didalam dompet Devano tersebut lalu setelah ia menemukan uang disana, Ciara langsung mengambil uang tersebut lalu menyerahkannya kepada Toni.


"Segitu cukup?" tanya Ciara.


Toni tampak menghitung uang yang berada di tangannya itu dengan senyum lebar.


"Hihihi cukup nyonya. Terimakasih. Dan saya akan memberitahu nyonya tentang rahasia tuan selama ini," ujar Toni yang membuat Ciara memasang telinganya baik-baik.


"Eh eh eh sebentar-sebentar, mending kita jangan ngomongin rahasia itu di depan orangnya deh. Jadi kita menjauh saja dari sini. Biar lebih nyaman juga buat kamu memberitahu rahasia itu ke saya. Gimana, setuju?" tanya Ciara yang membuat Toni tampak berpikir sesaat kemudian ia menganggukkan kepalanya, mensetujui ide dari Ciara tadi.


"Gak bisa. Aku gak setuju," timpal Devano saat kedua orang tersebut ingin beranjak dari duduknya.


"Lho anda siapa ya? Kok ikut campur urusan kita," ujar Toni yang langsung membuat Devano menatap tajam kearahnya.


"Hehehe bercanda tuan," tutur Toni dengan nyali yang sudah mulai menciut itu.


"Ck, kamu mau setuju atau gak. Kan gak ada urusannya sama kamu. Jadi mending kamu diam disini, jangan kemana-mana ataupun ngikutin kita. Awasin tuh anak kamu, jangan ikut campur urusan kita," ucap Ciara lalu setelahnya ia mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Devano di ikuti oleh Toni di belakangnya.


"Tapi---"


"Tetap disitu dari pada gak dapat jatah sama sekali selama satu Minggu, eh gak satu Minggu melainkan satu bulan!" teriak Ciara yang membuat Devano pada awalnya ingin mengikuti mereka berdua, niatnya itu ia urungkan saat mendengar ancaman dari Ciara tersebut.


Dan kini ia bisa pasrah saja saat melihat Ciara dan Toni mulai berbisik-bisik manja dengan sesekali melirik kearahnya bahkan sampai kedua orang itu tertawa pun tak luput dari pantauan Devano yang kepo akan percakapan mereka berdua.