Young Mother

Young Mother
Jangan-jangan?


Di tempat lain terdapat tiga wanita cantik yang tengah bersiap ingin pergi mengunjungi rumah keluarga kecil Devano. Kebetulan hari ini juga tak ada jadwal mereka untuk berkumpul dengan teman-teman mereka masing-masing. Juga Dea yang punya rencana untuk tetap membuka toko bunga dan toko kue milik Ciara harus berpindah haluan karena sang Kakak angkat tadi malam menyuruhnya untuk pergi kerumah sang empu.


"Pakai mobil aku aja," ucap Kiara yang sedari tadi pagi sudah berada di rumah Olive.


Olive yang tadinya ingin mengambil kunci mobil, tangannya kini terhenti dan menoleh kearah Kiara yang tersenyum sembari menggoyang-goyangkan kunci ditangannya.


Olive pun mengangguk, setelah itu mereka bertiga keluar dari rumah tersebut menuju ke mobil Kiara. Lalu mobil itu kini melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman Devano dan Ciara.


Butuh waktu 30 menit akhirnya mobil yang dikendarai oleh Kiara kini masuk kedalam lingkungan rumah Devano. Setelah mobil itu terparkir mereka bertiga langsung turun dan menuju ke pintu rumah tersebut.


Tok tok tok!!


"Assalamualaikum," ucap Olive sembari terus mengetuk pintu didepannya hingga pintu itu kini terbuka lebar dan memperlihatkan Al dari balik pintu tersebut.


"Waalaikumsalam, Aunty," ucap Al berbinar.


"Hay tampan. Aunty kangen," ucap Kiara sembari berjongkok dan memeluk tubuh Al sekilas.


"Al juga kangen aunty Kia," jawab Al sembari tersenyum kearah Kiara.


"Kalau sama aunty Dea kangen gak?" Al kini menolehkan kepalanya dan beralih menatap kearah Dea kemudian ia berhambur memeluk tubuh Dea yang langsung dibalas oleh sang empu.


"Tentu. Al kangen banget sama aunty Dea. Al kapan diajak ke toko bunga lagi?" ucap Al sembari melepaskan pelukannya dan mendangakan kepalanya menatap Dea.


"Nanti kalau Al udah libur panjang. Aunty janji akan ajak Al main ke toko lagi." Dea mengacungkan jari kelingkingnya dan disambut girang oleh Al.


"Al, Al. Keponakan aunty yang paling tampan sedunia. Apa Al gak kangen sama aunty Olive?"


Al memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan Olive tadi.


"Gak, Al gak kangen sama sekali sama aunty Olive. Aunty kenapa sih ikut kesini segala? harusnya tuh aunty dirumah aja. Kalau kesini kan jadi merusak pemandangan." Olive yang mendengar penuturan dari Al tadi membelalakkan matanya. Ia tak terima di sebut sebagai perusak pemandangan oleh Al.


"Heh enak aja ya kamu bilang aunty perusak pemandangan. Padahal aunty itu obyek yang paling menyejukkan hati dan mata," ucap Olive sembari menyibakkan rambutnya.


"Mengaku-ngaku saja. Padahal tak ada yang bilang seperti itu," ucap Al.


"Aunty Kia, aunty Dea masuk yuk. Kita tinggalin aunty yang lagi eror ini," ajak Al sembari menggandeng tangan kedua auntynya dan menggiring mereka masuk kedalam rumah. Setelah masuk, Al langsung menutup kembali pintu tersebut dan membiarkan Olive yang masih berada di luar rumah sendirian begitu saja. Tak lupa ia juga sengaja mengunci pintu tersebut.


"Lho Al kenapa aunty Olive dikunci di luar?" tanya Kiara.


"Biarin aja aunty. Al hari ini lagi gak mau bertengkar dan adu mulut sama aunty Olive," jawab Al. Padahal baru saja ia bertengkar dengan Olive. Dasar anaknya Papa Devano.


"Sudah jangan di pikirkan lagi. Aunty Kia sama aunty Dea duduk dulu aja." Lagi-lagi Al mendorong tubuh Kiara juga Dea menuju ruang tamu.


Sedangkan Olive kini menghentakkan kakinya dan kembali menggedor pintu tersebut.


"Woy keponakan laknat. Buka pintunya gak kalau gak aunty bakal dobrak nih!" teriak Olive tapi tak terdengar sautan dari dalam yang membuat dirinya semakin sebal dengan keponakannya itu.


"Al!" teriak Olive menggelegar.


Disini lain, Ciara baru masuk kedalam rumah tersebut setelah ia menyirami tanaman di belakang rumahnya dan menghampiri kedua adiknya itu diruang tamu.


Saat dirinya baru sampai di ruang tamu, terdengar teriakan dari Olive yang membuat keningnya berkerut.


"Kalian kesini sama Olive?" tanya Ciara. Kedua orang tadi mengangguk.


"Tapi Kak Olive di kunciin Al di luar. Aku mau bukain gak dibolehin Al," tutur Kiara.


Setelah pintu terbuka...


"Huwaaaaa akhirnya. Huhuhu penyelamatku," tutur Olive dramatis sembari memeluk tubuh Ciara.


"Haish apaan sih Liv. Huwekkk badan kamu baunya gak ngenakin banget sih. Jauh-jauh sana jangan peluk aku." Ciara melepaskan pelukan Olive tadi dan menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh dari Olive.


"Hah? gimana? badan aku bau kah? masak sih?" tanya Olive sembari mengendus-endus badannya sendiri.


"Enggak lho Ci, badan aku wangi kok. Coba deh cium lagi." Olive kini mendekati Ciara kembali namun tangan Ciara langsung mendorongnya.


"Jangan dekat-dekat. Aku gak tahan sama bau kamu. Kamu ganti parfum kan?"


"Enggak kok. Aku gak ganti parfum sama sekali. Parfum aku sama seperti dulu, gak aku campur dan gak aku apa-apain," ucap Olive yang terheran dengan tingkah Ciara.


Saat Ciara terus menghindar dari Olive dan Olive semakin bingung dengan tingkah Ciara. Devano kini masuk kedalam rumah tersebut setelah ia kembali dari mini market dekat rumah itu.


"Assalamualaikum," salam Devano.


"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang berada di dalam rumah tersebut.


"Lho ternyata ada kalian juga disini," ucap Devano dan diangguki oleh Kiara juga Dea. Sedangkan Olive ia masih memperhatikan Ciara sembari menggaruk kepalanya.


"Dev, istri kamu kenapa sih?" tanya Olive membuat pandangan Devano beralih menatapnya kemudian menatap Ciara yang tengah menutup hidungnya sekuat mungkin.


"Kenapa dia?" bukannya menjawab Devano malah bertanya balik.


"Aku juga gak tau. Katanya badan aku bau aneh. Emangnya iya ya?" Devano mendekat kearah Olive dan mengendus pakaian yang di pakai Olive sesaat.


"Enggak tuh. Biasa aja wanginya," jawab Devano jujur.


"Nah kan kamu juga gak mencium bau yang aneh di badan aku." Devano menggelengkan kepalanya.


"Coba kalian berdua juga nyium bau aku deh." Olive berjalan kearah Kiara juga Dea.


Setelah sampai didepan Kiara juga Dea, mereka melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Devano tadi.


"Gak ada yang aneh tuh," tutur Kiara dan di angguki oleh Dea.


"Nah kan gak ada yang aneh. Kamu kenapa sih Ci?"


"Aku gak tau. Tapi bau kamu aneh aja di hidung aku. Rasanya mau mutah aja," ucap Ciara sembari berjalan ke arah ruang tamu dan duduk di sofa yang sangat jauh dari keberadaan Olive saat ini.


"Dia akhir-akhir ini emang aneh. Tidur sama aku dan aku deketin dia aja sekarang gak mau. Berasa aku tuh udah dibuang dan dicampakkan sama dia," curhat Devano setelah menaruh barang belanjaannya tadi di ruang dapur dan kini ia sudah membawakan minuman untuk tiga tamunya.


"Diminum. Kalau kurang dan mau makan sesuatu ambil sendiri di dapur," ucap Devano sembari duduk dan bergabung dengan para wanita tadi.


"Mama juga kalau bau parfum Al yang dulu, Mama akan muntah-muntah. Alhasil parfum Al harus Mama ganti dengan selera Mama yang baru," timbrung Al.


"Dia juga kalau cium bau bawang, bau jeruk dan cium bau-bauan yang dulu dia biasa aja sekarang dia muntah-muntah. Gak jelas emang dia 2 minggu terakhir ini," tutur Devano.


Olive kini menatap kearah Dea juga Kiara secara bergantian setelah itu mereka bertiga dengan serempak berkata...


"Jangan-jangan adik Al udah jadi," ucap mereka bertiga heboh.