
Kini sebulan telah berlalu dan kini Al harus kembali cek up ke psikolog untuk melihat perkembangan dari trauma Al. Tapi dilihat dari kasat mata saja, Devano dan Ciara bisa menyimpulkan bahwa Al sudah benar-benar sembuh dari trauma yang menimpanya itu. Dan semoga saja harapannya itu juga didukung oleh penyataan dari Kellen selaku dokter yang membantu Al dalam menangani traumanya.
Dan kini ketiganya sudah mulai memasuki ruangan Kellen.
"Selamat pagi aunty," ujar Al saat melihat Kellen sedang sibuk dengan buku-buku di mejanya.
Kellen yang baru mengetahui akan kehadiran ketiganya pun ia langsung menutup buku kerjanya tadi sembari tersenyum kearah mereka terutama kearah Al.
"Selamat pagi juga tampan," balas Kellen.
"Al bawa sesuatu buat aunty lho," ucap Al sembari duduk di kursi tepat di depan Kellen.
"Oh ya, apa tuh?" Kellen mulai mengintip isi paper bag yang dibawa oleh Al tapi sebelum dirinya berhasil melihat barang didalam, Al dengan cepat meraih paper bag tadi dan membawanya kedalam pelukan Al.
"Aunty gak boleh ngintip dulu. Aunty harus tutup mata," ujar Al.
"Kenapa harus pakai tutup mata segala sih Al?" Bukan Kellen yang bertanya melainkan Ciara lah yang angkat suara.
"Karena kalau gak tutup mata berarti hadiah Al gak spesial buat aunty," jawab Al.
Kellen yang mendengar hal itu pun terkekeh kecil kemudian ia mengacak-acak rambut Al.
"Oke, aunty tutup mata sekarang ya." Al menganggukkan kepalanya. Dan setelah Kellen benar-benar menutup mata, Al baru mengambil hadiah yang telah ia siapkan jauh-jauh hari.
"Aunty, ingat gak boleh ngintip! kalau ngintip nanti matanya sakit bintitian," ujar Al memberi peringatan.
"Iya Al, aunty juga dari tadi udah nutup mata tapi Al lama banget kasih tau hadiahnya," tutur Kellen.
Al tak lagi menganggapi ucapan dari Kellen dan kini ia malah mendekati Kellen.
"Aunty siniin tangannya," perintah Al dan karena tak ingin adu mulut dengan anak laki-laki yang super duper bawel dan pintar itu, Kellen langsung menyodorkan tangannya kearah Al dengan mata yang tertutup.
Dan tak berselang lama, di jari tengah Kellen terasa ada sesuatu yang melingkar disana.
"Sudah, aunty boleh buka," ujar Al setelah ia kembali ke kursi yang ia duduki sebelumnya dan Kellen pun langsung membuka matanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat sebuah cincin berlian melingkar indah di jari tengahnya.
"Ya ampun Al, ini serius buat aunty?" tanya Kellen tak percaya yang langsung dijawab dengan anggukan Al dengan mantap.
"Iya dong. Masak bohongan. Bagus kan aunty?" Kellen mengangguk dan matanya tak beralih sedikitpun dari cincin tersebut.
"Itu Al sendiri yang pilih. Dia juga yang berinisiatif buat kasih kamu hadiah itu," ujar Devano yang membuat Kellen langsung mengalihkan pandangannya.
"Dev, Ci. Ini seriusan?" Mereka berdua yang namanya di panggil oleh Kellen pun dengan serempak mengangguk.
"Ya Allah kalian itu. Kenapa kasih yang mahal sih? padahal aku dikasih seblak aja udah seneng banget," ucap Kellen yang masih tak menyangka.
"Ya udah sih. Orang Al mau kasih hadiah itu. Kalau gak mau ya udah sini balikin," ujar Devano bercanda.
"Eh ya jangan dong." Kellen kini menatap kearah Al.
"Al sini deh, deketan sama aunty," pinta Kellen yang langsung membuat Al bergerak pada saat itu juga.
Dan setelah Al berada di samping Kellen, Kellen langsung memeluk tubuh mungil Al dengan sangat erat.
"Terimakasih boy atas hadiahnya. Aunty sangat suka sekali. Kamu tau boy, bahkan kamu orang pertama yang kasih aunty kado seperti ini, sebelumnya belum pernah ada yang kasih termasuk pacar aunty," ucap Kellen sembari melepaskan pelukannya.
"Pacar? apa itu pacar?" Kellen terdiam tapi setelahnya ia langsung memukul keningnya sendiri. Bodoh sekali dia berbicara seperti itu dengan anak kecil.
"Ahhh maksud aunty, teman, sayang," alibi Kellen.
"Oh teman," ucap Al sembari menganggukkan kepalanya.
"Tanya apa?" Kellen kini mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya kini berada disamping telinga Al.
"Al beli hadiah buat aunty ini, Mama sama Papa marah gak?" tanya Kellen yang merasa tak enak dengan kedua sahabatnya itu.
"Gak. Mama sama Papa gak ada yang marah," jawab Al dengan jujur. Kellen yang mendengar hal itu pun bisa menghela nafas lega.
"Ya udah kalau gitu Al boleh duduk di kursi itu ya," ujar Kellen setelah ia menegakkan kembali tubuhnya.
Al mengangguk dan segera berjalan kearah kursi yang ditunjuk oleh Kellen.
Setelah kepergian Al, Kellen menatap kearah kedua sahabatnya yang justru malah sedang bermesraan.
"Ehemmm. Tolong ya bapak dan ibu, kalau mau pelukan dan manja-manjaan tuh di rumah saja. Kalau mau di tempat umum juga tolong lihat situasi dan kondisi ya bapak, ibu sekalian. Tolong hargai saya sebagai tuan rumah di ruangan ini. Jangan buat saya kepengen dan berakhir saya ke Paris menemui pacar saya, ya," tutur Kellen sembari beranjak dari duduknya untuk menyusul Al.
"Kasihan sekali sih kamu, punya pacar tapi LDR. Gak bisa mesra-mesraan bertahun-tahun, pacaran hanya lewat online. Itu pacaran sama orang apa sama ponsel, pacaran kok secara virtual," ucap Devano.
"Astagfirullah, disini tampaknya ada anak anjing yang menggonggong," sindir Kellen yang membuat Devano melorotkan matanya.
"Sialan," umpatnya.
Kellen tak peduli dengan umpatan dan sumpah serapah yang dilontarkannya oleh Devano padanya. Ia sekarang justru menjulurkan lidahnya kearah sang empu untuk mengejeknya sebelum ia masuk kedalam ruangan kecil yang sudah ada Al disana sedang tertidur.
Ciara yang sedari tadi hanya melihat interaksi mereka berdua pun terkekeh geli.
"Kamu ngapain ketawa gitu. Gak ada yang lucu tau," ucap Devano dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Kata siapa gak lucu. Ini tuh lucu banget tau." Devano kini melepaskan pelukannya dan beralih melipat kedua tangannya kedepan dada bahkan wajah ia alihkan kearah lainnya.
Ciara yang melihat suaminya merajuk pun malah semakin tertawa ngakak.
"Hahaha, lucu hahahaha." Devano mencebikkan bibirnya.
"Lucu apanya coba. Orang lagi ngambek gak di rayu atau gimana eh malah di ketawain. Dasar bini gak peka," gerutu Devano.
Ciara yang mendengar gerutuan dari Devano pun perlahan ia meredakan tawanya. Dan setelah reda, ia memeluk tubuh Devano dari samping.
"Makanya sayang, kalau punya bibir tuh jangan buat mancing dan komporin orang. Dibalas sama orang lain nyaho kan kamu," tutur Ciara.
"Ck, bodoamat lah. Lepas, kamu sama Kellen aja sana. Jangan peluk-peluk," usir Devano.
"Ih kok jadi jahat gini sama aku sih."
"Bodoamat. Lepasin pelukan kamu sekarang juga." Ciara melepaskan pelukannya tadi dan kini ia malah beralih untuk bermain ponsel miliknya yang membuat Devano berdecak.
"Kok dilepas beneran sih mana sekarang main hp lagi. Gak ada usaha buat bujuk lagi? Gitu aja udah nyerah, cih," protes Devano.
Ciara memejamkan matanya sesaat.
"Katanya tadi suruh lepasin. Itu kamu sendiri lho tadi yang ngomong. Dan setelah aku lepasin, sekarang malah protes. Kamu maunya apa sih sayang, hmmmm?"
"Gak tau ah bodoamat. Punya bini gak peka emang susah." Ciara diam-diam mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia menonjok pipi Devano sekarang juga. Tapi sayangnya itu hanya keinginan semata, tak sampai ia lakukan karena ia masih ingat status Devano sebagai suaminya.
Ciara menghela nafas kemudian ia kembali memeluk tubuh Devano.
"Maafin aku yang gak peka ini sayang. Udah ya jangan ngambek lagi. Malu kalau Al nanti lihat Papanya lagi ngambek. Udah ya merajuknya, aku minta maaf," ujar Ciara dengan penuh kelembutan. Devano kini melirik ke wajah Ciara yang tengah menampilkan ekspresi memohonnya. Dan hal itu membuat Devano luluh seketika. Lalu perlahan tangan yang ia lipat di depan dada bergerak untuk membalas pelukan dari istrinya tadi.
"Lain kali kalau suaminya lagi ngambek jangan di cuekin lagi ya. Kencengin usahanya buat bujuk aku. Paham kan?" Ciara menganggukkan kepalanya walaupun dalam hati berkata, "Iyain aja lah biar cepat dan gak bawel."
"Good girl. Kalau gini kan jadi tambah sayang deh," ucap Devano sembari mengeratkan pelukannya.