Young Mother

Young Mother
Perubahan Ciara


Devano maupun Ciara hanya bisa tersenyum untuk menjawab pertanyaan Al yang membuat otak mereka berpikir cukup keras. Ia juga tak tau harus memberi pengertian kepada Al seperti apa lagi. Pertanyaan Al tadi benar-benar diluar kendali mereka.


"Papa, buruan jawab. Papa dulu kesurga pakai apa?" tanya Al ulang.


Devano memijit pangkal hidungnya. Tapi mau tak mau ia harus menjawab pertanyaan dari Al tadi.


"Gini boy. Kita kesurga itu harus ada persetujuan dari Allah dulu. Dan masalah pakai apanya, hmmm pakai kereta jawa, Al. Ya kereta jawa," ucap Devano sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, tak lupa juga dengan senyum yang terus tercetak di bibirnya. Al kini tampak mengangguk paham. Tapi sesaat kemudian ia membuka suaranya kembali.


"Papa, Al mau naik kereta itu juga dong," tutur Al tak ada habisnya.


"Eh gak boleh sayang," timpal Ciara.


"Kenapa gak boleh?"


"Karena Allah belum mengizinkan Al untuk naik kereta itu. Sudah ya, Al mau es krim gak?" tanya Devano mengalihkan pembicaraan Al. Al tampak berbinar dan menganggukkan kepalanya penuh antusias.


"Ya udah kalau gitu Al harus ganti baju dulu. Burgernya tadi udah habis kan?" Lagi-lagi Al menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Devano.


"Papa tunggu disini jangan kemana-mana. Al hanya sebentar ganti bajunya," ucap Al lalu ia lari sekencang-kencangnya menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


Setelah kepergian Al tadi, Devano dan Ciara tampak menghela nafas lega. Dan dengan kompak keduanya merebahkan tubuhnya disandaran sofa. Setidaknya mereka sekarang sudah terbebas dari pertanyaan super jenius dari Al yang membuat mereka berdua terbungkam dan harus memutar otak mereka, mencari alasan untuk ia berikan ke Al.


...****************...


Kini tepat dua bulan setelah kejadian dimana Al membuat kedua orangtuanya pusing tujuh keliling untuk menjawab pertanyaannya. Hidup keluarga kecil itu selalu diliputi dengan kebahagiaan.


Hingga beberapa minggu belakangan ini Ciara merasakan hal aneh pada dirinya. Yang awalnya sangat susah lepas dari Devano kini dirinya malah enggan untuk sekedar bermanja-manjaan dengan suaminya itu bahkan moodnya cepat berubah-ubah. Sama seperti malam ini ketika Devano telah tidur satu ranjang dengan Ciara, istrinya itu mengabaikan diri begitu saja.


"Sayang," panggil Devano sembari memepetkan tubuhnya di tubuh Ciara dan kini ia sudah memeluk tubuh sang istri sebelum Ciara memukul tangannya yang melingkar indah di perut Ciara.


"Ish apaan sih. Jauh-jauh sana," usir Ciara sembari mendorong-dorong tubuh Devano saat pelukan dari sang suami tadi terlepas.


Setelah berhasil menjauhkan Devano dari dekatnya, Ciara kembali membaca buku novelnya dengan sesekali nyengir tanpa rasa bersalah sedikitpun dengan Devano yang menatap dirinya di ujung ranjang.


"Kamu kenapa sih akhir-akhir ini beda banget. Aku mau peluk bahkan hanya sekedar deketan sama kamu aja, kamu kayak jijik banget gitu sama aku," ucap Devano meratapi nasibnya yang seperti diacuhkan oleh Ciara.


"Berisik Dev. Kalau mau tidur ya tidur aja sana. Jangan ganggu aku," tutur Ciara tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah ia baca.


Devano mengerucutkan bibirnya kemudian ia berdiri dari ranjang tersebut. Ia menatap Ciara dan ketika dirinya masih diabaikan oleh sang istri, ia menghentak-hentakkan kakinya kemudian berjalan keluar dari kamarnya. Tak lupa saat dirinya ingin menutup pintu kamar itu, Devano menatap lagi kearah Ciara yang tak berkutik sedikitpun. Karena ia ingin mengalihkan perhatian Ciara dan juga melampiaskan rasa kesalnya, ia dengan sengaja menutup pintu tersebut dengan begitu keras yang berhasil membuat Ciara terperanjat kaget.


Ciara menatap sekilas kearah pintu tersebut kemudian menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya kembali ke bukunya.


Devano yang membuka lagi pintu tersebut tapi hanya sedikit untuk melihat respon Ciara pun kini tambah mengerucutkan bibirnya lagi kedepan saat mendapati Ciara tak memberi respon sedikitpun kepadanya. Lalu ia menutup kembali pintu tersebut tapi tak sekencang tadi.


"Punya istri gitu amat. Aku salah apa coba sampai dicuekin dari 2 minggu kebelakang. Haish mau marah tapi aku sayang sama dia dan gak tega lagi. Ah elah, dah lah mau sama Al aja," gumam Devano.


Kini dirinya melangkahkan kakinya menuju ke kamar Al yang terletak disamping kamar dirinya juga Ciara.


Devano membuka pintu kamar anaknya itu perlahan agar tak mengganggu waktu istirahat Al. Setalah dipastikan semuanya aman, Devano masuk kedalam kamar tersebut dengan langkah yang mengendap-endap seperti orang yang akan mencuri saja.


Setelah sampai disamping tubuh Al yang sudah terlelap dalam tidurnya, Devano mendudukkan tubuhnya di ranjang yang masih kosong dan menatap anak laki-lakinya itu sekilas sebelum mengalihkan pandangannya lurus kedepan.


"Al, Papa mau curhat," ucap Devano.


"Jawab dong Al jangan diam mulu," sambung Devano. Sepertinya ia sudah lupa kalau Al tengah dialam mimpinya.


Devano berdecak saat tak ada sahutan dari sang anak kemudian ia menolehkan kepalanya menghadap ke Al yang tengah membelakanginya.


"Haish Papa lupa kalau kamu tidur. Tapi ya udah lah setidaknya Papa udah curhat masalah Mama kamu itu walaupun kamu gak dengerin curhatan Papa tadi. Tapi ya Al, Papa benar-benar sebel banget sama Mama kamu yang berubah drastis tanpa sebab apapun. Bahkan Papa harus puasa lagi huh menyebalkan sangat-sangat menyebalkan arkh," jerit Devano tertahan karena dirinya membekap mulutnya dengan bantal bahkan ia juga mencabik-cabik dan menggigit-gigir bantal tersebut untuk melupakan kekesalannya.


Setelah meluapkan kekesalannya tadi, Devano merebahkan tubuhnya di samping Al dan menutup matanya untuk menyusul Al kealam mimpi. Untung saja ranjang Al bisa muat 2 orang sekaligus walaupun masih bisa dibilang dengan single bed tapi ukurannya masih terlalu besar untuk Al seorang diri, alhasil masih bisa diisi dengan tubuh Devano. Kalau tidak entah dimana Devano akan merebahkan tubuhnya untuk tidur malam ini karena ia sudah sangat kesal dengan Ciara yang lebih memilih buku bacaannya dari pada dirinya yang punya status diatas buku-buku menyebalkan itu.


...****************...


Kini tidur Devano dan Al harus terusik saat tirai gorden jendela yang berada di kamar Al terbuka sehingga menyebabkan sinar matahari yang mulai menampakkan dirinya masuk kedalam kamar tersebut.


Devano maupun Al dengan kompak menghalangi sinar matahari tersebut dari mata mereka yang perlahan terbuka.


"Bangun, udah siang ini," tutur Ciara yang berdiri dengan berkacak pinggang menatap anak dan suaminya itu.


"Ck, Mama, Al masih ngantuk. Hari ini juga hari weekend, Al libur sekolah. Jadi biarin Al tidur lebih lama lagi," rengek Al kemudian tanpa persetujuan dari Ciara, ia menutup kembali matanya dan memeluk tubuh Devano yang sudah menutup matanya lebih dulu.


Ciara berdecak lalu ia membuka selimut yang membungkus dua tubuh sepasang anak dan ayah itu. Setelahnya ia berancang-ancang untuk meneriaki mereka berdua.


"Bangun!!!" teriak Ciara menggelegar.


Devano dan Al kini sama-sama menutup kedua telinganya.


"Mama ish ganggu aja. 5 menit lagi Al juga bangun kok," gerutu Al dan diangguki oleh Devano.


"Ini udah jam 9 pagi. Gak ada yang namanya 5 menit, 5 menitan lagi. Bangun sekarang atau Mama buang mainan Al. Dan untuk kamu, Dev, kalau kamu gak segera bangun aku guyur pakai air es," tutur Ciara.


Al dan Devano kini membuka matanya sempurna setelah mendengar ancaman dari Ciara tadi.


"Iya-iya kita bangun. Jangan bawel pagi-pagi," ucap Devano kemudian ia beranjak dari kamar Al menuju kamar yang ia tinggalkan tadi malam untuk membersihkan tubuhnya itu.


Sedangkan Al, ia mengerucutkan bibirnya tapi tak urung ia turun dari ranjangnya kemudian dengan rasa malas yang masih melanda dirinya, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Ciara yang menatap kedua laki-laki beda generasi tapi sifatnya sangat mirip itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian ia pergi dari kamar Al menuju lantai bawah untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya yang sempat tertunda.


Tak berselang lama Devano juga Al kini melangkahkan kaki mereka menuruni anak tangga dengan tampilan yang sangat santai tapi tak mengurangi ketampanan dari kedua orang tersebut.


"Sarapannya udah di atas meja," teriak Ciara dari ruang keluarga saat matanya tadi menatap kearah Al dan Devano yang tengah menuju ruang makan.


Devano yang mendengar teriakkan dari Ciara tadi kini menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap ke Ciara.


"Kamu gak sarapan?" tanya Devano dengan teriakan pula.


Ciara menghentikan aktivitas mengepelnya.


"Aku udah duluan tadi," jawab Ciara yang diangguki oleh Devano.


Kini ia melanjutkan langkahnya menyusul Al yang sudah lebih dulu sampai di ruang makan tersebut.