
Hal pertama yang Ciara lihat di pagi ini adalah pemandangan yang sangat indah dan juga menghangatkan hatinya. Bagaimana tidak, jika saat membuka mata ia sudah melihat dua jagoan dan satu little princessnya masih terlelap dalam satu ranjang yang sama. Devano yang memeluk tubuh Al karena anak laki-lakinya itu memang berada tepat disampingnya sedangkan tangan Al juga tengah memeluk tubuh mungil baby Kiya yang tertidur tepat di antara Al dan Ciara. Untung saja ranjang itu memiliki ukuran yang cukup besar sehingga tak membuat salah satu diantaranya mereka harus terjatuh karena kurangnya tempat di ranjang.
Ciara tersenyum hangat dan ia tak ingin kehilangan momen langka tersebut, sehingga ia segera mencari keberadaan ponselnya yang berada di nakas disampingnya kemudian ia mencari aplikasi kamera lalu ia memotret momen tersebut dengan dirinya yang bergaya sedangkan ketiga orang lainnya hanya diam saja karena tidurnya belum terganggu sedikitpun.
Ciara terkekeh saat melihat hasil jepretannya itu.
"Lucu," gumam Ciara dan setelah melihat-lihat hasil jepretannya tadi tak lupa ia juga mengubah tampilan wallpaper ponselnya dengan foto tadi yang menurutnya bagus, Ciara baru beranjak dari ranjang lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum baby Kiya bangun nanti.
Dan butuh waktu 30 menit akhirnya Ciara keluar dari kamar mandi tersebut dengan baju dinasnya yaitu daster rumahan.
Ia kemudian beranjak untuk memeriksa ketiga kesayangannya apakah sudah ada yang bangun atau belum. Saat dipastikan mereka masih aman dalam tidurnya, Ciara bergegas turun kebawah untuk membuat sarapan bagi keluarga kecilnya itu, sudah hampir 1 minggu lebih dirinya tak menyentuh dapur dan hal itu membuat dirinya rindu berat dengan alat-alat yang sering ia gunakan untuk berperang guna untuk menciptakan sebuah rasa yang nikmat untuk lidah keluarganya. Walaupun dirumah tersebut sudah ada art tapi untuk urusan sarapan atau makanan, sebisa mungkin Ciara akan membuatnya sendiri.
Dan kini waktu masih menunjukkan pukul 05:3/ pagi yang artinya masih 30 menit lagi dirinya membangunkan kedua jagoannya itu.
"Pagi Mbak," sapa Ciara setelah ia sampai di dalam dapur.
Art yang baru mengambil air putih pun menoleh kearah sumber suara dan ia menundukkan kepalanya dengan sopan saat melihat majikannya sudah berada diruangan yang sama dengannya.
"Pagi juga nyonya. Apa nyonya butuh sesuatu?" tanyanya.
Ciara menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Tidak ada Mbak. Saya cuma mau bikin sarapan seperti biasa," ucap Ciara dan mulai sibuk membuka isi kulkas disana.
"Biar saya saja nyonya yang bikin sarapan," tutur art tadi yang tak enak hati membiarkan majikannya masak sendiri. Padahal kan ada dirinya yang siap sedia 24 jam untuk melayani mereka. Ditambah majikan itu baru melahirkan beberapa hari yang lalu, ia tak ingin jika majikannya kelelahan dan berujung sakit atau yang lebih parahnya jahitan pasca melahirkan akan terbuka lagi, kan bisa bahaya.
"Tidak perlu Mbak," tolak Ciara dengan lembut.
"Tapi nyonya kan baru melahirkan. Saya takut nyonya nanti akan kelelahan. Biar saya saja ya Nya yang bikin sarapan. Nyonya duduk saja dan biar saya bikinin teh hangat untuk nyonya," ucap art tersebut yang masih tak tega membiarkan Ciara memasak sendiri.
"Mbak, saya sudah baik-baik saja. Jadi biarkan saya yang bikin sarapan ya," tutur Ciara dengan ekspresi memohon.
Art tadi tampak menghela nafas, ia masih tak rela jika majikannya itu harus memasak namun dengan berat hati akhirnya ia menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan dari Ciara itu.
"Tapi saya bantu ya, Nya." Ciara tersenyum dan mengangguk. Akhirnya mereka berdua kini tengah sibuk dengan urusan masak-memasak, sesekali mereka juga mengobrol dan bercanda gurau bersama. Inilah yang Ciara syukurin memiliki art yang sangat pengertian dengannya bahkan Ciara tak segan-segan memeluk dan memperlakukan artnya itu sebagai Kakaknya sendiri.
"Mbak saya keatas dulu ya. Mau bangunin Devano sama Al," pamit Ciara yang diangguki oleh art tadi.
Setelah itu Ciara menaiki anak tangga menuju kamarnya dan sesampainya di depan pintu kamar tersebut, Ciara langsung membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Ia mengerutkan keningnya saat melihat Al yang sudah bangun dari tidurnya dan kini anak itu tengah bermain-main dengan baby Kiya yang juga sudah terbangun tanpa menangis. Tapi yang bikin ia penasaran adalah keberadaan Devano yang sudah tak ada di dalam kamar tersebut.
Ciara pun mendekati Al yang tengah menciumi pipi baby Kiya.
"Al," panggil Ciara sembari duduk di pinggir ranjang. Al menegakkan kepalanya dan menatap wajah sang Mama lalu tersenyum manis.
"Good morning Ma," sapa Al. Ciara membalas senyuman anaknya itu.
"Good morning boy," balas Ciara.
"Oh ya Al, Papa dimana?" sambung Ciara.
"Tadi Papa bilang kalau Papa mau keruang kerjanya sebentar. Ada sesuatu yang Papa lupa kerjakan katanya," ucap Al. Ciara pun mengangguk-anggukkan kepala.
"Ya udah kalau gitu Al mandi dulu sana, biar badan Al jadi segar. Oh ya Al masih ada yang sakit?" tanya Ciara was-was.
"Kalau Al masih sakit. Biar Mama yang mandiin Al dan Al jangan kesekolah dulu," sambung Ciara.
"Gak mau Mama. Al sudah besar, Al juga sudah bisa mandi sendiri. Kalau Al dimandiin sama Mama, Al malu dong sama baby Kiya. Al juga sekarang udah baik-baik aja. Al mau sekolah Ma, hanya sehari saja Al gak masuk kemarin benar-benar membuat Al bosan," ucap Al, padahal dirinya kemarin terus merengek tak ingin di tinggal Ciara.
"Beneran Al udah sembuh?" tanya Ciara khawatir dan tangannya pun juga terulur untuk menyentuh dahi Al yang sudah tak panas lagi. Bahkan suhu tubuh anaknya itu sudah kembali normal. Sedangkan Al mengangguk penuh antusias.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau Al nanti disekolah merasa tak enak badan, Al harus ngomong sama Bu guru disana biar mereka nanti telepon Mama dan Mama nanti bakal jemput Al kalau hal itu terjadi," tutur Ciara.
"Siap Bu Bos," ucap Al dengan memberi hormat kearah Ciara yang membuat wanita dengan status sebagai ibunya itu tertawa melihat tingkahnya itu. Dan sebelum ia beranjak dari ranjang tersebut, ia lebih dulu mengecup pipi baby Kiya dengan gemas, baru setelah itu ia turun dari ranjang tersebut dan keluar dari kamar orangtuanya.
Sedangkan disisi lain, Devano yang awalnya hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya yang sempat ia lupakan kemarin, aktivitasnya itu harus terganggu dengan dering ponselnya. Devano melirik kearah layar ponselnya yang menampilkan nama Nando disana. Devano mengerutkan keningnya, tak seperti biasanya anak buahnya itu menghubunginya sepagi ini. Terlebih anak buahnya yang satu itu juga sangat jarang sekali menelpon dirinya walaupun hal itu sangat penting dan biasanya Nando hanya akan mengirim pesan kepadanya saja. Tapi entah ada angin apa yang membuat laki-laki yang hanya terpaut 2 tahun lebih tua darinya itu meneleponnya. Apa ada hal yang sangat-sangat penting yang mengharuskan Nando bersedia menelponnya? Dan hal itu sangat mencurigakan bagi Devano.