
Al dan Yura kini berlari untuk mengambil kura-kura milik mereka lalu menjauhkan kura-kura itu dari tengah jalan.
Sedangkan Kiya yang melihat hal itu pun, ia mulai melontarkan protesannya.
"Ihhh kok kura-kuranya diambil sih. Taruh lagi, lombanya belum selesai tau!" teriak Kiya yang diabaikan begitu saja oleh Al. Dan Al kini justru meninggalkan tempat tersebut, tak lupa ia mengajak Yura juga untuk mengikuti dirinya.
"Abang ishhh!" teriak Kiya sembari menghentakkan kakinya lalu setelahnya ia berlari menyusul Al yang sudah kembali masuk kedalam lingkungan rumah keluarga Devano tersebut.
Devano dan Ciara yang melihat kedua anaknya itu sudah kembali masuk, dengan cepat keduanya mengikuti mereka. Takut-takut jika nanti ada perang dunia ke 3 antara Al dan Kiya diikuti oleh orangtua Yura dan kedua bodyguard Al dibelakang mereka.
"Sumpah ya, gue capek mondar-mandir terus dari tadi," keluh Toni sembari mengusap keringat yang membasahi keningnya.
"Aku ke dalam dulu lah, mau minum. Biar anak-anak itu di urusin emak sama bapak mereka," sambung Toni, tapi saat dirinya ingin berbelok arah, kerah bajunya ditarik secara paksa oleh Doni. Dan hal itu membuat ia mau tak mau mundur kembali ke samping Doni.
"Jangan berpikir untuk enak-enak dulu. Kita masih punya tanggungan sama anak-anak itu. Emang kamu mau di tuduh Kiya yang tidak-tidak nanti? seperti di tuduh kalau dia ngelakuin hal itu atas perintah kita berdua?" Toni tampak terdiam, lalu setelahnya ia menggelengkan kepalanya.
"Gak kan. Makanya kita harus kesana sebelum tuh anak ngomong ya tidak-tidak tentang kita," ujar Doni dan tanpa mendengar persetujuan dari saudara kembarnya itu, ia lagi-lagi menarik baju Toni.
"Ck, Kiya tuh kapan sih diamnya. Buat repot aja kerjaannya," gumam Toni kesal. Dan selama perjalanan menuju ke kandang kura-kura itu, Toni terus saja mengomeli semua orang yang menurutnya sangat menyebalkan, bahkan kembarannya pun tak luput juga terkena omelannya itu. Tapi untungnya Doni lagi tidak mood untuk menimpali setiap omelan dari Toni tadi, jika saja dirinya menimpalinya, yakinlah Devano dan Ciara akan tambah pusing gara-gara memikirkan kedua anak mereka di tambah harus memisahkan keributan yang diciptakan oleh kedua bodyguard Al itu.
Dan saat kedua bodyguard tadi sudah sampai di lokasi, ternyata Al sudah kembali memasuki kura-kura tadi kedalam kandangnya. Walaupun Kiya terus mengoceh di belakang Al, tapi anak laki-laki itu tak peduli sama sekali dengan ocehan Kiya itu.
"Abang!" teriak Kiya dengan sangat nyaring hingga membuat siapa saja yang mendengar teriakan tadi akan menutup telinganya.
Al yang kesabarannya sudah mulai menipis pun kini ia memejamkan mata sesaat dan saat Kiya ingin mengoceh lagi, Al langsung membungkam mulut Kiya dan dengan gemas ia menggigit pipi Kiya.
"Hmmmmmm," teriak Kiya tertahan.
"Rasain. Lain kali jangan nakal lagi dan jangan pernah mainin kura-kura milik Abang lagi. Kalau sampai Abang lihat Kiya berulah lagi, Abang akan kasih pelajaran buat Kiya yang lebih dari ini," ujar Al sembari melapaskan bungkaman di bibir Kiya.
"Huwaaaaa Mama, pipi Kiya sakit!" tangis Kiya pecah saat itu juga dan dengan cepat ia berlari kearah Ciara.
Ciara yang melihat Kiya berlari kearahnya pun dengan sigap ia menyiapkan diri untuk menerima pelukan dari Kiya. Dan benar saja saat tubuh Kiya menubruk tubuhnya, ia hampir saja terjatuh tapi untungnya ada Devano di belakangnya yang sudah sedari tadi bersiap untuk melindungi sang istri.
"Hiks Mama, pipi Kiya sakit. Abang jahat hiks. Padahal Kiya kan hanya pinjam kura-kuranya sebentar saja. Kura-kura itu juga tidak terluka. Tapi Abang hiks malah gigit Kiya. Huwaaaaa sakit Mama," adu Kiya.
Al yang turut mendengar aduan dari Kiya tadi pun ia memutar bola matanya dengan malas. Sedangkan Ciara, ia sekarang menghela nafas panjang sebelum mulai angkat suara.
"Coba sini Mama lihat," ujar Ciara dengan suara lembutnya.
Kiya yang sedari tadi memegangi pipi yang tadi di gigit oleh Al pun kini tangannya menjauh dari pipinya agar sang Mama bisa melihat kondisi pipinya saat ini.
"Pipi Kiya baik-baik saja kok. Tidak ada luka sama sekali," ujar Ciara.
"Ish Mama pasti tidak melihat dengan teliti. Di pipi Kiya ada bekas gigitan Abang tau Ma," ucap Kiya kekeuh.
"Gak ada bekas gigitan sama sekali sayang. Dan sepertinya Abang tadi juga tidak benar-benar gigit pipi kamu," tutur Ciara.
"Ish Mama mah cuma alasan saja. Mama pasti membela Abang. Mama tidak sayang sama Kiya lagi, hiks Papa," ujar Kiya sembari berlari kearah Devano.
Sedangkan Ciara yang di tuduh oleh anaknya sendiri pun kini ia terbengong sesaat.
"Sejak kapan aku bela Abang kamu. Padahal jelas-jelas di pipinya gak ada luka sama sekali. Haish dasar queen drama," gumam Ciara diakhiri dengan ia mencebikkan bibirnya.
Devano yang juga mendapat aduan yang sama seperti aduan Kiya kepada Ciara tadi pun, ia kini hanya bisa pasrah saja. Kalau pun ia berucap sesuai dengan kenyataan yang ia lihat, pasti anak perempuannya itu akan marah dengan mereka dan berujung dirinya sendiri yang pusing nantinya. Dan akhirnya yang bisa ia lakukan saat ini hanya membawa tubuh Kiya dalam gendongannya lalu ia mencoba menenangkan Kiya yang masih menangis histeris tersebut.
"Fra, Bi, kita masuk aja yuk. Tuh anak biar di tenangin sama bapaknya. Kasihan telinga kalian nanti kalau lama-lama dengar dia nangis begini. Dan tenang aja kalau Devano sudah bergerak, anak itu pasti bisa dia tenangkan. Maklum Devano kan alumni penjinak buaya betina dan sekarang dia juga harus jadi penjinak bibit-bibit buaya betina," ucap Ciara yang membuat Franda dan Bian terkekeh kecil.
"Udah kalian masuk dulu sana sama Cia. Sebelum telinga kalian nanti rusak dengar suara cempreng Kiya," timpal Devano.
"Papa!" jerit Kiya yang tak terima dengan kata-kata Papanya tadi.
"Uluh uluh uluh anakku sayang. Maaf maaf Papa tadi keceplosan," ujar Devano sembari menepuk-nepuk punggung Kiya.
"Huwaaaaa Kiya tidak mau sama Papa lagi. Papa jahat," ucap Kiya.
"Lah baru tau nih anak kalau bapaknya jahat. Telat kamu, nak sadarnya," tutur Devano.
"Papa ish. Turunin Kiya sekarang!" berontak Kiya yang langsung dituruti oleh Devano.
"Kiya mau kemana?" tanya Devano saat sang anak ingin beranjak dari depannya.
"Kiya mau ikut sama Om Doni sama Om Toni saja. Mama, Papa sama Abang jahat semua. Kiya tidak suka," ujar Kiya.
"Ahhhh maaf Kiya, Om Toni lagi sibuk," timpal Toni lalu dengan sedikit melirik kekanan dan kirinya Toni kini melarikan diri dari tempat tersebut.
"Sama Om Doni aja, Kiya!" imbuh Toni di sela berlarinya itu.
Kiya kini menatap Doni penuh dengan tatapan permohonan.
"Aduh gimana ya, Om hari ini juga lagi sibuk. Mau cuci mobil, cuci baju, beres-beres rumah, ngusir kecoak dan masih banyak lagi yang harus Om kerjakan. Jadi maaf ya, untuk hari ini Om tidak ada waktu untuk Kiya. Oh ya, Om sekarang lagi buru-buru mau ngantar oksigen ke paru-paru setiap manusia. Bye Kiya, Om pergi dulu," ucap Doni penuh dengan alasan. Dan tanpa menunggu lama, ia juga ikut kabur dari hadapan sepasang anak dan ayah yang masih berada di tempat tersebut. Sedangkan orang-orang tadi yang ikut ke lokasi tersebut sudah lebih dulu mereka pergi dari tempat itu sebelum Toni dan Doni kabur.