Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 74


Semua orang yang berada di sekitar lokasi kejadian langsung berteriak histeris melihat dua kecelakaan sekaligus. Bahkan banyak beberapa warga yang tengah mengejar larinya mobil yang menabrak mereka berempat.


"Mau bagaimana ini? Apa kita harus menunggu pihak kepolisian datang kesini atau kita larikan saja mereka ke rumah sakit karena takutnya saat menunggu pihak kepolisian kesini, nyawa mereka akan melayang," ucap salah satu ibu-ibu disana yang benar-benar tak tengah melihat keempat korban yang tengah bersimbah darah di jalanan tersebut.


"Sepertinya kita harus bawa mereka ke rumah sakit dahulu. Karena nyawa mereka lebih penting sekarang," ujar seorang laki-laki yang diangguki setuju oleh semua orang disana.


"Yang bawa mobil, tolong bawa kesini," ujar orang tadi yang langsung membuat beberapa orang menuju kearah parkiran di taman tersebut untuk segera mengambil mobil mereka dan dengan senang hati untuk mengantar korban kerumah sakit.


Saat menunggu mobil datang, ternyata Al yang mendapat benturan yang sangat keras, ia masih tersadar dengan tubuh yang seakan mati rasa. Bahkan hanya sekedar mengucapkan kata tolong saja ia sudah tak kuat. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya pasrah saja dengan mata yang terus tertuju kearah Yura yang sudah tak sadarkan diri dengan keadaan yang jauh lebih parah dari dirinya maupun kedua bodyguardnya itu.


"Yura, maafin Al yang tidak bisa menjaga Yura dengan baik hingga sekarang Yura terluka lagi untuk kesekian kaliannya. Dan Al mohon kamu tetap kuat dan bertahan. Al tidak mau kehilangan Yura. Al hanya punya satu teman yang sebaik Yura. Jika Yura tidak bertahan Al dengan siapa nanti? Jadi tetaplah bertahan untuk Al. Tapi jika tuhan berkehendak lain, Al sudah siap menggantikan Yura," batin Al dan perlahan wajahnya menatap keatas langit.


"Tuhan, jika engkau mau mengambil nyawa salah satu dari kita berempat, maka aku mohon ambilah nyawaku saja. Jangan ketiga orang yang Al sayangi ini. Dan untuk Mama, Papa, Kiya. Al minta maaf jika Al banyak salah ke kalian. Al juga minta maaf karena belum bisa menjadi apa yang kalian harapkan. Mama, Papa, Kiya, Al sayang banget sama kalian bertiga. Tetaplah tersenyum walaupun sudah tidak ada Al lagi di sekitar kalian. Jangan bersedih jika Al pergi untuk selamanya. Karena Al janji kita akan dipertemukan lagi di surganya Allah nanti. Mama, Papa, Kiya, lo---ve yo---u," batin Al.


Perlahan mata Al kini tertutup, bahkan ia sekarang tak bisa mendengar suara panik orang-orang disekitarnya tadi. Dan yang ia rasakan sekarang hanya ada kesunyian yang menemani dirinya.


...****************...


Saat keempat korban tadi sudah dilarikan ke rumah sakit, keempatnya langsung ditangani oleh dokter di rumah sakit tersebut.


"Apa ada salah satu dari kalian yang menemukan sesuatu yang berkaitan dengan identitas mereka berempat biar salah satu keluarga mereka datang kesini dan jika ada apa-apa, dokter bisa langsung memberitahukan kepada mereka," ujar laki-laki tadi.


"Aku tadi melihat jika kedua anak itu tadi membawa tas sekolah mereka dan tas mereka sekarang ada di mobilku. Tapi saat aku cek tadi di tas itu tidak ada identitas mengenai keluarga mereka," ucap wanita tadi.


"Aku menemukan dompet dari salah satu bodyguard tadi. Tapi aku tidak berani buka," ujar satu orang lainnya sembari menyerahkan dompet milik Toni kepada seorang laki-laki tadi.


Laki-laki tersebut langsung menerima dompet tadi dan segera memeriksa isinya. Dan sebuah kebetulan, di dompet tersebut ada sebuah kartu nama yang langsung diambil oleh laki-laki tadi.


"Bodyguard khusus tuan muda Alsheyrez Devra Rodriguez, Toni Wirawan," ucap laki-laki tadi.


"Rodriguez? Jangan-jangan anak laki-laki tadi adalah anak dari salah satu pembisnis berkenal di kota ini, tuan Devano. Coba kamu cari lagi siapa tau ada petunjuk lainnya," tutur salah satu perempuan disana yang langsung dituruti oleh laki-laki tadi.


Dan baru saja ia membuka bagian lain, mereka lagi-lagi menemukan kartu nama yang berbeda.


"Devano Belvix Rodriguez, CEO of Belro company," baca orang tadi.


Dan kini salah satu dari orang-orang tadi langsung menghubungi nomor yang tertera dalam kartu nama tersebut.


...****************...


Disisi lain, sekertaris Devano yang tengah memperhatikan rapat yang dilakukan oleh Devano pun, fokusnya kini teralihkan dengan ponsel cadangan milik kantor yang selalu ia pegang kini tengah bergetar.


Dan saat ia melihat nomor asing yang tertera di layar ponsel tersebut, ia tampak mengernyitkan dahinya. Tapi sesaat setelahnya tanpa mengurangi rasa hormat, ia keluar dari ruang rapat tersebut untuk mengangkat telepon tadi.


"Selamat siang---" belum sempat sekertaris Devano menyelesaikan ucapannya tadi, suara seseorang dari sebrang telepon langsung memutusnya begitu saja.


📞 : "Selamat siang. Apa bisa saya bicara dengan tuan Devano?" tanya orang tersebut.


"Maaf, ada keperluan apa ya bapak sehingga mencari tuan Devano? Dan sepertinya untuk sekarang tuan Devano tidak bisa diganggu karena beliau tengah rapat. Jika ada sesuatu yang genting bisa langsung katakan ke saya, biar saya yang akan menyampaikannya langsung ke tuan Devano," ujar sekretaris tersebut.


📞 : "Baiklah kalau begitu, saya mencari tuan Devano karena mau memberikan kabar mengenai putarnya yang bernama Alsheyrez Devra Rodriguez yang sekarang tengah berada di rumah sakit akibat tertabrak mobil," ucap orang tadi yang membuat sekertaris tersebut langsung menutup mulutnya.


"Astagfirullah, baiklah saya akan segera memberi kabar ini kepada tuan Devano. Biar tuan secepatnya ke rumah sakit," ujar sekertaris tersebut.


📞 : "Tapi bukan hanya putra tuan Devano saja yang tertabrak melainkan dengan kedua bodyguardnya juga ada satu anak perempuan. Dan mereka tengah mendapat penanganan di rumah sakit Pelita."


"Baik, terimakasih atas informasinya. Saya akan memberitahukan tuan sekarang. Selamat siang," ujar sekertaris tersebut. Dan setelahnya saat sambungan telepon tersebut terputus, sekertaris tadi langsung masuk kedalam ruangan tadi.


Dan saat dirinya sudah berada di samping Devano, ia membungkukkan badannya untuk memberitahu masalah tadi kepada Devano.


Devano yang mendengar ucapan dari sekertarisnya itu, ia tampak syok sesaat sebelum akhirnya ia menghela nafasnya berkali-kali.


"Katakan dimana mereka sekarang," ucap Devano.


"Rumah sakit Pelita," jawab sekertaris tersebut. Dan tanpa menunggu waktu lama, ia langsung berdiri dari duduknya dan tanpa memperdulikan orang-orang di dalam ruangan tadi, ia langsung berlari meninggalkan ruangan tersebut untuk menuju ke basemen di kantor tersebut.


Setelah ia sampai di basemen, ia langsung mengirimkan sebuah pesan ke Bian karena ia yakin anak perempuan yang dimaksud sekertarisnya tadi adalah Yura.


Dan dengan pikiran yang kacau juga hati yang tak tenang, ia kini menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak peduli dengan teriakan dan umpatan setiap orang yang tengah marah akan aksinya tersebut, karena yang sekarang ia pikirkan adalah sampai di rumah sakit yang tengah menangani Al dan melihat keadaan anaknya sekarang seperti apa. Tapi bukan hanya itu saja, Devano juga mengucapkan segala doa untuk keselamatan mereka berempat.