
"Hel," panggil Ciara.
Rahel yang masih menutup mata sembari memijit kepalanya kini aktivitas itu terhenti lalu ia membuka matanya dan menatap kearah Ciara.
"Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Rahel.
Ciara menggigit bibir bawahnya kemudian ia menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Rahel tadi. Rahel kini menghela nafas kemudian ia membenarkan posisi duduknya.
"Kalau aku boleh terus terang. Aku gak ikhlas kalau kamu nikah dan bersatu sama orang yang udah nyakitin kamu bahkan sampai menginjak-injak harga diri kamu. Itu udah terlalu kelewatan Ci. Aku juga heran kepada kamu mudah banget maafin orang yang sudah hancurin semua masa depan kamu yang udah kamu tata sedemikian rupa bahkan kamu pernah bilang sama aku kalau setelah kamu lulus S1 di universitas kita yang dulu, kamu mau lanjutin S2 di Paris. Tapi mimpi kamu dihancurkan karena ulah bajingan ini dan selama 5 tahun kamu terombang-ambing dalam situasi yang sulit. Aku gak habis pikir hati kamu ini selembut apa Ci, kalau aku jadi kamu mau sampai mati pun aku gak akan pernah maafin orang yang udah nyakitin aku luar dalam dan gak akan pernah mau ketemu dia lagi. Tapi kamu... ahhh sudahlah," tutur Rahel yang merasa kurang puas dengan tindakan Ciara.
Ciara menetap Rahel dengan mata berkaca-kaca, ia tak ingin di benci oleh sahabat lamanya itu. Kini ia meraih tangan Rahel untuk ia genggam.
"Hel, aku minta maaf udah sembunyiin semua ini dari kamu. Maaf hiks," ucap Ciara dengan derai air mata yang sudah tak bisa ia bendung lagi.
Rahel yang sedari dulu tak bisa melihat Ciara menangis pun dengan segera ia merengkuh tubuh Ciara dan memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Huh, sebenarnya aku hanya gak suka aja lihat kamu cepat banget maafin orang yang menurut aku sangat fatal kesalahannya. Tapi aku bisa apa, aku cuma orang awam yang hanya tau masa lalu kamu lewat cerita bukan merasakannya langsung. Dan semua itu udah jadi keputusan kamu. Mau aku nolak segimanapun itu gak akan merubah keputusan kamu. Aku hanya berharap saja kamu tak lagi disakiti oleh dia. Jikalau kamu disakiti lagi, jangan segan untuk cerita sama aku biar tuh laki-laki sialan aku cincang sampai halus," tutur Rahel.
Devano yang terus mendapatkan umpatan dari Rahel pun hanya bisa mengelus dadanya. Agar diberi kesabaran yang lebih lagi untuk mendengarkan setiap umpatan dan tindakan Rahel kedepannya.
"Udah jangan nangis lagi," sambungnya sembari melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Ciara yang menetes di pipi mulus sang empu.
"Maaf hiks."
"Iya-iya aku udah maafin kamu," tutur Rahel dengan senyum yang kembali terbit di bibirnya.
"Makasih," tutur Ciara kemudian ia memeluk kembali tubuh Rahel untuk sesaat.
Dan setelah pelukan itu terlepas lagi, Rahel langsung menatap ke seluruh orang-orang di sana yang masih memperhatikan interaksi antara dirinya juga Ciara kecuali Zidan yang terlihat acuh tak acuh dan sibuk dengan ponselnya.
"Ehemmm, maaf untuk kejadian tadi. Maklum emosi sesaat hehehe," tutur Rahel kepada semua orang disana.
"Gak papa kok Hel. Kita dulu juga sama kayak lo, bahkan lebih parah lagi. Iya kan Dev?" Devano hanya mendengus mendengar penuturan dari Kevin itu.
Rahel menganggukkan kepalanya malu. Setelah itu ia beranjak dari duduknya yang tadi berada diantara Ciara dan Devano. Kemudian ia menghampiri gerombolan para wanita.
"Hay, kenalin aku, Rahel. Temen Ciara." Rahel mengulurkan tangannya dan langsung disambut Olive.
"Olive," ucap sang empu. Setelah berkenalan dengan Olive, ia beralih mengulurkan tangannya ke arah Dea.
"Terimakasih kalian udah jagain Ciara di negara tetangga. Aku gak tau kalau dia gak ketemu sama kalian mau jadi apa itu anak. Sekali lagi makasih banyak," tutur Rahel. Olive dan Dea menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
Setelah itu Rahel bergabung dengan mereka, yang kebetulan sofa disebelah Kiara kosong.
"Cantik, kamu belum kenalan sama aku lho," ucap Rafa. Rahel yang mendengar hal itu pun kembali beranjak dari duduknya dan menghampiri Rafa yang duduk disebelah Zidan.
"Maaf lupa hehehe. Gak usah disebutin ya namanya, kan udah tau tadi," tutur Rahel diakhiri dengan senyum yang menambah kesan manis di wajahnya itu.
"Tenang aja, telinga aku juga belum bolot kok. Tapi boleh lah aku panggil kamu dengan sebutan sayang, lebih enak dan nyaman didengar. Oh ya aku, Rafa. Kamu juga boleh panggil aku dengan sebutan sayang juga biar terlihat lebih sweet gitu," tutur Rafa diakhiri dengan kedipan genit kearah Rahel.
"Wanjir. Menjijikan," timpal Olive yang muak dengan rayuan sepupunya itu.
"Apa lo, syirik aja jadi orang. Syirik tanda gak mampu woy," balas Rafa tanpa melepaskan tangannya dari tangan Rahel. Olive yang tak terima dengan ledekan dari Rafa pun, buru-buru ia mencari benda yang bisa ia lempar ke arah sang sepupu. Dan kebetulan di depannya terdapat kotak tisu yang terbuat dari plastik. Olive kini berancang-ancang, kemudian kotak tisu itu kini ia lempar kearah Rafa.
Rafa yang melihat hal itu pun membelalakkan matanya dan dengan reflek ia menarik tubuh Rahel karena kota tisu itu bukannya mengarah ke dirinya melainkan mengarah ke Rahel.
Karena tarikan itu, tubuh Rahel terhuyung dan bukanya mendarat di tubuh Rafa, kelantai atau ke lain tempat. Tubuh Rahel justru mendarat di pangkuan Zidan yang kebetulan berada di sebelah kanan Rafa.
Keduanya kini hanya bisa mematung menatap wajah satu sama lain dengan jarak yang begitu dekat.
"Lo apa-apa sih Liv. Di depan gue tadi masih ada Rahel. Kalau mau lempar tuh lihat-lihat dulu," geram Rafa yang berhasil menangkap kota tisu tersebut.
Berkat suara dari Rafa tadi membuat otak Rahel yang sempat berhenti berpikir kini telah kembali berjalan. Dengan seketika ia menjauhkan dirinya dari Zidan.
"Maaf gak sengaja," ucap Rahel. Zidan memutar bola matanya malas kemudian ia kembali bermain dengan ponselnya tanpa menjawab sepatah kata pun atau sekedar mengangguk saja ia tak lakukan.
"Kamu gak papa kan sayang?" tanya Rafa sembari memutar tubuh Rahel untuk memastikan wanita yang baru ia kenal itu tak terluka sedikitpun.
Sedangkan Zidan yang sempat mendengar kata sayang keluar dari mulut Rafa, ia langsung mendangakan kepalanya dan menatap kedua orang yang masih berada didepannya itu.
"Nama aku, Rahel. Raf, bukan sayang dan lain sebagainya. Panggil sayangnya nanti aja kalau kita di takdir kan berjodoh," ucap Rahel dengan lembut. Sangat beda dengan suara yang ia tunjukkan ke Devano tadi.
"Ya semoga aja kita jodoh. Tapi kamu gak papa beneran kan?" Rahel menggelengkan kepalanya.
"Aku gak papa kok, tenang aja." Rafa tampak menghela nafas lega. Setelah itu Rahel kembali duduk di tempatnya tadi dan selama pergerakannya tak lepas dari pantauan Zidan.