
Setelah kepergian Olive tadi, Devano kini menatap keempat sahabatnya itu yang masih duduk manis di sofa.
"Kalian tau ini semua?" tanya Devano kembali dengan sifat dinginnya.
Seketika lantai 18 di ruang CEO itu mendadak mencekam yang membuat keempat orang tadi dengan reflek menelan salivanya masing-masing.
Saat Vino ingin membuka suaranya, deheman dari Rafa menghentikannya.
"Ehemmm," dehem Rafa menghilangkan rasa gugupnya.
"Sebenarnya kita disini cuma mau tanya sesuatu ke lo. Tapi sepertinya kita tadi mendengar terlalu jauh tentang masalah lo. Sorry Dev, bukannya mau ikut campur masalah lo ini tapi kalau gue boleh kasih saran, lo selesaiin masalah lo sama Ciara secepatnya. Kita yakin kalau lo berubah gara-gara ini," ucap Rafa berusaha setenang mungkin. Padahal di dalam hatinya ia ingin berteriak dan memberi tahu bahwa anak Devano masih hidup bahkan dalam keadaan sehat. Tapi sepertinya ucapan itu hanya bisa menggebu di dalam hatinya karena Olive tadi sudah memintanya untuk tutup mulut.
Sedangkan Vino dan Zidan mereka saling pandang satu sama lain.
"Rafa kenapa dah? bukannya tadi dia yang gencar banget mau ngasih tau keberadaan anak kecil duplikat Devano. Kenapa sekarang malah ngomong kayak gitu?" tanya Vino berbisik.
"Gue juga gak tau. Mau tanya tapi suasananya gak mendukung. Dan gue dari tadi juga kepo Ciara itu temannya Rahel, si bebeb gue yang tiba-tiba menghilang dari kampus itu gak sih? atau Ciara yang lain?" ucap Zidan yang juga tengah kepo dengan sosok wanita yang disebut Ciara itu. Ia mau tanya dengan Devano tapi sepertinya dia masih mau hidup sekarang. Dia tak cukup berani bertanya masalah wanita itu dalam suasana yang sangat mencekam ini.
Kevin yang sedari tadi terdiam dengan pikiran yang penuh tanda tanya pun kini membuka suaranya.
"Dev, kita udah kenal lo sejak lama. Kalau ada masalah yang cukup besar cerita ke kita. Kalau lo gak mau cerita ke Rafa, Vino dan Zidan, kan masih ada gue. Gue ini bukan cuma teman lo tapi gue juga saudara lo yang udah kenal lo dari bayi merah sampai sekarang. Please Dev kalau ada apa-apa cerita jangan malah menjauh dan seakan-akan menghindari kita. Kita juga bukannya gak peduli sama lo. Tapi lo tau sendiri kalau lo itu dingin, cuek, keras kepala apa lagi. Jadi kita gak berani nanyain masalah apa yang lo pendam selama ini dan kita hanya nunggu cerita dari lo sendiri tanpa kita minta. Bukan malah kayak gini. Masalah udah besar baru lo mau cerita. Lebih tepatnya kita tau dari orang lain bukan dari mulut lo sendiri," ucap Kevin panjang lebar.
Devano terdiam, membenarkan ucapan dari Kevin. Ia akui jika dirinya tipe orang yang memendam semua masalah pada dirinya sendiri tanpa ada orang lain yang tau masalah itu hingga kejadian ini membuat dia belajar bahwa dia juga butuh seseorang untuk mendengarkan dan memberikan jalan keluar dari masalah yang ia hadapi.
"Minta alamat!" ucap Devano ambigu yang membuat mereka berempat mengerutkan keningnya bingung.
"Ciara," sambungnya seakan ia tau kebingungan dari para sahabatnya itu.
"Kita gak tau alamatnya," jawab Zidan.
Namun seketika Rafa menimpalinya.
"Gue juga gak tau alamat Ciara itu. Tapi dia sekarang lagi kerja di kantor Olive," ucap Rafa.
"Ya udah mana, kasih tau gue alamat kantornya!" tutur Devano.
"Hansen's Corp," jawab Rafa.
Devano mengangguk mengerti.
"Masih ada yang mau kalian bicarakan disini?" tanya Devano.
"Kalau gak ada silahkan kalian pergi dari ruangan gue," usirnya tanpa rasa terimakasih karena sudah mendapatkan informasi tentang Ciara dari para sahabatnya itu.
"Astagfirullah, Lo tuh ya gak tau terimakasih banget jadi orang," geram Rafa.
"Iya ih mana main usir aja lagi kan jadi sakit hati gue," tutur Zidan lebay.
"Tau tuh orang. Untung teman sendiri kalau gak udah gue hih," timpal Vino.
Sedangkan Kevin, ia membungkam mulutnya kembali dan hanya memperhatikan interaksi keempat orang tersebut. Ia bingung mau memberitahu kebenaran yang Rafa tadi tunjukan ke dia atau tidak.
Setelah kepergian mereka semua, kini Devano kembali mendudukkan tubuhnya di sofa dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa tersebut.
Ucapan yang Olive tadi katakan pun kini kembali berputar di otaknya.
"Anak? Maksudmu anak siapa?"
"Setahuku dulu Ciara pernah keguguran saat usia kandungannya memasuki 3 bulan."
Devano mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sangat kecewa, marah bahkan benci pada dirinya sendiri.
"Arkh," erangnya. Tangannya kini ia gunakan untuk membanting benda yang berada di sekitarnya. Biarkan saja ia melampiaskan amarahnya pada benda-benda diruangannya saat ini.
Prank!!!
Terdengar pecahan beberapa benda dan bukan hanya itu juga. Devano kini meninjukan tangannya ke tembok beberapa kali hingga tangannya itu mengeluarkan darah segar.
Sakit? tidak, ia tak merasakan sakit sama sekali dibandingkan dengan sakit yang diderita Ciara selama ini, sakit yang ia rasakan di tangannya tak sebanding dengan sakit yang ia torehkan ke Ciara.
Ia kini meluruhkan tubuhnya. Terduduk di lantai ruangannya yang sudah bak kapal pecah tak lupa dengan rasa sesak didalam dadanya saat ini. Ia kembali menangis dalam diam.
"Maaf. Maafkan aku," racaunya.
Sedangkan di luar ruangan Devano, sekertaris Devano kini tengah kalang kabut saat mendengar kegaduhan didalam ruangan Devano. Ia ingin masuk tapi ia juga takut dirinya nanti yang akan jadi sasaran empuk dari bosnya itu untuk meluapkan emosinya.
"Aduh gimana ini?" gumamnya sembari berjalan mondar-mandir di depan pintu Devano.
Ditengah kebingungan yang ia rasakan kini telinganya mendengar derap langkah kaki yang mendekatinya.
"Ada apa Lidya? Kenapa kamu modar-mandir di depan pintu ini? Ada perlu sama Devano?" tanya Mommy Nina.
Lidya yang melihat siapa gerangan yang datang pun akhirnya bisa bernafas lega.
"Huh, Ibu datang tepat waktu." Mommy Nina mengernyitkan keningnya tak paham dengan. ucapan Lidya.
"Emmm itu Bu, Pak Devano sepertinya sedang ada masalah, sejak tadi saya mendengar kegaduhan didalam. Mau masuk tapi saya tak berani," tutur Lidya.
Sontak ucapan dari Lidya tadi membuat mata Mommy Nina membelalak sempurna.
Kini dengan cepat tangan Mommy Nina membuka pintu ruangan Devano. Saat pintu ruangan itu terbuka, Mommy Nina semakin di buat melotot dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Kertas yang berserakan, pecahan kaca, gelas, laptop, telepon kantor, meja, kursi dan darah berbaur menjadi satu diruangan tersebut.
"Astaga Devano, apa yang kamu lakukan?" ucap Mommy Nina histeris saat matanya kini menangkap tubuh Devano yang tengah terduduk dengan pandangan yang kosong.
Mommy Nina kini mendekati sang anak dan memeluk tubuh Devano untuk menyalurkan ketenangan untuk anaknya itu.
...*****...
yuk bisa yuk 400 like 🤠Maruk ya. Biarin aja ya, itung-itung nyenengin author 😂
Happy reading and SEE YOU NEXT EPS BYE 👋