Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 16


Devano terus mengikuti langkah Kiya hingga langkahnya terhenti saat sang anak sudah sampai didepan kamarnya.


"Mama masih tidur Kiya," ucap Devano dengan santainya. Dan hal itu membuat Kiya menolehkan kepalanya kearah Devano sesaat lalu tanpa peduli lagi ia langsung membuka pintu kamar tersebut yang tak terkunci. Kemudian ia langsung masuk begitu saja tanpa permisi. Sedangkan Devano, ia hanya menggelengkan kepalanya.


Dan saat Kiya sudah berada di dalam kamar tadi dan melihat tubuh Ciara masih terlelap di atas ranjang pun ia segera menghampiri sang empu.


"Ish Mama kok masih tidur sih. Biasanya juga udah bangun pagi-pagi," gerutu Kiya sembari menatap wajah Ciara yang tampak damai.


"Mama kecapekan Kiya. Udah jangan diganggu lagi Mamanya. Kita keluar dari sini yuk," ajak Devano sembari meraih tangan Kiya yang langsung di lepaskan oleh sang anak.


"Jangan pegang-pegang Kiya. Asal Papa tau kalau Kiya sekarang masih marah sama Papa," ucap Kiya.


"Oke, baiklah Papa gak akan pegang-pegang kamu lagi tapi asalkan kita keluar dari sini sekarang. Kasihan Mama kalau sampai istirahatnya terganggu. Emang Kiya mau lihat Mama sakit karena kurang istirahat?" Kiya tampak terdiam kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Makannya kita keluar dari sini yuk sebelum kita benar-benar ganggu waktu istirahat Mama," ujar Devano.


"Tapi Kiya belum ngadu ke Mama masalah Papa tadi yang ketawain Kiya saat kepentok pintu," ucap Kiya.


"Nanti aja ngadunya kalau Mama udah bangun tidur," tutur Devano yang membuat Kiya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu setelahnya anak itu segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut. Dan lagi-lagi pergerakannya itu selalu di ikuti oleh Devano.


"Mau kemana lagi?" tanya Devano saat mereka berdua sudah berada di luar kamar utama tadi.


"Ke kamar Abang," jawab Kiya. Dan setelah mengatakan hal tersebut, Kiya berlari kearah kamar Al yang tak jauh dari kamar utama tersebut.


Dan saat Kiya ingin membuka pintu kamar Al, pintu tersebut lebih dahulu dibuka dari dalam oleh Al. Dan hal itu membuat Kiya terhuyung kedepan.


Brukkk!!


Kiya terjatuh karena Al yang sempat terkejut tadi menghindar sehingga tubuh Kiya tak sempat Al tahan.


"Duh sial banget sih anak gadisku hari ini. Perasaan dari tadi dia tersakiti mulu," gumam Devano dengan ringisan yang seakan-akan ia ikut merasakan kesakitan yang Kiya rasakan saat ini.


Sedangkan Kiya, ia masih dalam posisi terjatuhnya tadi.


"Aw," jerit Kiya yang masih tengkurap di lantai.


Al yang melihat Kiya terjatuh mengenaskan pun segera membantu sang adik untuk bangkit kembali.


"Mana yang sakit hmmm?" tanya Al sembari menatap wajah Kiya.


"Disini," jawab Kiya dengan kerucutan di bibirnya sembari menunjuk kearah lututnya yang memerah. Al kini mengelus lembut lutut Kiya tak lupa ia juga meniup-niup lutut tersebut.


Devano yang melihat sikap Kiya yang teramat menurut dengan ucapan Al daripada ucapannya pun, ia menghela nafas pasrah. Namun setelahnya ia mulai angkat bicara.


"Sekarang udah jam setengah tujuh. Kita sarapan dulu yuk," ajak Devano yang membuat atensi kedua anaknya teralihkan.


"Al masih ada yang perlu Al ambil Pa diruang baca. Jadi Papa duluan saja sama Kiya. Nanti Al nyusul," ucap Al.


"Mau Papa bantu?" tanya Devano karena sedari tadi ia hanya fokus ke Kiya yang super aktif dan banyak drama itu sehingga ia tak sempat membantu Al mengurus semua persiapannya ke sekolah.


"Tidak usah Pa. Al bisa sendiri," ucap Al yang mendapat anggukan dari Devano.


"Ya udah kalau gitu Papa sama Kiya ke bawah dulu. Kalau ada bantuan tinggal bilang sama Papa. Papa akan bantu kamu. Jangan lama-lama ya boy, kita tunggu di bawah," ujar Devano dengan senyum yang mengembang.


"Iya Pa. Terimakasih," ucap Al lalu ia kini mulai melangkahkan kakinya menuju ke ruang baca khusus untuk dirinya.


Setelah kepergian dari Al tadi, Devano kini saling bertatapan dengan Kiya hingga beberapa saat setelahnya Kiya memutuskan tatapan mata mereka sembari berdecak dan setelahnya ia bergegas menuju ke lantai bawah meninggalkan Devano yang menatap kepergiannya dengan helaan nafas lelah.


"Hebat juga Ciara bisa hadapin Kiya yang seperti ini setiap hari. Gak bisa bayangin kalau aku yang berada di posisi Ciara dalam waktu yang lama, bisa-bisa darah tinggi ditambah uban dimana-mana nanti. Huh Ciara emang perempuan the best deh. Bisa sesabar itu ngadepin Kiya," gumam Devano dengan kaki yang mulai melangkahkan mengikuti Kiya ke lantai bawah.


Dan saat dirinya sudah berada di lantai bawah, Devano dibuat melongo dengan aksi Kiya yang tengah menjahili art di sana dengan menambahkan garam ke masakan yang sudah tersaji di atas meja makan dan tinggal disantap itu.


"Kiya, apa yang sedang kamu lakukan?" tutur Devano sembari merebut satu wadah garam dari tangan Kiya.


Kiya yang terduduk diatas meja pun kini menatap Devano.


"Makanannya kurang asin Papa jadi Kiya tambahin garam deh," ujar Kiya sembari turun dari atas meja ke kursi makannya.


"Oh astaga," geram Devano tertahan sembari mengusap wajahnya frustasi.


Lalu kemudian ia mengambil sendok yang akan ia gunakan untuk mencicipi makanan tadi sekaligus untuk memastikan apakah makanan itu masih layak untuk mereka makan atau dengan berat hati mereka singkirkan.


Saat makan sudah masuk ke mulut Devano, sang empu langsung bergidik lalu ia berlari menuju wastafel yang berada di dapur tersebut untuk membuang makanan yang ada di mulutnya.


"Astaga, asin banget," ucap Devano diakhiri dengan ia berkumur untuk menghilangkan rasa asin yang masih melekat di lidahnya.


Sedangkan Kiya yang masih terduduk di kursinya tadi pun, ia sempat menatap kearah Devano cukup lama tapi setelahnya ia mengalihkan pandangannya kearah deretan makanan yang ada didepannya. Dan karena rasa keponya yang tinggi akan cita rasa yang menurutnya sudah pas karena ia sudah menambahkan sedikit garam ke makanan tadi pun, ia mulai mengambil semua makanan disana lalu tanpa ragu Kiya memasukan makanan tadi kedalam mulutnya dengan senyum yang mengembang. Dan baru saja makanan tadi menyentuh lidahnya, Kiya langsung mengeluarkannya kembali.


"Huwaaaaa asin. Minum mana minum. Kiya mau minum!" teriak Kiya heboh hingga membuat para art yang tadinya tengah sibuk dengan urusan di luar dapur kini mereka menghampiri dirinya lalu memberikan apa yang Nona muda mereka inginkan.