Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 19


"Ish Mama sama Papa kenapa diam aja dari tadi. Padahal Kiya bertanya lho, kenapa gak dijawab?" tanya Kiya dengan kerucutan di bibirnya.


Devano melirik kearah sang istri yang hanya mendapatkan kode dari Ciara untuk dirinya agar memberikan alasan kepada Kiya.


Devano kini menghela nafas, lalu kini ia menatap lekat-lekat wajah Kiya yang masih saja cemberut.


"Duh ekspresinya nih anak udah gak ngenakin banget. Kalau aku tolak keinginannya, dia bakal ngamuk gak ya? tapi kalau di setujui. Ih amit-amit deh. Bisa-bisa aku gak bisa tidur selamanya," batin Devano.


Dan kini dengan memberanikan dirinya ia menghampiri Kiya lalu mengelus lembut kepala anaknya itu.


"Kiya dengarkan ucapan Papa, oke," ucap Devano yang tak dijawab oleh anaknya mau itu berupa ucapan atau sekedar gerakan kepala saja. Dan hal itu lagi-lagi membuat Devano menghela nafas.


"Jadi gini sayang. Bukannya Papa gak mau nurutin keinginan Kiya. Tapi ada satu masalah yang membuat salah satu keinginan Kiya tidak akan pernah Mama ataupun Papa belikan," sambung Devano yang membuat Kiya mengerutkan keningnya.


"Keinginan Kiya yang mana yang tidak bisa Papa sama Mama berikan ke Kiya? Boneka chucky atau makeup?" tanya Kiya.


"Boneka," jawab Devano.


"Kenapa?"


"Karena boneka itu sangat sulit dicari bahkan hampir tidak ada yang jual. Dan apa Kiya percaya dengan hantu?" Kiya tampak terdiam sesaat kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Ya, Kiya percaya sama keberadaan hantu karena Kiya pernah melihatnya," tutur Kiya yang justru membuat Devano maupun Ciara tersentak kaget. Padahal niat Devano tadi hanya untuk menakut-nakuti sang anak eh justru anaknya itu sudah pernah melihatnya.


"Kiya gak lagi bohong sama Mama dan Papa kan?" tanya Ciara yang masih tak percaya dengan pengakuan Kiya tadi.


Kiya mengalihkan pandangannya kearah Ciara dengan tatapan polosnya.


"Gak, Kiya tidak berbohong," tutur Kiya.


"Jika Kiya tidak berbohong, Mama tanya. Dimana Kiya melihat hantu itu?" tanya Ciara.


"Disekolah, di kamar mandi sekolah bahkan di rumah mbak di belakang juga ada hantunya," ucap Kiya yang membuat Ciara membulatkan matanya.


"Hantu apa yang Kiya lihat di rumah mbak?" tanya Ciara yang sudah mulai merinding disko bahkan dirinya sekarang juga sudah mendekat ke suami dan anaknya.


"Kiya tidak tau namanya. Kiya hanya lihat ada perempuan dengan gaun putih. Tapi Kiya pikir itu salah satu mbak yang baru kembali untuk istirahat tapi setelah Kiya perhatikan lagi tiba-tiba saja perempuan itu menghilang," tutur Kiya dengan antusias.


"Kiya lihat perempuan itu kapan?" tanya Devano yang penasaran akan cerita selanjutnya.


"Waktu Papa sama Mama izin sama Kiya buat pergi karena ada urusan dan Abang masih belajar kelompok. Nah pada saat itu, Kiya baru sadar kalau lego Kiya hilang jadi Kiya sama beberapa mbak cari lego itu dan karena Kiya ingat bahwa lego itu ketinggalan di taman belakang alhasil Kiya kesana sendiri tanpa izin ke mbak dulu hehehe," tutur Kiya diakhiri dengan cengiran tak berdosanya.


Ciara yang mendengar jika anak perempuannya berkeliaran sendiri di luar rumah pun tampak melebarkan matanya sempurna. Ingin sekali ia mengomeli anaknya itu tapi sepertinya situasi saat ini tidak mendukung omelannya itu. Bahkan Devano yang melihat akan kemarahan Ciara yang sudah di ujung tanduk pun langsung mencegah istri tersebut. Alhasil Ciara memilih diam dengan gerutuan di batinnya.


"Tapi Kiya pakai senter kok. Dan Kiya lihat perempuan itu tepat di depan pintu rumah mbak hingga perempuan itu tiba-tiba clingg.... hilang entah kemana," ujar Kiya diakhiri dengan menggedikkan bahunya.


"Jadi apa Kiya takut sama hantu itu?" tanya Devano.


"Hmmmm sedikit. Kiya takut hantu yang wajahnya penuh darah kalau cuma perempuan seperti itu mah Kiya masih berani," ujar Kiya yang sepertinya anak itu sering melihat berbagai jenis hantu mungkin.


"Nah Kiya sendiri takut hantu bukan. Jadi apa Kiya tau boneka chucky itu boneka apa?" tanya Devano yang kembali ke topik pembahasan mereka tadi.


"Ya hanya boneka saja lah, Papa. Tapi bentuknya mirip anak kecil," jawab Kiya. Devano pun dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"No, Kiya salah besar. Boneka itu sebenarnya didalamnya ada hantunya dan hantu itu nantinya akan menggerakkan boneka itu untuk membunuh orang-orang disekitarnya," tutur Devano sekaligus menakuti Kiya agar sang anak langsung mengurungkan niatnya untuk dibelikan boneka tersebut.


"Iya kah? Tapi hantu masuknya dari mana? di tubuh boneka kan tidak ada pintunya," ucap Kiya yang membuat Devano langsung mengatupkan bibirnya.


Ciara yang paham akan situasi sang suami pun langsung buka suara.


"Gini sayang. Hantu itu mampu masuk kedalam suatu benda yang entah itu ada pintunya maupun tidak. Dan hantu bisanya suka dengan benda-benda yang berbau mirip dengan manusia seperti patung ataupun boneka yang bentuknya menyerupai manusia. Jadi kalau Kiya tidak mau Papa, Mama, Abang Al dan yang lainnya termasuk Kiya celaka, Mama mohon Kiya jangan minta boneka itu lagi ya nak," tutur Ciara yang sepertinya berhasil membuat Kiya mengurungkan niatnya.


"Apakah boneka itu benar-benar berbahaya?" tanya Kiya.


"Sangat berbahaya sayang. Kalau Kiya tidak percaya Mama akan tunjukkan bentuk asli boneka chucky itu ketika dirasuki hantu," ucap Ciara dan dengan cepat ia mengulurkan tangannya kearah sang suami. Devano yang paham akan kode tangan itu pun langsung menyerahkan ponselnya ke tangan sang istri.


Dan setalah mendapatkan ponsel tersebut Ciara langsung mencari ke aplikasi sejutaan umat untuk mencari gambar boneka yang di idam-idamkan oleh sang anak dan memilih gambar yang menurutnya sangat menyeramkan itu.


"Nih Kiya lihat sendiri. Seram kan?" Ciara menyodorkan ponsel tersebut yang sudah menunjukkan sebuah gambar boneka chucky kearah Kiya.



Kiya yang baru melihat sekilas gambar tersebut pun langsung merengkuh tubuh Ciara untuk ia peluk bahkan wajahnya sudah ia tenggelamkan di dada Ciara.


"Mama, Kiya takut. Jauhkan ponsel itu dari Kiya," ucap Kiya dengan suara lirihnya.


Ciara kini menjauhkan ponsel tersebut bahkan sudah mengembalikannya ke suaminya.


"Jadi bagaimana? Kiya masih mau beli boneka menyeramkan itu?" tanya Ciara sembari membelai rambut Kiya.


Kiya yang masih berada di pelukan Ciara pun dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Kiya tidak mau punya boneka itu lagi sekarang," ujar Kiya yang membuat Ciara dan Devano kini saling pandang satu sama lain. Lalu sedetik kemudian mereka tersenyum penuh kemenangan dan secara diam-diam kedua orang tersebut tengah bertos ria atas kemenangan mereka dari Kiya tadi. Akhirnya ketakutan mereka berdua tak akan pernah kejadian dan tidur mereka akan terus nyaman seperti sebelum-sebelumnya.