
Devano menggelengkan kepalanya agar ia kembali ke dunia nyata dan memfokuskan pikirannya kembali.
Ia melepas paksa pelukan wanita tersebut, lalu kakinya ia langkahkan untuk meninggalkan wanita tersebut namun langkahnya terhenti ketika wanita itu berlari dan menghadang jalannya.
"Minggir!" usirnya dengan dingin. Wanita itu menggelengkan kepalanya, tak menuruti perintah dari Devano. Ia malah mendekat ke tubuh Devano lagi dan memegang wajah Devano.
"Wajah kamu kenapa Van?" tanyanya.
Devano menepis tangan tersebut dengan kasar.
"Bukan urusan lo," tutur Devano dan ia melanjutkan langkahnya.
"Van," panggilnya lirih sembari memeluk tubuh Devano dari belakang yang membuat Devano semakin geram.
"Lepasin!" perintah Devano dengan tegas.
"Gak. Aku tuh kangen sama kamu Van."
"Gue bilang lepasin, Tiara!" gertak Devano.
"Gak mau Van." Devano memejamkan matanya sebentar dan setelah itu ia melepaskan tangan Tiara yang melingkar di pinggangnya itu dan mendorong Tiara agar menjauh darinya.
"Van!" teriaknya memanggil Devano yang sudah mulai menaiki tangga rumahnya untuk menuju kamar pribadinya. Ia tak menghiraukan teriakan dari wanita di masa lalunya itu. Hingga akhirnya ia sampai di dalam kamarnya.
Ia kini merebahkan tubuhnya di kasur king sizenya. Dan kini tangannya merogoh ponselnya dan menyalakan layar ponsel tersebut yang langsung memperlihatkan foto Al dan juga Ciara yang terpampang di layar ponsel tersebut.
"Al, Papa rindu sama Al. Maafin Papa ya nak dan maafin aku juga Ci," gumamnya sembari mengelus foto tersebut.
Ia menghela nafas kala mengingat senyum Al yang belum bisa ia lihat lagi setelah ia mengantar anaknya tadi pagi pergi kesekolah. Ia kini menaruh ponselnya dan mengusap kasar wajahnya.
"Arkh!" erangnya saat baru sadar kalau seluruh wajahnya penuh dengan lebam.
"Sial," umpatnya sembari beranjak ke kamar mandi saat merasakan luka di ujung bibirnya kembali terbuka dan mengeluarkan darah seger.
20 menit telah berlalu, Devano baru juga keluar dari kamar mandi tersebut dan pakaian yang ia gunakan sekarang sudah berganti menjadi pakaian santainya sehari-hari.
Baru juga ia ingin kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan untuk memulai tidurnya. Suara ketukan pintu membuatnya terduduk kembali.
Tok tok tok
"Siapa?" tanyanya dari dalam. Jika yang mengetuk pintu itu Tiara, sampai kapanpun ia tak akan membukakan pintu kamar tersebut.
"Ini Mommy sayang. Mom masuk ya," ucap Mommy Nina dari depan pintu kamar Devano.
"Iya," jawabnya dengan cuek. Beberapa saat setelah persetujuan dari Devano tadi, pintu kamar tersebut perlahan terbuka dan benar saja Mommy Nina yang di balik pintu tersebut.
Mommy Nina kini perlahan menghampiri Devano dengan membawa baskom yang berisi air kompresan dan handuk kecil.
"Kata Tiara wajah kamu penuh dengan lebam. Coba sini Mommy lihat," ucap Mommy Nina lembut setelah menaruh baskom tadi di nakas samping kasur Devano.
Devano terdiam, ia sangat enggan untuk berbicara dengan sang Mommy untuk hari ini.
"Ya ampun Dev, kenapa bisa kayak gini sih nak?kamu berantem sama siapa?" tanya Mommy Nina saat sudah melihat langsung keadaan wajah tampan Devano.
Devano masih saja terdiam. Ia kini malah memalingkan wajahnya, lalu mendengus malas.
"Jadi ini yang Mom maksud tamu penting?" tanya Devano dengan dingin.
Mommy Nina mengangguk dan mengelus punggung anaknya lembut.
Devano sempat tertegun mendengar cerita Mommy Nina. Ia tak menyangka kalau Tiara mengalami kejadian seperti itu. Ya meskipun dulu dirinyalah yang disakiti oleh wanita itu tapi sebagai manusia ia juga masih mempunyai hari nurani untuk mengasihi nasib yang diterima Tiara.
Devano tampak mendengus dan mengalihkan pandangannya kearah Mommy Nina kembali.
"Terus?" tanya Devano ambigu.
"Maksud kamu?"
"Ya terus apa hubungannya sama Dev, Mom? Dev udah gak ada hubungan sama sekali dengan dia. Dev malas buang-buang waktu untuk orang yang tak ada sangkut pautnya dengan hidup Dev lagi," jelasnya lugas.
"Kamu jangan gitu dong sayang. Kasihan sama Tiara. Lagian kalian dulu kenapa bisa putus sih?" tanya Mommy Nina penasaran.
"Mom, hal itu gak usah di bahas lagi. Apapun yang bersangkutan dengan wanita itu, dulu, sekarang bahkan masa depan tak ada sangkut-pautnya dengan Devano. Mom mau kasihan sama dia silahkan tapi jangan pernah paksa Dev buat kembali sama dia," tegas Devano
"Dev, Mom gak maksa kamu buat balikan sama dia. Mom hanya mau kamu bantu sembuhi dia dari depresinya," tutur Mommy Nina.
"Kalau Mom dan yang lainnya mau lihat dia sembuh, bawa dia ke psikolog bukan ke Dev. Dev bukan dokter yang nanganin masalah depresi Mom," ucap Devano sembari beranjak ke balkon kamarnya yang langsung disusul Mommy Nina dibelakangnya.
"Mom, kalau mau bahas tentang wanita itu mending Mom keluar dari kamar Dev. Dev capek Mom. Dev udah lama gak ada urusan lagi sama dia. Dev juga udah lama lupain dia dan Dev sekarang hanya akan fokus ke satu wanita yang sekarang tengah Dev perjuangankan," tegas Devano sembari menatap lurus kedepan.
"Apa-apa? gimana? Mom gak salah dengar kan? kamu lagi suka sama seseorang nak?" tanya Mommy Nina penuh antusias.
"Apa jangan-jangan lebam kamu berkaitan dengan gadis itu? Gara-gara kamu rebut gadis itu dari pacarnya?" sambungnya dengan curiga.
Devano memutar bola matanya malas.
"Mom," peringatan Devano.
"Hehehe kan Mom cuma nebak aja Dev. Ya lagian kamu gak pernah ngenalin perempuan mana pun selain Tiara ke Mommy."
"Oh ya Mom mau tanya dong. Perempuan yang tengah kamu perjuangankan itu siapa? cantik gak orangnya? eh masalah cantik skip aja lah yang penting baik hatinya. Gimana orangnya Dev? kenalin sama Mom dong. Mom kan juga mau akrab sama calon mantu Mommy," sambungnya dengan penuh semangat.
Devano terdiam, bayangan Ciara dan Al tiba-tiba muncul di pikirannya.
"Dev," panggil Mommy Nina.
"Devano!" ulangnya sembari menepuk pundak Devano dengan cukup keras.
"Eh kenapa Mom?" tanya Devano kaget.
"Kamu kenapa ngalamun kayak tadi? Ini udah Maghrib lho takut ada makhluk halus yang masuk ke raga kamu. Dan kenapa tuh muka jadi lesu gitu? Tadi aja semangat saat cerita kalau kamu tengah memperjuangkan perempuan yang kamu incar," cibir Mommy Nina.
Lagi-lagi Devano terdiam.
"Tuh kan ngalamun lagi. Devano!" teriak Mommy Nina.
"Maaf Mom," tutur Devano.
"Kamu kenapa sih? ada masalah? cerita sama Mommy," ucap Mommy Nina.
"Hmmmm ini terlalu rumit Mom," ujar Devano lirih namun masih bisa didengar Mommy Nina.
"Rumit? Kok bisa begitu? kamu buat masalah apa sama calon menantu Mommy?" curiga Mommy Nina.
"Huft!!!" berkali-kali Devano menghela nafas. Ia berfikir, mungkin ini saatnya ia harus menceritakan semua kejadian masa lalunya kepada Mommy Nina.