
Kini Devano telah sampai di rumah sakit yang dimaksud oleh sekertarisnya tadi. Dan bertepatan dengan itu pula, Bian juga tengah berlari untuk menyesuaikan langkahnya dengan langkah Devano.
"Dimana mereka sekarang?" tanya Bian yang tampak panik.
"Kemungkinan mereka sekarang tengah di IGD. Kita kesana sekarang," ucap Devano. Dan dengan berlari kecil mereka berdua menuju ke ruang IGD berada.
Dan benar saja saat keduanya sampai, orang-orang yang mengantar keempat korban tadi langsung menghampiri mereka berdua.
"Tuan Devano," panggil salah satu dari mereka.
"Bagaimana keadaan mereka semua, Pak?" tanya Devano.
"Kita semua belum tau keadaan mereka berempat tuan karena dari tadi belum ada dokter yang keluar dari ruangan itu," jawab laki-laki tadi.
Devano dan Bian yang mendengar penuturan dari orang itu, mereka kini mengusap wajah mereka dengan kasar.
"Ya Tuhan, hamba mohon lindungi selalu mereka berempat, jangan engkau ambil salah satu dari mereka," ucap Bian dengan suara yang terdengar penuh dengan permohonan.
Dan sesaat setelahnya terdengar langkah beberapa orang yang menuju ke arah ruangan tersebut.
"Sayang, bagaimana keadaan mereka? Mereka baik-baik saja kan? Tidak ada luka serius di tubuh mereka kan? Sayang, jawab," tanya Ciara yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Hey tenang, semuanya akan baik-baik saja. Mereka semua orang yang kuat. Mau sesakit apapun mereka akan tetap bertahan demi kita semua," ujar Devano untuk menenangkan Ciara dengan pelukannya dan belaian lembut di kepala Ciara. Walaupun ia yakin semua korban tadi sekarang tengah berada di ambang hidup dan mati.
"Aku tidak akan tenang jika aku belum melihat Al berdiri didepanku sekarang juga," ucap Ciara dengan memberontak dari pelukan Devano tersebut.
"Al, Mama kesini nak. Al harus keluar sekarang dan kita pulang sama-sama. Bukannya Al hari ini juga mau merayakan ulang tahun Al, jadi ayok sayang, Al bangkit, temuin Mama dan kita pulang bersama," teriak Ciara.
"Stttt sayang. Aku tau perasaan kamu sekarang bagaimana tapi jangan begini juga. Disini masih area rumah sakit. Jika kamu terus teriak begini, kasihan pasien lain yang terganggu dengan teriakan kamu. Dan daripada kamu teriak-teriak, lebih baik kita semua berdoa atas keselamatan mereka," ucap Devano.
"Udah ya. Tenang dulu. Kita berdoa memohon keselamatan untuk mereka," ucap Devano lagi yang kali ini berhasil menenangkan Ciara.
Dan saat suasana sudah sedikit tenang, salah satu orang yang telah membawa korban ke rumah sakit pun mulai mendekati Devano.
"Maaf mengganggu sebentar, tuan. Saya dan teman-teman ingin berpamitan untuk pulang," ujar orang tadi.
Devano yang masih memeluk tubuh Ciara pun kini ia menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih atas bantuan dan pertolongan kalian. Dan saya minta dengan sangat untuk selalu mendoakan keselamatan mereka berempat. Dan untuk biaya yang sudah kalian keluarkan akan saya ganti," ucap Devano dengan tangan yang bergerak untuk merogoh saku celananya lalu ia menyerahkan ponselnya kearah orang tadi.
"Tolong tulis nomor rekening kalian masing-masing. Biar saya bisa mengirim biaya sekaligus sebagai ucapan terimakasih, secepatnya," sambung Devano yang membuat semua orang tadi kini menggelengkan kepala mereka.
Dan orang yang berada di hadapan Devano langsung mendorong pelan tangan Devano agar ponsel tersebut menjauh darinya.
"Kami benar-benar ikhlas membantu mereka tuan. Jadi tuan tidak perlu mengganti apapun kepada kita semua," ujar salah satu orang tadi.
"Tapi kalian sudah kehilangan bensin kalian untuk mengantar mereka sampai di sini," tutur Devano yang masih kekeuh ingin mengganti rugi semuanya.
"Baiklah Pak, saya juga sudah menyuruh kuasa hukum saya untuk melaporkan masalah ini ke pihak berwajib. Dan saya benar-benar meminta doa kalian semua agar pelaku cepat tertangkap dan mendapat hukuman yang setimpal juga untuk keselamatan mereka berempat," ujar Devano penuh permohonan.
"Tuan tenang saja, kita selalu mendoakan mereka berempat agar selalu berada di lindungan Tuhan," ujar laki-laki tadi.
"Terimakasih," ucap Devano yang diangguki oleh mereka semua.
"Kalau begitu kita pamit dulu, tuan," pamit laki-laki tadi.
"Baiklah kalau begitu kalian hati-hati dijalan. Dan sekali lagi terimakasih," ujar Devano yang mendapat anggukan kepala dan senyuman dari mereka.
Dan tak berselang lama dari kepergian orang-orang tadi, salah satu dokter yang menangani mereka berempat kini keluar dari ruangan tersebut.
Dan hal itu membuat dua pasang orangtua itu langsung menuju kearah dokter tadi.
"Bagaimana keadaan mereka berempat, dok?" tanya Franda.
"Untuk dua laki-laki dewasa, salah satu dari mereka mengalami gagar otak ringan dan tangan kirinya patah. Sedangkan yang satu juga mengalami gagar otak dengan kaki sebelah kiri yang sedikit mengalami keretakan. Dan syukur Alhamdulillah untuk keduanya sudah melewati masa kritis," tutur dokter tadi yang membuat kedua pasangan tadi langsung mengucap syukur atas keselamatan kedua bodyguard Al.
"Terus bagaimana dengan kedua anak itu, dok?" tanya Franda lagi.
"Kalau untuk dua anak tadi, rekan saya masih berusaha untuk menyelamatkan keduanya," ucap dokter tadi yang langsung membuat tubuh Franda maupun Ciara terasa lemas. Kalau dokter sekarang masih berusaha menyelamatkan mereka, berati nyawa mereka sekarang tengah terancam dan hal itu benar-benar membuat dua ibu tersebut lemas seketika. Mereka tak siap jika harus kehilangan buah hati mereka.
Sesaat setelahnya, salah satu suster yang membantu dokter-dokter yang bekerja di ruangan tersebut kini keluar dari ruangan tersebut dan membisikan sesuatu kearah dokter tadi yang langsung membuat dokter tersebut kini bergegas masuk kembali kedalam ruangan itu.
"Mohon maaf bapak, ibu. Apa disini ada orangtua dari anak laki-laki didalam?" tanya suster tadi.
Devano dan Ciara kini ia bergegas mendekati suster tersebut.
"Kita orangtuanya Sus," ucap Devano.
"Pak, Bu. Kondisi pasien sekarang tengah kritis dan di dalam otaknya sekarang ada gumpalan darah yang harus segera kita keluarkan. Jika bapak dan ibu berkenan, maka tanda tangan di kertas ini untuk mensetujui langkah kita selanjutnya yang akan mengoperasi anak laki-laki didalam," ujar suster tersebut sembari menyodorkan selembar kertas kearah Devano.
Dan tanpa pikir panjang Devano menerima kertas tadi lalu membacanya sekilas sebelum dirinya menanda tangani kertas tersebut.
"Lakukan apapun untuk menyelamatkan anak saya," ujar Devano sembari menyerahkan kembali kertas tadi kepada suster tadi. Dan ucapannya tersebut diangguki oleh suster tersebut.
Dan saat suster tadi ingin kembali masuk kedalam, Franda lebih dulu mencegahnya.
"Sus, bagaimana keadaan anak perempuan didalam? Apa dia baik-baik saja?" tanya Franda.
"Untuk anak perempuan didalam, dokter masih menanganinya," jawab suster tersebut sebelum akhirnya ia benar-benar masuk kedalam ruangan tadi.
"Arkhhhh kenapa Yura masih di tangani terus? Apa dia lebih parah dari mereka bertiga? bagaimana jika Yura tidak bisa bertahan melawan kesakitan yang dia terima? Bagaimana---" belum sempat Franda menyelesaikan ucapannya tadi, dirinya langsung mendapat pelukan dari Bian.
"Yura anak kuat. Dia pasti selamat," ucap Bian dengan suara bergetar karena menahan air mata yang sewaktu-waktu bisa keluar kapan saja.