Young Mother

Young Mother
Interogasi


Saat ke-lima orang tadi masuk keruangan kerja Devano. Mereka mendapati sang empu yang tengah sibuk dengan tumpukan kertas di hadapannya, yang sudah dipastikan kertas itu bernilai miliaran bahkan triliunan rupiah.


"Ehem," dehem Kevin tapi tak mendapatkan respon sedikitpun dari Devano. Ia masih saja sibuk dengan kertas-kertas itu.


"Woy Dev. Sibuk mulu lo, kita datang aja sampai lo cuekin gini," ucap Zidan yang berhasil mengalihkan perhatian Devano.


Devano kini menghentikan aktivitasnya dan melihat kearah ke-lima orang yang berada didepannya.


Olive terdiam, mengamati setiap inci wajah Devano yang ternyata memang sangatlah mirip dengan Al. Paras tampan yang dimiliki oleh Al memanglah warisan dari Devano. Bahkan ia saja sempat terpana oleh ketampanan Devano.


"Tampan sekali Papamu ini Al. Aku yakin nih orang memanglah Ayah biologis Al. Tapi bagaimana cara untuk membuktikan itu?" batin Olive.


Devano kini berdiri dari kursi kebesarannya dan menuju kearah sofa yang berada diruangan tersebut. Sedangkan ke-lima tamu tak diundang tadi mengikuti Devano.


"Ngapain kalian kesini?" tanya Devano dingin.


Kini pikiran yang sedari tadi berperang di otak Olive pun buyar saat mendengar suara dari Devano.


"Ck, sombong sekali bahkan sifat dingin dan cueknya aja nurun ke Al," batin Olive menggerutu. Sepertinya pujian yang ia lontarkan sebelumnya akan ia tarik kembali.


Olive kini menatap tajam Devano. Sedangkan orang yang ditatap pun mengernyitkan dahinya, bingung dengan tatapan yang diberikan oleh wanita yang dibawa oleh para sahabatnya itu.


Tatapan Devano beralih kearah ke-empat sahabatnya secara bergantian yang seakan-akan tatapan tersebut tengah bertanya siapa wanita yang mereka bawa.


"Dia Olive, sepupu gue," ucap Rafa yang seakan tau tatapan dari Devano.


"Oh iya Dev. Sebenarnya kita kesini mau tanya sesuatu ke lo," tutur Kevin mewakili yang lainnya.


Kini kerutan di kening Devano kembali terlihat. Namun tak urung ia menganggukkan kepalanya.


"Biar gue aja yang ngomong," timpal Olive.


Olive kini semakin menatap tajam Devano sebelum ia membuka suaranya.


"Lo kenal Ciara Devania?" tanya Olive to the point.


Saat mulut Olive mengucapkan nama itu, seketika itu pula tubuh Devano menegang, bahkan pikirannya kini memutar memori di masa lalu saat dirinya menyakiti Ciara. Dadanya sekarang tengah berdenyut nyeri, air matanya pun kini tak terasa jatuh membasahi pipinya. Ia merindukan sosok Ciara yang selama beberapa tahun belakangan ia cari keberadaan wanita pujaan itu.


Kevin, Zidan,Vino dan juga Rafa seketika tercengang saat melihat seorang Devano menangis. Orang yang selama ini mereka kenal dengan sosok laki-laki yang dingin, kejam dan bringas kini ia menangis bahkan wajahnya mengekspresikan ke frustasi yang teramat dalam.


"Ciara? kayak pernah dengar nama itu," gumam Vino.


"Oh my God. Jangan-jangan Ciara temannya Rahel?" kini Zidan yang bersuara dengan heboh.


"Kalian berdua bisa diam gak!" sentak Olive.


Kini dua orang yang sempat heboh itu pun kembali terdiam dan mereka akan menyimak saja ucapan dari Devano juga Olive nantinya.


"Apa yang terjadi antara Devano dan Ciara?" batin Kevin.


Devano kini tersadar. Ia segera menghapus air matanya tadi dan mengubah mimik wajahnya menjadi datar.


"Bukan urusanmu," ucap Devano dingin.


Olive yang mendengar kembali suara angkuh dari Devano pun mengeluarkan senyum miringnya.


"Benarkah? Apakah kamu yakin tidak ingin mengetahui perjalanan hidup Ciara selama 5 tahun ini?" tanya Olive tak kalah dingin dari Devano.


Devano terdiam. Ia juga penasaran siapa sebenarnya wanita yang berada di hadapannya saat ini? Kenapa dia bisa kenal dengan Ciara? Apa hubungan dia dan juga Ciara? Apakah wanita itu memang mengenal Ciara? pikir Devano.


"Sepertinya anda cukup terkejut dan bingung dengan saya, tuan Devano yang terhormat. Sebelumnya perkenalkan saya Oliveira Hansen. Kakak angkat dari Ciara Devania," ucapnya dengan senyum mematikan.


"Apa benar anda tak tahu menahu tentang Ciara Devania, tuan?" tanya Olive.


Devano masih saja terdiam namun tatapannya masih saja menyorot kearah Olive namun tatapan itu kini sudah berubah menjadi sendu.


"Apa kamu memang mengenal Ciara hah?" tanya Devano masih dingin namun suaranya berubah menjadi parau akibat menahan tangis.


"Tentu. Aku sangat mengenal Ciara secara dia adalah Adik angkat ku," jawab Olive.


"Jika kamu mengenalnya. Dimana dia sekarang?" tanya Devano menuntut.


Devano lagi-lagi terdiam. Ia merasa ucapan dari Olive tadi langsung menusuk kedalam ulu hatinya.


Ia mengusap wajahnya sesaat sebelum kembali menatap Olive yang terlihat santai tapi di dalam hatinya sudah menuntut untuk menghajar laki-laki di depannya itu.


"Dimana dia sekarang katakan? Apa dia baik-baik saja? Apa anakku juga baik-baik saja?" tanyanya. Ia tak tahan lagi untuk tak bertanya keadaan Ciara dan juga anaknya yang tak ia ketahui masih bertahan di dunia atau tidak.


"Ciara sekarang jauh dari kata baik-baik saja. Dia sangat bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Anak? Maksudmu anak siapa?" tanya Olive pura-pura tak tahu.


Devano kembali terdiam.


"Apakah Ciara benar-benar membunuh janin itu? Apakah Ciara benar-benar melakukan apa yang aku ucapkan dulu? Ya Tuhan jika benar maafkan aku, Ciara. Kenapa kamu harus melakukan itu Cia? Kenapa kamu menuruti apa yang aku katakan?" batin Devano menjerit.


"Apa dia tak memiliki seorang anak?" tanya Devano yang kini menundukkan kepalanya.


"Dia tak memiliki anak seorang pun," jawab Olive.


"Setahuku dulu Ciara pernah keguguran saat usia kandungannya memasuki 3 bulan," sambungnya.


"Ya Tuhan," gumam Devano. Seketika rasa bersalahnya bertambah.


"Bolehkah saya sekarang bertemu dengan Ciara?" tanya Devano.


"Untuk apa anda mau menemui Adik saya? Mau menyakiti hatinya lagi? Jangan harap!" tutur Olive yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


"Sudah cukup dia menderita selama ini karena ulah laki-laki bajingan seperti anda ini," sambung Olive menggebu-gebu.


Rafa yang berada disamping Olive pun segera menyenggol lengan sepupunya itu.


"Liv, kontrol emosi lo. Kita disini kan niatnya mau bicara baik-baik sama Devano," bisik Rafa.


"Hah apa kata lo? bicara baik-baik sama orang yang tadi pura-pura gak mengenal siapa Ciara?" geram Olive.


"Sudah cukup! Sekarang kamu beri tahu dimana Ciara sekarang!" perintah Devano dengan gebrakan meja yang cukup keras bahkan tubuhnya sudah berdiri dari duduknya.


Olive kini juga telah berdiri dari duduknya dan menghampiri Devano. Ia benar-benar sudah tak tahan lagi untuk memberi pelajaran kepada laki-laki yang tak bertanggungjawab itu.


Namun saat dirinya sudah berhadapan dan tangannya sudah terangkat untuk menampar pipi Devano, gerakan tangannya harus terhenti kala dering ponselnya berbunyi.


Olive berdecak. Ia pun kini mengurungkan aksinya tadi dan memilih untuk menjawab telepon di ponselnya yang ternyata dari Ciara.


Dengan segera Olive menggeser ikon telepon berwarna hijau tersebut dan menempelkan ponselnya ke telinganya.


"Halo, kenapa Ci?" tanyanya.


📞 : .....


"Astaga, aku lupa.Ya udah aku kesana sekarang," tutur Olive lagi.


Entah apa yang dibicarakan oleh Ciara dari seberang telepon yang membuat mimik wajah Olive kini berubah menjadi panik.


"Ada apa?" tanya Devano yang tau jika yang menelepon Olive tadi adalah Ciara.


"Kepo," jawab Olive.


Kini ia bergegas mengambil tas di samping Rafa.


"Raf, gue balik dulu," pamit Olive.


"Mau gue antar?" tanya Rafa yang khawatir dengan keselamatan Olive.


"Gak perlu," jawab Olive setelah itu ia segera keluar dari ruangan Devano dengan langkah yang tergesa-gesa.


...*****...


Yuk bisa yuk 350 like bisa gak 🤭 Maruk ya. Wkwkwk biarin aja lah ya gak. Buat seneng author gak papa kali 🤣


Dah lah bye bye semua👋 See you next eps 👋