
Sekitar pukul setengah 12 Devano mulai gelisah karena Nando, anak buahnya tak kunjung mengirimkan informasi mengenai sekolah Al dan juga nomor telepon Ciara.
Ia terus saja menghidupkan layar ponselnya dan mematikan terus menerus hingga akhirnya bunyi notifikasi pesan masuk di ponsel tersebut.
Ting
Dengan semangat Devano meraih ponselnya dan segera membuka pesan masuk itu.
π¨Nando : Tuan muda Al sekolah di Kaildix Internasional Scholl dan jam pulang sekolah pukul 12 siang. 08xx-xxxx-xxxx.
Devano menyunggingkan senyumnya, lalu ia menyimpan nomor Ciara tadi. Ia juga cukup senang saat mengetahui anaknya sekolah di sekolahan yang bertaraf internasional dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dan sekolah tersebut merupakan bisnis milik keluarganya yang dikelola oleh pamannya.
Ia kini bergegas keluar dari ruangannya dan menuju sekolah Al untuk menjemput putra tampannya itu.
...*****...
Sedangkan ditempatkan lain, Ciara dan Olive masih di dalam ruangan mereka sembari membicarakan tentang meeting hari ini yang baru mereka sadari bahwa perusahaan itu milik Devano.
"Ci, maaf gue dulu gak tau kalau pemilik perusahaan ini sama dengan laki-laki itu. Tau gitu dari dulu aku gak buat proposal pengajuan kerjasama dengan perusahaan itu. Maaf ya Ci. Kalau kamu gak mau ikut meeting hari ini juga gak papa kok, biar aku sendiri nanti yang datang," tutur Olive tak enak.
Ciara tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Liv, aku gak papa kok tenang aja. Gak usah minta maaf kayak gitu, kamu gak salah sama sekali kok. Oh ya tapi mungkin nanti aku telat datangnya karena harus jemput Al dulu. Gak papa kan?" ucap Ciara tak ingin membuat Olive merasa bersalah walaupun didalam hatinya ia sangat muak jika harus bertemu lagi dengan laki-laki brengsek itu.
Olive menganggukkan kepalanya setelah itu ia merengkuh tubuh Ciara untuk dipeluknya. Ia sekarang tau dan paham beratnya kehidupan Ciara selama ini yang berjuang sendirian.
Ciara mengurangi pelukannya.
"Ya udah aku siapin berkas buat meeting nanti ya. Dan mungkin 10 menit lagi aku jemput Al," tutur Ciara yang dijawab anggukan oleh Olive.
...*****...
Devano kini sudah berada di depan sekolah Al pada pukul 11:45 yang artinya 15 menit lagi Al akan keluar dari kelasnya.
Devano kini keluar dari mobilnya setelah memarkirkan mobil tersebut, kemudian matanya dengan nyalang melihat kearah para ibu-ibu yang tengah berbincang-bincang selagi menunggu anaknya selesai melakukan kegiatan belajar.
"Mungkin kelas Al tak jauh dari ibu-ibu itu," gumam Devano karena Nando tadi tak memberitahukan secara lengkap letak dan nama kelas Al saat ini.
Dengan santai Devano kini mendekati gerbang sekolah tersebut yang langsung mendapat sambutan dari satpam disana.
"Eh Pak Devano, tumben kesini Pak. Pasti cari Pak Ridwan ya?" tanya satpam tersebut sembari membukakan pintu untuk Devano.
Sedangkan Devano yang di beri pertanyaan pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum singkat. Kemudian ia memasuki area sekolah tersebut.
Seketika dirinya menjadi pusat perhatian para ibu-ibu yang tadi tengah berkumpul bahkan terdengar bisik-bisik centil para ibu-ibu tadi yang terpikat dengan pesona Devano. Namun Devano tak memperdulikan itu, ia memilih untuk menghampiri Nando yang berdiri didepan kelas Al tersebut.
"Bagaimana?" tanya Devano saat sudah berada di sebelah Nando dengan melihat sekilas suasana dalam kelas Al.
Nando yang langsung tau arah ucapan dari bosnya itu pun langsung membuka suaranya.
"Tuan muda sepertinya tipe anak yang tertutup, mempunyai sifat dingin dan cuek dengan sekitarnya. Tadi saja ada gadis kecil yang mendekatinya, tuan muda langsung menjauh dari gadis kecil itu. Dan tadi ada anak laki-laki yang umurnya mungkin lebih tua beberapa bulan dari tuan muda, mendorong hingga terjatuh dan membully tuan muda Al," tutur Nando apa adanya seperti yang ia lihat tadi.
"Dia Rian Permana Geadon. Putra dari Rama Geadon dan Vita Geadon, tuan," jawab Nando.
"Pemilik Geadon's crop bukan yang 2 hari lalu mengajukan permohonan kerjasama dengan. perusahaanku?"
"Benar tuan."
Devano mengangguk, kemudian ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Lidya.
π : "Halo, pak," ucap Lidya dari sebrang.
"Batalkan kerjasama dengan perusahaan Geadon!" perintah Devano. Setelah itu ia langsung menutup sambungan telepon itu tanpa menunggu Lidya menimpali ucapannya tadi.
...*****...
Waktu dengan cepat berlalu, kini waktu belajar Al telah usai begitu juga dengan anak-anak lainnya.
Al kini keluar dari kelasnya paling terakhir. Ia malas jika harus berdesak-desakan dengan yang lainnya. Setelah di depan kelasnya, Al langsung di kerubungi oleh Rian dan teman-temannya.
"Hey kamu, orang yang gak punya Papa!" panggil Rian dengan lantang.
Al hanya terdiam tak menggubris ucapan yang keluar dari mulut Rian itu.
"Gak punya Papa aja belagu, bisu pula. Kasihan banget sih," tutur Rian lagi.
"Apa yang di katakan Mama benar, kalau kamu tuh sebenernya hanya anak haram yang keluar dari perut Mama kamu tanpa mengetahui siapa Papa kandungmu. Karena Mama kamu dulu jual diri?" ucapnya pedas disambung dengan gelak tawa anak-anak lainnya. Dan hal itu membuat Al geram, ia kemudian mengepalkan tangannya. Mungkin jika mereka menjelekkan dirinya, ia masih terima tapi jika menyangkut sang Mama ia tak akan pernah membiarkan itu terjadi.
Al kini dengan keras meninju wajah Rian hingga tersungkur, tak sampai disitu, Al kembali melayangkan pukulannya ke wajah Rian hingga beberapa kali bahkan Rian tak bisa membalas pukulan dari Al tadi sedangkan teman-teman Rian, mereka tak berani untuk menghentikan aksi Al tersebut karena pada dasarnya mereka semua juga takut dengan Al saat ini.
Tak berselang lama, Vita, Mama Rian mendekat.
"Ya ampun Rian. Kamu kenapa nak?" ucapnya khawatir.
"Siapa yang melakukan ini dengan Rian?" tanyanya dengan nada membentak.
Semua teman-teman Rian kini dengan kompak menunjuk Al.
Vita kini menggendong anaknya dan menatap tajam kearah Al.
"Kamu berani-beraninya berbuat seperti ini dengan anak saya. Dasar anak haram, kurang didikan. Mama kamu sibuk jual diri ya? jadi gak bisa didik anaknya bersikap baik seperti ini. Dasar tak punya adab sopan santun, anak haram," maki Vita tak terima. Sudah dapat dilihat kan kenapa Rian tadi bisa berucap seperti tadi dengan Al karena orangtuanya saja dengan lantang mengucapkan hal yang tak pantas didengar oleh anak kecil yang berdampak anak tersebut akan meniru setiap ucapan dan gerak-geriknya. Bahkan ia tak bertanya dulu siapa yang memulai duluan dan hanya main hakim sendiri dan secara tak langsung ia mendukung perbuatan salah anaknya tadi. Sangat miris sekali bukan?
...*****...
Yuk bisa yuk 400 like πͺ
Kalau author telat up berarti pihak NT-nya lagi eror ya dan maaf buat kemarin yang udah nungguin author up lama karena ada masalah di pihak NT-nya.
Tetap stay safe, stay healthy and stay with me π€ SEE YOU NEXT EPS BYE π