
"Astaga, perut kamu kok bisa sampai begini?" tanya Ciara. Mama Henry kini menghela nafas saat kejadian pada malam sebelumnya kembali melintas di memorinya dan setalahnya ia kini menurunkan kembali bajunya tadi.
"Jika saya menceritakan semua kejadiannya dari awal akan sampai besok pagi selesainya. Singkat cerita saja, saat dia pulang dari sekolah, awalnya semuanya baik-baik saja sampai setelah dia ganti baju dan pergi lagi disitu sudah mulai terlihat aura marahnya. Dan saya mendapatkan luka ini saat di malam hari dimana dia baru pulang entah darimana dengan keadaan yang sangat kacau. Saya sebagai istri yang berusaha melayani suami dengan baik, saat dia pulang saya buatkan dia kopi seperti biasa. Tapi tau-tau saat saya masuk kedalam kamar, dia sudah membawa tongkat besi di tangan dia. Dan tanpa tau masalah yang sedang dia hadapi, dia tiba-tiba saja mukul saya begitu saja dengan tongkat itu berkali-kali hingga membuat kopi yang saya pegang tadi tumpah dan gelasnya pecah. Dan saat saya sudah tidak kuat lagi untuk berdiri, tubuh saya jatuh kelantai dan pada saat itu juga dia mengambil serpihan gelas tadi dan menyayat perut saya seperti yang kalian lihat ini," cerita Mama Henry yang membuat Ciara dan Franda langsung geram seketika.
"Kenapa kamu tidak melawan saja saat dia melukai tubuh kamu? atau lapor polisi biar dia langsung di penjara. Dan kamu sudah sering mendapatkan pukulan dari dia, kenapa kamu gak lepasin dia aja, cerai gitu. Karena percuma saja kalau kamu terus mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak sehat ini. Kasian juga tubuh kamu kalau terus menerus harus menerima siksaan gila dari dia," ujar Franda.
"Saya tidak mempunyai tenaga yang lebih untuk melawan dia. Saya juga sudah pernah ingin melaporkan dia kepihak berwajib tapi saat saya baru saja keluar dari gerbang rumah saja, anak buah dia langsung mencegah saya dan berakhir saya nanti akan di kurung mereka. Dan bukannya saya tidak mau bercerai sama dia, saya sangat ingin. Bahkan dulu saya pernah membawa surat cerai dan hanya kurang tanda tangan dia saja, dia malah menyobek surat itu dengan berbagai ancaman yang terlontar dari mulut dia. Dan sayangnya ancaman itu bukan hanya di mulut saja melainkan benar-benar terjadi. Contohnya dengan bekas luka di pelipis Henry. Luka itu dia dapatkan karena pada waktu itu saya dan Papanya tengah bertengkar hebat dan berakhir saya ingin pergi dari rumah itu sekaligus mengajak Henry juga untuk keluar dari sana. Tapi baru saja saya keluar dari kamar, tiba-tiba saja saya sudah melihat kepala Henry bersimbah darah dan yang paling menyakitkan hati saya, saat kondisi Henry sudah tak sadarkan diri, laki-laki gila itu masih membenturkan kepala Henry ke pinggir tembok," ucap Mama Henry dengan menundukkan kepalanya.
Ciara memejamkan matanya sesaat untuk menahan emosinya yang tiba-tiba saja ingin meledak. Ia benar-benar tak bisa terima jika ada anak kecil harus di siksa seenak hati oleh orang dewasa yang akal dan pikirannya jauh diatas akal dan pikiran anak-anak. Bahkan Ciara sempat berpikir, dunia ini semakin lama semakin mengerika disaat banyak orang dewasa tidak memiliki akal dan pikiran yang normal lagi.
Ciara menghela nafas berkali-kali sebelum akhirnya dirinya kembali bergerak untuk memeluk tubuh wanita itu untuk memberikan ketenangan kepadanya.
"Setelah ini kamu segeralah membuat surat pengajuan perceraian lagi. Saya yakini proses perceraian kamu kali ini akan lancar dan tak ada kendala yang menghalangi kamu untuk terbebas dari hubungan toksik lagi dan mendapat kebebasan hidup kamu lagi," ujar Ciara sembari mengelus punggung wanita didalam pelukannya tersebut.
"Benar apa kata anda, nyonya. Saya harus segera bergerak untuk menuntaskan permasalahan ini agar saat laki-laki itu suatu saat nanti bebas dari penjara saya sudah tidak mempunyai hubungan apapun dengan dia. Tapi saya harap, pihak polisi menghukum dia dengan hukuman mati atau kalau tidak hukuman seumur hidup," ucap Mama Henry dengan penuh semangat seakan-akan hidupnya yang tadinya benar-benar kelam dan penuh kegelapan kini perlahan warna hidupnya seakan-akan kembali kepadanya.
Ciara yang merasakan semangat dari wanita tersebut pun kini ia melepaskan pelukannya tadi lalu ia tersenyum saat tatapan mereka berdua saling bertabrakan.
"Terimakasih nyonya telah mengembalikan semangat saya," ujar Mama Henry yang langsung diangguki oleh Ciara.
"Saya hanya bisa mendukung kamu dari belakang tanpa bisa membantu kamu untuk melewati masalah yang tengah kamu jalani sekarang," tutur Ciara.
"Justru yang sekarang saya butuhkan adalah dukungan dan semangat nyonya karena dari hal itu semua, saya bisa bangkit lagi," ucap Mama Henry yang membuat Ciara tersenyum.
Franda yang sedari tadi hanya melihat interaksi kedua wanita di hadapannya itu dengan pikiran yang terus berjalan untuk memikirkan cara agar dia bisa membantu meringankan beban Mama Henry pun kini ia mulai angkat suara.
"Maaf nyonya, kalau boleh tau nama anda siapa ya?" tanya Franda yang ia tujukan kepada Mama Henry. Dan pertanyaannya tadi kini membuat dua wanita tersebut kini menolehkan kepalanya kearah Franda.
"Ah iya saya sampai lupa berkenalan," ujar Mama Henry kemudian ia kini menyodorkan tangan kearah Franda terlebih dahulu.
"Saya Reni," ucap Mama Henry.
"Franda," balas Franda.
"Ciara," ucap Ciara.
"Jadi begini nyonya Reni---" belum sempat Franda menyelesaikan ucapannya, Reni lebih dulu memotong perkataannya itu.
"Baiklah Reni. Saya bukan berniat untuk ikut campur mengenai rumah tangga kamu itu, tapi tiba-tiba saja hati saya tergerak untuk membantu kamu. Ya walaupun mungkin bantuan yang akan saya lakukan ini tidak seberapa, tapi saya tetap ingin membantu kamu. Boleh kan?" tanya Franda sekaligus meminta izin terlebih dahulu kepada orang yang bersangkutan.
"Membantu mengenai perceraian saya?" tanya Reni.
"Bukan, bukan mengenai perceraian kamu. Melainkan mengenai masalah KDRT yang kamu dapatkan itu. Saya berniat membantu kamu untuk melakukan visum dan melaporkan semua yang di lakukan oleh suami kamu itu ke kantor polisi," tutur Franda.
"Dan mungkin dengan cara ini juga, suami kamu akan lebih lama lagi di penjara dengan hukuman berlapis yang dia terima nanti saat di pengadilan. Bagaimana? Apakah kamu mau menerima tawaran dari saya?" tanya Franda.
Reni tampak terdiam dan ragu-ragu. Jika dia menerima tawaran itu, ia tak akan enak hati merepotkan orang-orang baik yang baru ia kenal itu. Tapi jika tidak, pasti dia akan menyesal seumur hidup karena tak menggunakan kesempatan ini untuk memberikan pelajaran kepada laki-laki yang sudah menyiksanya bertahun-tahun itu.
"Sudah terima saja," tutur Ciara yang membuat Reni kembali tersadar.
"Bagaimana, mau kan?" tanya ulang Franda.
"Saya tidak enak merepotkan Anda, nyonya," ujar Reni.
"Tidak, tidak merepotkan sama sekali. Jadi kamu terima kan tawaran saya tadi?" Dengan berat hati akhirnya Reni kini menganggukkan kepalanya setuju. Dan hal itu membuat Franda tersenyum lebar.
"Kalau kamu setuju, tulis nomor telepon kamu di sini. Biar kita gampang untuk berkomunikasi." Franda kini menyodorkan ponselnya ke arah Reni dan tak berselang lama Reni pun mengambil ponsel tadi lalu ia dengan cepat mengetik nomor teleponnya di ponsel Franda. Dan setelah selesai, ia mengembalikan ponsel tadi ke pemiliknya.
"Oke kalau begitu, saya setelah ini akan bergerak untuk mulai menyiapkan semuanya dan mencari pengacara yang bisa kita handalkan. Jadi untuk sekarang, saya dan keluarga pamit pulang terlebih dahulu. Kamu jaga diri baik-baik," ujar Franda sembari mengusap lengan Reni.
"Sekali lagi terimakasih nyonya atas bantuannya," tutur Reni yang diangguki oleh Franda.
"Saya dan keluarga juga pamit pulang terlebih dahulu. Jaga Henry dan jaga diri kamu. Jangan takut jika nanti ada anak buah suami kamu atau orang yang berniat jahat sama kamu datang kesini karena akan saya pastikan, sebelum mereka menyentuh kamu, orang yang berniat jahat itu akan berhadapan dulu dengan bodyguard yang akan saya utus nanti," ucap Ciara.
"Terimakasih nyonya, terimakasih. Saya pasti akan mengingat kebaikan kalian berdua, terimakasih," ujar Reni tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada dua wanita tersebut.
"Sudah cukup terimakasihnya. Kita semua pulang dulu," tutur Ciara. Dan setelah mengucapkan hal tadi, mereka semua beranjak dari kamar tersebut.
"Hati-hati kalian semua. Dan sekali lagi terimakasih," teriak Reni yang membuat dua wanita tersebut menoleh lalu menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan dari Reni tadi.
Reni terus tersenyum dan memandangi dua keluarga tadi hingga mereka sudah benar-benar menghilang dari pandangannya.