Young Mother

Young Mother
Permasalah


3 hari setelah Devano keluar dari rumah sakit, Devano sudah kembali beraktivitas kembali bergitu pula dengan Ciara. Dan sekarang ia sudah siap dengan pakaian kerjanya begitu pula dengan Al yang sudah rapi dengan seragam sekolah.


"Selamat pagi," sapa Ciara dan Al saat mereka telah sampai di ruang makan yang disana sudah ada Olive juga Dea.


"Selamat pagi juga," jawab keduanya.


Ciara tersenyum kemudian ia membantu Al untuk duduk di kursi makan disebelahnya setelah itu mereka menikmati sarapan masing-masing tanpa suara.


"Kita berangkat duluan ya," pamit Ciara saat dirinya juga Al sudah menyelesaikan sarapannya.


"Hati-hati dijalan Kak. Ponakan Aunty harus belajar yang rajin ya jangan nakal," tutur Dea.


"Siap aunty," jawab Al.


"Al," panggil Olive.


Al kini menoleh kearah Olive.


"Cium aunty dong," pinta Olive.


Al mengerutkan keningnya dan setelahnya ia bergidik.


"Gak mau. Aunty belum mandi pasti bau," cicit Al.


"Heh aunty gak mandi tetap wangi tau Al," tutur Olive tak terima. Ya walaupun akhir-akhir ini rasa malasnya semakin meningkat dan jarang mandi tapi wangi parfum terus melekat di tubuhnya. Walaupun harus pergi kekantor jika rasa malasnya itu masih melanda dia memutuskan untuk tidak mandi dan jika rasa malasnya itu hilang sewaktu di kantor, ia akan mandi disana. Katakan saja dia wanita jorok toh itu mamang kenyataannya.


"Udah-udah jangan diterusin. Ini masih pagi, aku gak mau dengar keributan dari kalian berdua," pisah Ciara kemudian ia menuntun tangan Al.


"Kita berangkat dulu, assalamualaikum," teriak Ciara saat sudah diambang pintu rumah tersebut.


"Waalaikumsalam, hati-hati," balas Olive dan hanya dijawab dengan acungan jempol saja oleh Ciara.


Saat dirinya dan juga Al sudah keluar dari rumah tersebut dan menuju ke depan gerbang untuk menunggu taksi online yang ia pesan tadi, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dengan segera ia mengambil ponsel tadi dari dalam tasnya lalu langsung menggeser ikon telepon tersebut.


"Assalamualaikum, kenapa Ma?" ucap Ciara saat sambungan telepon tersambung dan ia juga mengetahui orang yang telah menelponnya itu adalah sang Mama.


📞 : "Waalaikumsalam. Ci, kamu hari ini kerja?" tanya Mama Mila.


"Iya Ma, ini baru mau berangkat dan sekalian antar Al kesekolah."


📞 : "Kalau hari ini kamu libur kerja dulu bisa gak? Masalahnya sekarang lagi ada hal penting yang menyangkut keluarga kita. Jadi Mama mau kamu pagi ini kesini setelah antar Al kesekolah," tutur Mama Mila.


"Masalah apa sih Ma?"


📞 : "Pokoknya ini masalah penting yang menyangkut keluarga kita. Mama mohon kamu hari ini izin libur kerja dulu ya, please." Ciara terdiam sesaat. Hal penting apa yang membuat Mamanya itu sampai memohon kepadanya seperti ini? Dia rasa keluarganya tak pernah memiliki masalah sedikitpun dengan orang lain atau ini masalah perusahaan Papanya? Tapi perusahaan itu aman-aman saja. Arkh Ciara sekarang sangat penasaran tentang hal yang mampu meresahkan keluarganya itu.


"Baiklah, Ciara akan izin ke Olive. Udah dulu ya Ma, Cia mau antar Al dulu, taksinya juga udah sampai. Bye Ma, sampai nanti, assalamualaikum," tutur Ciara.


📞 : "Hati-hati dijalan. Jangan sampai kamu bohong. Mama tunggu kamu di rumah. Waalaikumsalam," jawab Mama Mila setelah itu sambungan telepon keduanya tertutup.


Ciara kini perlahan masuk kedalam taksi tadi bersama Al yang sudah duduk di sebelahnya.


Dan tak berselang lama, akhirnya mereka sampai di sekolah Al.


"Pak, tunggu sebentar ya. Saya antar anak saya dulu kedalam," ucap Ciara agar sopir taksi tadi menunggunya.


Ciara dan juga Al kini turun dari taksi, kemudian mereka berdua menuju ke kelas Al.


"Al, belajar yang rajin ya sayang. Jangan nakal, harus nurut sama teacher Al, oke." Al mengangguk kemudian ia mencium telapak tangan Ciara dan dibalas ciuman di kedua pipi juga keningnya.


"Bye bye Mama." Al berjalan masuk kedalam kelasnya sembari melambaikan tangannya kearah Ciara yang dibalas dengan lambaian tangan juga oleh Ciara.


Setalah memastikan Al benar-benar masuk kedalam, Ciara kini bergegas menuju taksi tadi yang masih menunggunya di depan gerbang sekolah Al.


"Ke Galaxy Residence ya Pak," ucap Ciara setelah masuk kedalam taksi.


"Baik," jawab sopir taksi tadi.


Taksi itu kembali berjalan, meninggalkan depan sekolah Al menuju lokasi yang disebutkan oleh Ciara tadi. Didalam taksi Ciara dengan gesit mengetik teks pesan yang akan ia kirimkan ke Olive sekalian ia juga izin tak masuk kerja.


Berselang 45 menit akhirnya taksi tersebut berhenti tepat di depan rumah orangtua Ciara.


"Terimakasih ya pak," tutur Ciara sembari menyodorkan beberapa uang ke sopir tadi. Sopir itu pun mengangguk dan mengambil uang tadi dari tangan Ciara, setelah itu Ciara baru keluar dari taksi tadi dan sedikit berlari mendekati gerbang rumahnya.


"Pak, tolong bukain gerbangnya," teriak Ciara sembari memencet bel rumah tersebut.


Tak berselang lama gerbang di depannya terbuka dan Ciara kembali berlari masuk kedalam rumah tadi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung membuka pintu tadi begitu saja karena kebetulan pintu utama tak terkunci.


"Assalamualaikum," teriak Ciara mencari keberadaan orangtuanya.


"Waalaikumsalam. Kamu kenapa ngos-ngosan gitu sih Ci," ucap Mama Mila yang baru masuk kedalam rumah setelah menyiram tanaman di kebun belakang rumah tersebut.


Ciara menolehkan kearah sumber suara kemudian ia mendekati Mama Mila.


"Hehehe gak papa, Ma. Biar cepat aja sampai di dalam. Oh ya ada masalah penting apa sampai melibatkan Ciara segala?" tanya Ciara.


Mama Mila tak langsung menjawab pertama dari Ciara tadi, ia malah menuntut tubuh Ciara agar duduk di sofa ruang tamu.


"Ma."


"Nanti kalau udah ada Papa kamu juga orang yang bersangkutan sudah sampai disini," tutur Mama Mila.


"Hah? jadi ada orang luar juga yang ikut diskusi masalah keluarga ini?" Mama Mila menganggukkan kepalanya.


"Orang itu inti dari masalah ini." Ciara mengerutkan keningnya.


"Udah jangan tanya mulu. Nanti kamu juga tau sendiri masalah apa yang sedang keluarga ini hadapi sekarang dan jawaban kamu nanti sangat penting buat memecahkan masalah ini," tutur Mama Mila saat Ciara ingin bertanya kembali. Dan kenapa harus jawabnya yang sangat penting bukannya kepala keluarga di rumah ini adalah Papa Julian bukan dirinya? Seharusnya kan jawaban dari Papa Julian lebih penting. Haish sebenarnya masalah apa yang harus ia tangani nanti? Dan ia harus menjawab bagaimana nanti? Ciara benar-benar tak tau juga bingung dengan pokok permasalahan itu.


"Sekarang bantu Mama masak juga buat kue untuk hidangan nanti. Mereka akan datang kesini nanti siang tepat saat makan siang nanti," tutur Mama Mila sembari berdiri dari duduknya.


"Jadi mereka kesini nanti siang?" Mama Mila mengangguk sembari berjalan menuju dapur.


"Kalau tau gitu Cia tadi kerja dulu Ma. Cia disini juga mau nagapain coba kalau masih lama pertemuannya," gerutu Ciara.


"Kan Mama udah bilang, kamu bantu Mama siapin hidangan untuk mereka," teriak Mama Mila.


"Kamu ganti baju sekarang, kalau udah selesai cepat kesini. Jangan bantah, ingat tamu itu sangat penting," sambung Mama Mila. Ciara tampak menghela nafas panjang tapi ia menuruti ucapan dari Mama Mila tadi untuk berganti baju dan membatu sang Mama menyiapkan segala keperluan yang diperlukan untuk nanti.