Young Mother

Young Mother
Belah Duren


Setelah berdiri cukup lama akhirnya acara resepsi tersebut berakhir. Devano dan Ciara kini mereka sudah berada di kamar pengantin untuk melepaskan penat mereka.


"Mau aku bantu?" tanya Devano saat Ciara tengah melepas atribut-atribut di kepalanya.


Ciara menolehkan kepalanya dan mengangguk. Devano kini beranjak dari kasur tersebut untuk menghampiri Ciara.


"Mana yang bisa aku bantu?" tanyanya lagi setelah berada tepat di belakang Ciara.


"Tolong lepasin jarum yang masih tertinggal di hijab ini dong," ujar Ciara. Devano mengangguk kemudian ia dengan teliti melihat setiap detail hijab yang masih dikenakan oleh Ciara. Sedangkan sang empu tengah membersihkan makeup yang sedari tadi ingin ia hapus.


"Ci," panggil Devano setelah berhasil melepaskan hijab Ciara.


"Hmmm."


"Aku boleh minta sesuatu sama kamu?" Ciara kini menghentikan aktivitasnya menghapus makeup dan menatap wajah Devano melalui cermin di depannya.


Pikiran untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri langsung merasuki otaknya. Bukan untuk yang pertama memang tapi kan masalahnya berbeda. Dulu ia melakukan karena keterpaksaan tapi sekarang mau tak mau dia harus mau, siap tak siap harus siap karena sudah menjadi kewajibannya dan jika ia menolak akan mendapatkan dosa.


Ia mengerjab-ngerjabkan matanya dengan mencoba menelan salivanya yang saat ini sangat sudah ia telan. Rasa yang dulu ia rasakan saat berhubungan badan dengan Devano kini terngiang jelas. Ia kini meringis dan bergidik seakan-akan rasa sakit akan permainan kasar Devano dulu kembali ia rasakan.


"Ci, kamu kenapa?" tanya Devano heran dengan mimik wajah Ciara tadi.


"Ah eh gak kok, aku gak papa. Ja---jadi kamu tadi mau minat apa?" gagap Ciara.


"Apa aku boleh minta kamu terus berhijab dan hanya melepas hijab kamu di depanku?" Ciara kini mendongakkan kepalanya tak percaya dengan keinginan Devano.


"Apa aku gak salah dengar?" Devano menggelengkan kepalanya.


"Tapi kalau kamu mau dan siap saja. Aku gak akan maksa kok, jika kamu gak mau pakai hijab," ucap Devano sembari tersenyum.


"Sebenarnya aku udah dari lama punya keinginan untuk memakai hijab tapi aku masih belum yakin dengan diriku sendiri," jawab Ciara sembari menunduk.


"Tak apa jika kamu belum siap dan yakin. Tapi jika kamu sudah siap dan mantap segeralah berhijab ya sayang." Devano kini memeluk tubuh Ciara dari belakang.


"Pasti, aku akan segera meyakinkan diriku sendiri," tutur Ciara.


Devano mengangguk dan perlahan ia mendekatkan wajahnya di leher jenjang Ciara dan setelahnya ia mencium leher tersebut dengan tangan yang mulai aktif keatas dan kebawah walaupun badan Ciara masih di tutupi oleh gaun pengantin, sang empu masih bisa merasakan geli yang luar biasa akibat sentuhan Devano. Dan ketika tangan Devano ingin meraih buah dadanya, tiba-tiba Ciara langsung melepaskan pelukan Devano.


"Emmm anu itu aku mandi dulu," ucap Ciara dengan muka yang mulai memerah kemudian ia berlari menuju kamar mandi dan menutup pintu tersebut dengan cukup keras.


Sedangkan Devano yang sudah mulai terbakar gairah pun hanya bisa melongo menatap Ciara yang menghilang dari balik pintu kamar mandi tersebut.


"Lha kok mandi dulu sih. Mana gak ngajak-ngajak lagi," gerutu Devano.


"Atau mungkin dia mandi dulu biar terlihat fresh kali ya. Tapi, wait disini kan kita berdua gak bawa baju ganti. Ahhh tapi kan kita juga mau malam pertama jadi gak perlu baju lah. Toh nanti kalau pakai baju juga percuma," tutur Devano dan kini ia mendudukkan tubuhnya di kasur sembari menatap kearah kamar mandi untuk menunggu Ciara selesai membersihkan tubuhnya.


Hampir 1 jam Ciara tak keluar juga dari dalam kamar mandi, hal itu membuat Devano sebal dan juga khawatir. Sebal karena juniornya sudah tidur kembali dan khawatir jika terjadi sesuatu dengan Ciara didalam.


Ciara yang tak merasa dirinya ditunggu, malah baru selesai melakukan ritual tersebut dan kini ia tengah mencari keberadaan handuk yang biasanya pihak hotel sediakan.


"Astaga kenapa dikamar mandi gak ada handuk satu pun sih? Terus aku keluar pakai apa dong? gaun itu juga udah basah. Daleman semua juga ikut basah dan aku baru ingat kalau aku gak bawa baju ganti di ruangan ini. Arkh ya kali aku keluar gak pakai apa-apa. Tar kesenangan Devano dong," gerutu Ciara.


Ia terus berpikir sembari memeras dan mengibas-ibaskan pakainya tadi agar air yang meresap di pakainya sedikit terkurangi. Aktivitasnya kini terhenti saat suara ketukan terdengar.


"Ci, kamu di dalam gak kenapa-napa kan?" teriak Devano.


"Gak, aku gak kenapa-napa," jawab Ciara.


"Syukurlah kalau gitu. Cepatlah keluar aku juga mau mandi," ucap Devano.


"Iya sebentar lagi aku keluar."


10 menit sudah Devano berdiri di samping pintu kamar mandi tersebut.


Dan baru saja ia ingin mengetuk kembali pintu kamar mandi tersebut, terdengar teriakan Ciara.


"Aww!"


"Ci, kenapa?" tanya Devano dengan panik.


"Gak papa Dev," bohong Ciara padahal dirinya baru saja terpeleset dan mengakibatkan tubuhnya mencium lantai kamar mandi. Dan hal itu juga membuat gaun yang sudah lumayan bisa dipakai kini harus basah kembali.


Ciara perlahan berdiri sembari memegangi pinggangnya.


"Huh, belum apa-apa udah ngerasain sakit aja," gerutu Ciara dan kini ia menuju pintu kamar mandi tersebut dan segera membukanya walaupun hanya sedikit saja.


"Dev," panggil Ciara sembari mengedarkan pandangannya kearah kasur di kamar tersebut.


"Kenapa?" tanya Devano yang tiba-tiba menongolkan kepalanya tepat dihadapan wajah Ciara.


"Astagfirullah. Ngagetin aja sih kamu," tutur Ciara.


"Maaf-maaf. Kamu udah selesai kan?"


Ciara menggelengkan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya.


"Belum?" Ciara mengangguk.


"Huh, terus kenapa kamu panggil aku tadi?"


"Mau minta tolong buat ambilin handuk. Pakaian aku basah semua soalnya," tutur Ciara.


"Ya sudah tunggu sebentar aku cariin," ucap Devano sembari beranjak dari hadapan Ciara. Sedangkan Ciara, ia kembali menutup pintu tersebut tanpa ia kunci kemudian ia segera melepaskan gaun yang sudah basah kuyup itu dari badannya.


Saat gaun tersebut sudah terlepas dari tubuh Ciara, bertepatan itu pula Devano masuk kedalam kamar mandi tanpa permisi terlebih dahulu.


Devano tampak terdiam menikmati pemandangan tubuh Ciara yang tak memakai sehelai benang di tubuhnya itu. Perlahan ia mendekati Ciara yang berdiam diri di tempatnya sembari kedua tangannya berusaha untuk menutupi aset berharganya itu.


Saat Devano sudah mengikis jarak antara dirinya juga Ciara, ia menundukkan kepalanya dan tersenyum penuh arti. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya tepat disamping telinga Ciara.


"Tak perlu malu. Ingat kita sudah sah menjadi pasangan suami istri dan kita juga sudah pernah melihat milik kita satu sama lain. Dan juga tubuhmu sekarang milikku, begitu juga dengan tubuhku yang sekarang juga milikmu," bisik Devano yang membuat bulu kuduk Ciara merinding seketika.


Kemudian Devano kini menggigit daun telinga Ciara sebelum menuju leher jenjang itu kembali yang membuat sang empu menggeliat geli. Menciumi leher itu dengan penuh gairah tak lupa meninggalkan tanda cinta disana. Setelah puas menciumi leher Ciara, ia beralih menatap mata indah nan sayu milik Ciara. Menautkan kening dan hidung mereka, sebelum akhirnya Devano kembali memulai mencium bibir ranum milik Ciara dengan begitu ganas tak lupa tangannya menyingkirkan tangan Ciara yang menutupi aset wanita tersebut.


Setelah dirasa berhasil ia mulai menjelajahi tubuh Ciara tanpa melepaskan ciuman bibir mereka. Untuk beberapa saat mereka berdua menikmati pemanasan tersebut. Hingga akhirnya Devano menyerah dan tak kuat lagi untuk tidak langsung bercocok tanam. Saat dirinya sudah bersiap dan pakaian di tubuhnya juga sudah hilang semua, Ciara malah menghentikan aksinya yang sedikit lagi membuat sang junior masuk kedalam kandang.


"Please jangan disini," pinta Ciara dengan deru nafas tak berarturan.


Devano mengangguk kemudian ia menggendong tubuh Ciara dan berjalan menuju kasur kamar tersebut sembari menautkan kembali bibir keduanya.


Kini tubuh Ciara perlahan Devano rebahkan di kasur king size tersebut dengan menatap penuh harap kearah Ciara. Ciara kini mengangguk, memberikan izin ke suaminya itu untuk melakukan perkembangan biakan.


"Maaf jika sakit," ucap Devano saat sang junior sudah masuk sempurna kedalam kandang milik Ciara. Ciara memejamkan matanya sesaat karena memang benar rasa sakit itu masih terasa tapi tak sesakit waktu dulu saat mahkotanya di tembus secara paksa oleh pedang pusaka milik Devano.


Saat ekspresi wajah Ciara sudah mulai tenang, Devano perlahan melakukan ritual belah duren dengan skill yang tak diragukan lagi. Hingga terdengar deru nafas yang memburu dari keduanya juga suara khas orang berkembang biak secara bersautan.


...****************...


Mohon maaf jika part belah durennya gak sepanas belah duren pada umumnya 🀭 Gini aja author udah tremor sama malu sendiri, ditambah jantung berasa dag dig dug jugaπŸ˜‚ Jadi harap dimaklumi ya sayang-sayangku πŸ€—


Tak bosan-bosan author ngingetin kalian untuk LIKE, KOMEN, VOTE, dan KASIH HADIAH 😘 karena itu bentuk apresiasi kalian ke para author yang sedang kalian baca karyanya.


Dan author minta maaf jika masih banyak kesalahan dalam cerita iniπŸ€— SEE YOU NEXT EPS BYE πŸ‘‹