Young Mother

Young Mother
Bertemu Sahabat Lama


Satu Minggu setalah kejadian itu, kini Ciara dan Devano berserta Al tengah bersiap menuju rumah Mommy Nina yang katanya akan mengadakan acara kecil-kecilan untuk merayakan kehamilan kedua Ciara. Tak lupa Mommy Nina mengundang teman-teman dekat dari Devano dan Ciara saja. Tapi sayang diacara itu tak ada kedua orangtua Ciara dan Daddy Tian yang baru melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.


Dengan menggandeng tangan Al, Ciara menuruni anak tangga menyusul Devano yang sedari tadi menunggu mereka di ruang tamu.


"Ehemmm," dehem Ciara setelah ia sampai disamping sang suami yang malah menutup matanya.


Dev mengerjabkan matanya kemudian ia menatap kearah sepasang ibu dan anak itu.


"Udah selesai?" tanya Devano dengan suara khas bangun tidur.


"Udah. Kamu cuci muka dulu sana biar kantuk kamu cepat hilang," ucap Ciara. Devano kini meregangkan otot-ototnya sebelum beranjak menuju ke kamar mandi di dekat ruangan tersebut.


Beberapa menit kemudian, Devano telah kembali bergabung dengan anak dan istrinya.


"Berangkat sekarang aja yuk," ajak Devano.


"Emang kamu udah gak ngantuk lagi?" Devano menggelengkan kepalanya. Ia tadi hanya berniat memejamkan matanya saja bukan untuk tidur tapi mungkin Ciara dan Al yang bersiap cukup lama, bahkan hampir 2 jam akhirnya Devano tertidur juga.


Ciara menganggukkan kepalanya kemudian ia kembali menggandeng tangan Al dan mereka bertiga berjalan beriringan menuju mobil Devano.


Mobil itu kini perlahan meninggalkan lingkungan rumah tersebut setelah ketiga orang tadi masuk kedalam mobil Devano.


Hanya butuh waktu 45 menit akhirnya mobil yang dikendarai oleh Devano sampai di area rumah utama keluarga Rodriguez yang ternyata sudah banyak mobil yang terparkir di sana.


"Assalamualaikum," ucap Ciara dan Devano saat mereka menginjakkan kakinya masuk kedalam rumah megah tersebut yang pintunya sengaja di buka lebar.


"Waalaikumsalam," jawab orang-orang yang berada di rumah tersebut.


"Cia!" teriak Olive sembari berlari menuju kearah Ciara.


"Rindu," ucapnya saat ia sudah memeluk tubuh Ciara.


"Lebay," cibir Rafa.


"Syirik aja Lo anak monyet," tutur Olive sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Ciara kemudian menggandeng tangan sang empu untuk bergabung dengan teman-temannya yang lain.


Sedangkan Al dan Devano, mereka berdua langsung mencari keberadaan Mommy Nina yang Kemungkinan masih berdandan di dalam kamarnya. Maklum, dia sendiri yang usianya sudah menginjak setengah abad, jadi sebisa mungkin ia make up untuk menutupi kerutan di wajahnya, supaya tak terlihat terlalu tua jika bergabung dengan para anak muda itu.


"Mom. Dev, Cia sama Al udah sampai ini," ucap Devano sembari mengetuk pintu kamar Mommy Nina.


"Iya-iya Mom udah tau. Kamu turun dulu sana, bentar lagi Mom selesai dan gabung sama kalian," teriak Mommy Nina dari dalam kamarnya.


"Ya udah kalau gitu, jangan lama-lama."


"Iya ih bawel banget." Kini Devano dan Al kembali turun kebawah bergabung dengan Ke-empat temannya ditambah 3 wanita cantik siapa lagi kalau bukan Olive, Dea juga Kiara tak ketinggalan dengan wanitanya yang sangat bersinar dimatanya.


"Mom, bentar lagi turun katanya," ucap Devano kepada Ciara sembari duduk di sebelah sang istri. Ciara pun menganggukkan kepalanya.


Dan benar saja tak berselang lama, Mommy Nina turun kebawah dengan tampilan yang sangat jauh berbeda dari biasanya bahkan semua orang yang menatapnya dibuat melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.


"Wanjir, ini beneran emak lo, Dev?" tanya Vino dengan tatapan takjubnya.


"Entahlah gue juga gak yakin kalau itu emak gue. Pasalnya emak gue umurnya udah setengah abad, walaupun masih cantik tapi kerutan tak bisa membohongi usianya..Tapi kalau ini, kemungkinan bukan emak gue. Mukanya muda banget soalnya," jawab Devano yang membuat Mommy Nina mengerucutkan bibirnya.


"Wahai para anak muda yang durhaka. Apa kalian tidak percaya kalau dihadapan kalian saat ini memanglah Mommy Nina, emaknya Devano, si anak kurang aja itu?" tanya Mommy Nina dengan berkacak pinggang menatap satu persatu wajah teman-teman anaknya juga menantunya itu.


Mommy Nina kini tersenyum sembari mengacungkan jari jempolnya kearah sang keponakan kemudian ia berjalan menuju sofa yang masih kosong tepat disebelah Ciara.


"Gimana keadaanmu sayang?" tanya Mommy Nina setelah dirinya duduk.


"Alhamdulillah baik Mom," jawab Ciara dengan senyum.


"Alhamdulillah kalau begitu. Al dimana sekarang?" tanyanya saat tak melihat cucu tampannya itu.


"Lagi ke dapur minta cemilan ke mbok Yaya." Mommy Nina tampak menghela nafas lega.


Kemudian mereka kembali saling ngobrol satu sama lain begitu juga dengan Olive, Dea, Kiara, Devano, Zidan, Rafa, Vino dan Kevin yang saling bertukar canda dan tawa mereka. Hingga suara seseorang di ambang pintu menghentikan hiruk-pikuk kehebohan orang-orang itu.


"Assalamualaikum," salamnya dengan suara lembut.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak sembari menoleh kearah sumber suara. Mereka semua kini melongo menatap ke orang yang masih berdiri kaku di ambang pintu itu sepertinya ia sama terkejutnya dengan semua orang disana kecuali Olive, Dea, Al, Rafa dan Mommy Nina.


Al yang melihat siapa gerangan yang bertamu di rumah tersebut, tersenyum lebar. Dan dengan mata yang berbinar Al berlari menghampiri orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Rahel.


"Tante cantik." teriak Al.


Rahel yang tadinya terbengong pun kini mengerjabkan matanya agar tersadar kembali kemudian ia menyambut pelukan Al.


"Hay Al," sapa Rahel setelah pelukannya terlepas.


"Hay juga Tante cantik. Al kira Tante tidak kesini tadi," ucap Al pasalnya dirinya lah yang meminta Mommy Nina untuk mengundang Rahel untuk ikut menghadiri acara kecil-kecilan itu dan langsung disetujui begitu saja oleh Mommy Nina.


"Tante pasti kesini, boy," tutur Rahel sembari mengelus rambut Al.


Saat Al masih bercakap dengan Rahel, disisi lain ada Ciara yang masih terbengong tak percaya kalau dihadapannya saat ini adalah sang sahabat yang dulu selalu bersama dengannya.


Devano yang melihat keterbengongan Ciara pun ia langsung mengelus lengan Ciara agar sang empu kembali sadar.


"Kenapa kamu bengong gitu hmm? bukannya itu teman kamu waktu kuliah dulu?" tanya Devano yang dijawab anggukan saja oleh Ciara.


"Kalau itu teman kamu, kenapa gak kesana dan sapa dia? Udah lama lho kalian gak saling bertemu. Samperin sana gih. Aku tau kamu juga kangen sama dia, bukan? Kalau kamu kangen buruan kesana gih peluk dia biar kamu lega," tutur Devano.


Ciara tampak menimbang ucapan Devano. Ia bukan tak mau memeluk sahabatnya itu, tapi ia takut Rahel akan membencinya karena waktu itu ia tak memberi kabar sedikitpun kepada Rahel saat dirinya pergi dari rumahnya. Terlebih ia tak menceritakan masa kelam itu kepada Rahel yang menambah dirinya semakin takut dengan reaksi Rahel nanti.


"Aku takut, Dev," tutur Ciara dengan lirih.


"Takut kenapa hmm?"


"Aku takut dia benci aku." Devano menggelengkan kepalanya.


"Dia gak mungkin benci kamu. Dia juga akan mengerti saat kamu cerita nanti. Dan mungkin yang ia benci bukan kamu melainkan aku. Belum lagi nanti aku pasti kena bogem dari temanmu itu. Jadi gak perlu takut karena disini aku yang salah bukan kamu," tutur Devano.


"Orangnya udah mulai kesini," sambung Devano yang membuat tubuh Ciara semakin menegang.


Kini Rahel sudah bergabung dengan mereka dan menyalaminya satu persatu hingga saat dirinya berada di hadapan Ciara, ia berhenti dan menatap nanar kearah sang sahabat.


"Ci," panggil Rahel dengan suara seraknya yang terdengar seperti ia sedang menahan tangisnya.


Ciara yang tadinya menunduk kini mengangkat kepalanya kemudian ia berdiri dari duduknya dan langsung memeluk erat tubuh Rahel.