
Ciara semakin tak tenang ketika suster dan dokter masih keluar masuk dari ruangan tersebut dengan wajah yang terlihat tengah khawatir akan keadaan pasiennya.
"Ya Allah aku mohon, selamatkan Devano. Dev, aku tau kamu kuat jadi bertahanlah demi aku dan Al," gumam Ciara untuk kesekian kalinya.
Saat Mommy Nina dan juga Daddy Tian mulai menghampirinya, saat itu pula semua suster dan dokter yang tadi tengah menangani pasien di dalam kini telah berhamburan keluar.
"Dok, bagaimana keadaan pasien didalam?" Tanya Ciara menghentikan dokter tadi yang ingin pergi.
"Maaf untuk pasien yang ada didalam sudah tidak bisa kami tolong lagi." Ciara menggeleng kuat tak percaya dengan ucapan dokter tadi.
"Gak, gak mungkin. Dokter jangan bohong," teriak Ciara sembari menarik jas dokter tersebut.
"Maaf nyonya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain."
Boom!!!
Hati Ciara seakan-akan dihantam berbagai benda tajam secara bersamaan. Semua tulang ditubuhnya seakan-akan patah dan membuat dirinya kini ambruk, jatuh kelantai dengan air mata yang menetes tanpa hentinya.
"Gak, gak mungkin!" Teriak Ciara histeris.
Mommy Nina dan Daddy Tian yang melihat tubuh Ciara terduduk dilantai dengan keadaan kacau dan tengah ditenangkan oleh beberapa suster langsung berlari kencang menghampiri Ciara.
Kemudian ia segera memeluk tubuh Ciara.
"Ada apa sayang?" Tanya Mommy Nina.
"Dev, Mom. Dev!"
"Iya sayang, Dev kenapa?"
"Dev ninggalin Cia sama Al. Ninggalin kita semua hiks," ucap Ciara.
Jangan tanya reaksi Mommy Nina bagaimana? Ia terlihat terdiam, seperti halnya dengan Ciara. Ia juga masih tak percaya dengan apa yang ia dengarkan tadi.
"Mom gak percaya. Sebelum Mom lihat langsung," tutur Mommy Nina sembari beranjak dari duduknya tak lupa juga mengajak Ciara untuk masuk kedalam ruang UGD tersebut.
Dan benar saja saat mereka masuk kedalam, terdapat satu tubuh manusia yang sudah tertutup kain dari ujung kepala hingga kakinya.
Mommy Nina yang melihat itu tampak syok dan langsung memeluk tubuh Daddy Tian yang sama-sama tertegun melihat jenazah di depannya. Walaupun mereka belum melihat wajah orang dibalik kain itu tapi jika dilihat-lihat proporsi tubuhnya sama dengan proporsi tubuh Devano.
Sedangkan Ciara, ia perlahan menghampiri jenazah tersebut dan saat sudah sampai di samping brankar tadi dengan tangan yang bergetar hebat perlahan ia membuka kain yang menutupi wajah jenazah tadi dan saat kain tersebut telah terbuka.
"Gak, gak mungkin. Dev bangun, jangan bercanda Dev. Ini gak lucu Dev, benar-benar gak lucu sama sekali. Bangun sekarang!" Teriak Ciara sembari menggoyang-goyangkan tubuh Devano yang sudah terbaring tak bernyawa itu.
"Aku bilang bangun. Bangun Dev. Jangan begini aku mohon. Jangan tinggalin aku sama Al. Al masih butuh kamu. Bukankah kamu janji akan selalu bersama kita berdua? Tapi kemana janji itu sekarang? Janji harus kamu tepatin Dev. Bangun Dev!" Raung Ciara tak ada habisnya.
Semakin Ciara histeris, Mommy Nina semakin tak kuat lagi dan akhirnya tubuhnya jatuh tak sadarkan diri di pelukan Daddy Tian yang diluar tampak tegar tapi didalam hatinya juga turut menangis atas kehilangan putra satu-satunya itu.
Daddy Tian kini membawa tubuh Mommy Nina ke brankar kosong diruangan tersebut dan setelah tubuh Mommy Nina dibaringkan, salah satu dokter langsung membantu sang empu sadar dari pingsannya.
Sedangkan Daddy Tian kini mendekati Ciara yang masih menangis histeris dengan celotehannya.
"Tenanglah nak. Ikhlaskan Dev berpulang, mungkin ini sudah jadi jalannya dan mungkin ini semua juga bisa menebus semua kesalahannya dimasa lalu. Yakinlah, Dev sekarang sudah sangat bahagia karena sudah berusaha memperjuangkan kamu dan Al. Walaupun dia tidak bisa menepati janjinya kepada kamu dan juga Al untuk menemani kalian secara nyata tapi setidaknya dia menemani kalian di dalam hati kalian. Tuhan lebih sayang dia daripada kita," ucap Daddy Tian menenangkan.
"Gak, Cia gak akan ikhlasin Devano pergi lagi dari Cia. Udah cukup Dad, Devano buat Cia sedih dulu. Sekarang Cia gak akan pernah biarin Dev pergi dari Cia. Gak, gak akan hiks!"
"Dok, boleh bawa jenazah anak saya ke ruang jenazah terlebih dahulu, sebelum persiapan untuk pemakamannya terselesaikan?" ucap Daddy Tian agar Ciara bisa lebih tenang jika berjauhan dengan jenazah Devano saat ini.
Ciara kini semakin memberontak saat Daddy Tian mulai menjauhkan dirinya dengan Devano terlebih lagi saat ia melihat wajah Devano kembali tertutupi kain dan banker tersebut mulai ingin digerakkan.
"Lepasin Cia, Dad. Kalian semua menjauh dari Devano. Jangan sentuh apapun di tubuhnya dan brankar itu. Menjauh sekarang!" Teriak Ciara yang tak berhasil keluar dari pelukan kuat Daddy Tian.
Dokter tadi sempat ragu karena tak tega melihat Ciara yang sangat histeris seperti itu.
"Lanjutkan saja dok," perintah
Daddy Tian.
Dokter tersebut lagi-lagi hanya mengangguk dan saat brankar tersebut mulai terdorong, terdengar dobrakan pintu yang membuat dokter dan suster tadi menghentikan dorongannya.
Brak!!!
"Mama! Hiks," Al kini berlari kearah Ciara yang tengah mengusap air matanya dengan cepat. Ia mungkin akan gila saat tak ada Al di sisinya tapi ia akan mencoba lebih tegar lagi saat Al sekarang disini.
Daddy Tian perlahan melepaskan pelukannya tadi dari tubuh Ciara, kemudian dengan cepat ia memalingkan wajahnya agar air mata yang sedari tadi ia tahan tak ada yang melihatnya.
Ciara menjongkokan tubuhnya dan memeluk tubuh Al dengan sangat erat saat anaknya itu menubruk tubuhnya.
"Hiks, Al mau ketemu Papa, Ma. Al mau ketemu Papa," ucap Al berulang kali.
Ciara menggigit bibir bawahnya, ia tak bisa berpura-pura tegar seperti Daddy Tian. Ia benar-benar lemah sekarang terlebih lagi saat mendengar tangis Al yang seakan-akan ia tau keadaan Devano sebelum dirinya memberitahunya.
Ciara menghela nafas berkali-kali sebelum ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Al lekat-lekat.
"Al ingin bertemu Papa?" Al mengangguk dengan kuat.
"Tapi Al janji gak boleh nangis saat lihat Papa nanti."
Al tampak terdiam dan sesaat setelahnya mengangguk ragu.
Ciara kini membawa tubuh Al kedalam gendongannya, kemudian ia berjalan menuju brankar yang hanya bergeser beberapa senti saja dari sebelumnya.
Dan setelah sampai, Ciara mendudukkan tubuh Al disamping tubuh Devano, kemudian ia kembali membuka kain tadi.
"Papa," panggil Al sembari memeluk Devano.
"Al kangen Papa. Hiks. Papa kapan bangun? Kenapa Papa tidur terus? Apa Papa marah sama Al gara-gara Al kemarin nakal sampai jatuh dari tangga, jadi Papa gak mau lagi ketemu sama Al? Maafin Al yang udah nakal dan tidak mendengarkan apa yang Papa dan Mama ucapkan. Maafin Al, Papa. Al janji gak akan nakal lagi. Hiks Papa bangun!" Teriak Al yang sebal karena ucapannya tak di jawab oleh Devano.
Al terdiam sesaat dan menatap wajah Ciara.
"Kenapa jantung Papa tidak ada suaranya, Ma? Bukankah orang yang masih hidup akan mempunyai suara di dadanya?" Tanya Al yang mulai curiga sembari menegakkan kembali tubuhnya.
Ciara kini mengelus rambut Al dengan lembut.
"Al lihat Mama ya nak. Dengarkan baik-baik apa yang Mama ucapkan. Al anak kuat bukan?" Al mengangguk dengan polos.
"Jadi, apa ada masalah dijantung Papa, Ma? Tapi kata aunty Olive saat manusia tak memiliki suara di dadanya berarti orang itu udah di surga. Jadi Papa---" ucapan Al menggantung.
Ciara mengangguk sekilas.
"Pa---papa sekarang sudah sama Allah. Papa udah disurga sekarang," ucap Ciara.
Al yang sepertinya sudah tau dan paham dengan ucapan Ciara tadi air matanya tampak berlinang kembali, lalu dengan cepat ia memeluk tubuh Devano.