
Disisi lain, Devano telah bergabung dengan teman-temannya di suatu ruangan yang digunakan oleh Zidan untuk bersiap.
Calon mempelai pria itu sama halnya dengan Rahel yang sedang gugup setengah mati. Bahkan dia sampai mondar-mandir tak jelas seperti setrikaan.
"Bisa duduk anteng gak sih lo? pusing gue dari tadi lihat lo mondar-mandir gak jelas gini," geram Vino.
"Ck, diem lo. Lo gak pernah ngerasain mau nikah, jadi mana paham apa yang saat ini gue rasain," ucap Zidan tak mau kalah.
Vino yang merasa tersinggung pun mencebikkan bibirnya. Memang dia belum pernah ngerasain kegugupan saat ingin melaksanakan ijab qobul tapi ia yakin saat dirinya nanti melaksanakan hal yang sakral itu ia tak akan seperti Zidan ini.
"Udah sih Zi. Gue yang udah pernah juga gak sampai mondar-mandir kayak lo gini," timpal Devano yang tadi niatnya ingin menggoda sang sahabat eh saat ia sampai di ruangan itu, si Zidan sudah mondar-mandir tak jelas dan hal itu membuat Devano menghilangkan niatnya. Kasihan, katanya.
"Stttt diem deh lo, Dev. Kegugupan kita kan beda dan mungkin lo bisa ngontrol itu semua," ucap Zidan yang masih enggan untuk di ganggu.
"Ya kan kegugupan itu memang harus bisa lo kontrol, njir. Kalau lo gak bisa kontrol tar tambah tremor saat lo udah berhadapan sama bapaknya Rahel dan penghulu. Dan itu bisa buat lo lupa sama kata-kata yang akan lo ucapkan saat ijab qobul nanti." Kini giliran Kevin yang memberi petuah kepada sang mempelai pria.
Zidan tampak menghentikan langkahnya sejenak sembari mencerna ucapan dari Kevin tadi yang menurutnya memang ada benarnya juga.
"Tuh bener apa yang di katakan sama Kevin. Mending lo duduk disini deh. Masih ada waktu beberapa menit nunggu penghulu datang dan waktu itu bisa lo gunakan untuk menenangkan diri lo sendiri." Zidan akhirnya memutuskan untuk menuruti apa yang dikatakan oleh Vino untuk segera duduk di sofa disebelah teman-temannya yang sedari tadi hanya melihat dirinya dengan berbagai makanan dan minuman, layaknya mereka menonton kegugupannya seperti nonton film di bioskop.
"Nah gini kan enak di lihatnya gak bikin sakit mata. Dan kalau lo masih gugup, gue punya sedikit cara biar kegugupan lo hilang," tutur Rafa. Zidan mengernyitkan keningnya.
"Apa?" tanyanya pada akhirnya.
"Caranya lo ambil nafas, tahan dan jangan di buang," jawab Rafa dengan entengnya.
Plakkk!!!
Pukulan keras mendarat di kepalanya.
"Kalau gue gak buang nafas, mati dong guenya," geram Zidan setelah melayangkan pukul tadi.
"Anjir, kenceng banget lo mukul gue. Sakit njing. Gue salah apa coba, padahal apa yang gue katakan itu benar. Kalau lo mati kan gak akan ngerasain yang namanya gugup. Dan lo tenang aja, kalau lo mati gue dengan senang hati gantiin posisi lo buat jadi suaminya Rahel. Gue ikhlas bahkan sangat-sangat ikhlas buat gantiin lo."
Plakkk!!!
Lagi-lagi kepalanya menjadi sasaran empuk Zidan untuk melampiaskan kekesalannya terhadap ucapan Rafa tadi.
"Astagfirullah, otak gue lama-lama geser ini," keluh Rafa sembari mengelus-elus kepalanya yang terasa nyeri akibat pukulan dari Zidan tadi.
Dan baru saja sang empu ingin melayangkan perkataan untuk membalas ucapan dari Rafa tadi, tiba-tiba saja pintunya di buka oleh Mama Zidan.
Zidan dan teman-temannya kini berdiri untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Tenangin diri lo. Jangan sampai lo ngucapin ijab qobul harus di ulang. Malu-maluin para kaum Adam lo. Dan perlu di ingat kalau lo ngulang sampai 3 kali, pernikahan lo akan batal," ucap Devano menakut-nakuti sang sahabat.
"Jangan buat gue tambah panik, njing," tutur Zidan sembari mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut bersama teman-temannya yang lain. Sedangkan Mamanya tadi lebih dulu kembali ke tempat utama dilaksanakan acara pernikahan itu.
"Gue ngomong sesuai apa yang gue tau ya. Perlu lo ingat kalau gue ini udah pernah ngucapin ijab qobul. Jadi gue ya sedikit tau lah hal apa yang di bolehin dan gak di perbolehkan." Zidan menghela nafas gusar sekarang, apalagi beberapa langkah didepannya, ia sudah harus berhadapan dengan penghulu dan ayah dari calon istrinya itu.
Devano yang melihat wajah Zidan sudah pucat pasi pun hanya bisa menahan tawanya. Ia tak akan mengejek sekarang karena ia dulu juga sama gugupnya dengan Zidan dan mungkin wajahnya dulu juga pucat seperti temannya itu sekarang.
"Tenangin diri lo. Jangan sampai blank." Devano menepuk-nepuk pundak Zidan untuk menyalurkan kekuatan pada sahabat itu sebelum ia duduk tepat di belakang Zidan yang sekarang masih berdiri mematung.
"Nak Zidan silahkan duduk," perintah dari salah satu saksi pernikahannya berhasil membuat Zidan kembali dari lamunannya.
Zidan tersenyum tipis dan segera duduk menghadap ayah Rahel dan para pengulu yang hanya di batasi oleh meja kecil di depannya.
Dan tak berselang lama setelah ia duduk di tempat akan dilaksanakan ijab qobul, sang pembawa acara membacakan rentetan acara yang akan di laksanakan hari ini hingga malam nanti. Sebelum akhirnya sang pembawa acara memberikan waktu untuk dilaksanakan ijab qobul hari ini.
"Nak Zidan sekarang boleh berjabat tangan dengan Pak Tyo," ucap penghulu tersebut yang langsung diangguki oleh Zidan. Dengan tangan yang bergetar hebat dan terasa dingin ia mulai memberanikan diri untuk berjabat tangan dengan Papa Tyo.
Sedangkan Papa Tyo yang merasakan tangan calon menantunya itu dingin, sedingin es batu pun langsung mengeratkan genggaman tangannya.
"Silahkan di mulai dengan Pak Tyo mengucapkan ijabnya," perintah penghulu.
Dengan menghela nafas sesaat, Papa Tyo akhirnya mulai membacakan ijabnya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Zidan Bagaskara bin Walid Bagaskara dengan anak kandung saya Rahelia Yuanda Sulistyo binti Abdi Sulistyo dengan mas kawin uang sebesar 1 milyar rupiah dan mobil BMW 4 series convertible dibayar tunai."
Zidan mengambil nafas dalam-dalam dan...
"Saya terima nikah dan kawinnya Rahelia Yuanda Sulistyo binti Abdi Sulistyo dengan mas kawin 1 Milyar rupiah dan mobil BMW 4 series convertible dibayar tunai," ucap Zidan dengan satu tarikan nafasnya.
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sahhhhh!" teriak semua orang yang berada disana tak terkecuali dengan teman-teman Zidan.
Sedangkan Zidan masih tak percaya bahwa dirinya berhasil meminang Rahel dengan mengucapkan Ijab Qobul dalam satu tarikan nafas. Padahal ia tadi sudah pasrah karena tiba-tiba otaknya berhenti bekerja untuk beberapa saat.
Terdengar sebuah doa yang di panjatkan oleh sang penghulu yang membuat Zidan mengerjabkan matanya berkali-kali agar ia kembali saja dari keterbengongannya. Setelah itu ia khusyuk mendengarkan doa tadi. Ada rasa bahagia di dirinya yang sangat besar. Wanita yang dulu sangat ia cintai kini sudah menjadi istrinya. Walaupun ia dulu sudah berhenti berharap tapi takdir seakan berkata lain. Ia di pertemukan lagi dengan wanita pujaannya yang rasa sayangnya masih terpatri apik di hatinya, setelah sekian lama tak bertemu dan takdir juga menginginkan mereka bersatu dalam ikatan yang sakral dan yang akan ia pertahankan seumur hidupnya. Ia tak akan pernah mundur lagi dan Rahel tak akan pernah ia lepaskan lagi dalam genggamannya.