Young Mother

Young Mother
Promise


Devano kini turun kebawah setelah selesai bercakap-cakap dengan Daddy Tian mengenai rencananya nanti. Dengan tersenyum ia menghampiri Ciara, Al dan juga Mommy Nina yang masih berada di ruang keluarga.


Setelah sampai di ruangan tersebut, Devano ikut duduk di lantai disebelah Ciara sembari memperhatikan Al yang masih saja bermain dengan mainan yang entah kapan kedua orangtuanya itu membelinya. Tau-tau sudah ada dirumah itu bahkan seperti satu toko mainan di borong semua oleh kedua orangtuanya hanya untuk cucu tercinta mereka.


"Mommy keatas dulu ya, bentar doang," pamit Mommy Nina sembari beranjak dari duduknya. Ciara dan Devano pun mengangguk untuk menjawab ucapan dari Mommy Nina.


Saat Mommy Nina sudah jauh dari dirinya, Devano mendekatkan wajahnya ke telinga Ciara.


"Orangtuaku gak gigit kamu kan?" Goda Devano. Ciara berdecak dan melayangkan geplakan tangan di paha Devano.


"Ya kan tadi aku baru pertama kali bertemu sama mereka jadi maklum lah kalau gugup dan ada sedikit rasa takut," tutur Ciara. Devano terkekeh kecil setelah menjauhkan wajahnya dari samping wajah Ciara.


"Ngapain ketawa? Gak ada yang lucu tau."


"Iya-iya emang gak ada yang lucu. Aku cuma seneng aja kamu bisa di terima sama keluargaku dan sudah mulai akrab sama Mommy." Devano tersenyum sembari menatap wajah Ciara yang kini menatapnya.


"Thanks udah mau kembali lagi ke negara ini dan ngizinin aku buat ketemu sama kamu lagi ditambah bertemu dengan Al. Thanks kamu juga udah mempertahankan janin yang sekarang sudah berubah menjadi anak laki-laki yang begitu tampan dan cerdas," tutur Devano sembari menatap Al dengan tatapan kesedihan.


"Maaf atas ucapanku dulu Ci," sambungnya dengan suara yang begitu lirih bahkan wajahnya sudah menunduk.


Ciara kini perlahan meraih tangan Devano dan menggenggamnya.


"Sudahlah Dev. Jangan diingat-ingat lagi, masa lalu yang begitu buruk itu. Aku udah maafin kamu. Jadi lupakan hal yang tak mengenakan itu. Tugas kita sekarang besarin Al sehingga dia nantinya tidak akan merasa kekurangan kasih sayang salah satu dari kita sebagai orangtuanya," tutur Ciara.


Devano kini menatap wajah cantik Ciara yang tengah tersenyum kepadanya.


"Semoga aku bisa jagain Al hingga besar nanti Ci, sama seperti yang kamu harapkan tadi," batin Devano.


"Ci," panggil Devano.


"Hmmm?"


"Aku boleh peluk kamu sebentar saja." Ciara tersenyum kemudian merentangkan tangannya untuk menyambut dekapan dari Devano nantinya. Devano yang melihat kode tersebut segera merengkuh tubuh Ciara, memeluknya dengan erat.


"Aku harap ini bukan pelukan terakhir dan pelukan perpisahan kita Ci," gumam Devano lirih.


Ciara yang mendengar ucapan Devano itu pun tiba-tiba merasakan hal aneh pada dirinya. Rasa khawatir juga muncul di benaknya.


"Ada apa ini? Kenapa perasaanku jadi begini? Setelah mendengar ucapan dari Devano," batin Ciara.


Ciara menggelengkan kepalanya dan melepas paksa pelukan tadi.


"Kamu bisa gak sih kalau bicara gak ngelantur kayak tadi?" Marah Ciara.


"Ngelantur apanya Ci?"


"Kamu tadi bicara seolah-olah kamu sedang berpamitan untuk menjauh dari aku maupun Al kan?" Tanya Ciara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Hey hey hey siapa yang bilang seperti itu. Aku gak ada niatan sedikitpun buat menjauh dari kamu dan Al," tutur Devano sembari menggenggam kedua tangan Ciara.


"Kalau gak ada niatan kenapa tadi kamu bilang seperti itu Dev?"


"Itu hanya harapanku saja. Kita kan gak tau kedepannya gimana, apakah aku masih bisa menemani kamu buat besarin Al atau malah justru kebalikannya, kamu besarin Al sendiri lagi tanpa ada aku di sisimu. Kita gak tau umur seseorang sampai kapan Ci. Tapi jika aku sudah tak ada di sampingmu bahkan di dunia ini lagi, aku mohon tetap jaga Al dan tetap perkenalkan aku sebagai ayahnya. Dan kalau bisa aku juga minta namaku terselip di belakang nama Al sebagai penanda dan juga supaya kamu tetap ingat denganku. Aku---"


"Stop!" Teriak Ciara sembari menutup telinganya menggunakan kedua tangannya supaya ia tak mendengarkan kata-kata tak masuk akal dari Devano yang membuat hatinya begitu hancur secara tiba-tiba. Bahkan air matanya juga sudah menetes sekarang.


"Kenapa nangis?" Tanya Devano dengan jari jempolnya yang tengah menghapus air mata Ciara yang mengalir di pipi.


Ciara tak menjawab pertanyaan dari Devano tadi melainkan ia dengan cepat menerjang tubuh Devano, memeluk tubuh tegap itu dengan sangat erat. Ia sangat takut kehilangan Devano saat ini.


"Please jangan bicara seperti itu lagi. Aku gak suka Dev. Sudah cukup kamu sakiti aku dulu tapi sekarang aku mohon tetap disampingku, jagain dan besarin Al bersama-sama hiks." Devano tersenyum dan kini ia membalas pelukan Ciara sembari mengelus surai hitam itu.


"Mama kenapa nangis?" Tanya Al yang tiba-tiba sudah berada di belakang Devano dan tengah menatap Ciara.


Ciara kini melonggarkan pelukannya kepada Devano sehingga anaknya itu bisa duduk diantara mereka berdua.


"Al gak suka Mama nangis," ucap Al sembari menghapus air mata Ciara.


"Huhuhu Mama nangis karena Papa tau Al," adu Ciara.


"Emang Papa jahatin Mama? Atau Papa nakal sama Mama?" Tanya Al polos.


"Dua-duanya. Masak ya Al, tadi Papa bicara kalau Papa mau tinggalin kita berdua," tutur Ciara masih dengan air matanya.


Al kini menatap garang kearah Devano.


"Papa kenapa mau tinggalin kita? Papa udah gak sayang lagi sama Al dan Mama?" Tanya Al yang sepertinya sebentar lagi juga akan menangis.


Devano menggelengkan kepalanya. Jangan sampai dua orang di depannya itu menangis secara bersamaan yang akan membuat dirinya nanti bingung sendiri untuk mendiamkan tangisan mereka berdua. Ia kini merengkuh tubuh Al untuk ia dudukan di atas pahanya.


"Papa sayang sama Al dan juga Mama. Papa janji gak akan ninggalin kalian sampai kapanpun. Papa akan selalu disamping kalian. Dan Papa tadi cuma bercanda sama Mama saja kok. Jadi Al gak boleh sedih oke," ucap Devano.


"Janji." Al mengacungkan jari kelingkingnya yang langsung di sambut oleh kaitan jari kelingking dari Devano.


"Papa janji nak," ucap Devano.


Al melepaskan ikatan jari kelingking tersebut dan langsung melingkarkan tangannya ke leher Devano.


"Al sayang Papa," tutur Al.


"Papa juga sayang Al," balas Devano.


Ciara kini tersenyum melihat pemandangan di depannya itu.


"Kamu mau ikut berpelukan?" Tanya Devano dan tanpa menolak Ciara merapatkan tubuhnya dan memeluk tubuh Devano juga Al.


"Kamu tau, sebelum kamu minta, nama kamu sudah tercantum di nama belakang Al sejak dia pertama kali lahir di dunia," bisik Ciara tepat ditelinga Devano.


Devano tampak tak percaya. Bisa-bisanya Ciara masih mengingat dirinya dan dengan lapang dada menyematkan nama Devano di belakang nama Al. Sungguh Devano tak habis pikir dengan keteguhan hati Ciara.


"Benarkah?" Tanya Devano memastikan.


Ciara menganggukkan kepalanya tanpa melepaskan pelukannya.


"Nama panjang Al itu, Alsheyrez Devra R. Devra singkatan dari nama panggilan kita berdua dan R singkatan dari nama Rodriguez yang juga merupakan nama belakangmu," jelas Ciara.


Devano tersenyum penuh haru.


"Thanks Ci. Dan sekali lagi maaf untuk semuanya," tutur Devano dengan tetesan air mata kebahagian dan juga kesedihan karena masa lalunya dulu.