Young Mother

Young Mother
Rumah Baru


Kini mereka berempat telah sampai di Indonesia tepat pada pukul 8 malam. Dan dengan rencana yang mereka susun sebelum memutuskan untuk ke Indonesia, mereka telah berdiskusi jika tempat tinggal keempat orang tersebut akan menjadi satu di rumah Olive yang belum lama ini ia beli. Awalnya Ciara tak ingin merepotkan Olive dirumahnya namun Olive terus memaksa dirinya untuk satu atap dengannya.


"Mau makan dulu atau langsung pulang?" tanya Olive saat mereka semua sudah berada di dalam mobil taksi yang tengah mengantarkan mereka ke arah tujuan.


"Langsung pulang aja. Al dan Dea udah tepar soalnya. Kasihan kalau di bangunin," jawab Ciara dan langsung diangguki Olive.


Butuh waktu 1 jam mereka baru sampai di rumah Olive. Dengan segera Ciara langsung membangunkan Dea sebelum ia keluar dari mobil taksi tersebut sembari menggendong tubuh Al yang masih terlelap.


Kini mereka berempat menapakkan kaki mereka masuk kedalam rumah tersebut dengan mengucap salam.


Saat semua orang telah masuk kedalam rumah, Olive segera menutup pintu utama rumah tersebut dan menguncinya kembali.


"Kamar kita berempat ada dilantai dua," tutur Olive memberitahu.


"Al punya kamar sendiri?" tanya Ciara sembari menatap wajah Olive yang nampak lelah itu.


Olive pun mengangguk.


"Iya lah. Dan aku udah cariin sekolahan buat Al. Sekolah yang terbaik pokoknya," ujar Olive.


"Hah?" kaget Ciara.


"Ck biasa aja kali, Ci."


"Kapan kamu cari sekolah buat Al coba? padahal kamu selalu di Malaysia sama kita" tanya Ciara penasaran.


"Kepo ya. Mau tau aja atau mau tau banget," goda Olive yang langsung mendapat geplakan tangan dari Ciara.


"Ck gak jadi. Sekarang tunjukkin kamar kita!" perintah Ciara.


Olive tak menimpali ucapan Ciara tapi kakinya, ia langkahkan menaiki anak tangga menuju lantai dua rumah tersebut. Disusul Ciara dan juga Dea yang berjalan dengan sangat lemas, sepertinya nyawa Dea belum terkumpul sepenuhnya.


Langkah mereka kini terhenti saat Olive lebih dulu berhenti di depan pintu salah satu kamar di lantai dua.


"Ini kamar Al," ucap Olive sembari membuka pintu tersebut.


Mereka bertiga pun masuk kedalam kamar Al.


"Disini gak ada lampu kah?" tanya Ciara yang memang takut dengan kegelapan bahkan ia saat ini memeluk tubuh Al dengan sangat erat dan untungnya Al tengah tertidur, kalau sang empu dalam keadaan sadar pasti akan memarahi Olive yang dengan berani-beraninya membuat sang Mama ketakutan.


"Ada, tapi aku lagi cari saklar lampunya," jawab Olive sembari menelusuri tembok kamar tersebut.


"Masih belum ketemu kah?" tanya Ciara yang semakin panik karena tiba-tiba dirinya susah untuk mengambil oksigen di sekitarnya.


Tapi pada akhirnya Olive berhasil menemukan saklar lampu tersebut dan segera menyalakan lampu sebelum Ciara pingsan di tempat.


Dan kini dada Ciara yang tadi tampak sesak pun bisa bernafas lega saat kegelapan terganti dengan cahaya.


Namun beberapa setelah kelegaan itu, mata Ciara dibuat melotot melihat desain kamar Al.



"Ya ampun Olive."


"Kenapa? keren kan?" tanyanya dengan alis yang ia naik turunkan.


"Keren sih keren tapi sepertinya ini lebih cocok buat Al kalau dia udah besar deh Liv," ujar Ciara sembari memperhatikan setiap kamar tersebut.


"Ini kamar terlalu besar buat dia dan ini juga desainnya buat laki-laki dewasa bukan anak-anak. Mana warnanya dominan hitam lagi, aduh," tutur Ciara.


"Ya, emang kenapa kalau warna kamar ini dominan hitam? Keren tau Ci. Al juga suka warna hitam," ucap Olive.


"Iya-iya aku tuh juga tau kalau keren tapi ya ahhh sudahlah. Udah terlanjur juga. Tapi Al kemungkinan masih tidur sama aku," ujar Ciara.


"Baiklah yang penting kamu gak protes dan nolak semua ini." Ciara menganggukkan kepalanya


"Terimakasih ya Liv," ujar Ciara sembari tersenyum manis.


"Ah elah pakai terimakasih segala kayak sama siapa aja."


"Tapi kan kata terimakasih tuh mahal lho, Liv dan gak semua orang bisa bilang kata-kata itu," ucap Ciara.


"Huh iya-iya deh. Sama-sama. Ya udah kalau Al masih tidur sama kamu, kita langsung ke kamar kamu aja," ajak Olive dan diangguki oleh Ciara.


Saat mereka sudah keluar dari kamar Al, mereka tersadar kalau Dea tadi tak mereka berdua lihat.


"Dea mana?" tanya Ciara dan Olive berbarengan.


"Tadi dia ikut masuk kedalam kamar Al kan?" tanya Olive memastikan.


"Udah. Orang tadi anaknya berdiri di sampingku kok," ujar Ciara.


"Atau jangan-jangan dia masih didalam lagi," tutur Olive. Ia kini bergegas membuka kunci pintu kamar Al dan ia segera masuk kedalam dan menyalakan lampunya kembali.


Mereka berdua pun langsung mencari keberadaan Dea yang ternyata sudah tertidur di kasur king size di kamar tersebut dengan nyenyaknya bahkan suara ribut dari Ciara dan juga Olive tak mempengaruhi tidurnya.


"Astaga nih anak dicariin taunya malah udah molor aja," geram Olive.


"Mau bangunin dia apa biarin aja untuk malam ini dia tidur disini?" tanya Ciara.


"Biarin disini aja lah kasihan juga dia. Kita langsung ke kamarmu aja. Kasihan Al yang tidur dengan posisi kayak gini," tutur Olive sembari mengelus punggung Al yang masih di dalam gendongan Ciara.


"Ya udah ayo. Tanganku juga udah pegal nih."


Kini mereka pun kembali keluar dari kamar Al, meninggalkan Dea didalam kamar tersebut dengan mimpi indahnya.


"Nah ini kamar kamu. Disebelah itu kamar ku dan di sebelah kamar Al tadi kamarnya Dea," tutur Olive menjelaskan tata letak ruang kamar tersebut yang sudah ia bagi.


Ciara pun mengangguk mengerti. Setelah itu Olive membuka kunci pintu kamar Ciara lalu ia langsung membuka pintu tersebut lebar dan mempersilahkan Ciara dan juga Al masuk kedalam kamar tersebut.


"Ini kunci kamar kamu." Olive memberikan kunci kamar tersebut kearah Ciara dan dengan sedikit kesusahan Ciara mengambilnya.


"Thanks ya Liv. Kalau gitu aku nidurin Al dulu."


"Buruan sana gih. Aku juga mau bobok cantik nih dan buat barang-barang kita, biarin aja di lantai bawah. Besok pagi aja baru diberesin."


"Iya. Aku tadi juga berencana kayak gitu. Aku juga udah capek banget rasanya," ucap Ciara jujur.


"Ya udah kalau gitu aku ke kamar dulu. Good night kesayangan Aunty," bisik Olive tepat di telinga Al, setelah itu ia mengecup pipi Al yang tersampir di pundak Ciara.


"Good night juga Aunty," jawab Ciara mewakilkan Al.


Olive pun kini sudah pergi menuju kamar pribadinya. Dan saat ini Ciara sudah meletakan tubuh Al di atas kasur king size kamar tersebut. Saat ia sudah memastikan jika Al tak terganggu dengan perpindahan tempat yang ia gunakan untuk tidur tadi, Ciara langsung melancarkan aksinya untuk mencopot sepatu Al. Setelah itu ia baru akan ikut tidur disamping Al. Memeluk tubuh anaknya yang semakin hari semakin tinggi itu dengan gemas namun juga sayang.