Young Mother

Young Mother
Cafe


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Ciara dan juga Olive selesai melakukan meeting dengan klien. Bertepatan itu pula waktu istirahat kantor dimulai dan juga jam sekolah Al yang telah usai.


"Liv, aku jemput Al dulu ya," pamit Ciara saat sudah masuk kedalam ruangan Olive dan dirinya.


"Aku antar ya," tawar Olive.


"Gak usah, Liv. Sekolah Al juga dekat kok dari sini," tolak Ciara.


Olive menghela nafas. "Ya sudah kalau gitu, hati-hati dan aku tunggu di cafe biasanya," ucap Olive.


Ciara mengangguk dan ia bergegas pergi dari kantor tersebut menuju sekolah Al menggunakan taksi yang tadi sempat ia pesan terlebih dahulu.


Taksi yang sudah berisi Ciara dan juga sopir taksi tersebut bergerak menuju sekolah Al.


Tak berselang lama, taksi tersebut telah sampai di depan gerbang sekolah Al. Ciara segera turun namun sebelumnya ia sudah menyuruh sopir taksi untuk menunggu dirinya sementara dan disetujui sopir tersebut.


Ciara menghela nafas lega, ternyata anak-anak baru saja keluar dari kelas mereka.


"Boy!" teriak Ciara sembari melambaikan tangannya supaya Al mengetahui keberadaan dirinya.


Al yang merasa kenal dengan suara tadi, ia langsung menengok kearah sumber suara dan ia pun mendapati Ciara yang tengah berdiri tak jauh darinya dengan senyum yang mengembang.


Al pun segera berlari kecil kearah sang Mama dan setelah sampai ia menubruk tubuh Ciara yang sudah berjongkok untuk menyambutnya.


"Mama, Al kangen," ucap Al dengan mengalungkan tangannya di leher Ciara.


Ciara mengelus rambut Al dengan lembut. Setelah itu ia melepaskan pelukannya dari tubuh Al. Dan ia segera menghujani wajah Al dengan ciuman yang membuat sang empu tertawa geli.


"Baru juga tadi pagi pisah sama Mama. Al udah kangen aja. Tapi Mama juga kangen sama Al," ucap Ciara disela ciumannya.


"Hihihi stop Mama, geli," tutur Al dengan berusaha menghindari ciuman Ciara.


Ciara tersenyum lalu ia menghentikan aksinya tadi.


"Owh iya. Gimana sekolahnya, Al?" tanya Ciara.


"Seru Ma. Al punya banyak teman. Mereka semua baik banget sama Al," ucap Al dengan antusias.


"Wah benarkah?" Ciara kini tambah mengembangkan senyumnya. Ia bersyukur karena Al mau bersosialisasi dan sedikit terbuka dengan orang lain. Dan ia berharap hari ini adalah hari dimana Al bisa menjadi anak yang selalu ceria dan menebarkan senyum ramah kesemua orang sama seperti anak-anak lain pada umumnya.


"Iya Mama. Tapi ada satu orang yang buat Al kesal," ucap Al.


"Siapa orangnya yang berani buat anak Mama yang paling tampan ini kesal?" tanya Ciara bercanda.


"Dia perempuan Mama. Sering ngikutin Al kemana aja bahkan ke kamar mandi pun dia juga mau ikut kalau tadi Bu guru tidak mencegahnya. Kan Al jadi kesal sama perempuan itu," ujar Al dengan bibir yang mengerucut.


Sedangkan Ciara ia tertawa kecil.


"Wah sepertinya Al sudah ada yang menyukai nih," goda Ciara.


"Ish Mama!" rengek Al.


"Gak papa lho sayang, siapa tau kan dia cuma mau berteman sama Al sama kayak yang lainnya. Al harus bersikap baik dan jangan kasar sama orang lain ya, terutama sama perempuan. Al harus ingat kata-kata Mama ini, Al kan anak laki-laki jadi Al harus menghormati perempuan. Kalau Al gak bisa menghormati perempuan yang tak memiliki kesalahan fatal dengan Al, sama saja Al juga tak menghormati Mama secara langsung. Jadi berbaiklah sama temanmu itu. Mengerti Al?" ucap Ciara memberikan pemahaman kepada Al.


"Mengerti Mama," jawab Al.


Ciara kemudian bangkit dari jongkoknya dan meraih tangan Al untuk ia genggam.


"Kita pulang sekarang yuk. Aunty Olive udah nungguin kita di cafe untuk makan siang, Al pasti udah lapar kan?"


Al pun menganggukkan kepalanya sembari mengelus perut buncitnya.


"Let's go Ma. Al udah lapar banget ini," tutur Al yang membuat Ciara gemas.


Ciara mengacak rambut Al sebelum mereka pergi menuju taksi yang Ciara tadi tumpangi.


"Aunty Liv!" teriak Al menggelegar.


Olive yang merasa dirinya dipanggil pun menoleh kearah Al dan juga Ciara.


"Hey boy. Sudah pulang sekolah?" tanya Olive sembari mencium pipi Al.


"Aunty udah lihat Al disini kan?" bukannya menjawab Al justru bertanya balik.


"Tentu dong," jawab Olive.


"Kalau aunty udah lihat Al di hadapannya aunty. Kenapa aunty tadi bertanya lagi? Padahal udah jelas-jelas kalau Al udah pulang sekolah masih aja di tanya. Gimana sih?" ucap Al sewot.


"Ish, aunty tadi hanya basa-basi saja Al. Biar sekali-kali kita romantis gitu," tutur Olive.


"Al gak mau romantis sama aunty. Usia aunty tuh udah jauh diatas Al, jadi jangan harap aunty bisa romantis-romantisan sama Al," tolak Al.


"Astaga. Al, kamu sungguh tega sekali sama aunty," tutur Olive dengan dramatis.


"Ck gak usah lebay aunty," ucap Al yang sudah menduduki kursi di sebelah Ciara yang sedari tadi hanya melihat pertengkaran antara dua manusia beda usia tersebut. Ciara menggelengkan kepalanya, dimana pun, kapan pun dengan situasi apapun sepertinya mereka berdua tak akan pernah akur satu sama lain.


Sedangkan Olive yang sudah ditolak mentah-mentah oleh Al pun mencebikkan bibirnya.


"Udah pesan Liv?" tanya Ciara.


"Tuh lagi di pesanin," jawab Olive sembari menunjuk keberadaan Rafa yang tengah mengantri dengan dagunya.


"Lho sepupu kamu juga ikut kesini?" tanya Ciara.


"Tadi sih awalnya aku gak mau ngajak dia. Eh dianya maksa banget jadi ya udah lah daripada tar dia nangis, aku juga yang repot cariin gulali buat nenangin dia," ucap Olive dengan diakhiri dengan candaan.


Ciara pun menganggukkan kepalanya mengerti.


"Btw. Aku sama Al udah sekalian di pesanin belum? Dan kenapa sepupu kamu harus ngantri dulu, biasanya kita kalau makan tinggal panggil pelayan di cafe ini?" tanya Ciara lagi.


"Tenang. Semuanya aman. Hehehe kalau itu sih biar dia berguna aja ikut kita makan siang disini. Itung-itung meringankan beban para pelayan disini yang terus bolak-balik melayani pembeli," jawab Olive.


Ciara menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja memang akal licik dari Olive itu.


Tak berapa lama, Rafa menghampiri mereka bertiga. Saat telah sampai di kursi tadi, Rafa segera mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Al.


Rafa yang melihat ada anak kecil yang tengah menunduk pun menyenggol lengan Olive.


"Dia siapa?" tanya Rafa dengan lirih namun masih bisa didengar oleh Ciara.


"Dia Al, anakku," jawab Ciara dengan senyum.


Rafa tampak kaget dengan penuturan dari Ciara, pasalnya Olive tak pernah menceritakan kalau Kakak angkatnya itu sudah memiliki seorang anak.


Al yang merasa namanya dipanggil pun mendongakkan kepalanya.


"Ada apa Ma?" tanya Al dengan mengerjabkan matanya lucu.


Rafa yang mendengar suara seorang anak kecil itu pun mengalihkan pandangannya dari Ciara kearah Al.


Deg!!


...*****...


Yuk bisa yuk 300 like per-eps/hari hehehe 🤭 dan author disini mau ngucapin banyak-banyak terimakasih kepada semua reader yang udah setia membaca cerita ini🤗 jangan pernah bosen oke... Tungguin terus kelanjutannya ceritanya😘


See you next eps 🤗 bye bye 👋