
Kini kedua anak-anak itu dan dua bodyguard Al telah sampai di suatu tempat yang tampak asri dan penuh pemandangan yang sangat indah di pandang. Dan tempat itu juga merupakan sebuah kado yang dimaksud oleh Yura tadi.
"Ini baru lokasinya saja. Kalau kado yang sebenarnya, kita harus jalan lewat jalanan kecil ini," ujar Yura sembari menunjuk jalanan sempit di depannya. Dan setelahnya Yura kini menggandeng tangan Al kembali.
"Ayo kita jalan sekarang," ajak Yura sembari menarik tangan Al. Al yang terus mendapat tarikan pun kini kakinya melangkah mengikuti langkah Yura yang berjalan di depannya.
Sedangkan kedua bodyguard Al yang turut ikut pun mereka terus berjaga-jaga dan selalu siap siaga karena di lokasi tersebut sangat jauh dari keramaian dan bisa di bilang tempat itu merupakan hutan belantara yang sangat terawat.
Mereka berempat terus berjalan hingga akhirnya langkah mereka terhenti di pinggir danau tak jauh dari parkiran mobil tadi.
"Ini dia kadonya," ucap Yura penuh dengan antusias sembari menujuk kearah sebuah rumah pohon di samping danau tersebut.
Al kini menatap kearah rumah pohon tadi lalu setelahnya tatapan matanya berpindah ke arah Yura.
"Rumah pohon ini?" tanya Al yang diangguki oleh Yura.
"Rumah pohon ini sekarang milik Al. Emmmm lebih tepatnya milik kita berdua hihihi. Apa Al suka dengan kado ini?" tanya Yura yang membuat Al kini mengerjabkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
"Kalau Al suka. Kita sekarang masuk yuk. Kita lihat pemandangan dari atas," ajak Yura. Dan lagi-lagi ia menarik tangan Al untuk naik ke atas rumah pohon tersebut meninggalkan kedua bodyguard Al yang masih asik menatap pemandangan yang memanjakan mata mereka. Hingga pikiran negatif Toni tiba-tiba menyerang pikirannya dan hal itu membuat Toni yang tadinya tersenyum lebar kini senyuman itu hilang dan digantikan dengan ekspresi ketakutannya. Bahkan tangannya menggenggam lengan Doni dengan sangat erat.
"Kamu kenapa?" tanya Doni yang merasa aneh dengan saudara kembarnya itu.
"Disini aman kan? Tidak ada buaya, anakonda, ular, singa, harimau, macan, cheetah, seriga---hmmmmm." Belum selesai ia berbicara, bibir Toni lebih dulu di bungkam oleh Doni.
"Sudah cukup mengabsen para hewan yang kamu ketahui. Disini bukan kebun binatang," ujar Doni sembari melepaskan bungkaman di bibir Toni.
Toni mencebikkan bibirnya sebelum ia menimpali ucapan dari Doni tadi.
"Tapi disini tuh hutan tau. Dan seperti yang aku baca dan lihat di film, kalau hutan tuh bahaya. Banyak hewan buas berkeliaran. Emang kamu tidak takut saat kita menikmati keindahan pemandangan disini, tiba-tiba saja kita diserang sama salah satu hewan buas yang aku sebutin tadi. Pastinya kamu juga tidak mau kan mengalami hal itu. Nah untuk kebaikan bersama mending kita sekarang pergi dari sini deh, aku masih mau hidup soalnya," ujar Toni dengan keparnoannya.
Doni yang mendengar ocehan dari Toni pun ia memutar bola matanya malas lalu dengan sekuat tenaga ia melepaskan cengkraman tangan Toni di lengannya.
"Pergi aja sendiri sana. Karena perlu kamu tau, kalau pun kita pergi dari sini sekarang dan ninggalin tuan muda dan nona Yura, nyawa kita tetap akan hilang di tangan orangtua mereka terutama bos Devano. Dan perlu kamu ingat, kalau dua keluarga ini tuh lebih mengerikan di banding dengan hewan buas yang ada disini," tutur Doni sembari beranjak dari tempatnya tersebut menuju ke salah satu ayunan yang terpasang di bawah rumah pohon tersebut.
Toni yang masih ketakutan pun dengan cepat ia mengikuti langkah kembarannya itu.
"Lah ngapain masih disini? Bukannya tadi mau pergi?" tanya Doni sembari duduk di ayunan tadi.
"Gak jadi. Kalau aku pergi sendiri nanti di tengah perjalanan di hadang sama hewan-hewan itu kan sama saja," ujar Toni yang membuat Doni menggelengkan kepalanya. Setidaknya ia masih lebih waras daripada kembaran itu, pikir Doni.
Dan saat dua bodyguard tadi masih was-was dengan pikiran negatif yang berbeda di otak mereka masing-masing, berbeda dengan Al dan Yura yang sekarang sudah berada di dalam rumah pohon tersebut.
"Rumah pohon ini masih kosong belum banyak isinya. Foto kita berdua saja belum ada," ucap Yura sembari menatap ke sekeliling ruangan tersebut.
"Tadaaaa, ini dia," ucap Yura sembari memperlihatkan kamera polaroidnya.
Lalu tanpa aba-aba sama sekali, Yura mengarahkan kamera tersebut ke Al, kemudian ia memotret Al dengan kamera tersebut.
Al yang tadinya tak menyadari jika dirinya tengah di foto diam-diam pun dengan cepat ia mendekati Yura lalu mengambil hasil foto tadi.
"Ih Al kok diambil sih," ujar Yura sembari berusaha untuk mengambil foto tersebut dari tangan Al.
"Fotonya jelek. Gak bagus. Jadi kamu gak usah lihat," ujar Al dengan memasukkan foto tadi ke saku celananya. Dan hal itu membuat Yura mengerucutkan bibirnya.
Al yang melihat kerucutan itu pun ia menghela nafas panjang lalu setelahnya ia mengambil kamar tadi dari tangan Yura.
"Deketan sini dikit," ucap Al sembari menarik baju Yura agar anak perempuan tersebut segera mendekati dirinya. Lalu setelah Yura berdiri disampingnya, Al langsung mengalungkan tangannya di leher Yura dan kemudian tangan yang membawa kamera tadi kini mulai memotret mereka berdua.
Yura yang awalnya terkejut dengan aksi Al tadi pun kini ia tersenyum saat melihat hasil foto pertama mereka.
"Wah, ini bagus sekali. Ambil yang banyak Al. Nanti kita tempel di sini. Kalau bisa ruangan ini penuh dengan foto-foto kita berdua," ujar Yura. Kemudian ia kini berjalan sedikit menjauh dari Al lalu setelah ia mendapatkan tempat yang pas, ia mulai berpose.
Al yang tau sebelum di perintah oleh Yura pun kini ia mulai memotret setiap pose Yura.
"Ganti tempat," arah Al seakan-akan dirinya sudah menjadi seorang fotografer terkenal yang sedang memotret modelnya.
Yura yang mendapat arahan dari Al pun segera berpindah tempat.
Dan untuk beberapa saat, Yura terus bergonta-ganti tempat dan gaya, alhasil dirinya lelah sendiri dan kini ia mendekati Al. Al yang tengah asik melihat foto hasil jepretannya itu pun di buat terkejut saat Yura tiba-tiba mengambil kamera tersebut dari tangannya.
"Aku kan udah tadi. Sekarang giliran Al," tutur Yura.
"Tidak," tolak Al.
"Ish aku tidak mau mendengar penolakan, Al. Buruan berdiri disana. Aku yang akan ambil fotonya," ucap Yura tapi tak membuat Al beranjak dari tempatnya sedikitpun.
"Ck, buruan Al," ujar Yura sembari mendorong tubuh Al. Hingga Al kini berdiri di tempat yang Yura arahkan.
"Tetap disini jangan kemana-mana sebelum sesi foto selesai," ucap Yura dengan melangkahkan kakinya menjauh dari Al.
"Tapi aku tidak bisa foto, Yura," tutur Al yang masih berusaha untuk menghindari sesi foto itu.
"Kan Al belum mencoba. Dan sebelum mencoba itu jangan katakan tidak bisa. Kalau Al benar-benar tidak bisa, nanti biar Yura yang arahkan Al harus berpose seperti apa aja. Yang Yura butuhkan hanya Al diam dan mengikuti arahan Yura tanpa protes," ujar Yura yang membuat Al menghela nafas pasrah. Dan dari pada anak perempuan itu nanti menangis gara-gara keinginannya tak di penuhi oleh Al, alhasil dengan terpaksa Al menurutinya saja walaupun dengan hati yang tak ikhlas.