
Ucapan dari Rafa pun langsung mendapat respon kerutan dahi ketiga sahabatnya.
"Devano?" tanya Kevin memastikan.
Rafa pun mengangguk.
"Emang apa yang mau lo tanyakan ke kita tentang Devano?" tanya Vino kepo. Ia pun kini merapatkan duduknya kearah Rafa.
"Jadi gini, gue tadi kan ketemu sama sepupu gue yang udah lama tinggal di Malaysia," ucap Rafa.
"Terus apa hubungannya sama Devano?" Tanya Zidan memotong ucapan dari Rafa.
"Please jangan motong cerita gue. Tar gue lupa mau ngomong apa," geram Rafa.
Zidan pun langsung mengunci mulutnya dan kembali memasang telinga untuk mendengar kelanjutan cerita dari Rafa.
"Lanjut!" perintah Vino yang sudah tak sabaran.
"Nah sepupu gue tuh punya Adik angkat yang namanya, siapa ya tadi aduh pakai lupa lagi," tutur Rafa sembari memukul kepalanya pelan.
"Haish gimana sih," ucap Vino.
"Ini semua tuh gara-gara anak simpanse. Pakai motong omongan gue tadi," tutur Rafa tak mau disalahkan.
Kevin menghela nafas setelah itu ia mulai angkat bicara supaya tak terjadi pertengkaran diantara sahabat itu.
"Lanjut aja. Tar kalau udah ingat namanya baru kasih tau ke kita!" Rafa yang tadi tengah beradu tatapan dengan Zidan pun kembali menghadap ke arah Kevin.
"Nah jadi Adik angkat dari sepupu gue itu punya anak yang namanya Al. Dan wajah Al itu mirip banget sama Devano bahkan bak pinang dibelah dua. Gue aja pertama kali lihat itu bocil sampai gak bisa berkata apa-apa saking gue kagetnya," ucap Rafa menyambung ceritanya tadi.
Mereka bertiga yang sedari tadi memperhatikan cerita dari Rafa pun hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Al?" beo Kevin.
"Iya, nama anak itu Al dan kalau kalian tau bahkan cara dia menatap lawan bicaranya aja sama persis dengan Devano bahkan lebih mematikan."
"Ck, elah lo alay banget," cibir Vino sembari menoyor kepala Rafa.
"Diam elah," geram Rafa.
Sedangkan Kevin, ia termenung memikirkan apa yang diceritakan oleh Rafa.
"Apa Devano punya Adik ya? Atau jangan-jangan Al itu anaknya Devano?" tanya Rafa yang mendapat tatapan dari mereka kecuali Kevin yang malah tersedak oleh ludahnya sendiri.
"Uhuk uhuk."
"Minum dulu Kev," tutur Zidan sembari menyodorkan satu gelas air putih ke arah Kevin dan Kevin pun langsung meneguknya hingga tandas.
"Ngaco lo. Mana mungkin Devano punya anak. Sedangkan dia aja kalau main selalu rapi dan aman," ucap Vino tak percaya.
"Bener tuh apa kata Vino. Jangan asal bicara deh," timpal Zidan membela.
"Ck gue kan cuma tanya. Apa salahnya coba?"
Kini tangan Rafa merogoh saku di jasnya untuk mencari keberadaan ponselnya dan setelah ia mendapatkan ponsel tersebut, Rafa segera membuka galeri foto.
"Nih foto Al. Mirip kan sama Devano?" Rafa menyodorkan satu foto Al yang tadi sempat ia potret diam-diam.
Kevin langsung menarik ponsel milik Rafa dan dua orang lainnya kini merapatkan dirinya kearah Kevin untuk melihat secara bersama foto Al.
Dan saat mereka telah melihat dengan keseluruhan wajah Al, mereka bertiga dengan kompak memelototkan matanya.
"Gila, bangsat, ini mah Devano waktu kecil," umpat Zidan dengan heboh.
"Bener banget. Ini mah foto Devano bukan foto anak kecil yang lo bilang tadi," ucap Vino yang masih tak percaya.
"Heh buta mata lo. Lihat tuh tanggal di foto itu. Ya kali Devano berubah jadi kecil lagi," tutur Rafa.
"Kayaknya kita tanya langsung aja deh sama si Devano. Biar nanti gak jadi salah paham dan jatuhnya kita malah fitnah dia," kini Kevin yang berucap memberi usulan ke tiga sahabatnya itu.
"Sekarang aja gimana kita tanyanya? biar gak mati penasaran gue nanti," usul Vino dengan lebaynya.
Mereka bertiga pun langsung menganggukkan kepalanya, setuju dengan usulan dari Vino.
Dan saat mereka berempat baru beranjak keluar dari ruangan Rafa, bunyi ponsel Rafa pun berbunyi nyaring.
Ia pun segera merogoh saku celananya dan melihat siapa yang menelepon dirinya.
"Gue angkat telepon dulu, sebentar," ucap Rafa sembari menggeser tombol ikon hijau di layar ponselnya.
📞 : "Gue mau tanya sama lo," ucap Olive to the point.
"Tanya apaan? Bisa nanti aja gak, gue lagi kumpul sama temen-temen ini."
📞 : "Gak bisa. Ini penting!" tutur Olive.
"Ya udah buruan, gak pakai lama! gue juga mau pergi soalnya."
Terdengar helaan nafas Olive dari seberang telepon sebelum ia kembali berucap.
📞 : "Lo tau sesuatu tentang Al?" tanya Olive.
"Hah? maksud lo?"
📞 : "Gak usah pura-pura jadi bloon. Buruan jawab sekarang!" desak Olive.
"Huh. Oke oke, gue jawab," ucap Rafa namun ia menjeda ucapannya untuk sesaat dan membuat Olive di tempat lain menjadi geram.
📞 : "Cepetan hoy!" teriak Olive.
"Astagfirullah, gendang telinga gue bisa pecah lama-lama telponan sama lo," geram Rafa.
📞 : "Siapa suruh lama."
"Ck, gak sabaran banget sih jadi orang." tutur Rafa.
"Jadi gue tadi sempat kaget saat lihat Al yang sama persis bahkan duplikat dari Devano, teman gue," sambungnya.
Olive yang mendapat jawaban pun menganggukkan kepalanya, mengerti. Walaupun anggukan tadi tak bisa dilihat oleh Rafa.
📞 : " Sekarang lo dimana?"
"Gue masih dikantor, tapi ini mau otw ke kantor Devano," jawab Rafa.
📞 : "Gue ikut. Kasih alamat kantor teman lo itu sekarang!"
"Lah lo mau ngapain?" tanya Rafa penasaran.
📞 : "Gue cuma mau lihat muka teman lo itu, benar gak sama dengan muka Al sekalian silaturahmi."
Rafa pun membeo.
📞 : "Kasih alamat kantor dia sekarang! Gue juga mau berangkat ini."
"Oke gue kirim alamatnya ke WA aja," tutur Rafa.
📞 : "Oke gue tunggu," ucap Olive setelah itu tanpa berkata lagi, Olive langsung mematikan sambungan teleponnya dan tak berselang lama Rafa sudah mengirimkan alamat kantor Devano.
Sedangkan Rafa, ia segera menghampiri ketiga sahabatnya tadi.
"Maaf lama. Kita perginya bareng aja pakai mobil gue," tutur Rafa.
Setelah itu mereka berempat langsung pergi menuju kantor Devano.
...*****...
Kini Olive sudah berada di depan gedung pencakar langit yang sangat besar. Bahkan ia sempat terbengong apakah alamat yang dikirimkan oleh Rafa tadi salah.
"Oh Tuhan. Rodriguez Corp," gumam Olive.
"Apakah teman Rafa kerja disini atau Rafa tadi salah ngirim alamat?" tanyanya pada diri sendiri.
"Ah udahlah mending telfon anaknya aja." Kini Olive dengan segera mengotak-atik ponselnya untuk mencari nomor Rafa. Dan ia pun segera meneleponnya.
📞 : "Hal---" belum sempat Rafa menyelesaikan sapaannya, sudah langsung di potong dengan suara cempreng milik Olive.
"Lo dimana sekarang? Ini alamat yang lo kirim tadi salahkan? Please lah Raf, gue lagi gak mau bercanda sama lo. Mana bercandaannya pakai alamat Rodriguez Corp lagi," geram Olive.
📞 : "Bercanda apaan sih? Gue gak salah dan gak lagi bercanda. Lo tunggu disitu. Bentar lagi gue sampai. Jangan bacot mulu," ucap Rafa. Setelah itu ia memutuskan sambungan telepon diantara keduanya.
...*****...
Yok bisa yok 300 like 🤗
Happy reading sayang-sayangku 🤗 See you next eps bye 👋