Young Mother

Young Mother
Untuk yang Pertama


Sebelum mengetuk pintu rumah tersebut, Devano kini tengah menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menetralkan kegugupan dirinya.


Saat dirinya merasa sedikit tenang, tangan Devano, ia gerakkan untuk mengetuk pintu di depannya.


Tok Tok Tok


Setelah bunyi ketukan pintu tersebut, tak berselang lama pintu itu pun akhirnya terbuka yang langsung menampilkan seorang wanita di balik pintu tersebut yang ternyata bukanlah Ciara maupun Olive melainkan Dea yang tengah menatap Devano dari atas sampai bawah. Bahkan ia sempat terpesona dengan ketampanan seorang Devano.


"Ya ampun dewa Yunani dari mana ini. Tampan sekali ya tuhan," batin Dea menjerit sembari menampilkan senyum manisnya. Namun sesaat setelah itu, senyumnya hilang kala ia lebih detail lagi melihat wajah Devano.


"Tapi bentar, seperti tidak asing melihat wajah tampan ini. Familiar banget kayak mirip seseorang tapi siapa ya? Haisss," batinnya lagi. Saat dia tengah berfikir, terdengar deheman Devano yang membuat dirinya kembali tersadar.


"Khemm," dehem Devano dengan sorot mata yang tajam dan ekspresi wajah yang datar bak kanebo kering.


"Ah maaf, cari siapa ya?" tanyanya sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena salah tingkah dengan tatapan yang diberikan oleh Devano tadi padahal tatapan itu bagi orang lain sangat menakutkan.


"Cia-nya ada?" tanya Devano.


"Hah?" kaget Dea dengan sedikit meninggikan suaranya. Pasalnya baru pertama kali sejak mereka tinggal dirumah itu ada seseorang yang mencari Ciara biasanya orang yang bertamu hanya akan mencari Olive saja. Itu pun juga akan membahas masalah perkantoran.


Tapi saat ini ada seorang pria tampan yang mencari keberadaan Mama Al, ada hubungan apa mereka berdua? pikir Dea.


"Cia. Ciara Devania," ulang Devano menyebutkan nama lengkap Ciara diakhiri ucapnya dengan penekanan setiap katanya.


"Eh, ah Kak Cia. Ada, dia ada, silahkan masuk dulu," tutur Dea tergagap. Ia pun kini membuka pintu tersebut cukup lebar dan ia sedikit menggeser posisi berdiri agar Devano tak merasa terhalang oleh tubuhnya.


"Thanks," ucap Devano dingin setelah itu ia memasuki rumah tersebut.


"Tampan sih tampan tapi sayang dingin, cuek gak bisa senyum, kayak kanebo kering," gerutu Dea sembari menutup kembali pintu tersebut.


"Duduk dulu Kak. Aku panggilkan Kak Cia sebentar," ucap Dea.


Devano pun mengangguk. Kini Dea dengan segera menghampiri Ciara yang tengah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi mereka.


"Kak!" panggil Dea dari arah belakang tubuh Ciara.


"Hmmm, ada apa?" tanya Ciara yang hanya melirik sekilas kearah Dea setelah itu ia kembali menatap masakannya.


"Ada orang yang cari Kakak tuh," jawab Dea.


"Siapa?" tanya Ciara yang masih saja sibuk dengan aktivitasnya.


"Aku juga gak tau dan belum kenalan. Tapi ya Kak, mukanya tuh uhhhh masyaallah bikin hati aku meleleh dalam sekejap," ucap Dea heboh.


Ciara terkekeh geli.


"Lebay kamu," ucap Ciara sembari mematikan kompornya sebelum memutar tubuhnya menghadap Dea.


"Ck biarin lah Kak. Udah ah sana temuin dia dulu. Urusan ini biar aku yang selesaiin, kasihan dia udah nunggu dari tadi," tutur Dea.


"Emang siapa sih, De?" tanya Ciara yang penasaran namun enggan untuk beranjak dari dapur tersebut.


"Kan aku udah bilang tadi kalau aku gak kenal dan belum kenalan, Kak. Tapi ya Kak, baru pertama kali aku tadi ketemu sama dia, aku ngerasa kayak gak asing sama mukanya, familiar banget gitu," ucap Dea.


"Maksud kamu?" Ciara berfikir sejenak, siapakah gerangan yang ingin menemui dirinya? Seingatnya selama ini ia tak pernah berinteraksi dengan laki-laki manapun kecuali Dafit seorang. Ya kali Dafit, gak mungkin sekali Dea tidak mengenali wajah laki-laki itu bahkan tadi malam saja mereka masih berkomunikasi melalui video call karena permintaan Al yang merindukan sosok unclenya itu. Dan Dafit juga bilang bahwa dirinya tengah menyelesaikan pekerjaannya di Jepang yang kemungkinan akan beberapa bulan disana.


"Hoy Kak. Malah bengong," ucap Dea sembari menggoyang-goyangkan tubuh Ciara.


"Kamu tadi bilang gimana?" tanya Ciara meminta Dea untuk mengulangi ucapannya tadi.


"Itu lho Kak. Dia tuh mukanya mirip banget sama seseorang tapi aku tuh lupa siapa orangnya hehehe," ulang Dea dengan cengiran kuda tanpa dosanya.


Pletak


"Aw," ringis Dea kala sentilan tangan Ciara mendarat di keningnya.


"Sakit elah Kak, main nyentil jidat orang aja," sambungnya.


"Tau ah, Kakak tadi udah dengerin benar-benar eh taunya di ending malah begitu. Dah lah Kakak mau nemuin tamunya dulu. Kamu pindah-pindahin tuh lauk ke piring atau apa lah terserah kamu habis itu taruh di atas meja makan," perintah Ciara. Setelah itu ia segera berlalu dari dapur menuju ruang tamu.


Sepanjang langkah kakinya menuju ke ruang tamu, jantungnya seakan berdetak lebih cepat. Ada apa ini? batinnya. Ia menghela nafas berulangkali bahkan sempat meramalkan beberapa doa agar rasa gusarnya menghilang.


Saat sudah di ruang tamu, perlahan Ciara mendekati Devano yang tengah terduduk membelakangi dirinya. Sehingga ia tak bisa melihat wajah tampan Devano.


Saat sudah berada di belakang tubuh kekar nan tegap itu, Ciara membuka suaranya.


"Maaf, anda siapa ya?" tanya Ciara dengan lembut dan sopan.


Sedangkan Devano, ia merasa gugup yang sangat luar biasa, kala ia mendengar suara Ciara kembali setelah 5 tahun silam saat mereka terakhir berbicara berdua mengenai kandungan Ciara waktu itu. Ia sekarang sangat merindukan wanitanya tapi untuk membalas ucapan dari Ciara pun ia tak sanggup, seakan-akan tenggorokan kini tengah terbelit sesuatu yang membuat pita suaranya hilang.


"Maaf, ada siapa? apa anda kenal dengan saya? oh iya ada perlu apa ya sampai cari saya kesini?" ulang Ciara masih dengan suara lembutnya.


Perlahan Devano membalikan badannya, menghadap kearah Ciara.


Dengan seketika raut wajah Ciara berubah menjadi pias, tubuhnya sekarang seakan membeku ditempat. Namun sesaat kemudian ia mencoba menetralkan keterkejutannya tadi. Raut wajah yang tadinya pucat pasi kini berganti dengan wajah merah, terlihat lebih datar dan tak bersahabat. Tatapan yang tadinya hangat kini berganti dengan tatapan dingin penuh kebencian.


Sedangkan Devano menatap nanar kearah Ciara. Wajah ini, wajah yang sangat ia rindukan dan kini ia bisa menatap kembali wajah cantik nan menawan itu tanpa terhalang oleh layar ponselnya.


"Ci---Cia," panggil Devano lirih.


"Mau apa anda kesini?" tanya Ciara dengan dingin.


"Aa---aku mau---" belum sempat Devano menyelesaikan ucapannya, suara Ciara kembali terdengar.


"Mau apa hah? mau nyakitin perasaan saya lagi? sudahlah mending anda pergi dari rumah ini sekarang! Dan jangan pernah temui saya lagi!" usir Ciara dengan suara parau. Hatinya begitu sakit mengingat segala hal yang Devano lakukan kepada dirinya.


Devano kini berdiri dari duduknya namun bukan untuk keluar dari rumah tersebut sesuai dengan ucapan Ciara tadi melainkan ia malah mendekati tubuh Ciara.


"Cia, maafin aku. Aku benar-benar nyesel Ci. Aku minta maaf, aku mohon." ucap Devano sembari mencoba untuk meraih tangan Ciara namun dengan cepat Ciara menepis tangan Devano cukup kasar.


"Pergi anda dari sini!" teriak Ciara sembari menunjuk arah pintu bahkan kini tubuhnya tampak bergetar, air mata yang sedari tadi ia tahan pun akhirnya menetes juga.


"Cia aku mohon," tutur Devano dengan suara tercekat, hatinya begitu sakit saat melihat wanita yang ia cintai kini sangat membenci dirinya. Ingin rasanya Devano menghapus air mata di pipi Ciara tapi ia bisa apa sekarang, ia tak ingin Ciara semakin membenci dirinya karena hal itu.


"Ya Tuhan cobaan apa lagi yang harus hamba hadapi? Belum cukupkah penderita yang selama ini aku tanggung? kenapa engkau biarkan laki-laki ini kembali lagi jika dia hanya akan menyakitiku dan anakku nantinya? gak, gak akan aku biarkan itu semua terjadi. Apapun akan aku lakukan untuk melindungi Al," batin Ciara.


...*****...


Semangat 400 like yuk ah gas🤭


Stay safe, stay healthy and stay with me 🤗😂 See you next eps bye 👋