
Kevin yang mendengar cerita dari Devano, dari awal ia sudah mengepalkan tangannya dan setelah cerita itu selesai, ia segera bangkit dari duduknya dan tanpa hitungan detik, kepalan tangan tersebut mendarat dengan indah di wajah Devano.
Bugh!! Bugh!! Bugh!!
"Anjing, keparat! kenapa lo sebajingan itu, brengsek!" ucap Kevin penuh emosi bahkan pukulannya terus ia layangkan ke wajah tampan Devano. Ia benar-benar sudah tak peduli lagi jika Devano mati ditangannya detik itu juga.
"Astaga, woy, Kev. Lo apa-apaan sih?" teriak Rafa. Ia baru saja membuka pintu ruangan Devano itu dan bertapa terkejut dirinya saat melihat Kevin tengah kalap memukuli wajah Devano tanpa ampun.
Ia segera berlari bersama dengan Zidan dan Vino yang turut menghampiri Kevin dan juga Devano yang sekarang terkulai lemah di lantai.
"Lo gila ya Kev," tutur Rafa setelah menarik tubuh Kevin agar menjauh dari Devano.
Kevin masih menatap nyalang ke arah Devano yang sekarang tengah dibantu bangkit oleh Zidan dan juga Vino tak lupa dada yang masih naik turun bertanda bahwa emosinya masih berkobar.
"Sebenarnya kalian ada apa, kok sampai kayak tadi?" tanya Zidan saat dirinya sudah memindahkan tubuh Devano di sofa.
"Lo tanya sama sahabat brengsek lo itu," tutur Kevin sembari menunjuk wajah Devano.
Mereka bertiga yang baru bergabung pun kini menatap Devano yang terlihat semakin kacau dengan beberapa lebam dan darah seger yang keluar dari sudut bibirnya, belum lagi dengan luka di tangan Devano yang masih mengeluarkan darah. Mengerikan sekali kalau dilihat-lihat.
"Kenapa Dev?" tanya Zidan kembali.
Devano tampak diam dan hal itu membuat Kelvin jengah, lalu ia pun akhirnya yang membuka suaranya.
"Dia hamilin anak orang!" ucap Kevin dengan dingin.
"HAH!!!" kaget ketiga orang itu.
"Ck gak usah bercanda lo, Kev," tutur Rafa yang masih belum percaya.
"Buat apa gue bercanda," geram Kevin.
"Kalau bukan bercanda terus siapa cewek itu? Terus kenapa lo mukulin wajah Devano? Dan Lo juga Dev, kenapa main gak pakai pengaman? Biasanya juga lo kalau main bersih tanpa jejak," tutur Vino.
"Huft, kalau udah kayak gini mau gimana lagi. Lo harus tanggungjawab sama perbuatan lo itu. Gak mungkin juga lo bunuh anak lo sendiri. Sebajingan-bajingannya kita, gak akan pernah neglakuin hal rendahan kayak gitu," kini Zidan kembali berbicara.
Kevin menghela nafas saat teman-teman itu belum tau kejadian sebenarnya yang sudah beberapa tahun yang lalu terjadi bukan baru-baru ini.
"Lo semua masih ingat nama Ciara?" tanya Kevin.
"Ciara? Adik angkat sepupu gue kan?"
Kevin pun mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari Rafa.
"Lo berdua juga ingat kan, Ciara yang dimaksud siapa? Dia adalah teman Rahel, cewek yang beberapa tahun lalu satu kampus dengan kita dan cewek yang buat gempar karena menghilang secara tiba-tiba tanpa jejak," tutur Kevin.
"Hah? Ciara Devania Eveline?"
Lagi-lagi Kevin mengangguk.
"Kejadiannya udah 5 tahun yang lalu dan mungkin menghilangnya dia saat itu juga berkaitan dengan kejadian ini. Kalian juga masih ingat Al? anak kecil yang sangat mirip dengan Devano. Dia memang anak Devano dan lebih keparat lagi dulu si brengsek itu tak mengakui Al, bahkan dia meminta Ciara buat gugurin kandungannya saat itu," jelas Kevin.
"Brengsek, keparat!" geram Vino dengan mengepalkan tangannya namun ia masih bisa mengandalkan dirinya untuk tidak memukul Devano.
"Bajingan! Tolol, goblok. Brengsek!!" umpat Zidan dan Bugh, satu pukulan mendarat kembali di wajah Devano.
Sedangkan sang empu hanya bisa terdiam, menutup mata dan menahan rasa nyeri di wajahnya.
"Udah-udah, kasihan. Bisa mati benaran dia nanti," ucap Rafa menengahi.
Semua orang yang berada di ruangan itu kini terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka tak ada niatan untuk membantu Devano mengobati lukanya atau membawa Devano kerumah sakit. Biarkan saja Devano sepeti itu, merasakan nyeri di sekujur tubuhnya.
Devano menggelengkan kepalanya, ia juga tak tau apa yang harus ia lakukan kedepannya apalagi Ciara menginginkan dia untuk tak menemuinya lagi.
"Jadi bener Al itu anak lo?" tanya Rafa, masih diantara percaya dan tidak.
"Hmmm," jawab Devano hanya dengan deheman.
"Dan selama ini lo sembunyin masalah sebesar ini sendirian? Gila benar-benar gila. Pantesan waktu sepupu Rafa bahas tentang Ciara muka lo langsung tegang dan tiba-tiba lo juga tanya masalah anak. Ck, gue gak nyangka lo bisa sebangsat itu Dev," tutur Zidan penuh dengan kekecewaan.
Saat Devano ingin menimpali ucapan Zidan, dering teleponnya mengalihkan fokus mereka.
Dengan segera ia merogoh saku jasnya dan setelah mendapatkan ponselnya, ia langsung melihat siapa gerangan yang meneleponnya saat ini, yang ternyata adalah Mommy Nina.
Digesernya simbol telepon berwarna hijau itu, kemudian ia menempelkan ponsel tadi ke telinganya.
"Assalamualaikum, Mom. Ada apa?" tanya Devano.
📞 : "Waalaikumsalam sayang. Nanti kamu pulang lebih awal ya, ada tamu penting masalahnya," perintah Mommy Nina.
"Tamu penting? Siapa?" tanya Devano penasaran.
📞 : "Nanti kamu juga tau sendiri. Pokoknya harus pulang awal. Mommy tunggu dirumah dan gak ada penolakan," tutur Mommy Nina. Setelah itu Mommy Nina langsung mematikan sambungan teleponnya.
Devano menggenggam erat ponselnya. Ia sebenarnya enggan untuk pulang kerumah dengan tampilan yang berantakan seperti ini ditambah lagi wajahnya yang penuh dengan lebam yang akan membuat Mommy Nina bertanya mulai dari A hingga Z saat mengetahui wajah tampannya yang sedang tak baik-baik saja itu.
"Kenapa?" tanya Rafa.
"Gak papa. Gak penting juga," jawab Devano.
Rafa pun menganggukkan kepalanya mengerti.
"Gue pergi dulu. Kalau kalian masih mau disini silahkan," tutur Devano. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan bergegas meninggalkan kantornya menuju ke salah satu apartemen pribadi miliknya untuk mengganti pakaian dan juga mengobati luka di tangan dan wajah tampannya.
...****************...
Sedangkan disisi lain, Ciara dan Kiara telah sampai di rumah yang sudah lama tak dikunjungi oleh Ciara, tanpa ada Dea disana karena sang empu setelah keluar dari rumah sakit tadi, ia akan beristirahat dirumah dan ia juga tak ingin mengganggu Kakak angkatnya itu untuk melepaskan rindu bersama keluarganya.
"Ayo masuk Kak," ucap Kiara setelah pintu utama rumah tersebut terbuka lebar.
"Tunggu sebentar Ki," tutur Ciara yang tiba-tiba merasa gugup.
"Tenang Kak, aku yakin Mama sama Papa akan sangat senang kalau tau anak pertamanya telah kembali," ucap Kiara menenangkan sang Kakak.
Ciara nampak mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya ia mengangguk dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah yang sama sekali tak ada perubahannya itu. Bahkan tata letaknya pun masih sama dengan. yang terakhir ia lihat.
"Ikut aku, Kak!" perintah Kiara dengan menggandeng tangan Ciara hingga mereka telah sampai di belakang rumah tersebut yang dulu menjadi tempat favoritnya jika dirumah.
"Nah itu Mama," tunjuk Kiara pada satu wanita paruh baya yang tengah terduduk di gazebo dengan tangan yang memainkan air dihadapannya namun tatapnya nampak kosong.
Ciara menajamkan penglihatannya ke arah sang Mama yang sudah berubah 180° itu. Wajah yang dulu selalu tersenyum penuh kehangatan kini hilang. Mata cantiknya sekarang terlihat sembab dan terdapat kantung mata yang menandakan jika sang Mama tidur tak teratur. Bahkan tubuhnya dulu yang lumayan terisi kini menjadi kurus, seperti tak terurus. Ciara menundukkan kepalanya tak tega jika ia terus menatap keadaan Mamanya saat ini dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
...****************...
Happy reading semuanya 🤗 jangan lupa tetap dukung author ya dengan cara Like, komen, vote dan juga kasih hadiah, biar author semakin semangat nulisnya 😚 Kalau bisa 500 Like ya ðŸ¤
Jangan lupa juga untuk kasih tau author jika ada kesalahan dalam penulisan 🤗
Stay safe and stay healthy 🤗 SEE YOU NEXT EPS BYE 👋