
"Papa gak boleh tinggalin Al. Papa kemarin janji mau selalu disamping Al. Tapi kenapa sekarang Papa ke surga? Apa Papa sudah tidak sayang lagi sama Al dan Mama? Al mohon kembali ke sini lagi Papa, hiks. Kalau tidak, ajak Al ke surga sama Papa. Al gak mau di ejek sama teman-teman Al lagi kalau Al gak punya Papa. Maafin Al yang selalu nakal. Maafin Al yang tidak pernah mendengarkan ucapan Mama dan Papa. Maafin Al, Papa. Hiks Al minta maaf," ucap Al dengan sesegukan.
Ciara yang melihat Al terpuruk seperti itu pun turut memeluk tubuh Devano yang lebih dulu di peluk oleh Al. Tak hanya Ciara yang terharu saat mendengarkan perkataan Al tadi melainkan seluruh orang yang sekarang tengah berada di ruangan tersebut juga turut meneteskan air matanya.
"Al," panggil Mommy Nina yang sudah tersadar dari pingsannya dan sekarang ia telah berdiri di sisi Devano yang lainnya sembari mengelus rambut Al.
"Al, mau ikut Papa, Mai. Al gak mau ninggalin Papa sendirian disurga. Al mau nemenin Papa disana. Hiks," tutur Al.
"Apa Al sayang Papa?" Al menganggukkan kepalanya.
"Kalau Al sayang sama Papa, Al harus kuat dan gak boleh nangis lagi. Dan kalau Al mau ikut Papa terus siapa yang jagain Mama disini? Papa sudah tenang di surga sayang yang artinya Papa juga sudah percaya kalau Al akan menggantikan posisi Papa buat jagain Mama disini. Apa Al mau Papa sedih di surga saat lihat Al nangis, meraung mau ikut Papa, sedangkan Papa disurga mau lihat Al jagain Mama?" Al menggelengkan kepalanya sembari menatap wajah Ciara yang tengah menangis tanpa suara.
"Kalau Al tidak mau lihat Papa sedih, hapus air mata Al dan Al juga harus hapus air mata Mama Cia. Al harus jadi anak kuat demi Papa," sambung Mommy Nina.
Al tampak menegakkan kepalanya dan langsung menghapus air matanya sesuai dengan arahan Mommy Nina tadi. Ia tak mau membuat Papanya sedih disurga, pikirnya.
"Mama," panggil Al sembari mengelus pipi Ciara.
"Al akan jagain Mama. Mama sekarang gak boleh sedih lagi ya, kasihan Papa nanti juga akan sedih disurga saat lihat Mama nangis terus," ucap Al walaupun sesekali masih ada air mata yang menetes.
Ciara ikut menegakkan kepalanya dan memeluk tubuh Al. Hanya Al sekarang yang ia punya, tak ada yang lain lagi.
"Al sayang Mama," ucap Al sembari mengecup pipi Ciara.
"Mama juga sayang Al sampai kapanpun," balas Ciara sembari melepaskan pelukannya dan mencium seluruh wajah Al. Al sekarang membuat dirinya kembali tegar dan sedikit demi sedikit ia akan mengikhlaskan orang yang selama ini tak bisa ia hilangkan dari hatinya.
Al kini menolehkan kepalanya kearah wajah Devano, menatap wajah itu lekat-lekat seakan-akan ia tengah merekam wajah tersebut untuk selalu ia ingat dan simpan di memorinya.
Dan perlahan Al mendekatkan wajahnya tepat disamping telinga Devano kemudian ia berucap untuk perpisahan terakhirnya kepada sang Papa.
"Al akan selalu sayang Papa. Al janji akan jagain Mama. Al juga janji akan jadi anak yang baik dan selalu dengerin ucapan Mama. Papa bahagia di surga ya, Al sayang Papa. I Love You, Papa," ucap Al kemudian ia mencium pipi Devano cukup lama bahkan air matanya kembali menetes tapi segera ia usap. Kemudian ia beralih untuk memeluk tubuh Devano dengan dada bidang sang ayah sebagai sandaran kepalanya.
"Al sayang Papa," perkataan itu terus Al ucapakan sembari menutup matanya dengan posisi yang masih sama.
Seluruh orang disana hanyut dalam kesedihan bahkan ada yang sudah keluar dari ruangan tersebut karena tak kuat mendengar setiap ucapan yang keluar dari bibir mungil Al. Sedangkan Mommy Nina, ia sudah memeluk tubuh Daddy Tian, menumpahkan air matanya dibalik dada bidang sang suami agar tak di lihat oleh Al. Dan untuk Ciara, ia juga tengah nangis tersedu di balik pelukan Olive dan Dea.
Al masih setia memeluk tubuh Devano dengan mata yang masih terpejam ditambah gumaman kecil dari mulutnya. Tapi tiba-tiba dirinya terdiam tanpa bergumam lagi dan membuat siapa saja berasumsi bahwa Al tengah tertidur disana.
Dan saat Dea ingin mengambil Al dari atas tubuh Devano, Al langsung membuka matanya dengan berbinar dan tak ada lagi kesedihan yang terpancar dari mata itu, jauh berbeda dari tatapnya yang tadi.
Ciara lagi-lagi kasihan kepada anaknya itu yang harus menelan pil pahit hingga membuat Al mengigau seperti tadi.
"Bukankah Al tadi sudah janji sama Papa kalau Al harus kuat dan janji gak mau Papa di surga sedih?" Ucap Mommy Nina.
"Iya Al ingat janji itu Mai. Tapi Al dengar dada Papa bunyi. Biar Al coba lagi." Al kembali menajamkan pendengarannya dan memang apa yang ia dengarkan tadi tak salah.
"Tuh kan, Al gak bohong Mai. Kalau Mai tidak percaya sama Al, Mai boleh dengerin sendiri," ucap Al.
Mommy Nina yang penasaran dengan ucapan Al tadi kini perlahan menempelkan telinganya ke dada Dev. Dan betapa terkejutnya dia saat yang diucapkan Al tadi memang adanya.
"Dok, dokter. Jantung anak saya kembali berdetak!" Teriak Mommy Nina dengan binar kebahagian tiada tara. Setelah itu ia meraih tubuh Al agar tak menghalangi dokter yang akan memeriksa kondisi Devano nanti.
Dokter yang juga sempat menangis tadi langsung menyeka air matanya kemudian segera berlari menghampiri banker yang di atasnya terdapat Devano dan segara memeriksa kondisi Devano saat ini.
Dan bertapa kagetnya dia saat mendapati keajaiban yang jarang orang lain dapatkan.
"Cepat pasang infus dan oksigen lagi!" Perintah dokter tadi kepada suster dan dengan sigap suster tadi memasang infus ditangan Devano dan juga memasang selang oksigen untuk Devano.
"Syukur Alhamdulillah. Saya tak menduga keajaiban ini terjadi kepada tuan Devano. Bahkan kondisi tuan Devano menunjukkan peningkatan yang drastis," ucap dokter tersebut dengan senyum senangnya.
"Apa dokter sudah memastikannya? Saya tidak mau terlalu senang seperti kemarin dan berujung menyediakan seperti tadi. Saya akan benar-benar percaya saat Devano membuka matanya dan memanggil nama saya," tutur Ciara. Bukannya ia tak senang karena kondisi Devano membaik tapi ia tak ingin jika dirinya nanti terlalu senang malah tuhan akan mengambil kesenangan itu dan diganti kesedihan lagi. Ia tak mau itu terjadi lagi.
Sesaat setelah bibirnya tadi mengucapkan hal tersebut, tampak terdengar samar suara yang memanggil dirinya.
"Ciara," panggilnya.
Semua orang disana menatap kearah Devano yang ternyata sudah membuka matanya sedari tadi hanya saja tak ada yang mengetahuinya bahkan ia juga sempat mendengar ucapan Ciara makanya dia memanggil Ciara terlebih dahulu agar wanitanya percaya bahwa dia telah kembali.
...****************...
Coba tunjuk jari siapa yang kemarin marah-marah?
Mau kasih author apa sebagai permintaan maaf? author juga marah lho ini (gak deng canda ðŸ¤)
Kasih Like, Vote, dan hadiah aja ya🤗 jangan lupa jaga kesehatan 🤗 See you next eps bye 👋