
"Terimakasih Mom," ucap Devano saat tangannya ingin meraih kopi yang tadi di bawa oleh Mommy Nina.
"Eh eh eh mau apa kamu?" tanya Mommy Nina sembari menjauhkan kopi tersebut dari Devano.
"Mau ambil kopi itu lah. Bukannya Mommy buatin Dev?" tutur Devano pasalnya jika Mommy Nina membuatkan untuk Daddy Tian tidak mungkin karena di depan sang Daddy telah tersaji teh hangat disana.
"Enak aja, ini buat Mommy. Kamu kalau mau, buat aja sendiri, jangan manja. Ingat kalau kamu udah punya anak," ucap Mommy Nina sembari duduk di samping Daddy Tian.
Devano berdecak kemudian ia beranjak dari duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Daddy Tian.
"Mau ke kamar," jawab Devano dan tanpa mendengar ucapan dari kedua orangtuanya itu, Devano langsung berjalan menaiki tangga rumah tersebut untuk sampai ke dalam kamarnya.
Baru saja ia duduk santai di sofa kamar tersebut, pintu kamar itu terketuk cukup keras.
Tok tok tok
"Masuk!" perintah Devano. Dan saat pintu terbuka, betapa kagetnya dia saat mengetahui orang di balik pintu kamarnya bukanlah sang Mama atau art di rumah tersebut melainkan Tiara.
Tiara dengan senyum lebarnya berlari menghampiri Devano dan saat dia ingin berhambur memeluk tubuh Devano, Devano lebih dulu beranjak dari duduknya dan mengakibatkan tubuh Tiara tak jadi mendarat kedalam pelukannya melainkan nyungsep di sofa tersebut.
"Aw, sakit tau sayang. Kamu juga kenapa menghindar kayak gitu," tutur Tiara dengan bibir yang di manyun-manyunkan.
"Keluar!" perintah Devano tegas.
"Gak mau. Biasanya aku juga sering main di dalam kamar kamu," ucap Tiara.
"Gue bilang keluar!" perintah Devano yang sudah menaikkan suaranya.
Tiara tampak terkesiap ketika mendengar gertakan dari Devano itu. Ia baru melihat Devano bersikap seperti itu kepada dirinya.
Dan dengan memberanikan diri, Tiara mendekati Devano yang tengah berdiri tak jauh dari sofa tadi. Ia meraih tangan yang dulu selalu ia genggam itu namun sayang baru saja ia menyentuh tangan tersebut Devano langsung menangkisnya dengan kasar.
"Sayang," rengek Tiara.
Devano yang sudah muak dengan panggilan itu pun menatap tajam kearah Tiara.
"Jangan pernah panggil gue dengan sebutan seperti itu!" tutur Devano.
"Kenapa? bukanya dulu kamu sangat suka ketika aku panggil kamu dengan sebutan sayang?"
"Itu dulu sebelum lo selingkuh dari gue," teriak Devano.
Jika diingat kembali saat ia melihat dengan mata kepala dia sendiri sang kekasih, cinta pertamanya bahkan sudah menjadi tunangannya bermesraan dengan pria lain di rumahnya sendiri bahkan kedua orangtua Tiara juga tak melarang anaknya melakukan hal itu padahal dia sudah bertunangan dengan Devano. Dan pada saat itu pula dengan kemarahannya, Devano memutus pertunangannya dan tak disangka pihak dari Tiara juga menyetujui hal itu bahkan orangtua Tiara sempat menginjak-injak harga dirinya karena waktu itu Devano dan keluarganya tak sekaya sekarang.
Sakit memang, dan setelah kejadian itu Devano berubah menjadi 180° dari pria yang selalu menghormati perempuan menjadi pria yang menjadikan perempuan sebagai mainannya saja. Sebelum akhirnya ia menemukan sosok Ciara yang berbeda dari perempuan lainnya dan berkat Ciara juga ia bisa menghentikan aksi bejatnya tersebut.
"Ah jadi rindu calon istri," batin Devano.
"Dev, aku minta maaf dan aku ingin kita kembali seperti dulu lagi," ucap Tiara yang membuat Devano kembali tersadar.
"Gak gitu Dev. Ini semua gak ada hubungannya dengan perusahaan keluargaku. Aku benar-benar masih sayang sama kamu Dev, aku ingin kita menjalin hubungan lagi seperti dulu," ucap Tiara dengan derai air mata buayanya.
"Sudahlah omongan lo itu gak ada gunanya sama sekali. Sekarang keluar dari kamar ini sebelum gue yang seret lo," geram Devano.
"Gak akan Dev, sebelum lo mau balikan sama gue lagi," tutur Tiara pantang menyerah.
Devano memejamkan matanya saat sebelum akhirnya ia bertindak sesuai apa yang ia ucapkan sebelumnya yaitu menyeret Tiara bukan hanya keluar dari kamarnya melainkan ia berniat menyeret wanita itu sampai depan pintu rumah tersebut.
"Dev sakit, lepasin," berontak Tiara yang berusaha melepas cengkraman tangan Devano dari pergelangan tangannya.
Devano tak memperdulikan setiap rintihan dari Tiara, ia masih saja menyeret wanita itu hingga saat dirinya melewati ruang tamu, suara seseorang menghentikkannya.
"Stop!" suara bariton yang sungguh ia kenal itu menusuk kedalam pendengarannya.
"Hiks Mama, Papa," ucap Tiara dan kedua orangtua Tiara menghampiri sang anak dan Devano.
Devano dengan kasar melepas cengkramannya dan menatap wajah sang pemilik suara bariton tadi dengan tatapan tajam.
"Apa yang kamu lakukan dengan anak saya?" geramnya tak terima saat anak perempuan satu-satunya itu di perlakukan semena-mena oleh Devano.
"Saya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan kepada tamu yang tak tau sopan santun seperti anak tuan Gunawan yang terhormat," tutur Devano.
"Oh ya saya sebagai salah satu penghuni dirumah ini dan wakil dari Mommy dan Daddy saya yang sepertinya tampak enggan bertemu dengan keluarga tak bermoral seperti ini. Maka dari itu saya dengan tidak terhormat mengusir kalian keluar dari rumah saya," sambung Devano.
Tuan Gunawan tampak memelototkan matanya dan dengan entengnya ia menampar wajah Devano. Sedangkan orang yang ditampar hanya tersenyum meremehkan.
"Jaga mulut kamu. Anak kurang ajar, sialan," geram tuan Gunawan.
Mommy Nina dan Daddy Tian yang tadinya terdiam pun kini naik pitam dan saat Mommy Nina ingin menghampiri mereka untuk membela sang anak, Daddy Tian lebih dulu menghentikannya.
"Tenang dulu, kita lihat bagaimana Dev akan menangani si tua sialan itu," bisik Daddy Tian.
"Tapi Dad."
"Sudah, lihat aja dulu kalau nanti Devano sudah tak bisa berkutik tinggal kita samperin mereka dan lebih baik kita menikmati pertengkaran ini sambil ngemil dan minum kopi," ucap Daddy Tian dengan santainya bahkan ia sekarang sudah memangku satu toples berisi makanan. Mommy Nina yang melihat hal itu pun hanya bisa mendengus sabar.
Devano kini semakin menatap tajam kearah tuan Gunawan.
"Anak kurang ajar, sialan? hmmm sepertinya julukan itu sangat pantas untuk anak anda tuan Gunawan," ucap Devano.
"Stop!" teriak Tiara dan kini ia melepas pelukannya dengan sang Mama dan menghampiri tuan Gunawan.
"Pa, aku mohon stop. Jangan bertengkar lagi dengan Devano. Devano gak salah Pa, Tiara yang salah. Hiks," tutur Tiara sesegukan.
"Dev, kamu tenang dulu ya. Tante minta maaf atas perlakuan suami Tante tadi kepada kamu. Tante yakin sebenarnya dia tak ingin berkata seperti itu ke kamu hanya saja saat dia lihat anaknya di tarik dengan paksa dia merasa tak terima. Tante minta maaf atas nama om Gunawan ya," ucap Mama Tiara yang bernama Asti dengan mengelus lengan Devano.
Tapi lagi-lagi Devano menangkis tangan yang menempel di lengannya itu dengan cukup kasar.