Young Mother

Young Mother
Emosi Meradang


Dengan emosi yang tak karuan, Devano melangkahkan kakinya kearah pintu ruangan Bara, si tangan kanannya dan tanpa permisi atau mengetuk pintu terlebih dahulu Devano langsung saja membukanya begitu saja. Hal itu membuat sang empu didalam ruangan terperanjat kaget.


"Astagfirullah. Untuk aku gak punya riwayat sakit jantung," gerutu Bara.


"Sekertaris sialan itu dimana?" tanya Devano to the point.


Bara tampak mengerutkan keningnya. Sekertaris siapa coba yang dimaksud oleh atasannya itu?


"Sekertarisku atau sekertarismu?" tanyanya.


"Sekertaris kamu!" geram Devano.


Bara tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Dia belum datang. Gak tau mau datang apa gak. Soalnya dia belum ngomong atau kasih kabar ke aku sama sekali," jawabnya.


Devano berdecak kemudian tanpa berbicara lagi ia kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dengan pintu yang ia biarkan terbuka.


Saat sudah memasuki lift menuju ke ruangannya, Devano baru menghubungi para anak buahnya untuk mencari keberadaan Lidya dan setelah anak buahnya itu mensetujuinya baru ia mengirim foto Lidya agar anak buahnya itu dengan mudah menemukan wanita sialan itu.


Devano kembali melangkahkan kakinya dengan lebar menuju ruangannya tapi saat dirinya sampai didepan ruang sekertaris, ia dapat melihat bahwa Hisna tengah berbicara dengan seseorang yang dengan tampilannya saja ia bisa mengetahui orang itu siapa.


Devano kembali mengepalkan tangannya dan tanpa aba-aba ia langsung membuka kasar pintu ruang sekertaris tersebut.


Hisna dan orang yang ternyata adalah Lidya itu kini menatap kearah pintu tadi. Lidya yang melihat kilatan tajam dari mata Devano pun tubuhnya mulai bergetar apalagi bosnya itu kini mulai mendekatinya dengan tatapan yang tak pernah beralih kepadanya.


Hisna yang tampaknya mengerti dengan tingkah sang atasan pun hanya memilih diam saja. Ia tak ingin terlibat dengan masalah yang tengah menimpa bosnya dan juga mantan sekretaris itu. Ia tau masalah yang sedang terjadi saat ini karena sebelum Devano sampai, Lidya lebih dulu menceritakan semuanya kepada dirinya. Walaupun ia juga tak tega dengan Lidya tapi mau bagaimana lagi daripada nanti dia itu terseret dan mendapat fitnah.


"Ikut saya!" perintah Devano dengan menyeret tangan Lidya keluar dari ruangan Hisna menuju kedalam ruangan CEO miliknya.


Lidya hanya bisa pasrah saja dengan perlakuan kasar dari Devano karena mungkin hari ini adalah hari dimana dia mendapatkan ganjaran atas tindakannya saat itu.


Sedangkan Hisna hanya bisa menatap iba kearah teman satu kantornya itu.


"Semoga Pak Dev bisa memaafkanmu Li walaupun sangat tak mungkin. Karena Al merupakan anak kandungnya yang memang harus Pak Dev lindungi. Aku gak bisa bantu kamu saat ini dengan tindakanku. Aku hanya bisa doain yang terbaik untuk kamu," batin Hisna.


Devano terus menyeret tangan Lidya hingga mereka sampai di ruangan Devano bahkan saat mereka berdua baru masuk, Lidya sudah disambut beberapa bodyguard yang kini juga berada didalam ruangan itu.


Devano melepaskan cengkraman tangan tadi dengan kasar bahkan Lidya sampai terhuyung kedepan dan terjatuh.


"Katakan apa motivasi kamu nyulik Al?" tanya Devano dengan nada rendah yang terkesan menyeramkan.


Lidya menundukkan kepalanya, air mata yang sedari tadi sudah menetes pun kini kian deras membasahi pipinya.


Tapi bukannya mendapat simpati dari Devano, ia justru mendapat jambakan dari laki-laki tersebut bahkan kepalanya pun mendongak.


"Saya tidak butuh kata maaf dari mulut busukmu itu. Katakan apa motivasi kamu!" sentak Devano.


"Hiks maaf Pak maaf, saya hanya di paksa untuk melakukan hal itu oleh Tiara," jawab Lidya dengan jujur.


Devano melepaskan jambakannya tadi dengan senyum miring yang menghiasi wajahnya.


"Apa saya harus percaya dengan omongan kamu itu?" tanya Devano dengan tangan yang bergerak untuk mencengkeram kuat rahang Lidya hingga wanita di depannya itu menyerang kesakitan.


"Jangan coba-coba untuk membuat alibi dan berbohong dengan saya, Lidya!" suara Devano kini menggema memenuhi ruangan tersebut. Untung saja ruangan Devano itu sudah memiliki fasilitas kedap suara alhasil tak ada yang bisa mendengar kegaduhan yang terjadi di dalam ruangan tersebut bahkan Hisna yang tengah mondar-mandir di depan pintu ruangan Devano pun tak bisa mendengar setiap teriakan dari bosnya itu.


Lidya yang tak bisa menggerakkan bibirnya pun hanya menggelengkan kepalanya.


Devano yang sudah benar-benar geram pun melepas cengkraman itu dan berganti menampar cukup keras pipi kanan Lidya hingga kepala sang empu menoleh ke arah kiri dan darah segar pun keluar dari sudut bibir Lidya. Sakit memang tapi jika ia menerawang ke kesalahannya beberapa hari yang lalu sakit yang ia rasakan mungkin tak sebanding dengan tindakannya.


"Arkhhhh," erang Devano sembari mengusap wajah frustasi.


Setelah itu tatapannya kembali menghunus kearah Lidya.


"Katakan!" teriaknya lagi.


"Sa---saya berani sumpah Pak. Saya memang di paksa oleh Tiara kalau saya tidak melakukan hal itu keluarga saya yang akan mendapat konsekuensinya," ucap Lidya tanpa berani menatap kearah Devano.


"Cukup! hentikan acara membualmu itu, Lidya!" geram Devano yang masih tak percaya dengan ucapan dari mantan sekretarisnya itu.


Dan saat Devano ingin menampar kembali pipi Lidya, tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka dan menampilkan wajah Nando disana.


"Stop tuan!" teriak Nando tak lupa tangannya bergerak untuk menutup kembali ruangan tersebut sebelum melangkahkan kakinya menuju kearah Devano dan Lidya.


"Jangan lakukan itu lagi tuan. Saya sudah memiliki bukti yang kuat jika dia hanya dipaksa oleh Tiara," ucap Nando setelah sampai di samping Devano. Setelahnya ia langsung menyodorkan sebuah map yang didalamnya terdapat salinan chat dari Tiara dan Lidya. Devano menerimanya dan dengan kasar ia membuka map tersebut lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas disana. Ia membaca satu persatu tulisan disana yang hanya berisi ajakan dari Tiara dan penolakan Lidya hingga terjadinya ancaman yang mengancam nyawa dari keluarga Lidya sampai pada akhirnya Lidya setuju melakukan ide gila dari Tiara tersebut.


Devano meremas kertas-kertas tersebut setelah selesai membaca isi percakapan tersebut.


"Saya mendapatkan salinan percakapan itu dari ponsel Lidya yang saya retas," ucap Nando agar tak menjadi salah paham nantinya.


"Urus wanita sialan ini. Seret dia keluar bawa ke markas kita. Saya susul kalian nanti," tutur Devano yang masih dilanda emosi. Jika dia saat ini terus melihat wajah Lidya, takutnya ia akan membunuh wanita itu saat ini juga. Maka dari itu ia memilih untuk menyingkirkan Lidya dari hadapannya terlebih dahulu dan jika emosinya sudah mulai mereda ia akan kembali menemui Lidya dan memikirkan hukuman apa yang pantas untuk mantan sekertarisnya itu.


Nando yang mengerti pun menganggukkan kepalanya setelah itu ia mengkode anak buah Devano yang lainnya untuk membawa Lidya keluar dari ruangan tersebut menuju ke basemen kantor itu tapi sebelumnya mereka akan melewati lift khusus yang langsung tertuju ke basemen tanpa melewati lobby atau ruangan karyawan lain yang nantinya malah akan menimbulkan rasa penasaran kepada mereka semua.