Young Mother

Young Mother
Pertengkaran


Disepanjang jalan tak ada percakapan dari ketiga orang tersebut. Devano yang terus fokus dengan kondisi jalanan, Ciara yang sedari tadi hanya terbengong menatap keluar kaca mobil, sedangkan Al, ia merasa bingung dengan situasi kaku dan canggung ini.


"Papa," panggil Al untuk memecahkan suasana di dalam mobil itu.


"Hemm, ada apa sayang?" tanya Devano dengan lirikan sekilas kearah Al dari pantulan kaca spion yang berada di depannya dan setelahnya ia kembali fokus ke depan.


"Apa boleh Weekend ini Al jalan-jalan sama Mama dan Papa?" tanyanya dengan ragu.


"Apa Al benar-benar mau jalan-jalan sama Papa?" tanya Devano mastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Al. Devano yang melihat anggukan lucu dari Al pun terkekeh kecil.


"Baik lah Papa setuju. Tapi coba, Al tanya dulu sama Mama. Apa Mama juga setuju jalan-jalan dengan kita?" perintah Devano sembari melirik kearah Ciara yang masih saja terbengong disampaingnya.


"Ma," panggil Al.


"Eh, iya kenapa nak?" tanya Ciara yang kembali tersadar dengan lamunannya.


"Mama mau ya, weekend ini ikut jalan-jalan sama Al dan Papa," ucap Al.


Ciara tampak terdiam sejenak, lalu pandangannya kini ia arahkan ke Devano yang hanya dibalas dengan gidikan bahu oleh sang empu.


Ciara menghela nafas kemudian tatapannya ia alihkan ke arah Al yang tengah menatapnya dengan tatapan memohon.


"Baiklah, Mama akan ikut. Asalkan Al terus bahagia," ucap Ciara sembari tersenyum yang ia paksakan.


"Yeyyyy!!!" teriak Al yang begitu senang.


Kesenangan itu tak hanya Al rasakan melainkan Devano juga turut merasakan hal itu.


Tanpa terasa kini mobil milik Devano telah sampai didepan sekolah Al.


Devano langsung turun, kemudian ia beranjak untuk membuka pintu disamping Al dan bergegas membuka seat belt dari tubuh anaknya itu.


Setelah tubuh Al terlepas, Devano langsung menggendong Al tanpa diminta terlebih dahulu.


Sedangkan Ciara yang juga telah keluar dari mobil tersebut hanya bisa mendengus dan memutar bola matanya malas atas interaksi antara mereka berdua.


Kini mereka bertiga memasuki area sekolah Al dan akhirnya langkah mereka terhenti saat sudah berada di depan kelas Al.


Devano yang tadi mengendong Al pun langsung menurunkan tubuh mungil itu dari gendongannya.


"Belajar yang rajin ya nak, nanti pulang sekolah Papa jemput," ucap Devano sembari mengelus kepala Al dengan sayang.


Al pun mengangguk setuju kemudian ia meraih tangan Devano dan mencium telapak tangan tersebut, setelah itu ia berganti meraih tangan Ciara dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan ke Devano tadi. Kemudian ia beranjak dan masuk kedalam kelasnya.


Setelah melihat Al benar-benar masuk kedalam, Ciara bergegas pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan Devano.


Sedangkan Devano yang menyadari hal itu hanya bisa menghela nafas kasar lalu ia mengikuti langkah wanitanya itu.


"Ci," panggil Devano. Namun sayang panggil itu Ciara abaikan. Ia terus saja berjalan menuju gerbang sekolah tersebut.


Tapi langkahnya kini terhenti kala mendapati ada sebuah tangan yang mencekal lengannya. Ciara pun membalikkan badannya untuk melihat siapa yang berani menghentikan langkahnya.


Saat sudah tau jika orang tersebut adalah Devano, Ciara langsung memaksa melepaskan cekalan tangan tersebut dari lengannya.


"Ci, kamu kenapa?" tanya Devano.


Ciara diam, tak berniat menjawab ucapan dari Devano itu. Tapi ia hanya memincingkan alisnya bingung dengan pertanyaan yang dilayangkan oleh Devano tadi.


"Kenapa kamu selalu menghindar?" ucap Devano seakan tau kebingungan dari Ciara.


Ciara mengalihkan pandangannya ke samping. Entah mengapa saat dirinya terus memandang wajah tampan Devano, hatinya kembali merasakan sakit yang teramat dalam, kekecewaan dan memori itu kembali muncul. Ciara benar-benar benci hal seperti saat ini.


"Huft!!" helaan nafas keluar dari mulut Ciara. Kemudian ia melirik sedikit kearah Devano yang masih terus memperhatikannya.


"Jauhi aku dan Al," pinta Ciara.


Devano yang mendengarkan ucapan dari Ciara pun langsung membelalakkan matanya.


"Sanggup atau tidak itu urusanmu. Aku hanya ingin kamu tak lagi muncul dihadapan ku maupun Al," tutur Ciara tegas.


Devano kini menatap tajam kearah Ciara.


"Kamu jangan egois, Ci. Aku juga berhak atas Al. Dia anakku, darah yang mengalir di tubuh Al ada darahku juga. Aku Papa kandungnya. Kamu tak akan bisa jauhin aku dan Al," ucap Devano yang terpancing emosi bahkan sampai meninggikan suaranya.


Ciara terkekeh hambar, ditatapnya balik mata tajam yang beberapa hari ini menjadi teduh jika bersamanya dengan Al.


"Seharusnya aku tanya sama kamu Dev. Setelah dulu kamu merendahkan harga diriku dan berniat untuk membunuh janin didalam kandungan ku, apakah kamu masih pantas dipanggil dengan sebutan Papa oleh Al?" tanya Ciara menggebu-gebu bahkan ia berteriak di depan wajah tampan Devano. Entah apa yang membuatnya kembali marah bahkan niat untuk mengikis rasa benci itu pudar sekarang.


Setelah mengatakan hal itu, Ciara bergegas untuk pergi dari hadapan Devano yang masih mematung ditempat.


Ciara terus berjalan sembari menangis, ia benar-benar marah pada dirinya sendiri sekarang yang tak bisa menghilangkan rasa bencinya dan kekhawatiran atas diri Al.


"Al, maafin Mama yang tak bisa berdamai dengan rasa sakit yang Mama terima dulu," gumam Ciara.


Dan saat ditengah perjalanan, ponselnya berdering. Ciara bergegas mengambil ponsel yang berada di tas kecilnya itu.


"Halo, assalamualaikum, ada apa De?" ucap Ciara sembari menghapus air matanya.


πŸ“ž : "Waalaikumsalam, Kakak sekarang udah di kantor?" tanya Dea.


"Kakak masih dijalan. Emang ada apa sih?" tanya Ciara dengan rasa khawatir.


πŸ“ž : "Kakak bisa ke rumah sakit Husna gak sekarang?"


"Hah rumah sakit? siapa yang sakit?"


πŸ“ž : "Tadi sewaktu aku mau ke toko bunga, aku gak sengaja nabrak orang di jalan," jelas Dea.


"Inalillahi. Terus keadaan kamu dan orang yang kamu tabrak sekarang gimana?" tanya Ciara.


πŸ“ž : "Kalau aku baik-baik aja kak hanya lecet dikit tapi orang yang aku tabrak masih ditangani oleh dokter," ucap Dea takut.


"Ya sudah, kamu jangan takut. Kakak kesana sekarang," ucap Ciara setelah itu ia memutus sambungan telepon tersebut dan bergegas mencari taksi yang lewat di sekitarnya.


Tak berselang lama ada sebuah mobil yang ia sangat kenal siapa pemilik mobil tersebut yang kini berhenti dihadapannya.


Ciara menghela nafas sesaat setelahnya ia beranjak untuk menjauh dari mobil tersebut namun lagi-lagi lengannya dicekal oleh pemilik mobil tersebut.


"Ci," panggil Devano.


Ciara menyentak tangannya hingga terlepas dari cekalan Devano.


"Maaf, saya tak ada urusan lagi dengan anda dan saya mohon jauhi saya terutama Al, anak saya," ucap Ciara dengan menekankan kata anak saya ke Devano.


"Al anak kita Ci dan aku mohon kamu jangan seperti ini. Aku tau kamu masih benci denganku tapi aku mohon kamu jangan menghindariku dan jangan pisahkan aku dan Al. Beri aku kesempatan Ci," ucap Devano memohon.


Ciara tak menggubris perkataan Devano. Ia kembali melangkahkan kakinya dan saat ada sebuah taksi yang lewat, Ciara langsung menghentikan taksi tersebut dan segera masuk kedalam mobil taksi tadi.


Devano menatap nanar kepergian taksi yang ditumpangi Ciara.


"Kenapa hal ini kembali terjadi? Kenapa kamu berubah membenciku lagi Ci? Kenapa kenapa kenapa?" gumam Devano dengan menjambak rambutnya frustasi bahkan air matanya kembali menetes. Ia tak bisa membayangkan jika Ciara benar-benar tak ingin bertemu dengannya lagi dan memisahkan dirinya dengan Al. Tidak, ia tak akan membiarkan hal itu terjadi.


...****************...


Happy reading semuanya πŸ€—


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan hadiah ya biar author kembali semangat buat nulisnyaπŸ€— Karena akhir-akhir ini mood untuk nulis tiba-tiba down gitu aja apalagi saat lihat likenya semakin hari semakin turun. Huhuhu mengsedih 😭


Dan author ucapkan terimakasih kepada semuanya yang udah setia baca cerita ini πŸ€—


Beritahu author jika ada kesalahan dalam penulisan, okeπŸ˜—


Stay safe, stay healthy and stay with me πŸ€— See you next eps bye πŸ‘‹