
Disisi lain saat Devano, Daddy Tian dan Papa Julian tengah menuju ke titik lokasi yang terkoneksi lewat jam tangan Al. Al sekarang justru baru sampai di sebuah rumah mewah di tengah-tengah hutan.
Al masih terdiam saat wanita tadi turun dari mobil. Ia bukan takut tapi ia hanya malas untuk keluar dan berjalan kaki untuk masuk kedalam rumah tersebut hingga pintu mobil yang berada disamping Al dibuka oleh wanita tadi.
"Turun kamu," perintah wanita itu dengan ketus.
Al mengerutkan keningnya tak lupa tatapan tajam ia arahkan ke wanita tersebut.
"Tadi saja ngomongnya lembut banget. Kenapa sekarang marah-marah. Padahal yang harus marah itu Al bukan dia," batin Al.
"Heh! kamu tadi dengar gak apa yang aku katakan. Keluar sekarang sebelum aku seret kamu," ucapnya garang. Al memutar bola matanya malas.
"Maaf ya. Tapi saya gak mood buat turun dari mobil. Toh itu juga rumah bukan rumah orangtua saya juga bukan kantor Papa. Dan anda tidak perlu menaikan suara anda itu dihadapan saya. Kasihan pita suaranya nanti rusak," tutur Al kelewat santai.
Wanita itu memelototkan matanya kearah Al dengan tangan yang terkepal dan saat tangan itu ia gerakkan untuk menjewer telinga Al, dengan gesit Al menghindar dan menangkis tangan wanita tadi.
"Jangan pegang-pegang. Anda kotor masalahnya, saya gak mau nanti pulang kena virus," tutur Al yang semakin membuat wanita tersebut tersulut emosi.
"Kamu!!!" geramnya.
"Tenangkan diri kamu, Lidya," suara seseorang yang baru keluar dari rumah tersebut membuat Al juga wanita yang merupakan mantan sekretaris Devano yang tak lain adalah Lidya pun mengalihkan pandangan mereka kearah sumber suara.
Al berdecak setelah ia melihat ternyata orang yang bersuara tadi adalah orang yang pernah ia tabrak waktu di mall saat itu.
"Tapi anak ini sungguh sangat menyebalkan, Tiara," tutur Lidya sembari menunjuk wajah Al.
Al yang tak suka jika ada jari yang menunjukkan wajahnya pun dengan geram ia mengigit jari telunjuk Lidya dengan kuat-kuat.
"Awsss, sakit sialan," umpat Lidya saat merasakan nyeri di jarinya tak lupa ia juga berusaha untuk melepaskan gigitannya tadi.
"Saya tidak suka jari-jari anda itu menunjuk wajah saya. Jadi gigitan saya tadi sebagai hukuman. Jika anda mengulangnya lagi, jangan salahkan saya kalau jari-jari menjijikkan itu patah." Lidya memelototkan matanya, ingin sekali dia menampar, menjambak, mencubit atau menjewer anak bosnya itu. Tapi sayangnya Tiara tak mengizinkannya untuk melakukan itu semua.
Tiara yang sedari tadi hanya melihat pertengkaran keduanya pun kini mulai mendekati mereka. Setelah sampai di samping Lidya yang masih berdiri di depan Al, Tiara langsung tersenyum manis kearah Al yang justru senyuman itu membuat perut Al mual seketika.
"Hay Al. Kita ketemu lagi hari ini," ucap Tiara yang tak mendapat balasan dari Al. Ia justru menatap dua wanita itu dengan datar.
"Maaf sebelumnya tapi saya tidak mengenal anda jadi saya harap jangan memasang ekspresi seolah-olah Anda kenal dekat dengan saya," tutur Al.
"Oke baiklah kalau begitu. Maafkan aunty yang sok kenal dengan kamu. Tapi Al turun dulu dari mobil ya," ucap Tiara dengan suara yang di lembut-lembutkan.
"Tidak. Saya tidak mengenali rumah ini. Jadi untuk apa saya turun dari mobil?"
Tiara dan Lidya tampak saling pandang satu sama lain. Terlihat dari wajah mereka kalau tengah merencanakan sesuatu kepada Al.
"Tidak perlu merencanakan sesuatu untuk menyakiti saya. Jika Papa, Opa sama Dai saya tau habis kalian nanti ditangan mereka," tutur Al.
"Kita gak lagi merencanakan sesuatu. Jadi Al tenang aja. Oh ya aunty punya banyak mainan lho di dalam, ada coklat sama es krim juga. Al mau gak. Kalau mau Al harus turun dulu," bujuk Tiara.
"Tidak. Al bisa beli sendiri. Dan Al juga tidak tertarik," tolak Al mentah-mentah.
Tiara menghela nafas kasar dan dengan cepat ia mengkode dua laki-laki yang berbadan besar untuk mendekat kearahnya dan sepertinya kedua laki-laki itu tau apa yang harus mereka lakukan pun akan segera melancarkan aksinya.
Tiara dan Lidya menyingkir agar kedua laki-laki itu bebas melakukan pekerjaannya dan saat mereka sudah berhadapan langsung dengan Al, salah satu dari mereka mengambil sapu tangan yang sudah di beri obat bius kemudian mengarahkan sapu tangan tadi ke hidung dan mulut Al. Untuk beberapa saat Al memberontak hingga akhirnya mata Al tertutup dan tubuhnya tak lagi melakukan perlawanan.
"Huh, dari tadi kek. Jadi jari gue gak sampai digigit tuh bocah," geram Lidya.
"Bacot lo," tutur Tiara.
"Bawa dia ke kamar bawah tanah dan ikat tangan dan kakinya," perintah Tiara kepada dua orang tadi. Keduanya pun mengangguk kemudian membawa tubuh Al masuk kedalam rumah tersebut diikuti oleh Tiara dan Lidya.
"Bentar, bukanya niat kita culik dia tuh biar Devano menyerahkan dirinya ke lo dan mau nikahin lo. Dan lo sebelumnya juga bilang kalau gak mau nyiksa Al. Kenapa sekarang tuh anak malah lo sekap di kamar bawah tanah. Gila ya lo?" Tanya Lidya.
Tiara tak memperdulikan ucapan dari Lidya tadi. Hingga dirinya mendudukkan tubuhnya di sofa rumah tersebut.
"Jawab gue! kenapa rencana Lo berubah?" geram Lidya. Ia tak bisa melihat anak kecil di sekap atau di siksa karena segila-gilanya dia, sejahat-jahatnya dia, dia masih punya hati nurani untuk tak melukai anak sekecil Al. Dan pada awalnya ia menolak untuk ikut dalam aksi penculikan ini walaupun dibayar milyaran sekalipun. Tapi karena ancaman Tiara yang menyangkut keluarganya juga Tiara janji tak akan melukai Al alhasil mau tak mau dirinya mensetujui rencana gila ini.
"Diem! gak usah banyak protes! cukup tutup mulut lo itu, jangan sampai hal ini bocor. Kalau sampai penculikan ini diketahui oleh orang lain. Siap-siap saja keluarga lo, gue bantai semua. Dan mending lo sekarang keluar, uang yang gue janjikan udah gue transfer," ucap Tiara sembari mengibas-ibaskan tangannya kode untuk mengusir Lidya dari hadapannya.
Lidya mengepalkan tangannya dan dengan hati yang dongkol ia pergi dari rumah tersebut.
"Aunty tau kamu pintar Al. Jaga diri kamu baik-baik. Aunty hanya bisa minta maaf dan menyesal sudah bikin Al terjebak dalam penculikan ini. Walaupun aunty suka sama Papa kamu tapi yakinlah aunty masih punya hari nurani untuk tidak menyakitimu. Aunty ngelakuin ini semua juga terpaksa. Aunty gak mau kehilangan keluarga aunty karena wanita itu benar-benar gila dan nekat jika aunty nolak permintaannya. Sekali lagi aunty minta maaf Al. Semoga sebentar lagi, ada seseorang yang menolong kamu untuk keluar dari sini. Doa aunty selalu untukmu Al. Maaf maaf maaf Al, maafin aunty," batin Lidya sembari menatap nanar kearah rumah tersebut bahkan air matanya sudah menetes membasahi pipinya. Setelah itu ia sekarang benar-benar pergi dari lingkungan rumah tersebut.