
Al kini berdehem untuk melawan rasa malunya itu dan setelahnya ia menatap kearah Zidan kembali.
"Uncle tadi nyuruh Al buat bantu cariin apa?" tanya Al.
"Itu lho Al makanan yang bisa bikin mood perempuan balik lagi. Kalau mood aunty Rahel gak balik-balik kasihan baby Avas nanti," ujar Zidan sembari menggerakkan tangan Avas.
"Baiklah, Al akan bantu Uncle tapi ada syaratnya," tutur Al yang membuat Zidan menghela nafas. Sudah tak heran lagi jika ia meminta bantuan dengan Al, pasti anak itu akan selalu minta syarat-syarat yang pastinya akan merugikan dirinya. Tapi walaupun begitu, ia juga tetap mensetujui syarat dari Al itu. Toh uangnya akan habis juga buat ponakan, ya walaupun nanti ujung-ujungnya akan minta ganti rugi dengan Devano. Tapi setidaknya ia sudah menepati syarat dari Al itu.
"Katakan apa syaratnya?" Al kini tersenyum.
"Bayarin barang belanjaan Al hari ini. Tenang aja Uncle, aku gak akan belanja banyak-banyak kok untuk hari ini," ucap Al.
"Cuma itu doang?" Al menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Uncle setuju. Jadi sekarang buruan cariin makanan yang bikin mood baik lagi." Al kini mencebikkan bibirnya saat dorongan pelan ia rasakan.
"Iya-iya ish sabar kali Uncle," tutur Al dan kini ia melangkahkan kakinya menuju ke rak bagian makanan ringan diikuti oleh Zidan dibelakangnya.
"Makanan kesukaan Aunty cantik apa?" tanya Al sembari melihat-lihat makanan yang sekiranya menarik matanya.
"Korean food," jawab Zidan. Al kini mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia terus mengedarkan matanya dan saat ia menemukan makanan ringan yang di bungkusnya terlihat ada tulisan khas bahasa Korea, Al langsung memasukkan makanan ringan tersebut ke troli yang sekarang tengah didorong oleh Zidan.
"Aunty boleh makan mie instan kan Uncle?" tanya Al saat dirinya kini sudah berada di rak khusus makanan instan.
"Boleh, tapi gak boleh banyak-banyak," ujar Zidan.
"Kalau ini boleh dimakan gak?" tanya Al sembari menunjuk satu bungkus toppoki kearah Zidan.
"Itu apaan?" tanya Zidan tak paham.
"Kan disini ada tulisan Indonesia Uncle," ujar Al sembari menunjuk ke sebuah tulisan yang tertera di bungkus makanan tadi.
"Dari sini gak kelihatan Al. Maklum lah uncle udah tua makannya mata uncle udah gak normal lagi," tutur Zidan.
"Entahlah Al. Udah lah ambil aja. Pokoknya semua makanan yang berbau-bau Korea tuh ambil aja," ujar Zidan yang langsung dituruti oleh Al.
Beberapa menit kemudian mereka telah selesai memilih makanan yang sekiranya Rahel suka, tak lupa juga Al tadi sudah memilihkan beberapa coklat, marshmellow juga es krim untuk Kiya.
Dan setelah membayar semua barang belanjaan itu, Zidan juga Al kini telah keluar dari mini market tersebut. Hal tersebut membuat kedua bodyguard Al yang tadi memperhatikan Al dari kejauhan pun dengan cepat kembali kedalam mobil sebelum tuan mudanya itu melihat mereka berdua.
"Terimakasih untuk traktirannya Uncle," ucap Al dengan senyum yang mengambang.
"Sama-sama. Uncle juga mau bilang terimakasih karena Al udah bantuin Uncle buat milih makanan kesukaan Aunty tadi." Al menganggukkan kepalanya tanpa melunturkan senyumannya.
"Ya sudah kalau gitu Uncle pulang dulu ya. Kasian baby Avas kalau kelamaan kena angin malam. Al juga harus cepat pulang, kedua orangtuanya Al juga Kiya pasti udah nungguin Al dirumah. Oh ya mobil Al mana?" ucap Zidan.
"Tuh didepan. Uncle hati-hati dijalan. Bye baby Avas, weekend main kerumah bang Al ya. Aku tungguin dirumah," tutur Al diakhiri dengan mencium pipi gembul Avas.
"Nanti biar Uncle bicarain sama Aunty dulu. Siapa tau Aunty ada acara di hari weekend ini. Tapi semoga aja gak ada, udah lama juga kita gak main kerumah kamu, kangen Kiya juga. Pokoknya Uncle akan usahain. Tapi jangan lupa kalau Uncle, Aunty sama baby Avas main kerumah kamu harus ada hadiah buat kita bertiga," ucap Zidan yang diacungi jempol oleh Al.
"Kalau itu sudah pasti," ujar Al yang membuat Zidan terkekeh kecil.
"Ya udah Uncle pulang dulu. Bye Al, hati-hati dijalan. Bye Abang Al." Zidan melambai-lambai tangan Avas kearah Al sembari ia melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Sedangkan Al, ia membalas lambaian tangan tersebut.
Dan ia masih berdiri didepan mini market itu sampai mobil Zidan perlahan menjauh dari tempat tersebut.
Setelah mobil Zidan sudah tak terlihat lagi, Al baru melangkah kakinya menuju mobilnya itu. Tapi tinggal beberapa langkah lagi dirinya sampai di samping mobil tersebut, langkah Al terhenti saat melihat seseorang yang mungkin umurnya berbeda 1 atau 2 tahun lebih muda darinya tengah berdiri di samping jalan raya yang malam ini terlihat ramai itu.
Al terus menatapnya dan melihat apa yang akan dilakukan orang tersebut. Dan mata Al kini melebar saat melihat orang tersebut dengan ragu melangkahkan kakinya untuk menyebrang jalanan tersebut. Dan hal itu membuat Al dengan reflek menaruh barang belanjaannya begitu saja lalu ia berlari sekencang-kencangnya menuju kearah orang tadi sembari melihat ke sekitar orang tersebut.
"Hey awas!" teriak Al saat hampir saja tubuh orang tersebut tertabrak sebuah sepeda motor yang melaju sangat kencang kearah orang tadi tapi untungnya pergerakan Al lebih cepat dan Al hasil membuat orang tersebut terselamatkan dari mara bahaya tadi. Walaupun tangannya sempat terserempet sedikit dan menyebabkan goresan di lengannya tapi hal itu jauh lebih mendingan dibandingkan seluruh tubuhnya terlempar jauh dan mungkin nyawanya juga menjadi taruhannya.
Al tak memperdulikan rintihan dari orang tersebut, karena yang ia pikirkan sekarang adalah membawa orang tadi ke pinggir jalan dengan selamat. Dan saat dirinya sudah berhasil membawa orang tadi dipinggir jalan, Al melepaskan cengkraman tangannya dari lengan orang tersebut.
Sedangkan disisi lain, para bodyguard yang melihat aksi Al tadi, hatinya berdegup kencang saat melihat Al dengan berani membelah jalanan tanpa memikirkan bahaya yang menghantui dirinya sendiri. Bahkan keringat dingin sudah membasahi tubuh mereka baik itu Toni dan Doni ataupun bodyguard tersembunyi yang di utus oleh Ciara tadi, dan saking syoknya tubuh mereka menjadi membeku ditempat.
Tapi untungnya Al berhasil menyelamatkan orang tadi juga melindungi dirinya sendiri, jika saja Al tak berhasil dan juga menaruhkan nyawanya hanya untuk menyelamatkan orang tersebut. Tamatlah riwayat para bodyguard Al itu yang pastinya akan langsung dipecat oleh Devano atau malah lebih parahnya lagi nyawa mereka juga akan melayang ditangan bosnya itu sendiri.