Young Mother

Young Mother
Duplikat Devano


Deg!!


Rafa membulatkan matanya sempurna di hadapan Al, Ciara dan juga Olive. Bahkan dirinya seperti orang bodoh, mendadak tak bisa berucap sepatah kata pun dan sikapnya yang tadinya sangat cerewet kini berubah menjadi pendiam. Namun matanya masih saja menatap Al tanpa berkedip.


Dipikiran Rafa sekarang banyak sekali pertanyaan mengenai hubungan antara Devano dan juga anak kecil di depannya itu.


"Oh astaga, kenapa wajah anak ini mirip Devano bahkan seperti dirinya versi anak-anak? Benar-benar duplikat Devano. Ada hubungan apa antara anak ini dan Devano? Apakah mereka masih satu keluarga? Adiknya kah?" pikir Rafa namun setelah di pikir-pikir lagi tidak mungkin Devano mempunyai Adik. Karena ia tau kalau Devano itu anak tunggal bahkan ia tau seluk beluk keluarga sahabatnya yang sudah sejak kecil ia kenal itu walaupun sempat terpisah untuk beberapa tahun dan dipertemukan lagi saat kuliah di Amerika.


"Bukan-bukan ini anak bukan Adiknya Devano Dan kalau benar itu Adiknya Devano, masak iya selama ini keberadaan anak ini disembunyikan oleh keluarga Devano? kan gak mungkin, Tante Nina sama Om Tian aja sangat ingin punya anak lagi dan kalau ini Adik Devano pasti sudah di umumkan ke publik secara kan itu kabar gembira. Ahhhh sungguh membingungkan," batin Rafa semakin kacau.


Ia terus saja menatap Al dari mata, hidung, bibir, bentuk wajah sama persis seperti Devano kecuali hanya rambut yang mirip dengan Ciara.


"Astaga," gumamnya lirih sembari mengacak rambutnya dalam diam. Ia benar-benar frustasi melihat kemiripan antara Al dan juga sang sahabat. Tanpa ia sadari semua gerak-geriknya tadi tertangkap mata oleh Olive, Ciara dan terutama Al.


Rafa menghentikan aksinya tadi saat ia menyadari 3 pasang mata menatap dirinya dengan tatapan berbeda-beda. Ia pun dengan refleks menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Canggung, yang ia rasakan saat ini dan tanpa sengaja tatapnya kini beradu dengan tatapan Al, sungguh ia ingin sekali menghilang dari tempat itu sekarang juga setelah mendapat tatapan dingin penuh dengan intimidasi dengan sorot akan ketidaksukaan dan ketidaknyamanan dipancarkan dari mata Al. Rafa yang ditatap seperti itu oleh Al, nyalinya langsung menciut seketika. Ia kalah dengan seorang bocah berusia 4 tahun dihadapannya sekarang.


"Astaga, bahkan tatapannya sama seperti yang dimiliki oleh Devano. Sama-sama dingin, tajam, mengintimidasi dan sangat mematikan lawannya. Tapi tatapan mata anak ini lebih menyeramkan dibanding tatapan Devano," batin Rafa yang terus saja berperang dengan pikirannya sendiri.


Olive yang berada di samping Rafa pun langsung menyenggol lengan Rafa.


"Lo kenapa sih?" tanya Olive penasaran.


Rafa tak menjawab pertanyaan dari Olive, ia hanya mengalihkan pandangannya ke arah Olive untuk sesaat, setelah itu tatapannya kembali ke arah Al tanpa bersuara sedikitpun.


Ciara yang merasa aneh dengan sikap Rafa pun memincingkan alisnya.


"Kenapa dia sangat terkejut saat melihat wajah Al?" batin Ciara juga ikut kepo dengan isi pikiran Rafa.


Sedangkan disela-sela tatapan mereka, Al membuka suaranya.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku gak suka!" ucapnya dingin.


Perkataan dari Al tersebut seketika membuat Rafa langsung mengalihkan pandangannya ke luar cafe tersebut.


"Al," tegur Ciara.


"Al gak suka Ma ditatap seperti itu. Al gak punya salah sama uncle ini kenapa dia menatapku seperti aku mempunyai banyak salah dengan dirinya," ucap Al.


Rafa yang tadi menatap ke luar cafe pun memberanikan diri untuk kembali menatap Al dan berniat untuk meminta maaf atas ketidak nyamanan yang Al rasakan tadi.


"Sorry boy, Uncle tidak bermaksud seperti yang Al pikirkan kok," tutur Rafa.


Namun Al tak menjawab ucapan dari Rafa bahkan mengangguk pun ia tidak lakukan. Kini Al malah memfokuskan dirinya ke makanan di depannya.


"Maaf ya Kak Rafa, Al anaknya memang seperti itu dengan orang yang dia baru kenal," ucap Ciara tak enak.


"Gak papa Cia, justru gue yang harus minta maaf karena gue tadi buat anak lo gak nyaman," tutur Rafa yang sama-sama tak enak dengan Ciara. Sebenarnya ia ingin sekali mengeluarkan pertanyaan yang terus saja memutar di otaknya kepada Ciara namun ia tak mau membuat Ciara juga merasakan ketidaknyamanan setelah ia bertanya mengenai Al.


"Jangan ikut campur urusan orang yang baru lo kenal Rafa. Jangan terlalu bego jadi orang," batin Rafa mengingatkan dirinya sendiri agar mulut lemesnya itu bisa ia kendalikan.


Sesaat setelah kejadian tadi, mereka berempat langsung menikmati makanan mereka masing-masing dengan diam dan Rafa sesekali mencuri pandang kearah Al.


Tak terkecuali Olive yang dalam diamnya juga sesekali melirik kearah Rafa. Ia penasaran kenapa sepupunya itu tampak bersikap aneh dan syok setelah pertemuan pertama Al dengan Rafa? Padahal Al kan hanyalah anak kecil yang tampan dan juga lucu. Bukan sesosok makhluk tak kasat mata yang perlu ditakuti oleh Rafa.


"Huh mencurigakan. Akan aku tanya dia nanti saja," batin Olive setelah itu ia kembali menikmati makanan hingga tuntas.


...*****...


Setelah selesai dengan makan siangnya tadi, Rafa langsung berpamitan untuk kembali ke kantornya.


Saat sampai di kantor hingga 1 jam setelahnya ia masih saja memikirkan tentang hubungan antara Al dan juga Devano.


"Arkh," erangnya frustasi.


"Apa wajah Al yang kebetulan mirip dengan Devano ya? Tapi gak mungkin kalau hanya kebetulan, muka Al aja sama persis dengan Devano," gumamnya.


"Dia kenapa?" tanya salah satu dari mereka bertiga dan hanya mendapat jawaban gelengan kepala dari dua orang lainnya.


Mereka pun kini mendekati Rafa dan dengan sengaja salah satu dari mereka mengkagetkan Rafa secara diam-diam.


"Woe!!" teriaknya dengan menggeplak punggung Rafa.


"Anjim, jantung gue dag dig dug duawarrr," ucap Rafa dengan hebohnya akibat terkejut.


"Lebay," ucap Vino, Zidan dan Kevin secara kompak.


Yap mereka bertiga adalah sahabat Rafa. Masih ingat dengan mereka bertiga? Sahabat Devano saat dirinya satu kampus dengan Ciara. Yang juga berteman akrab dengan Rafa. Bahkan dulu saat mereka SMA, mereka berempat ditambah dengan Devano adalah teman yang sangat akrab satu sama lain dan kini yang tersisa hanyalah mereka berempat tanpa Devano yang selama 4 tahun lebih sudah sangat berbeda dengan Devano yang dulu mereka kenal. Sangat sulit sekali mengajak Devano untuk berkumpul, hanya sesekali saja Devano akan menemui mereka itu pun hanya di cafe saja. Devano tidak pernah lagi mau diajak berkumpul di club untuk sekedar menghilangkan penat mereka dari kerjaan yang menumpuk dengan cara mabuk-mabukan atau happening ***, Devano dengan mentah-mentah akan menolak ajakan mereka. Mereka berempat bahkan sangat heran dengan perubahan Devano, seperti sudah terjadi sesuatu yang sangat besar pada diri sahabatnya itu. Tapi namanya juga Devano yang tak akan pernah berbagi cerita kepada mereka berempat.


"Kalian ngapain kesini?" tanya Rafa dengan garangnya.


"Ah elah biasa aja kali tuh muka kayak lagi pms aja," ucap Zidan yang langsung mendapat geplakan dari Rafa.


"Sakit monyet," umpat Zidan.


"Rasain! suruh siapa lo ngatain gue lagi pms. Gue masih normal ya, gue terlahir sebagai laki-laki yang gak mungkin mengalami menstruasi," ucap Rafa penuh penekanan.


"Lagian lo dari tadi kayak orang bego, bengong mulu tar kesambet baru tau rasa," tutur Zidan.


"Tau tuh, kek orang yang punya otak aja. Sok-sokan berpikir keras," kini Vino yang berucap.


Plak Plak Plak


Bunyi pukulan dari Rafa kini beralih kearah Vino.


"Welah anak tuyul. Muka ganteng gue jangan lo pukulin kaya gini. Rusak sudah ketampanan gue nanti," geram Vino.


"Sudah-sudah. Kenapa malah baku hantam disini? Kayak anak kecil aja kalian bertiga. Malu weh umur udah mau kepala 3 juga," pisah Kevin.


Memang diantara mereka berempat yang sedikit waras hanyalah Kevin saja sisanya ya begitulah.


"Tau tuh si anak tuyul main pukul aja," ucap Vino tak mau disalahkan.


Rafa yang tak terima pun kembali ingin melayangkan pukulannya kearah Vino namun ucapan Kevin menghentikan tangannya.


"Stop! kita disini mau bahas tentang nanti malam mau main kemana bukan untuk tawuran," tutur Kevin.


Rafa pun mengurungkan niatnya dan sesaat setelah itu ia terdiam kembali karena wajah Al tiba-tiba muncul di pikirannya.


"Eh guys!" panggil Rafa memecahkan keheningan di ruangan tersebut.


"Hmmm," jawab ketiganya dengan kompak.


"Gue mau tanya sama kalian," ucap Rafa serius.


Mereka bertiga pun memincingkan alisnya.


"Tentang?" tanya Kevin.


"Tentang Devano," jawab Rafa.


...*****...


Yuk bisa yuk 300 like per-eps/hari😘


Hayo lho penasaran gak.. penasaran dong tentunya 🀣


Happy reading sayang-sayangku πŸ€— See you next eps bye πŸ‘‹