
Setelah kejadian penangkapan Rizal, semua kakus yang telah Rizal lakukan tak berselang lama langsung diproses oleh pihak kepolisian tak kecuali dengan kasus pembunuhan yang laki-laki itu lakukan sebelum penangkapan itu terjadi. Dan setelah melakukan beberapa kali sidang akhirnya, hakim memutuskan untuk memberi hukuman seumur hidup kepada Rizal dengan pasal berlapis.
Tapi keputusan dari hakim itu di tentang keras oleh pihak Rizal karena menurut mereka keputusan dari hakim tersebut tak adil sama sekali bahkan sempat pihak Rizal itu mengajukan banding, tapi hasil dari banding itu sama saja. Rizal tetap di jatuh hukuman seumur hidup, dan hal itu mau tak mau membuat keluarga Rizal mengikhlaskan keputusan tersebut.
Sedangkan untuk Franda, ia benar-benar merasa puas akan hasil tersebut. Bahkan setelah semuanya selesai, ia bisa merasa lega karena setidaknya Yura kini aman dari orang yang menginginkan dirinya musnah dari dunia ini.
Dan kini anak perempuan itu bisa hidup dengan aman tanpa banyang-banyang orang jahat di setiap langkahnya.
"Aku benar-benar sangat berterimakasih ke kalian berdua yang sudah mau membantu kita menyelesaikan kasus Yura. Jika saja kita tidak pernah diizinkan untuk bertemu, entah akan seperti apa kasus ini. Mungkin juga kita berdua bisa jadi sudah kehilangan Yura saat ini. Aku juga mengucapkan terimakasih ke Al yang sudah mau menjaga Yura saat kalian berdua berada diluar rumah," ujar Franda sembari menatap Al dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Ya, kedua keluarga tersebut kini telah berkumpul di rumah Devano. Hanya untuk sekedar merayakan kemenangan mereka melawan kubu Rizal yang terbilang kuat itu.
Al kini tersenyum malu kearah Franda setelah tatapan keduanya saling bertemu.
"Tidak perlu berterimakasih, Aunty, Uncle. Al melindungi Yura atas kemauan Al sendiri tanpa paksaan siapapun. Toh Al kan juga anak laki-laki yang memang harus melindungi anak perempuan yang begitu lemah. Tapi aunty sama uncle tenang saja karena Yura sekarang sudah bisa bela diri setelah dilatih oleh Om Doni dan Om Toni. Mungkin Yura menyembunyikan ini dari kalian karena dia takut jika kalian memarahinya. Tapi yang harus aunty dan Uncle tau, jika bela diri itu bukan hanya untuk laki-laki saja melainkan seorang perempuan pun bisa melakukannya. Malah menurut Al, bela diri itu sangat penting untuk seorang perempuan agar tidak di remehkan oleh orang lain terutama untuk melindungi dirinya dari orang-orang yang berniat jahat kepada mereka," ucap Al sekaligus untuk membantu Yura menjelaskan tentang keahliannya yang baru ia dapatkan beberapa bulan terakhir ini.
Franda dan Bian hanya bisa menghela nafas karena apa yang dikatakan oleh Al tadi ada benarnya juga.
"Baiklah Al, terimakasih karena sudah membocorkan rahasia Yura kepada kita. Mungkin jika kamu tidak bilang tadi, sampai kapanpun Yura tidak akan bilang ke kita berdua," ujar Bian yang membuat Al mengangguk sembari tersenyum.
Dan kini tatapan Bian beralih kearah Doni dan Toni yang kebetulan berada di ruangan yang sama dengan mereka, tapi bedanya saat dua pasang orangtua dan dua anak itu duduk di atas sofa ruangan tersebut untuk berbincang-bincang, sedangkan kedua bodyguard dan Kiya tengah sibuk bermain game dengan karpet tebal yang mereka jadikan alas untuk duduk mereka.
"Doni, Toni!" panggil Bian.
"Hmm," jawab kedua bodyguard tadi dengan deheman saja. Bahkan mata mereka masih fokus di layar televisi didepannya itu.
Devano yang merasa tak enak atas jawaban dari kedua bodyguardnya itu pun ia kini mengambil alih untuk memanggil keduanya.
"Doni, Toni. Jika ada yang memanggil kalian atau ingin berbicara hentikan dulu aktivitasnya dan fokus ke orang yang mengajak kalian bicara," ucap Devano yang masih mencoba untuk bersabar.
"Aduhh, nanti saja deh tuan kalau mau bicara sama saya. Ini lagi nanggung banget soalnya. Iya kan Kiy?" tutur Toni.
"Iya ih. Papa jangan bawel dulu, oke? nanti kalau Papa bawel, kita berdua bisa kalah melawan Om Doni," ujar Kiya yang berada di kubu Toni.
Devano yang mendengar alasan itu pun, ia hanya bisa menghela nafas sembari mengelus dadanya, agar di beri kesabaran yang melimpah saat menghadapi orang-orang seperti mereka bertiga. Tapi berbeda dari Ciara, jika Devano masih bisa sabar, Ciara justru kini beranjak dari duduknya dan mendekati televisi di ruangan tersebut. Dan tanpa banyak bicara, Ciara langsung mencabut kabel televisi tersebut dari stop kontak dengan wajah datarnya.
"Dengarkan orang yang mau bicara terlebih dahulu. Baru nanti main lagi!" ucap Ciara dengan tegas. Dan berkat aksi dan ucapannya tadi, ketiga orang yang tadinya asik dengan dunianya sendiri dengan patuh kini mereka berpindah tempat menjadi di sofa yang berada diruang tersebut.
Ciara yang sudah melihat ketiga orang itu sudah duduk manis di tempat yang ia inginkan pun, ia kini juga turut duduk di tempatnya sebelumnya.
"Silahkan jika mau berbicara," ucap Ciara kepada Bian. Bian yang sudah dipersilahkan pun ia menganggukkan kepalanya dan setelahnya ia kembali angkat suara.
"Maaf telah mengganggu aktivitas kalian. Tapi saya mau berterimakasih ke kalian berdua yang sudah turut menjaga Yura dan mengajarkan dia ilmu bela diri. Dan untuk biaya pengajaran Yura, sebutkan saja berapa yang harus kita berdua bayar. Dan biarkan kita nanti mentransfer uangnya ke kalian," tutur Bian.
"Ah tidak, tidak perlu membayar tuan. Kita mengajarkan Yura bela diri karena kita ikhlas melakukannya. Jadi tidak perlu melakukan pembayaran ke kita berdua," tolak Doni yang diangguki setuju oleh Toni.
"Kenapa?" tanya Doni.
"Aku ingat sesuatu," tutur Toni.
"Ingat tentang?" tanya Doni lagi.
"Tentang hutang kita," ujar Toni yang membuat Doni berpikir keras.
"Kalian punya hutang? Berapa? biar saya bantu lunasi hutang kalian berdua," ucap Bian yang siap membantu mereka berdua.
Toni yang mendapat tawaran itu pun tampak tersenyum sumringah.
"Benarkah tuan?" tanya Toni memastikan.
"Iya. Jadi sebutkan jumlah hutang kalian. Saat ini juga akan saya transfer uangnya dan kalian bisa gunakan uang itu untuk melunasi hutang kalian," ujar Bian.
"Ah tidak perlu mentransfer segala tuan karena hutang kita tidak banyak kok," tutur Toni.
"Oh begitu. Baiklah akan saya bayar cash saja. Di dompet saya sekarang hanya ada 500 ribu. Uang kamu masih berapa sayang yang sekarang ada di dompet?" tanya Bian yang membuat Franda langsung mengeluarkan isi dompetnya.
"405 ribu," ujar Franda setelah menghitung isi dompetnya itu. Lalu setelahnya ia menyerahkan uang tadi kepada Bian. Bian yang sudah menerima uang tersebut langsung menyerahkan semua uang yang dia dan istrinya itu miliki ke arah Toni.
"Ini cukup?" Toni menggelengkan kepalanya.
"Tidak cukup? Baiklah kalau tidak cukup, saya akan ke ATM dulu buat ambil uang lagi," ujar Bian.
"Eh tidak begitu maksud dari gelengan kepala saya tadi. Tapi maksud saya tuh kalau uang ini kelebihan. Dan kita hanya membutuhkan segini saja." ucap Toni sembari menarik uang lima ribuan tadi dari tangan Bian.
Dah hal itu membuat semua orang disana melongo.
"Astaga, kalian berdua tuh hutang apaan, cuma lima ribu aja gak bisa bayar? Apa gaji yang kita berikan kurang?" tanya Ciara heran.
"Tidak kurang sama sekali. Hanya saja waktu itu kita berdua tidak punya uang kecil buat bayar parkir," ujar Toni.
"Bahkah di dompet kita waktu itu isinya merah semua. Bukan cuma waktu itu saja sih tapi sampai sekarang pun isi dompet kita juga masih merah," sambung Toni.
"Wah kalau begitu kamu sudah menjadi crazy rich dong," ucap Devano.
"Bukan crazy rich karena kita berdua masih waras bukan gila. Dan sebutan yang paling tepat untuk kita berdua tuh harusnya Young and rich man. Karena kita masih muda dan banyak uangnya," sombong Toni sembari tersenyum dan menaik-turunkan alisnya.
Dan kesombongannya itu membuat semua orang yang ada disana tak terkecuali dengan Kiya melongo tak percaya, dan sesaat setelahnya, dengan kompak mereka menepuk kening mereka masing-masing.