
Sesuai dengan kesepakatan Ciara dan Devano tadi siang, jika Al di malam hari belum menampakkan dirinya, keluar dari kamarnya maka Devano dan Ciara terpaksa harus mendobrak pintu kamar Al. Dan kini sepasang suami istri itu sudah standby di depan pintu Al untuk bersiap mendobrak pintu tersebut.
"Kamu siap sayang?" tanya Devano dengan melihat kearah Ciara disampingnya. Ciara yang tengah fokus menatap kearah depan pun ia menjawab ucapan dari Devano tadi dengan anggukan kepala saja.
"Baiklah kalau begitu dengan hitungan ke-tiga kita akan berlari dan dobrak pintu itu. Satu," ucap Devano yang memulai menghitung untuk memberikan aba-aba untuk dirinya dan juga untuk Ciara.
"Dua." Ciara dan Devano kini sudah bersiap untuk berlari kearah pintu tersebut.
"Tiga!" teriak Devano yang langsung membuat dirinya dan Ciara kini berlari.
Tapi saat tubuh keduanya ingin menghantam pintu kamar Al, ternyata bertepatan dengan itu pula pintu tersebut terbuka hingga hal tersebut membuat Ciara dan Devano terjatuh begitu keras di lantai kamar Al.
Sedangkan Al yang tak sengaja membuka pintu kamarnya pun ia kini menatap kedua orangtuanya dengan salah satu alis yang terangkat.
"Mama sama Papa ngapain tiduran disitu?" bukan, bukan Al yang bertanya melainkan Kiya lah yang angkat suara. Dan anak perempuan tersebut kini mulai mendekati kamar Al dengan tatapan yang masih tertuju kearah Devano dan Ciara yang sama-sama masih merintih kesakitan. Bahkan sampai ada perdebatan kecil dari mereka berdua, karena saat mereka terjatuh bersama, tak sengaja tubuh Devano menimpa tubuh Ciara. Dan hal tersebut membuat Devano layaknya sebuah pepatah yang berbunyi, sudah jatuh tertimpa tangga pula, karena dengan ketidak sengaja itu dia mendapat amukan dari Ciara.
"Abang," panggil Kiya yang dijawab dengan deheman saja oleh Al.
"Mereka ngapain?" tanya Kiya.
"Entahlah, Abang juga tidak tau. Sepertinya itu urusan orang dewasa. Kita yang merupakan anak kecil tidak usah ikut campur dalam hal ini. Dan biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri," ujar Al yang kini mengalihkan pandangannya kearah Kiya.
"Kiya," panggil Al.
"Ya?" Kiya kini menatap wajah Al yang sangat pucat itu.
"Ehh Abang sakit?" tanya Kiya dengan khawatir.
"Gak. Abang gak sakit. Abang hanya lapar saja. Dan Abang sekarang mau Kiya menemani Abang untuk makan malam. Kiya mau?" tanya Al yang membuat Kiya kini memperlihatkan senyum manis di bibirnya disusul dengan anggukan kepalanya. Ia tak menyangka jika Al akan bersikap seperti biasanya setelah apa yang ia lakukan tadi. Bahkan ia sempat takut jika Al sudah tak menyayanginya lagi dan akan bersikap dingin seperti dulu lagi. Tapi sepertinya ketakutannya itu harus Kiya buang jauh-jauh sekarang setelah melihat perlakuan Al tadi.
Al yang melihat senyuman dan anggukan kepala dari Kiya kini tangannya bergerak untuk menggandeng tangan Kiya dan membawa tubuh anak perempuan tersebut ke lantai bawah dirumah tersebut. Meninggalkan kedua orangtuanya yang masih saja ribut hanya perkara tadi saja.
Dan kini kedua anak tersebut telah sampai di ruang makan di rumah tersebut.
"Abang, mau makan apa? Biar Kiya yang ambilin," ujar Kiya.
"Apapun yang Kiya ambilkan akan Abang makan," ucap Al sembari menyerahkan piringnya kearah Kiya yang langsung disambut dengan penuh bahagia oleh adiknya itu.
"Apa segini cukup?" tanya Kiya memperlihatkan lauk yang ia taruh di piring Al.
"Jauh dari kata cukup," jawab Al.
"Baiklah kalau begitu untuk nasinya. Abang ambil sendiri ya karena piringnya sudah berat sekarang dan Kiya tidak kuat untuk memegangnya lagi," ujar Kiya yang membuat Al kini memperlihatkan senyumannya. Dan karena Kiya tadi sudah mengeluh, Al langsung mengambil piring tadi dari tangan Kiya.
"Terimakasih," ucap Al sembari tangannya bergerak untuk mengambil nasi.
"Sama-sama Abang. Makan yang banyak ya, biar wajah Abang tidak pucat lagi," tutur Kiya yang dibalas anggukan kepala oleh Al.
Dan saat Al menikmati makan malamnya itu, Kiya yang diminta untuk menemani sang kakak pun ia sedari tadi memandangi wajah Al dengan bertopang dagu.
"Tidak. Abang saja yang makan karena Kiya sudah makan tadi dan perut Kiya ini masih sangat kenyang sekarang," ujar Kiya.
"Ya sudah kalau begitu Abang lanjutin makannya ya," ucap Al yang diangguki oleh Kiya.
Dan saat mereka berdua tengah menikmati aktivitas yang mereka lakukan, Ciara dan Devano yang sepertinya sudah kembali berdamai pun tampak berjalan kearah kedua anak tersebut.
"Al," teriak Ciara sembari berlari kearah Al.
Dan tanpa permisi, Ciara kini memeluk tubuh Al dengan sangat erat. Dan hal tersebut membuat Al tersedak.
"Uhuk uhuk!"
Devano yang melihat Al terus terbatuk pun ia kini menepuk punggung Ciara berkali-kali.
"Hey lepasin pelukan kamu dari Al, dia bisa end kalau kamu terus peluk dia begini," ujar Devano.
Ciara yang mendengar penuturan dari Devano tadi pun ia kini melepaskan pelukannya tadi. Dan hal itu membuat Al kini buru-buru mengambil air minum lalu menenggaknya hingga tuntas.
Ciara yang baru sadar jika Al tadi sempat tersedak, ia tampak merasa bersalah kepada anak laki-lakinya tersebut.
"Al maafin Mama karena sudah buat Al tersedak tadi," ujar Ciara penuh dengan penyesalan.
"Lagian tau anak lagi makan dengan tenang eh malah di peluk. Mana meluknya erat banget lagi. Dasar emak-emak," gumam Devano yang masih bisa didengar oleh Ciara.
"Apa kamu bilang?" tanya Ciara sembari berkacak pinggang di hadapan Devano. Bersiap untuk memberikan pelajaran kepada suaminya itu yang sudah seenaknya berbicara.
"Itu aku tadi bilang kalau kamu hari ini sangat cantik sekali apalagi kalau lagi senyum buhhh cantiknya nambah malah di tambah manis pula, sampai gula di rumah ini insecure dengan kamu," ucap Devano yang sangat jauh dari perkataannya sebelumnya. Maklumlah Devano cari aman daripada dirinya nanti kena amukan lagi dari singa betinanya itu.
"Ma, Pa sudah lah. Al juga tidak kenapa-napa kok," tutur Al agar kedua orangtuanya itu menghentikan perdebatan mereka berdua.
"Hasihhhh Papamu ini yang cari gara-gara duluan bukan Mama," ujar Ciara yang membela dirinya sendiri.
"Lah kok aku yang disalahkan?"
"Iya lah. Nih ya aku kasih tau kalau kamu tadi tidak ngajak aku buat dobrak pintu kamar Al, pasti badan aku ini tidak akan sakit seperti sekarang ini. Dan jika kamu tadi tidak menggerutu memarahi aku, aku juga tidak akan marah balik ke kamu," ucap Ciara tak mau kalah sedikitpun.
"Ma, Pa sudahlah. Kalian ini seperti anak kecil saja. Sudah jangan bertengkar lagi. Dan Al mau minat izin ke kalian berdua, jika Al besok pagi ingin mengunjungi Yura di makamnya," ucap Al yang membuat kedua orangtuanya yang tadi masih bersitegang kini dengan kompak tatapan mereka berdua beralih kearah Al.
...****************...
Heyyyyyyyy apa kabar semuanya? author harap kalian baik-baik saja. Oh ya author juga mau mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga puasa kalian aman semua ya, aamiin 🤗
Ahhhh author juga mau mengingatkan ke kalian semua untuk kasih author LIKE, KOMEN, VOTE dan KASIH HADIAH ðŸ¤
See you next eps bye 👋
...~Selamat berpuasa~...