Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 27


Rafa yang masih berada di kantornya pun kini meregangkan otot-ototnya saat ia sudah selesai melakukan pekerjaannya.


"Auhhhhh pegel juga. Enaknya gini tuh pulang, terus ketemu istri dan berakhir di pijitin. Duh, tapi kapan angan-angan itu terlaksana ya tuhan. Sampai sekarang aja jodohku kok ya gak datang-datang. Apa gak kasian gitu sama aku yang nunggu kemunculan dirinya?" gumam Rafa sembari meratapi nasibnya yang masih jomblo itu. Ya walaupun dirinya terkenal playboy cap kuda lumping, tapi dia hanya membuat para wanita baper saja setelah itu tanpa alasan dan sebab, dia menghilang tanpa bertanggungjawab atas hati yang ia permainkan itu. Dan mungkin ini juga menjadi teguran dari Tuhan karena sudah sering menyakiti hati perempuan.


"Tapi tenang bukan cuma aku saja yang belum menikah tapi masih ada Vino, Kevin, Dea dan nenek lampir itu. Ah satu lagi Kiya. Mereka semua juga masih lajang. Jadi santai saja lah ya," tutur Rafa mencoba untuk menghibur dirinya sendiri. Lalu setelahnya ia beranjak dari duduknya, tapi saat dirinya ingin merapikan barang-barang di ruangan tersebut sebelum dirinya pulang, matanya tak sengaja menatap sebuah box yang tergeletak di atas sofa diruangan tersebut.


Rafa yang sudah lupa dengan benda didalam box itu pun, ia melangkahkan kakinya menghampiri box tadi.


Ia mengerutkan keningnya saat sudah berada didepan box tersebut dan melihat isinya.


"Makeup anak-anak?" tanyanya pada dirinya sendiri sembari ia mencoba mengingat-ingat apakah tadi ada tamu yang membawa seorang anak perempuan datang ke kantornya. Tapi setelah ia terus mengingat hal itu, ia rasa tak ada rekan kerja, tamu atau sebagainya yang datang membawa anak mereka.


Tapi kalau bukan mereka semua lalu siapa yang menaruh makeup tersebut diruangannya?


Rafa yang masih penasaran pun dengan segera ia membawa box tadi keluar dari ruangan menuju ke ruang sekertarisnya.


Rafa mengeruk pintu sekertarisnya tersebut yang membuat sang empu yang tadinya masih fokus dengan laptop didepannya kini mengalihkan pandangannya dan setalahnya dengan sigap ia berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Rafa.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya sekertaris tersebut.


Rafa menatap sekilas sekretarisnya itu kemudian ia menaruh box tadi diatas meja kerja sang sekertaris.


"Apa kamu tau siapa yang sudah menaruh barang ini di ruangan saya?" tanya Rafa dengan wajah datarnya.


Sekertaris tersebut tampak terdiam dan berpikir sejenak hingga otaknya itu bisa mengingat siapa orang yang telah meletakan box itu di dalam ruangan Rafa.


"Pak Yuda yang menaruh box itu di ruangan bapak, saat bapak tadi tengah pergi makan siang," jawab sekertaris tersebut yang membuat Rafa mengerutkan keningnya hingga tak berselang lama, Rafa kini merogoh ponselnya dan segera menghubungi Yuda yang merupakan bodyguardnya.


📞 : "Halo, selamat sore tuan. Apa ada suatu hal yang menyangkut keselamatan tuan hingga membuat tuan menghubungi saya?" tanya bodyguard tersebut dari sebrang.


"Tidak. Saya dalam keadaan aman. Hanya saja saya mau bertanya, apa kamu tadi meletakan sebuah box didalam ruangan saya?" tanya Rafa.


📞 : "Iya, memang saya yang menaruh box tersebut di dalam ruangan tuan. Dan apa tuan lupa kalau tuan tadi menyuruh saya meletakkannya sendiri diruangan tuan?" Rafa semakin mengerutkan keningnya.


"Benarkah? Kenapa saya bisa lupa? Hmmm begini saja, kamu katakan apa yang membuat saya membeli barang-barang untuk anak perempuan seperti ini?"


Sedangkan Rafa yang baru teringat akan pesan sang sahabat pun dengan cepat ia mematikan sambungan telepon tadi lalu setelahnya ia mengambil box tadi.


Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan sang sekertaris, Rafa langsung berlari begitu saja keluar dari ruangan tersebut.


Sedangkan sang sekretaris yang tak tahu menahu apa yang sedang bosnya itu lakukan pun hanya bisa menatap kepergiannya dengan gelengan dikepalanya.


Rafa terus berlari, tak peduli jika para karyawannya yang juga tengah berbondong-bondong untuk pulang menatap dirinya dengan tatapan kebingungan.


Hingga akhirnya kakinya itu berhenti saat dirinya sudah berada di samping mobil miliknya. Dan tanpa mengulur waktu lagi, Rafa langsung masuk kedalam mobil tersebut lalu segera melajukan mobil tersebut menuju ke kediaman Devano.


...****************...


Beberapa menit telah berlalu dan Rafa kini sudah sampai di rumah sang sahabat. Dan saat dirinya baru keluar dari mobil, senyum Rafa yang tadinya mengembang untuk menyambut para keponakannya itu kini senyum itu hilang saat ia melihat banyaknya warga yang berada di rumah tersebut. Bahkan pikiran negatif kini menyerang otaknya.


"Apa yang sedang terjadi? Tidak mungkin jika salah satu dari penghuni rumah ini terjadi sesuatu bukan? Tidak, pasti tidak ada apa-apa. Semuanya pasti baik-baik saja," gumam Rafa yang masih berdiri di tempatnya tadi sembari terus menatap orang-orang yang berlalu lalang didepannya.


"Tapi jika tidak terjadi apapun, kenapa orang-orang ini berbondong-bondong masuk kerumah Devano? Dan kenapa mereka berpenampilan alim seperti ini. Astaga tuhan," ucap Rafa dan tanpa berpikir panjang dirinya berlari masuk kedalam rumah tersebut dan membiarkan box yang ia bawa tadi tergeletak disamping mobilnya.


Ia mengedarkan pandangannya saat sudah berada didalam rumah tersebut untuk mencari si pemilik rumah yang tak ia lihat saat ini.


Dan hal itu membuat Rafa segera membelah lautan manusia yang berada dalam rumah tersebut. Tapi saat dirinya sudah berada di depan gerombolan orang-orang tadi, Rafa lagi-lagi tak menemukan si pemilik rumah tersebut.


"Ayo berpikir positif Raf. Arkhhhh tapi gak bisa. Mereka semua kemana sih kenapa bikin aku panik kayak gini," gumam Rafa sembari menjambak rambutnya. Lalu setelahnya tatapannya kini tertuju ke anak tangga yang berada dirumah tersebut.


Dan tak menunggu lama, Rafa segera menuju lantai dua rumah tersebut dan tujuan pertamanya adalah kamar Devano dan Ciara. Tapi saat dirinya membuka pintu kamar tersebut, didalam ruangan itu tak ada orang sama sekali. Lalu setelahnya ia beranjak menuju kamar Al, tapi sayangnya kamar itu terkunci.


"Al, ini Uncle Rafa. Apa Al didalam?" teriak Rafa sembari menggedor-gedor pintu kamar tersebut. Tapi teriakannya itu tak mendapat balasan sama sekali oleh sang empu yang punya kamar.


"Al buka pintunya!" teriak Rafa yang sudah sangat khawatir dengan semua keluarga Devano itu. Tapi teriak itu lagi-lagi tak menerima jawaban dari Al


Rafa menggeram saat Al tak kunjung membukakan pintu kamar tersebut. Dan tanpa sengaja saat dirinya terdiam dengan pikirannya yang berkelana itu, ia samar-samar mendengar seseorang yang tengah menangis tersedu-sedu. Dan suara itu berasal dari kamar yang berada disebelah kamar Al saat ini dan kamar itu merupakan kamar Kiya.