Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 85


Setelah kejadian tadi, Al sama sekali tidak keluar dari kamarnya bahkan pintu kamar tersebut tampak terkunci. Hingga sampai waktu makan siang tiba, Al sama sekali tidak keluar dari kamarnya tersebut.


"Apa dia belum keluar juga dari kamarnya?" tanya Devano saat keluarga kecilnya itu tengah berkumpul di meja makan.


"Aku rasa belum. Dan biarkan aku kesana sekarang sekalian bawa makanan untuk dia," ujar Ciara.


"Kalian makan dulu saja," sambung Ciara sembari tangannya sibuk menyiapkan makan siang untuk Al. Dan ucapannya tadi diangguki oleh Devano.


Setelah Ciara selesai menyiapkan makanan tadi, ia bergegas menuju ke kamar Al, meninggalkan sepasang ayah dan putri kecilnya yang tengah menikmati makan siang mereka.


Ciara yang sudah sampai didepan pintu kamar Al pun ia menghela nafas, sebelum dirinya mengetuk pintu kamar tersebut.


Tok tok tok!!!


"Al, ini Mama, sayang. Jika Al sekarang masih istirahat, bangun dulu buat makan siang. Nanti setelah makan siang istirahatnya di lanjut lagi," ucap Ciara.


Tapi berselang beberapa menit setelah ucapannya tadi terlontar, Ciara sama sekali tidak mendengar jawaban dari Al. Dan hal tersebut membuat Ciara khawatir seketika.


"Al, buka pintunya sebentar, nak. Al harus makan siang dulu. Mama sudah masakin makanan kesukaan kamu lho," ujar Ciara kembali.


"Nanti saja Ma, Al masih kenyang," jawab Al yang membuat hati Ciara yang tadi tampak khawatir karena Al tadi sama sekali tak menjawab ucapannya, kini ia menghela nafas lega. Walaupun ia tau anaknya di dalam kamar tersebut sedang tidak baik-baik saja. Apalagi saat dirinya mendengar suara Al tadi yang terdengar seperti orang yang habis menangis.


"Al, are you okey, nak?" tanya Ciara untuk memastikan.


"Ya, Ma. Al baik-baik saja. Al baru saja bangun tidur dan untuk sekarang masih malas untuk meninggalkan kasur. Jadi kalau Mama mau makan siang, makan saja sama Kiya dan Papa. Dan Al biar nanti saja kalau Al sudah lapar," jawab Al.


"Tapi sekarang Mama sudah menyiapkan makan siang bahkan membawanya kesini untuk Al," ujar Ciara.


"Bawa turun lagi ke bawah saja, Ma. Al benar-benar malas untuk bergerak dan turun dari kasur sekarang untuk mengambil makanan yang Mama bawa," tutur Al.


Dan ucapan Al tersebut membuat Ciara menghela nafas. Ia tau Al hanya beralasan saja kepadanya.


"Ya sudah kalau begitu, makanan ini Mama bawa lagi ke bawah. Kalau Al sudah lapar nanti langsung makan ya, tapi kalau Al masih malas, buka saja laci di meja nakas. Disana ada roti kering dan juga beberapa makanan yang bisa buat Al kenyang," ucap Ciara yang untungnya ia sudah menyiapkan itu semua sebelumnya untuk mengantisipasi jika hal seperti saat ini terjadi.


"Kalau begitu Mama ke bawah dulu ya, sayang. Jangan lupa cemilannya di makan," ujar Ciara.


Dan setelah mendengar jawaban dari Al tadi, Ciara dengan berat hati harus meninggalkan depan pintu Al dengan membawa kembali satu piring makanan yang sama sekali tak disentuh oleh anak laki-lakinya itu.


"Apa Al benar-benar tidak mau keluar dari kamarnya?" tanya Devano saat Ciara sudah berada di ruang makan. Dan dengan lesu Ciara menjawab pertanyaan dari Devano dengan gelengan di kepalanya.


"Ya sudah kalau gitu biar aku mencoba untuk membujuknya," ujar Devano.


"Jangan," cegah Ciara saat Devano ingin bergerak dari kursi makannya.


"Kenapa?" tanya Devano heran.


"Jangan ganggu Al dulu. Dia perlu waktu untuk sendiri. Dan didalam kamarnya juga sudah aku siapkan cemilan yang sekiranya bisa untuk mengenyangkan perutnya. Tapi jika sampai malam hari dia tidak keluar kamar juga, kita langsung ambil tindakan buat dobrak pintu dia,' ujar Ciara.


"Baiklah kalau begitu aku setuju denganmu. Mungkin Al juga butuh ketenangan untuk menerima semua yang sudah terjadi tanpa sepengetahuannya," ucap Devano yang diangguki setuju oleh Ciara.


Dan saat sepasang orangtua itu tengah mengkhawatirkan keadaan Al, disisi lain orang yang mereka khawatir tengah duduk di atas balkon kamarnya dengan tatapan kosong ke arah depan dengan tangan yang memegang kalung pemberian Yura. Hingga tak sengaja tangan itu membuka liontin yang langsung memperlihatkan foto Yura dan Al di dalamnya. Dan hal tersebut membuat tatapan mata Al kini beralih ke liontin tadi.


Dan saat ia menatap foto Yura yang tampak cantik dengan senyum manisnya itu, tak terasa hal tersebut memancing Al untuk memperlihatkan senyumannya juga.


"Andaikan waktu bisa aku putar kembali, aku tidak akan pernah mau di ajak kamu untuk pergi ke taman itu. Taman dimana kita saling bertukar canda dan tawa kita untuk terakhir kalinya," ujar Al dengan senyuman yang sudah hilang dan di ganti dengan kesedihan yang terpancar dari matanya.


"Tuhan jahat ya, hanya mengizinkan kita untuk saling mengenal dan saling berdekatan dengan waktu yang begitu singkat. Tanpa mengizinkan kita untuk tumbuh dewasa bersama-sama dan saling mendukung saat kita mulai menyerah untuk menggapai cita-cita kita. Tapi walaupun begitu, aku juga tidak berhak untuk marah ke siapapun apalagi ke tuhan sang pemilik segalanya termasuk diri kamu," ucap Al dengan mengelus foto tersebut.


"Tapi aku marah dengan diriku sendiri yang tidak bisa menjaga kamu. Maaf Yura, aku benar-benar minta maaf ke kamu, hiks, karena aku lah penyebab dari kejadian itu," ujar Al yang terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Aku juga minta maaf karena sudah mengingkari janji kita untuk tidak bersedih apalagi menangis. Tapi aku benar-benar tidak bisa menahannya untuk sekarang Yura. Aku benar-benar kehilangan kamu. Kamu sahabat terbaikku yang sudah membuatku banyak berubah. Dan kamu adalah sosok yang benar-benar aku butuhkan untuk sekarang atau selamanya. Tapi lagi-lagi takdir tidak mengizinkan kita untuk bersama dalam waktu yang lama," ucap Al dengan kepalan di tangannya untuk menahan amarah yang membara di tubuhnya.


Tapi beberapa saat setelahnya Al tampak menghela nafas berkali-kali untuk meredakan amarahnya tersebut.


"Mungkin saat ini aku bisa menipu semua orang dengan senyum palsuku, tapi perlu kamu tau jika didalam diriku sekarang benar-benar sangat hancur dengan berita kepergianmu. Tapi tenang lah aku akan berusaha untuk selalu baik-baik saja untukmu. Tapi sebelumnya aku minta maaf jika suatu saat nanti apa yang kamu benci dan kamu tentang, justru aku lakukan," sambung Al tanpa mengalihkan pandangannya ke foto Yura di liontin tersebut.


"Tapi semua itu tidak lebih penting dari rasa rindu yang aku rasakan saat ini. Rindu yang tidak akan pernah tersampaikan," ucap Al diakhiri dengan ia mencium foto Yura dengan air mata yang kembali menetes, membasahi pipinya.