
Devano menghela nafas.
"Jangan egois, kali ini turuti ucapanku," tutur Devano sembari membuka pintu mobilnya.
"Aku ada meeting saat ini juga, jadi aku harus kembali ke kantor segera," alasan Ciara.
"Ayolah sayang. Kamu nanti juga meetingnya dengan perusahanku. Atau gini saja, aku telfon Olive untuk menunda meeting hari ini," ucap Devano santai.
Ciara mendengus.
"Jangan seenaknya menunda meeting yang sudah disetujui begitu saja tuan Devano. Aku tau kamu kaya raya tapi tolong hargai orang lain yang sudah mengatur waktu sebaik mungkin untuk menghadiri meeting ini," tutur Ciara sebal.
"Oke-oke aku minta maaf. Tapi kali ini aku mohon turuti ucapanku tadi," ucap Devano penuh dengan harapan.
Dia tampak berfikir. Cuacanya memang sangat panas hari ini, ia tak tega juga mengajak Al berjalan di bawah terik sinar matahari yang tengah panas-panasnya.
Ia menghela nafas sesaat dan setelah itu pandangannya kini ia alihkan untuk melihat Al yang masih sesegukan.
"Baiklah," ucap Ciara setuju.
Devano pun tersenyum penuh kemenangan melihat Ciara telah memasuki mobilnya. Setelah memastikan Ciara dan Al sudah mendapatkan posisi duduk ternyaman mereka, Devano menutup kembali pintu mobil tersebut dan baru ia menuju ke pintu satunya lagi di sebelah kemudi.
Perlahan mobil yang mereka tumpangi meninggalkan depan sekolah Al. Tak ada percakapan selama perjalanan mereka. Devano ingin angkat bicarakan tapi melihat tatapan mematikan dari Ciara membuat niatnya tadi ia urungkan.
Tak berselang lama, mobil itu berhenti di salah satu restoran seafood.
"Al tidur?" tanya Devano pasalnya sedari tadi Al masih memeluk tubuh Ciara seperti koala.
Ciara memeriksa Al yang memang tengah menutup matanya.
"Sepertinya begitu. Biar aku bangunkan dulu," jawab Ciara.
"Tak perlu. Kamu dan Al tunggu aja disini biar aku yang masuk dan pesan makannya," cegah Devano. Ia tak tega jika tidur nyenyak Al harus terusik.
Ciara pun mengangguk pasrah. Saat Devano sudah membuka pintu dan mengeluarkan satu kakinya, suara mengigau Al menghentikannya.
"Papa, jangan tinggalin Al. Maaf Al tadi sempat nangis. Al udah ingkar janji sama Mama dan Papa. Papa, Al mohon jangan tinggalin Al lagi. Bawa Al sama Papa, bawa Al ke surga," gumam Al dalam tidurnya.
Kini Devano memutar tubuhnya kembali dan menghadap kearah Ciara. Rasanya ia ingin marah kepada Ciara karena sudah bohong kepada Al tentang dirinya, tapi ia sadar Ciara berbohong dengan Al juga gara-gara dirinya.
"Al, ada Mama di sini sayang," ucap Ciara lembut sembari mengelus punggung Al.
"Ci," panggil Devano. Ciara pun melirik sekilas kearah Devano dengan tangan yang masih berusaha menenangkan Al.
"Biar Al sama aku bentar ya," mohon Devano sembari membawa tubuh Al berpindah dari pelukan Ciara ke dalam dekapannya tanpa persetujuan dari Ciara.
"DEV," geram Ciara tak ingin anaknya diambil alih oleh Devano.
"Jangan egois Cia. Biar aku yang tenangin Al sekarang," ucap Devano yang sudah memeluk erat tubuh Al.
Kemudian dengan lembut ia mengusap rambut Al.
"Al, tenang sayang. Papa akan selalu di samping Al. Papa janji gak akan tinggalin Al lagi sampai kapanpun. Papa disini sayang, ada bersama dengan Al," ucap Devano yang bisa didengar oleh Ciara.
Ciara yang tadinya mentap dua laki-laki tersebut kini mengalihkan pandangan ke samping kaca mobil tersebut sembari mengusap air matanya yang entah kenapa jatuh begitu saja saat mendengar ucapan dari Devano tadi.
Sedangkan Al, ia membuka matanya perlahan dan saat matanya terbuka lebar, hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah Devano yang menatapnya dengan teduh bahkan dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Uncle," panggil Al dengan suara khas bangun tidur.
Devano yang kembali dipanggil dengan sebutan Uncle pun hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Hay boy," ucap Devano yang mencoba terus tersenyum walaupun hatinya tengah sakit.
"Mama mana?" tanyanya.
Ciara yang tadinya menangis pun ia segera menghapus air matanya dan menatap Al yang juga tengah menatap ke padanya.
"Mama disini sayang," jawab Ciara.
"Al lapar sekali Mama. Tapi Al mau sama Uncle, mau digendong sama Uncle aja," ucap Al dengan memeluk leher Devano.
"Tapi Al---"
"Let's go kita kesana sekarang," tutur Devano yang memutus ucapan dari Ciara tadi.
Kini ia kembali membuka pintu mobilnya. Dan mereka bertiga menuju ke pintu utama restoran tersebut dengan suara gerutuan Ciara disepanjang jalan.
"Jangan ngedumel mulu sayang, malu di dengar sama Al nanti," ucap Devano.
"Dengar apa Uncle?" tanya Al yang namanya tadi di ikut sertakan dalam ucapan Devano.
"Itu Al, Mama tadi---" belum sempat Devano menyelesaikan ucapannya, tangan Ciara lebih dulu mendarat di mulut Devano untuk membungkam laki-laki itu agar tak menceritakan gerutuannya tadi kepada Al.
"Bukan apa-apa kok sayang," tutur Ciara dengan senyum manis. Al pun menganggukkan kepalanya, percaya begitu saja dengan ucapan Ciara.
Ciara pun kini melepaskan tangannya tadi dari mulut Devano dengan pelototan mata tajam yang ia tujukan kepada laki-laki tersebut.
Sedangkan Devano, ia tersenyum gemas. Ingin sekali ia mencium pipi Ciara tapi ia tak ingin rencana untuk mendekati perempuan itu harus lenyap karena ulahnya.
Mereka bertiga kini memasuki restoran tersebut dan saat mereka masuk kedalam, banyak pasang mata yang menatap mereka dengan kagum atas keserasian dari ketiga orang itu yang terlihat seperti keluarga bahagia tapi nyatanya jauh dari anggapan para orang-orang tersebut.
Ketiga orang itu kini sudah duduk di meja yang paling ujung dekat jendela karena saat mereka tiba di restoran tersebut bertepatan dengan jam makan siang.
"Al, turun dari pangkuan Uncle, nak," perintah Ciara yang jengah menatap pemandangan didepannya itu.
"No Mama," tolak Al.
"Al," ucapnya dengan penuh perintah yang membuat Al mengerucutkan bibirnya dan wajahnya ia tundukkan.
"Biarin dia disini, sayang," tutur Devano yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ciara.
"Mama, Al mohon," ucap Al dengan puppy eyesnya.
Ciara menghela nafas.
"Baiklah," tutur Ciara final.
Bibir Al yang tadinya mengerucutkan kini kembali tersenyum lebar.
Tak berselang lama akhirnya makanan yang mereka pesan tadi tiba. Al menatap berbinar kearah makanan favoritnya yaitu cumi crispy, lobster asam manis dan kepiting dengan bumbu saus tiram.
"Waahhh pasti sangat enak. Uncle, uncle," panggil Al sembari menolehkan kepalanya kearah Devano yang sedari tadi memangkunya.
"Iya sayang," jawab Devano.
"Al makannya mau disuapin sama Uncle, boleh?" tanya Al.
"Al, bisa makan sendiri kan?" bukan Devano yang menimpali ucapan Al melainkan Ciara yang bersuara.
"Tentu sayang. Uncle akan suapin Al," ucap devano yang mengabaikan perkataan dari Ciara tadi.
"Benarkah?" tanya Al memastikan. Devano pun menganggukkan kepalanya dengan senyum yang tak pernah luntur.
"Al mau makan yang mana dulu?" tanya Devano.
"Hmm lobster dulu deh," jawab Al dengan penuh antusias. Tangan Devano kini ia arahkan untuk mengambil satu lobster dan dengan telaten ia menyuapi Al.
Sedangkan Ciara yang merasa tak dianggap pun berdecak sebal. Biasa-biasanya Al juga mengabaikan setiap ucapannya dan kini ia malah sangat lengket dengan Devano. Arkh Ciara benar-benar kesal sekarang.
...*****...
Yuk bisa yuk 400 likeπͺ
Pihak NT sekarang menyebalkan sekali ya, eror mulu bikin mood author langung down huh.
Dah lah jangan lupa like, vote, kasih hadiah ya π See you next eps bye π