Young Mother

Young Mother
S2_Story MK Al, Kiya Part 9


Saat tubuh Ciara ingin ambruk karena tiba-tiba saja otaknya sudah berpikir yang tidak-tidak tentang kondisi Al, untungnya ada Devano yang dengan sigap memeluk pinggang Ciara agar sang istri tak terjatuh ke lantai.


"Hiks, Al... Al sekarang ada di UGD, hiks," tutur Ciara dengan air mata yang sudah mulai membasahi pipinya. Devano kini memeluk tubuh Ciara. Jujur saja, hatinya terasa sangat sakit jika melihat istrinya tengah menangis seperti saat ini.


"Kamu tenang dulu sayang. Siapa tau yang di UGD itu bukan Al tapi orang lain," ucap Devano diakhiri dengan ia mengecup puncak kepala sang istri sebagai penenang.


"Jadi untuk memastikannya, kita sekarang langsung ke UGD ya. Tapi aku mohon kamu jangan nangis lagi, oke. Kalau kamu nangis kayak gini dan di lihat oleh Al, nanti aku yang akan kena marah. Udah ya jangan nangis lagi," tutur Devano sembari melepaskan pelukannya kemudian tangannya bergerak untuk menghapus air mata Ciara.


"Tapi Al---"


"Udah, percaya aja sama aku, jika Al sekarang dalam keadaan sehat dan baik-baik saja," ucap Devano.


Ciara menghela nafas dan mulai mengarahkan otaknya untuk terus berpikir positif.


"Kita ke UGD, sekarang ya." Ciara menatap Devano kemudian ia menganggukkan kepalanya.


Setelah mendapat persetujuan dari Ciara juga sudah bertanya letak UGD rumah sakit itu dimana, barulah mereka berdua dengan langkah lebar menuju ke UGD tersebut.


Dan saat jarak mereka hanya beberapa meter saja, Ciara dan Devano sudah dapat melihat ruangan yang mereka maksud tapi yang membuat mereka berdua terheran adalah Al juga dua bodyguard pribadinya tengah terduduk di ruang tunggu.


"Itu Al kan?" tanya Ciara sembari menajamkan penglihatannya. Takut-takut jika ia salah orang.


"Iya. Itu Al," jawab Devano.


"Kok dia masih di luar dan belum mendapat penanganan?" tanya Ciara yang masih terheran-heran.


"Entahlah. Mungkin memang Al gak kenapa-napa kali," ujar Devano.


"Masak sih?"


"Ck, kenapa kita harus susah-susah nebak sih sayang. Tinggal nyamperin dia kan kita bisa tau yang sebenarnya," ujar Devano yang baru sadar akan dirinya juga istrinya yang bertingkat konyol itu.


Ciara kini menggaruk tengkuknya dengan cengiran kudanya.


"Iya juga ya. Ya udah yuk samperin tuh anak," ucap Ciara kemudian ia melangkahkan kakinya lebih dulu dari Devano.


Sedangkan Devano yang melihat punggung Ciara menjauhi dirinya pun ia menggelengkan kepalanya.


"The real pasangan somplak," gumam Devano yang mengatai hubungannya sendiri lalu kakinya kini bergerak mengikuti langkah Ciara.


Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi, Ciara kini berlari menuju kearah Al setelah memastikan jika memang benar anak yang tengah terduduk di kursi tunggu itu memang Al.


Dan setelah sampai, ia langsung memeluk tubuh Al dengan erat bahkan lagi-lagi tangisnya pecah kembali.


Ciara kini melepaskan pelukannya lalu melihat Al dari atas sampai bawah.


"Katakan sama Mama. Dibagian mana yang sakit?" tanya Ciara sembari memutari tubuh Al yang sedang duduk itu. Sedangkan Al kini anak itu menghela nafas. Sudah bisa ia pastikan jika Mamanya itu salah informasi. Dan entah dari siapa info palsu itu diberikan kepada kedua orangtuanya.


Tapi beberapa detik kemudian, ia menolehkan kepalanya kearah dua bodyguardnya dengan tatapan tajamnya. Sedangkan kedua bodyguardnya itu dengan cepat menggelengkan kepalanya sebagai jawaban jika bukan mereka yang memberitahu Devano juga Ciara.


"Al jawab pertanyaan Mama tadi! Dimana yang sakit?" tanyanya lagi yang membuat Al mengalihkan pandangan kearah Ciara yang sudah berjongkok didepannya.


"Al gak papa Ma. Tubuh Al juga gak ada yang sakit. Al baik-baik saja," ucap Al sembari menghapus air mata Ciara.


"Terus kenapa Al disini kalau Al gak kenapa-napa?" tanya Ciara yang masih tak percaya jika putranya itu baik-baik saja.


"Al hanya menemani teman Al yang tadi terserempet motor saat mau menyebrang jalan," jawab Al dengan jujur.


Ciara kini mengerutkan keningnya. Teman? teman yang mana ini? batin Ciara.


"Terus dimana teman kamu sekarang?" kini giliran Devano yang bertanya. Bahkan laki-laki itu sudah duduk disamping Al.


"Masih didalam. Dia lagi di periksa," ujar Al yang membuat Devano menganggukkan kepalanya.


Sedangkan Ciara, ia sekarang bisa menghela nafas lega setelah melihat keadaan Al yang tak terluka sama sekali. Dan untuk bodyguard yang telah memberikan informasi kepada dirinya tadi, sudah pasti ia akan mengomeli orang itu yang tak memberikan informasi lengkap dan hampir saja membuat jantungnya berpindah tempat.


"Apa orangtua teman kamu sekarang ada disini?" tanya Ciara sembari berpindah tempat tak lupa matanya melihat ke sekeliling ruangan tersebut mencari keberadaan orangtua teman Al tadi.


Al pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Ciara.


"Terus mereka sekarang dimana?" Al menggedikkan bahunya, karena ia memang tak tau orangtua anak perempuan yang ia tolong tadi. Nama anak itu saja ia tak tau apalagi orangtuanya.


"Lah gimana sih. Kanapa gak ada yang ngabarin orangtuanya. Kasihan mereka dirumah pasti sekarang lagi gak tenang karena anaknya gak pulang-pulang. Apalagi ini udah malam," tutur Ciara. Kemudian ia menoleh kearah dua bodyguard Al tadi yang sekarang tengah menundukkan kepalanya.


"Don, panggil orangtuanya. Biar mereka kesini sekarang!" perintah Ciara yang membuat Doni kebingungan.


"Anu maaf sebelumnya nyonya. Tapi saya tidak tau nomor telepon dari orangtua anak itu," jawab Doni.


"Kok bisa? bukannya kamu selalu menyimpan nomor telepon orangtua dari teman-teman Al?" tanya Ciara. Doni memang selalu menyimpan nomor para orangtua yang menjadi teman Al, karena itu juga perintah dari Ciara agar saat Al tiba-tiba izin kepadanya untuk main dan anak itu telat pulang juga tak memberikan kabar kepadanya, ia bisa langsung menelpon orangtua dari anak yang Al datangi rumahnya.


"Itu nyonya. Sebenarnya tuan muda dengan anak itu baru bertemu tadi. Dan pertemuan mereka karena tuan muda menyelamatkan anak itu dari maut," ujar Doni.


"Menyelamatkan dari maut? maksudnya?" tanya Ciara tak paham.


"Jadi tadi sewaktu perjalanan pulang kerumah, Tuan muda memerintahkan kita untuk berhenti disalah satu mini market. Dan setelah dari mini market itu, tiba-tiba saja tuan muda berlari ketengah jalan raya saat melihat ada seorang anak menyebrang jalan sembarangan. Tapi untungnya tuan muda berhasil menyelamatkan anak itu dari mobil-mobil yang sewaktu-waktu bisa menghantam tubuh anak itu. Tapi sayangnya, anak itu sempat terserempet sepeda motor dan membuat lengannya berdarah," jelas Doni tak menghiraukan tatapan tajam yang terus Al berikan kepadanya. Karena sepintar-pintarnya ia menyembunyikan kronologi kejadian tadi lebih pintar nyonya dan tuan besarnya yang akan mengorek-orek informasi tentang anak-anaknya itu. Dan jika mereka berdua mengetahui dengan sendirinya tanpa dari dirinya langsung, sudah dipastikan nasib dia juga kembarannya itu akan berakhir saat itu juga.